
"Pria itu bukanlah Tuan Bagas Prakasa!"
Pernyataan lantang itu masih mengejutkan bagi Ayana dan Bening. Mereka menatap lekat Jasmine berusaha mencari tahu kebenaran mengenai perkataannya.
Jasmine menundukkan kepala dalam menghapus air mata yang mengalir tak tertahankan. Bayangan beberapa tahun lalu merebak layaknya terjadi kemarin sore.
"A-apa maksudmu Bening? Kenapa kamu berkata beliau bukan Tuan Bagas Prakasa? Bukankah beliau sudah menjabat selama tiga periode berturut-turut? Itu artinya beliau adalah orang yang sama," kata Ayana menggebu-gebu.
Jasmine lagi-lagi menggelengkan kepala. Melihatnya seperti itu memberikan clue untuk Bening mulai mencari tahu.
Ia menggeser kanvas berukuran sedang di atas meja dan mengeluarkan laptopnya. Jari jemari lentik itu berselancar lincah di atas keyboard.
Suara ketikan bergema dalam ruangan, sedangkan Ayana masih memandangi Jasmine yang sudah mengangkat kepalanya membalas tatapan sang adik ipar.
"Beliau bukan Tuan Bagas Prakasa," jelas Jasmine sekali lagi.
Ayana melebarkan manik jelaganya, sadar jika sang kakak ipar tahu sesuatu. Ada kilatan kesedihan di balik sorot mata itu membuatnya terpaku.
Ayana berusaha tenang dari segala kejutan yang menghampiri. Bola matanya bergulir, gelisah sembari mencari tahu sesuatu.
Ia memikirkan banyak hal mengenai siapa itu Bagas Praksa sebenarnya dan apa hubungannya dengan Hana Tsubasa.
Dua orang itu memenuhi kepalanya, ia menggigit-gigit ibu jari pelan berusaha fokus pada dua orang tersebut.
Kurang lebih dua puluh menit kemudian, pencarian Bening terhenti. Ia membalikkan laptopnya dan melihatkan sesuatu di dalamnya kepada Ayana dan Jasmine.
Seketika sang pelukis langsung membungkam mulut menganganya menggunakan kedua tangan. Ia benar-benar terkejut atas apa yang dilihatnya saat ini.
Perlahan ia menoleh ke sisi kiri di mana Jasmine juga sedang melihat ke layar laptop.
"Ja-jadi?" bisik Ayana teredam. "Apa ini benar?" tanyanya kemudian.
Jasmine langsung mengangguk tanpa gentar.
"Iya, ini benar," balasnya sendu. "Semua yang tertera di sana benar adanya, Ayana," lanjut Jasmine lagi.
Ayana membekap mulutnya sendiri lagi, tidak percaya atas penemuannya kali ini. Selama tiga tahun Bagas Prakasa menjabat sebagai pemimpin di Negara L, hanya ada topeng kepalsuan diberikannya.
"Kalau begitu kita harus segera bertindak dan menyusun rencana. Karena aku yakin ini ada kaitannya denganmu Ayana," tutur Bening dijawab anggukan sang empunya nama maupun Jasmine.
"Baiklah kalau begitu, apa rencana kita?" tanya Ayana.
__ADS_1
Bening pun menjelaskan rentetan rencana yang sudah berada di dalam kepala sedari tadi. Kedua wanita lainnya mendengarkan seraya memberikan ide-ide lain sebagai pelengkap.
...***...
Satu minggu berjalan sangat cepat, pesta teh yang diadakan di gedung putih mulai digelar. Banyak tamu undangan mengenakan pakaian terbaik datang satu persatu.
Para wanita nampak cantik dalam balutan gaun-gaun dari perancang busana terkenal. Tidak ketinggalan, para pria juga mengenakan tuxedo dari desainer ternama.
Layaknya berada di sebuah kehidupan asing, bak dongeng klasik di mana ada putri dan pangeran, suasana di sana begitu kental dengan nuansa zaman dulu.
Taman istana putih di sulap menjadi sebuah tempat menjamu para tamu untuk sekedar bercengkrama.
Alunan musik klasik pun berdengung menemani kebersamaan. Zidan Ashraf yang turut di undang kini tengah memberikan penampilan terbaiknya bersama beberapa musisi klasik terkenal.
Ia terus mengembangkan senyum pada setiap tamu yang datang, senang pada akhirnya harapan untuk bisa bermain piano di sana terlaksana.
Kurang lebih lima belas menit kemudian kuda kencana berhenti di gerbang depan. Satu persatu, ketiga wanita itu turun menatap pagar yang menjulang tinggi di hadapan mereka.
"Wah... kita benar-benar seperti berada di dunia dongeng," kata Bening terkesima.
"Aku merasa seperti seorang putri," lanjut Jasmine ikut mengitari tempat tersebut.
