
Menelisik ke relung kalbu paling dalam, luka menganga itu masih tetap basah dan awet. Berkali-kali dijahit, diobati, tetapi masih saja mengeluarkan rasa sakit.
Waktu tidak bisa mengikis kenangan yang pernah terjadi. Bayangan saat-saat paling sulit menari indah dan menertawakan nasib buruknya.
Ia pikir jatuh cinta pada pandangan pertama akan menuntun pada muara kebahagiaan. Namun, nyatanya mengajak ia kepada lubang kepedihan.
Teringat lagi akan hari-hari itu mengalirkan air mata. Di tengah keheningan malam, di sebuah kamar di mansion keluarga Arsyad Ayana menangis seorang diri.
Ia berdiri di depan jendela besar, menatap langit tanpa ada satu pun bintang. Awan kelabu saling bergumpal-gumpal memperlihatkan kehampaan.
"Sayang, sedang apa kamu di sana? Mamah sangat merindukanmu. Nak, Mamah benar-benar minta maaf tidak menjagamu dengan benar. Baik-baik yah di sana sampai kita bertemu. Mamah sangat menyayangimu, Sayang."
Kata-kata yang tercetus memberikan sayatan kepedihan. Orang yang mendengarnya bisa saja ikut merasakan kesedihan mendalam.
Ayana memberikan kecupan mendalam di selembar foto usg jabang bayinya saat itu. Hanya gambar tersebut menjadi satu-satunya kenangan yang ia miliki.
Hasil usg itu pun ia terima saat pertama kali pemeriksaan. Ia benar-benar terpukul dan terluka atas kehilangan buah hatinya yang belum sempat melihat dunia.
Sebagai calon seorang ibu, ia benar-benar terguncang saat mendapati kabar jika dirinya keguguran. Tidak ada kata-kata semangat dari sang suami, yang ada pria itu menyalahkan dirinya.
Ketika malam menjelang, Ayana selalu menangis meratapi sang buah hati yang sudah pergi. Setelah itu ia akan melaksanakan salat sunnah untuk meredakan rasa sakit.
Hal tersebut ia lakukan selama satu tahun terakhir ini. Ia lebih mendekatkan diri pada Allah dan terus memperbaiki kesalahan yang pernah dibuat.
"Ya Allah, hamba mohon berikanlah kesabaran, kelapangan untuk menjalani ujian dari-Mu. Hamba percaya di balik kejadian kemarin Engkau sedang merencanakan sesuatu yang terbaik. Seperti sekarang, Engkau memberikan keluarga pada hamba dan rezeki yang tak ternilai. Terima kasih ya Allah dan jagalah anak hamba di sisi-Mu yang terbaik," gumamnya memanjatkan doa di keheningan malam. Setetes air mata jatuh sebagai ungkapan hati terdalam.
...***...
Ayana kembali berurusan dengan Arfan. Hari ini mereka datang ke gedung di pusat kota untuk melihat-lihat tempat yang akan dijadikan sebagai pameran.
Ruangan demi ruangan keduanya datangi seraya berbincang-bincang bersama beberapa orang yang turut mendampingi.
__ADS_1
Di tengah kesibukan yang tengah mereka lakukan, tiba-tiba seorang wanita berpakaian mini datang mengganggu. Suaranya yang lantang seketika menghentikan kegiatan di sana dan membuat semua orang menoleh padanya.
"Oh, bagus jadi seperti ini kelakuanmu di luar? Kamu-" Belum sempat menyelesaikan ucapannya, wanita itu mematung saat Ayana membalikan badan.
Pandangan mereka saling bertemu dan mengunci satu sama lain. Bibirnya pun melengkung sempurna membentuk kurva yang sangat indah.
"Bella? Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Arfan terkejut mendapati sang pianis bisa datang ke tempat itu.
Bella, tidak mengindahkan ucapannya dan terus memandangi Ayana. Wanita berhijab hitam itu pun menatap lekat membuat ia merinding.
"A-Ayana? Ka-kamu masih hidup?" tanyanya gugup.
"Ayana? Apa Anda mengenal wanita itu juga? Saya mendengarnya dari beberapa orang akhir-akhir ini. Apa namanya sedang tenar sekarang?" tanya Ayana menggebu lalu menoleh pada Arfan.
"Ah, ini semua hanya kesalahpahaman. Bella, kenalkan dia ini Ghazella Arsyad. Beliau adalah seorang pelukis pendatang baru terkenal di negara kita. Apa kamu tidak mengenalnya?" jelas Arfan membuat Bella termangu.
Ia masih syok atas apa yang dilihatnya saat ini. Tepat di depan mata kepalanya sendiri sang mendiang istri mantan suami tengah berdiri dan tersenyum manis padanya.
