Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 70


__ADS_3

"Apa kamu bilang? A-aku diundang ke istana putih? Yang benar kamu?"


Zidan begitu antusias menerima undangan gold atas nama pria nomor satu di negaranya yang dijulurkan tepat padanya.


Haikal, pria berkacamata itu mengangguk singkat sebagai tanda jika apa yang diterima sang pianis benar adanya.


Menyaksikan gesture sang manager sontak mengejutkan. Manik bulan Zidan melebar sempurna seraya tertawa tidak percaya.


Ia membuka undangan tersebut dan membaca setiap kata tertuang di atasnya. Selain sebagai tamu undangan, Zidan juga diminta memberikan penampilan terbaik sebagai seorang pianis di sana.


"Akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di istana putih. Bagaimana rasanya? Owh, sungguh pasti menyenangkan bukan?"


"Ini... ini harus tercatat dalam sejarah, pianis Zidan Ashraf akan bermain piano pertama kali di tempat orang nomor satu di negara kita tercinta!" Zidan merentangkan kedua tangan dengan kepala mendongak ke atas.


Ia sangat bangga dan senang menerima berita paling baik dari yang terbaik. Selama berkarier sebagai pianis ia belum pernah melakukan konser di sana.


Semua itu dikarenakan petinggi tersebut sangat sibuk tidak mempunyai waktu untuk bersantai sekedar mendengarkan musik klasik.


Entah ada angin apa, tiba-tiba saja Tuan Bagas mengadakan perjamuan dengan mengadakan pesta teh di istana putih.


Banyak tamu yang diundang mulai dari kalangan politikus, selebritis, artis, pengusaha, sampai musisi, dan salah satunya Zidan Ashraf.


Ia akan bermain piano bersama beberapa musisi musik klasik lainnya. Ia tidak sabar untuk segera berlatih bersama mereka dalam waktu singkat.


Melihat betapa antusiasnya sang tuan muda membuat dahi tegas Haikal mengerut dalam. Sedari tadi ia terus bertanya-tanya kenapa Tuan Bagas bisa memberikan undangan pesta teh yang tidak pernah dilakukannya selama bertahun-tahun.


Rasa penasaran itu seketika merembet menjadi curiga.


"Tunggu Tuan, bukankah seharusnya Anda tidak terlalu bersemangat seperti ini?"


Pertanyaan tadi seketika menghentikan euforia Zidan. Ia berbalik memandangi Haikal penuh tanda tanya.


Kaki jenjangnya melangkah mendekat dan tepat berdiri di hadapan dokter yang sekaligus merangkap beberapa tugas lain untuk tuan mudanya, Zidan Ashraf.


"Dengarnya yah Haikal Abizar... ini adalah kesempatan sekali seumur hidup, kamu bayangkan saja, tampil di hadapan orang nomor satu di negara kita?"


"Bagaimana rasanya? Pasti sangat membanggakan, bukan? Meskipun selama ini aku terus mendapatkan dukungan darinya, tetapi beliau sama sekali tidak pernah menemui ku secara langsung."


"Entah itu karena tugasnya atau apa pun, tetapi aku tetap ingin bertemu dengan beliau. Bukankah ini kesempatan bagus agar aku bisa mendapatkan kembali konser tunggal?"


"Ah~ aku merindukan masa-masa kejayaan ku."


Zidan kembali menjauhinya dan mendekati piano yang selama ini menemaninya dalam latihan. Pasca kejadian menimpa tetua Ashraf, sang pianis terkena imbasnya.

__ADS_1


Banyak dari para penggemar yang meninggalkannya begitu saja. Mereka tidak percaya Zidan tidak tahu apa pun mengenai keserakahan sang nenek.


Namun, semua itu sudah berlalu, Zidan tidak ingin terpuruk dan akan terus melakukan yang terbaik untuk istri serta calon buah hatinya.


Haikal menggeleng pelan dan menghela napas kasar. Ia ikut melangkahkan kaki mendekat dan berdiri tepat di samping piano.


Tubuh kekarnya bersandar di sana seraya melipat tangan di depan dada.


"Tapi bukankah aneh? Maksudku, Tuan Bagas sangat sibuk dalam berpolitik dan mengurusi negara kita dan hubungannya dengan negara lain."


"Apa ada waktu bagi beliau menyempatkan diri mengadakan pesta teh seperti ini?" ujar Haikal melepaskan sikap formalnya.


Zidan memutar bola mata, jengah akan pemikiran dangkal tangan kanannya tersebut.


"Bukankah bagus? Beliau bisa sedikit bersantai dan menyapa masyarakatnya? Beliau juga manusia biasa yang terkadang bisa jenuh... mengadakan pesta teh seperti ini bisa me-relaxan dirinya dari tuntutan pekerjaan, apa kamu mengerti?" ucap Zidan memandang lekat.


Haikal terkesiap lalu mengangguk singkat. "Iya, kamu benar juga."


