
"Ayana... Ayana... AYANA!"
Panggil Jasmine berkali-kali kala mendapati wanita di sebelahnya melamun sedari tadi.
Perkataan Ayana yang sudah diucapkan pun masih mengambang tanpa kepastian.
Harapan yang ia berikan belum mendapatkan jawaban pasti, malah membuat Ayana jatuh ke dalam lamunan.
"Ayana? Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Jasmine khawatir.
"Ah, iya... aku tidak apa-apa. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya balik Ayana.
Jasmine menolehkan kepalanya lagi ke depan memandangi tembok di sana.
"Apa kamu sedang memikirkan kondisiku sekarang?"
Hening melanda, Ayana tidak bisa menjawab pertanyaannya keduanya ini. Ia membenarkan dalam diam, sebab sedari tadi memang Jasmine yang ada dalam pikirannya.
Mendapati diamnya sang lawan bicara, Jasmine pun mendengus pelan. Ia tersenyum sendu membayangkan betapa perih kehidupan yang telah dirinya lewati.
"Jangan mengasihani ku seperti itu. Aku-"
"Tidak Jasmine, aku sama sekali tidak berpikir seperti itu... justru, aku ingin membantumu," potong Ayana cepat.
Jasmine menoleh padanya lagi memindai sorot mata Ayana dan tidak ada kebohongan apa pun di sana.
"Kenapa? Kenapa kamu ingin membantuku?"
"Sudah aku katakan... aku sama sepertimu. Aku-"
"TIDAK! KITA SAMA SEKALI TIDAK SAMA. AKU DAN KAMU BERBEDA... KAMU MEMPUNYAI KEHIDUPAN YANG MANIS, SEDANGKAN AKU? Terus terkurung dan dirantai layaknya binatang," ungkap Jasmine menggebu-gebu dan lirih di akhir.
Ia meremas kuat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya seraya merunduk dalam menyembunyikan kesedihan.
Tetes demi tetes air mata berjatuhan membasahi kepalan tangan. Jasmine menangis sendu sampai-sampai tubuh kurusnya bergetar hebat.
Ayana yang menyaksikan itu pun ikut terpukul. Sudah terlalu banyak kisah dalam catatan kelam seorang Jasmine dalam menghadapi problematika kehidupan.
Mungkin tidak ada manis yang ia kecap selama ini, pikir Ayana.
Tangan kanannya terulur hendak mengusap punggung rapuhnya, tetapi mengambang di udara dan ditarik kembali.
Ia tidak ingin mengusik kesendirian Jasmine yang masih terkurung dalam dimensi lain.
__ADS_1
"Tidak Jasmine, aku tidak seberuntung itu. Aku mengatakan ini bukan membanding-bandingkan siapa yang lebih menyedihkan. Apa kamu mau mendengar kisah ku?" tanya Ayana, Jasmine hanya diam tidak merespon.
Ayana menarik kedua sudut bibir mengerti arti diamnya.
"Aku... adalah seorang anak yatim piatu. Orang tuaku meninggal saat aku berumur sepuluh tahun... ketika itu aku mempercayai jika mereka meninggal akibat kecelakaan."
"Tahun demi tahun berganti, sampai kenyataan pun menampar keras jika fakta yang aku dapatkan dulu tidak sinkron dengan kondisi sebenarnya."
"Ayah dan ibu meninggal adanya kesengajaan. Mereka dibunuh dengan cara dibakar bersama delapan orang lainnya di dalam sebuah perusaahan."
"Hatiku sangat hancur kala mengetahui siapa dalang dari pembunuhan tersebut. Kamu tahu siapa itu?" Ayana terkekeh pelan mengandung luka di dalamnya, Jasmine yang sedari diam pun menyadari hal tersebut.
"Dia orang yang selama ini harus aku hormati, tetapi memperlakukanku dengan sangat buruk. Dia adalah nenek dari suamiku sendiri."
Setelah mendengar penjelasan itu Jasmine mengangkat kepala lalu menoleh lagi pada Ayana yang sudah mengalirkan liquid bening.
Ia menghapusnya kasar seraya kembali tertawa penuh perih.
"Sebelum semuanya terungkap, pernikahanku dengan suami tidak berjalan mulus. Aku mendapatkan perlakuan kurang mengenakan sampai pada akhirnya-" Ayana tidak kuasa menahan pedih dan menangis begitu saja.
Isakan pelan yang didengar oleh Jasmine menyadarkan, jika Ayana pun mempunyai masa lalu kelam.
Tangannya terulur mengusap pundak sang pelukis beberapa kali. Mendapati perlakuan hangat seperti itu, Ayana termenung dan tanpa sadar menghentikan tangisan.
"Jika tidak sanggup jangan diteruskan," katanya.
Ayana menggeleng pelan lalu membawa tangan Jasmine dan digenggamnya erat.