"Gha-Ghazella Arsyad?" cicitnya.
"Kenalkan saya Ghazella Arsyad. Senang bertemu dengan, Anda," jelasnya ramah.
Bella yang masih belum memahami situasi di sana pun hanya mengedip-ngedipkan mata. Ia diam seribu bahasa mengunci bibirnya rapat.
Ayana yang tidak melihat tanda-tanda wanita itu hendak menyambut salamannya pun menariknya kembali.
"Sepertinya Nona ini sedang tidak baik-baik saja. Kalau begitu saya permisi dulu, masih banyak yang harus diurus. Permisi." Ayana menekan setiap kalimat dan menyeringai lebar sebelum pergi dari hadapan Bella.
Aroma citrus mengalir saat Ayana melewatinya. Bella yang masih termangu menggerakkan tubuh ke belakang mengikuti ke mana wanita itu pergi.
"Ayana? Apa dia benar-bena Ayana? Ghazella? Kenapa dia menggunakan nama itu?" gumam Bella setelah mendapatkan kesadarannya lagi.
__ADS_1
"Lebih baik sekarang kamu pulang. Kita sudah tidak ada hubungan apa pun, jadi aku harap ini terakhir kali kamu menemuiku," kata Arfan lalu menyusul ke mana Ayana pergi.
Bella yang masih terguncang tidak mengindahkannya. Pikiran sang pianis itu buntu menyaksikan wajah yang sangat mirip dengan Ayana.
"Aku harus mencari tahu kebenarannya. Ghazella Arsyad, apa benar dia keturunan keluarga dokter itu?" gumamnya lagi. Buru-buru Bella pergi mengurungkan niat awal kedatangannya.
Suara pintu mobil dibanting kuat. Bella duduk di jok kemudi masih dengan beribu pertanyaan menghinggapi kepalanya. Ia mencengkram stir mobil kuat dan bergegas meninggalkan gedung tersebut.
Kurang lebih setengah jam kemudian, ia datang ke kediaman sang mantan suami. Selesai memarkirkan mobil sembarangan ia masuk tanpa permisi layaknya rumah sendiri.
Zidan yang baru saja selesai berolah raga terkejut mendapati mantannya di sana. Ia meneguk minuman isotonik nya pelan dan duduk di kursi berhadapan dengan meja panjang.
"Mas, apa Mas sudah tahu?" tanya Bella langsung.
"Mau apa kamu datang ke sini? Kita sudah tidak punya urusan apa-apa lagi untuk mendiskusikan sesuatu. Kita-"
"Ayana, dia masih hidup, kan?" Bella memotong ucapannya cepat membuat Zidan menoleh.
"Aku tadi melihat seorang wanita yang sangat mirip dengannya. Jadi, aku pikir jika Ayana masih hidup," jelas Bella lagi.
"Ghazella Arsyad, itu yang kamu maksud?" tanya balik Zidan, mengalihkan pandangan.
"Jadi, Mas sudah tahu mengenai wanita itu? Siapa dia sebenarnya? Apa dia benar-benar orang lain dan bukan Ayana?" Bella kembali menggebu-gebu.
"Aku pikir kita sudah tidak punya alasan untuk membicarakan kehidupan masing-masing. Kita sudah berpisah satu tahun dan aku tidak ingin melihatmu lagi." Zidan beranjak dari sana menyisakan kekesalan pada Bella.
Wanita itu menatap kepergiannya dengan mengepal tangan kuat. "Kenapa? Karena aku sudah mengkhianatimu? Apa sekarang kamu menyesal sudah menyianyiakan Ayana? Dan kamu mau bersama wanita yang mirip dengannya?" Bella semakin memprovokasi.
Namun, Zidan tidak mengindahkan dan terus berjalan menapaki satu persatu anak tangga. Diacuhkan seperti itu membuat Bella naik pitam. Ia menghentakkan kaki kasar dan berteriak marah.
"Apa-apaan ini? Kenapa semuanya harus seperti ini? Wanita itu? Siapa sebenarnya dia? Apa benar dia Ghazella bukannya Ayana? Eh, tunggu! Ghazella? Ghazella? Apa mungkin?" Bella menyadari ucapannya sendiri.
__ADS_1
Ia pun bergegas pergi dari sana untuk kembali pulang ke rumah. Ia merasa tidak asing dengan nama tersebut, seolah di masa lalu pernah mendengarnya.
Sampai setibanya di mobil ia mengingat satu hal. "Bukankah nama panjang Ayana adalah Ghazella? Ayana Ghazella, yah itu nama aslinya. Apa dia benar-benar berperan sebagai orang lain?"