"Kan... baiklah kalau begitu siapkan pakaian terbaikku untuk konser nanti. Ah, jangan lupa siapkan jadwal kapan aku bisa berlatih bersama musisi lainnya," titah Zidan kemudian.


"Bukankah seharusnya Ayana yang menyiapkan pakaianmu?" balas Haikal membuat perhatian Zidan kembali padanya.


"Istriku lagi hamil! Apa yang kamu katakan? Cepat lakukan!"


...***...


"Jadi, maksudmu gambar sayap putih di undangan ini milik seseorang?"


Bening yang sudah berada di galeri Ayana menangkap lekat satu gambar kecil tersampir di undangan Tuan Bagas.


Ayana yang tengah duduk di hadapannya mengangguk singkat. Ia lalu memasukkan sesendok cake cokelat ke dalam mulut.


"Aku menemukan itu sebelum Mbak datang ke sini. Aku tahu siapa pemilik dari lambang sayap putih itu," kata Ayana.


Bening mendongak menatap penuh tanya pada lawan bicaranya. Kurang lebih sepuluh menit lalu mereka membicarakan mengenai kecurigaan terhadap Tuan Bagas.


Bening tidak menduga jika Ayana bisa dengan cepat menemukan petunjuk penting di sana.


"Kamu tahu? Siapa itu? Siapa dia?" tutur Bening tidak sabaran.


Ayana mengembangkan senyum penuh makna membuat Bening semakin bertanya-tanya. Di saat mulutnya siap untuk menjelaskan, pintu ruangan dibuka perlahan.


Jasmine masuk membawa tiga gelas minuman di atas nampan dan memberikannya pada mereka.

__ADS_1


"Bisakah aku bergabung?" tanya Jasmine duduk di kursi kosong.


"Tentu, lebih banyak lebih bagus," balas Bening mengembangkan senyum.


"Alhamdulillah, syukurlah. Aku sangat ingin mengenal dunia Ayana... wanita hebat ini membuatku penasaran. Seperti apa ia ketika bekerja?" tutur Jasmine kembali menoleh pada Ayana yang tengah membolak-balikkan beberapa dokumen dalam genggaman.


"MasyaAllah, aku tidak tahu jika kamu se-penasaran itu Jasmine, tapi... yang harus kamu tahu. Ini tidak disebut sebagai bekerja, tetapi tugas!" jawaban Ayana mengacungkan kertas-kertas tadi.


"Ah, baiklah. Tugas? Okay, apa aku bisa membantumu?" Jasmine semakin penasaran, mengundang sebuah tanya pada Ayana maupun Bening.


Kedua wanita itu tidak tahu jika Jasmine mempunyai rasa penasaran begitu tinggi. Selama ini mereka hanya bekerja sama dalam mengungkapkan kebenaran-kebenaran yang tersembunyi apik pada kehidupan seorang Ayana.


Mereka belum pernah bekerja secara langsung seperti yang dipikirkan oleh Jasmine. Namun, Ayana dan Bening mengerti bagaimana semangat juang yang dirasakan olehnya.


Pelukis serta informan tersebut saling pandang dan menganggukkan kepala.


"Tentu saja, kita akan mengungkapkan kebenaran seperti apa penguasa nomor satu di negara ini," kata Bening lagi, sorot matanya berubah serius penuh arti.


Jasmine hanya mengangguk, mengerti.


"Baiklah, kita ke topik utamanya sekarang."


Ayana mengambil alih atensi, Jasmine dan Bening beralih padanya siap mendengarkan apa yang diketahui sang pelukis.


Ayana meletakkan dokumen tadi ke atas meja dan meneguk teh hangatnya singkat. Setelah itu memandangi keduanya secara bergantian.


Wajah ayunya berubah serius, Bening yang mengetahui perubahan sikap Ayana secara signifikan pun mengambil kesimpulan.


"Wanita ini sedang tidak main-main," benaknya.


"Mbak ingat saat kita masih di Desa X dan berada di rumah sakit?"


Perhatiannya jatuh pada Bening, wanita itu menautkan kedua alis, gamang. Ia belum memahami apa yang hendak disampaikan Ayana.


"Apa yang ingin kamu katakan? Apa kamu mengingat sesuatu pada saat di sana?" tanya balik Bening.


Ayana menarik kedua sudut bibir dengan tatapan nyalang, ekspresinya baru pertama kali Jasmine lihat.


Ia tidak pernah tahu Ayana bisa memberikan mimik muka seperti itu. Selama ini sang pelukis hanya memberikan ekspresi ramah tanpa adanya makna apa pun.


"Apa yang terjadi di sana?" tanya Jasmine tidak sabar terus membungkam mulut.


Ayana berubah menyeringai penuh arti siap menceritakan kenangan beberapa tahun silam. Ia tidak pernah tahu jika hari ini bisa mengungkapkan penemuannya yang dirinya simpan seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2