"Aku kehilangan bayi yang selama ini kami idam-idamkan, dan hal itu dilakukan oleh suamiku sendiri. Bahkan dengan teganya dia memberikanku madu, yaitu... temanku sendiri."
"Setelah keguguran, aku pergi meninggalkan semua luka dan mendapatkan kejadian tidak mengenakan itu. Hingga pada akhirnya Allah memberikan seorang kakak sebagai pelantara untuk menolongku."
"Sampai pada masanya Allah menyadarkan suamiku dan kami pun memperbaiki kesalahan yang diperbuat di masa lalu."
"Aku juga sempat mengalami depresi dan trauma, sampai-sampai merubah identitas agar tidak bisa dikenali oleh dia lagi. Ghazella Arsyad itulah namaku pada saat itu."
Mendengar nama tersebut Jasmine terkesiap, tidak percaya. Ia pun kembali merenungi setiap kata yang dilontarkan sang pelukis.
"Tetapi takdir Allah berkata lain... Allah menyembuhkan ku sekaligus mempersatukan kami kembali, plus... aku mendapatkan keluarga baru."
"Perjalanan panjang untuk mencapai semua ini memang tidak mudah, tetapi aku yakin kamu juga bisa, Jasmine," kata Ayana diakhir ceritanya.
Berkali-kali Jasmine tercengang mendengar semua rentetan kisah yang sudah seorang Ayana alami. Ia juga tidak berbeda jauh darinya.
__ADS_1
Kehilangan adalah suatu hal paling menyedihkan sekaligus mengejutkan yang harus dialami. Namun, di dalamnya menyuguhkan pelajaran untuk bersikap dewasa menyikapi segala hal.
Setelah usianya cukup mengerti, Jasmine diberitahu jika orang tuanya telah meninggal akibat peperangan.
Pamannya hanya mengatakan ada sekelompok orang jahat mengincar kekayaan keluarga mereka, yang pada akhirnya menewaskan sebagian besar anggota keluarga, termasuk orang tuanya.
Beruntung ia bisa diselamatkan berkat kedatangan sang paman.
"Aku... turut berduka atas apa yang kamu alami, Ayana. Jujur, dua tahun terakhir ini kamu adalah inspirasiku."
"Meskipun aku hanya melihatmu sekejap saja, tetapi kata-kata yang kamu berikan di malam penghargaan waktu itu telah menginspirasiku."
"Aku ingin terbang bebas tanpa aturan apa pun, tetapi aku takut. Aku-"
"Tidak ada yang perlu ditakuti, Jasmine. Selagi Allah yang menjadi pegangan kita maka tidak akan ada yang bisa mengalahkannya," potong Ayana lagi.
Ia juga terkejut jika selama ini sosoknya sudah menginspirasi orang lain. Dalam diam ia mengucap syukur kepada Allah. Karena semuanya berkat bantuan Illahi Rabbi.
"Pada saat itu aku juga berpegang teguh, meminta pertolongan Allah untuk membukakan semua kebenarannya. Selama dua puluh tahun rahasia mengenai meninggalnya orang tuaku, Allah mengungkapkan semuanya sampai ke akar-akarnya."
"Allah melancarkan semua pencarian kami, Allah memberikan jalan yang kami ambil, sampai pada akhirnya sang pelaku mendapatkan balasannya."
"Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang beriman bertawakal. (Q.S. Ali 'Imran: 160.)"
"Aku berpegang teguh pada ayat itu, sampai pada akhirnya Allah benar-benar menolong kami. Allah Maha Baik, Maha Pengasih, Maha Penyayang," tutur Ayana panjang lebar lagi.
Jasmine kembali tercengang, terkesima sekaligus takjub pada pemikiran luar biasa seorang Ayana.
Ia selama ini tidak pernah mempunyai kekuatan itu pun langsung menangis tersungkur.
Ayana yang panik melihatnya buru-buru naik ke atas ranjang dan mengusap punggungnya berkali-kali.
Tanpa diduga, Jasmine memeluknya erat menumpahkan segala kekacauan di pundaknya.
Ayana tersenyum dan membalas pelukan itu tak kalah kuat. Sebagai sesama perempuan terlebih mendapatkan kisah kehidupan yang luar biasa, Ayana bisa merasakan sesakit apa hati Jasmine saat ini.
"Kamu pasti bisa melewatinya," gumam Ayana menyemangati.
Jasmine hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
Dari luar ruangan, Zidan dan Danieal sedari tadi mendengarkan mereka. Keduanya ikut terharu sekaligus bangga atas pencapaian yang berhasil dilalui Ayana.
"Aku sangat mencintai, Ayana," ungkap Zidan lirih mengusap air matanya begitu saja.
__ADS_1
Danieal yang melihatnya pun hanya tersenyum haru.