Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 24


__ADS_3

Ketegangan masih tercipta kian menusuk sanubari.


Keringat membanjiri wajah serta sekujur tubuh atas perkelahian terjadi.


Beberapa bagian abaya yang tengah dikenakan Ayana robek memperlihatkan kulit tersayat mengeluarkan darah.


Rasa perih nan sakit sangat terasa, tetapi tidak digubris oleh Ayana.


Ia berusaha fokus pada lawan-lawannya yang tengah menatap penuh minat untuk menghabisinya.


Ayana memandangi mereka satu persatu yang kembali besar kepala mengayun-ayunkan pedang.


Napas sang pelukis pun memburu menyaksikan ada empat pria lagi masih tersisa di hadapannya.


Ayana menyeringai seraya kembali mengusap sudut bibir yang sedikit robek.


Penampilannya sudah sangat kacau, keringat bercampur darah beradu menjadi satu.


"Bagaimana bisa kalian begitu kejam mempermainkan seorang wanita seperti ini? Apa kalian tidak punya seorang ibu? Bagaimana jika ibu kalian atau saudara perempuan kalian diperlakukan-"


Belum sempat Ayana menyelesaikan ucapannya salah satu dari mereka menghunuskan pedang tepat di depan wajahnya.


Ayana langsung menangkis secepat kilat menggunakan pistol yang sama sekali tidak digunakan.


Ayana mundur beberapa meter ke belakang menghindari mereka lagi.


"Wow-wow-wow, wanita perkasa yang luar biasa. Bagaimana mungkin kamu tidak menembak mereka untuk menyelesaikan permainan ini?" Alexa yang sedari tadi menjadi penonton di sisi lain duduk di atas meja sembari memainkan tongkat kesayangannya.


Perhatian Ayana pun berpaling padanya menyaksikan senyum meremehkan hadir di wajah tua itu.


Tatapan nyalang Ayana beradu pandang dengan sepasang manik sayu pria tua itu.


"Aku tidak akan menggunakannya jika-"


"Kenapa? Bukankah mereka sudah melukaimu di sana sini?" Heran Alexa mengangkat kedua bahu.


"Tidak, mereka tidak melukaiku. Mereka terpaksa melakukan itu... karena tuntutan kamu saja," jelas Ayana semakin membuat Alexa tertawa kencang.


Berbeda dengan pria-pria tadi yang sudah melawannya. Mereka tercengang, tidak percaya sekaligus ada rasa bersalah dalam diri.


Mereka juga tidak menduga Ayana tidak menggunakan pistol untuk menyerangnya.


Pertanyaan kenapa itu terus berputar dalam benak.


Alexa turun dari atas meja berjalan pelan menuju Ayana. Sampai mereka kembali berhadapan memberikan tatapan nyalang.


"Aku benci wanita munafik sepertimu. Buat apa membawa pistol jika tidak digunakan? Jangan meremehkan kami." Alexa kembali menjambak belakang kepala Ayana sampai membuatnya mendongak lagi.


Sebelah sudut bibir ranum itu perlahan terangkat menyaksikan emosi teredam dalam dirinya.


Tangan kanan Ayana bergerak masuk ke dalam saku abaya mengeluarkan pisau kecil yang sempat ia bawa.

__ADS_1


Ia pun meletakkan tepat di depan perut sang tetua Mahesa.


"Lepaskan atau aku akan menusuk mu," ucap Ayana tanpa gentar.


Mendengar perkataan tersebut membuat Alexa menoleh ke bawah.


Ia melihat ada sebilah pisau diacungkan tepat di bagian ginjalnya. Ia tertawa pelan dan semakin menarik kepala Ayana ke belakang.


Tidak hanya sampai di sana saja Alexa melepaskan cengkraman di kepala Ayana lalu melayangkan tongkatnya ke bawah kaki wanita muda tersebut.


Seketika sang pelukis terjatuh dan pisaunya pun terlempar beberapa meter dari sisinya.


Sedetik kemudian Alexa menarik pedang di sisi kirinya dan langsung menjulurkan ke depan wajah Ayana.


"Menyerah lah, kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi. Katamu tadi tidak bisa melukai mereka, kan? Karena mereka adalah suruhan ku. Sekarang aku sendiri yang akan melukaimu... apa yang akan kamu lakukan?" Alexa berdiri tegak di hadapan Ayana seraya melayangkan pedang panjang kesayangannya.


Sang pelukis gemetar tak karuan, pegangan di pistolnya semakin menguat.


"Seperti inikah caramu menghabisi nyawa mereka? Dengan menggunakan pedang ini... kamu menghilangkan nyawa orang-orang yang ada di sini? Betapa tidak manusiawi nya kamu." Ayana semakin geram, suaranya serak menahan amarah kian melambung.


Alexa tertawa kencang menghilangkan kesunyian di sana.


"Tidak, aku bahkan lebih kejam dari ini untuk menghabisi mereka."


Ayana terbelalak dengan jantung berdebar kencang. Ia berusaha mengontrol diri sendiri dari situasi menegangkan tersebut.