"Jangan sampai terlena, kita harus mencari tahu apa yang ingin disampaikan Tuan besar ini," ucap Ayana mengingatkan.
Di sana juga terdapat dua ajudan yang bertugas sebagai penerima tamu undangan. Siapa pun yang memperlihatkan undangan berwarna gold pada mereka bisa menghadiri pesta, termasuk orang-orang yang dibawa oleh si penerima.
Setelah pemeriksaan dilakukan, Ayana, Jasmine, dan Bening pun melangkah menuju tempat tujuan. Taman yang luasnya sekitar satu hektar itu dipenuhi dengan orang-orang terkenal di masa kini.
Para penikmat seni langsung mengenali Ayana begitu dirinya memasuki arena. Ia pun dikerubungi banyak orang seraya membicarakan banyak hal menyudutkan Jasmine dan Bening ke samping.
"Ah~ pelukis kita ternyata sedang hamil? Berapa bulan sekarang, Sayang?" tanya salah satu pelanggan tetap Ayana bernama Harumi.
Nyonya Harumi adalah istri dari salah satu pejabat tinggi di Negara L yang sering membeli lukisan karya Ayana dengan harga tinggi.
"Alhamdulillah Nyonya, sudah enam bulan," balas Ayana seraya mengusap perut membuncit nya pelan.
"Oh, jadi ini alasan Anda vakum beberapa bulan kemarin?" tanya salah satu nyonya besar lagi di sana.
Ayana hanya mengangguk menimpali pertanyaannya, sedangkan Bening dan Jasmine mengawasinya dari arah samping.
Mereka pun mengamati keadaan di sana di mana banyak sekali orang datang berkunjung. Sampai tidak lama berselang tuan rumah pun menampakkan batang hidungnya.
__ADS_1
Orang-orang mulai beralih padanya yang dengan ramah menyapa para tamu undangan. Pria berusia enam puluh tujuh itu pun masih nampak gagah dalam stelan jas formal bermerek nya.
"Itu dia," bisik Bening pada Jasmine.
"Ayana-Ayana, apa kamu mendengar ku? Target kita sudah menampakkan diri," lanjut Bening pada earphone tersemat di telinga.
Ayana yang masih disibukkan dengan berbagai pertanyaan dari para nyonya besar sosialita itu pun tidak mendengar jelas.
Ia terus memberikan senyum menawan dan menjawab rasa penasaran mereka. Sampai tanpa sadar satu bunga kecil mendarat di teh yang berada dalam genggaman.
Ayana sadar dan menjatuhkan pandangan ke bawah melihat bunga tadi menari indah di atas air keruh tersebut.
Kepalanya lalu mendongak ke atas di mana di sana ia melihat siluet seseorang.
"Bunga? Siapa orang itu?" benaknya berpikir keras.
Sampai, "Mbak... Jasmine, aku melihat seseorang. Aku melihat seseorang," bisik nya sambil meletakkan gelas teh di atas meja bundar dengan taplak putih bersih.
Ia melangkahkan kaki menjauhi para wanita itu mencoba mencari tahu siapa orang yang ada di lantai atas tadi.
"Ayana... dengar! Jangan pergi sendiri, kamu sedang hamil, tunggu aku dan Jasmine. Hei Ayana... Ayana!" Bening terus memanggil-manggil namanya, tetapi nihil jawaban.
Bening pun berdecak sebal seraya menghentakkan sebelah kaki. Jasmine yang sudah memberikan clue kepada Bagas pun kembali dan menepuk pundaknya.
"Aku melihat Ayana masuk ke dalam," bisik nya.
"Kalau begitu kita pergi juga," ajak Bening dijawab anggukan oleh Jasmine.
Mereka berdua lalu menyusul Ayana masuk ke dalam istana, sedangkan sang tuan rumah masih sibuk menyambut para tamu.
Sampai tidak lama berselang ia menerima bunga kecil yang juga jatuh ke dalam teh. Bunga itu memiliki lima kelopak dengan putik kecil berwarna kuning.
Warna kelopaknya merah muda dan sedikit kehitaman di ujungnya membuat kedua alis sang pemimpin mengerut dalam.
"Anda tidak apa-apa?" tanya salah satu tamu di sana.
"Ah, iya saya baik-baik saja," jawab Bagas dan meletakkan gelas teh di meja kembali membahas persoalan negara dengan beberapa orang pria sebayanya.
"Jadi... dia sudah ada di sini?" benaknya.
Tidak lama setelah itu ia menangkap siluet seseorang masuk ke dalam istana. Kedua sudut bibirnya tertarik pelan mencoba tenang dengan situasinya saat ini.
__ADS_1
"Ah, Anda benar pembangunan proyek di daerah pedesaan itu harus segera diselesaikan agar-" Ia terus me-racau membicarakan pekerjaan.