Ia yakin saat ini Alexa sedang tidak main-main dan kapan pun bisa menghabisi nyawanya dalam sekali tebas.


Dengan perlahan, Ayana menarik pelatuk pistolnya dan di arahkan ke wajah pria tua itu.


"Inilah warna aslimu, kan?" kata Alexa mendekatkan pedangnya ke leher sang pelukis.


"Silakan tarik pelatuknya agar kamu bisa menang," tantangnya memberikan senyum meremehkan.


"Jangan bercanda denganku, Ayana!" Alexa mengangkat pedangnya lalu mengayunkan tepat di leher Ayana.


"Berhenti!"


Belum sempat Alexa menyelesaikan aksinya suara pelatuk pistol bergema di sana.


Disusul bentuman kuat dari tubuh ringkih Alexa yang terjatuh tersungkur.


Ayana yang masih berada di posisinya terbelalak lebar melihat kejadian sekejap mata.


Ia mendongak menyaksikan wanita bergaun putih berdiri tidak jauh dari hadapannya tengah mengacungkan pistol.


Sosok itu tersenyum lebar padanya dengan senjata api itu masih mengeluarkan asap menunjukkan jejak apa yang baru saja terjadi.


"Ja-Jasmine?" gugup Ayana melihat keponakan Mahesa menembak pamannya sendiri.


"Kenapa?" tanya Ayana.

__ADS_1


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Zidan buru-buru mendekati sang istri dan membantunya berdiri.


"Kenapa?" tanya Ayana lagi.


"Kami datang untuk membantu mu, Sayang," jelas Zidan mengusap pelipisnya penuh kasih sayang.


Ayana melihat ke sekitar di mana Danieal dan beberapa rekan Bening tengah melawan orang-orang Alexa.


Mereka bertarung sengit untuk menumbangkannya.


"Kamu tunggu dulu di sini," kata Zidan lagi memberikan kecupan manis di dahi sang pujaan.


Setelah itu ia ikut bergabung menjatuhkan pria-pria tersebut yang masih tersisa.


Bola mata kecokelatan Ayana bergulir ke semua arah melihat pertarungan mereka.


Sampai ia kembali pada Jasmine yang berjalan perlahan mendekat.


"Jasmine." Panggil Ayana lagi melihat senyum cerah wanita itu.


"Aku senang bisa melindungi mu, Ayana. Kamu baik-baik saja? Aku tidak bisa melihat orang berhargaku lagi terluka," ungkap Jasmine.


Tanpa mereka sadari Alexa bergerak melihat kedua wanita itu saling berhadapan.


Ia melayangkan kembali pedang ke arah mereka, tetapi aksinya kembali digagalkan oleh Jasmine.


Ia menembaknya lagi membuat Alexa terbelalak tidak percaya.


"Kenapa? Kenapa kamu hanya menembak kakiku?" kata Alexa menahan panas dan perih di kedua kaki tempat besi panas itu bersemayam.


"Aku senagaja tidak membunuh Paman. Karena aku ingin melihat Paman mendapatkan balasan atas apa yang diperbuat," kata Jasmine menyeringai lebar.


"A-apa?" Alexa tidak menduga sang keponakan bisa melakukan hal itu padanya.


"Apa kamu sedang balas dendam padaku?" tanya Alexa lagi.


"Balas dendam atau tidak, balasan akan mendekatimu, Paman. Semua jenazah yang ada di sini menjadi saksi dan bukti betapa kejamnya perbuatan Paman di masa lalu."


"Tahukah Paman jika dulu aku melihat semua yang kamu lakukan? Selama ini aku diam saja, sebab tidak tahu harus berbuat apa. Karena sejauh apa pun aku bertindak, tidak akan bisa mengembalikan mereka yang sudah meninggal."


"Namun, setelah bertemu Ayana aku sadar... kejahatan harus dituntaskan agar tidak ada korban lagi berjatuhan. Terima kasih atas kebaikan yang selama ini Paman berikan untuk membesarkan ku," kata Jasmine panjang lebar.


Seketika itu juga Alexa melebarkan kedua mata, tidak menyangka jika tindakannya di masa lalu disaksikan langsung oleh keponakannya sendiri yang menjadi saksi hidup selama ini.


Ia tidak tahu jika Jasmine melihat ayah dan ibu dihabisi olehnya.


"Kenapa selama ini kamu tutup mulut?" tanya Alexa disela-sela kesadaran.


"Karena aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya wanita lemah yang terjebak oleh permainan mu," kata Jasmine lagi.


Setelahnya Alexa pun tidak sadarkan diri. Bersama dengan itu Jasmine menangis kencang melihat semua anggota keluarganya yang sudah berubah menjadi tengkorak.

__ADS_1


Ia berjalan lunglai mendekati jasad orang tuanya dan seketika itu juga kedua kakinya lemas membuat Jasmine jatuh terduduk.


Ia sangat terpukul, hatinya terasa begitu sakit dan terkoyak-koyak menyaksikan orang-orang tercintanya tergeletak begitu saja.


__ADS_2