
Hari yang cerah untuk memulai lagi segala aktivitas. Ayana kembali membuka galeri yang sempat tertunda akibat kejadian tidak mengenakan menimpa Bella.
Ia turun dari lantai dua kamarnya berada menapaki satu persatu anak tangga. Sesampainya di bawah para asisten rumah tangga menyapanya ramah.
Ayana pun sudah tahu jika salah satu dari mereka ada yang bekerja sama dengan sang pianis wanita itu. Namun, ia tetap mempekerjakannya sebab maid tersebut tidak begitu merugikan.
Ia berjalan mendekat ke arah ruang keluarga di mana di sana terdengar suara televisi menyala.
Ayana diam mematung menyaksikan tayangan yang memperlihatkan Saida Barika Bose tengah performance untuk pertama kali di khalayak ramai.
Paska peristiwa menimpa ayahnya, keberadaan Saida semakin mencuat menggemparkan banyak orang. Mereka tidak menyangka jika selama ini Presdir Han menyembunyikan salah satu putrinya.
Namun, setelah keberadaannya mencuat orang-orang banyak yang mengaguminya.
Bibir ranum Ayana melengkung melihat betapa indah permainan yang dilakukan Saida. Selesai menyenandungkan nada-nada lembut dari biolanya, sang violin pun memberikan sambutan demi sambutan.
Tidak lupa di dalam kata-kata yang dilontarkannya tercetus nama Ayana. Sang pemilik nama mengulas senyum lagi ikut terharu akan kesempatan yang diberikan Allah pada Saida.
"Syukurlah kak. Alhamdulillah, aku senang melihat kakak akhirnya bisa tampil ke dunia luar. Semoga banyak orang yang menyukai kakak," gumam Ayana, suaranya sedikit gemetar menahan keharuan masih memandangi layar televisi.
Selang beberapa detik kemudian, sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang. Ayana menoleh sekilas mendapati kepala sang suami bertengger di bahu sebelah kiri.
"Kamu luar biasa, Sayang. Bisa merubah seseorang untuk lebih percaya diri, bagi mereka dan bagiku juga kamu ... adalah orang yang memberikan pengaruh positif," ungkap Zidan yang sedari tadi memperhatikan diamnya sang istri.
Ayana yang mendengar itu menggeleng singkat.
"Itu tidak benar, Allah yang sudah memberikan dukungan penuh pada mereka dan Mas juga. Aku hanya menjadi bagian kecilnya saja. Karena merekalah yang bisa mengubah diri sendiri," kata Ayana merendah.
Zidan hanya mengulas senyum dan semakin menyamankan diri memeluk pujaan hatinya. Ayana hanya diam tanpa membalas ataupun menolak keberadaan sang pria.
Pianis ternama itu pun mengangkat tangan kanan menggenggam lembut dagu lancip Ayana lalu menolehkannya ke samping.
Seketika itu juga ia langsung memberikan kecupan di benda kenyal pasangan hidupnya. Pergerakan cepat tersebut berubah menjadi penyatuan yang mendalam.
Para pelayan yang berada di sekitar buru-buru ke belakang tidak ingin mengganggu kebersamaan kedua tuan rumahnya.
__ADS_1
Namun, ada satu dari mereka yang berdiri tidak jauh dari keberadaan Ayana dan Zidan. Helena, wanita yang menjadi suruhan Bella untuk mengawasi sang pelukis itu pun mengepalkan kedua tangan.
Ia menahan segala gejolak perasaan yang kian meluap-luap dalam dada. Ingatannya berputar ke beberapa minggu lalu sebelum Bella mengalami kecelakaan.
...***...
Helena tengah berada di taman belakang sedang menerima panggilan dari Bella. Ayana yang baru pulang dari galeri pun seketika menghentikan langkah kala tidak sengaja menangkap siluetnya.
Rasa penasaran menuntun ia untuk mendekat, samar-samar ia bisa mendengar namanya terus disebut berulang kali.
"Baiklah saya mengerti. Ayana memang sudah tinggal di mansion ini lagi, dia juga sudah merencanakan penangkapan Presdir Han, tetapi ... entah kenapa tuan Zidan yang melakukan semua itu. Dia benar-benar wanita licik tak berperasaan."
"........"
"Iya baiklah, saya akan terus mengawasinya. Saya-"
Helena menghentikan ucapannya saat tidak sengaja mendengar langkah kaki seseorang. Buru-buru ia mematikan sambungan telepon dan berbalik ke belakang.
Di sana ia melihat Ayana tengah mengembangkan senyum seraya melipat tangan di depan dada.
Helena yang sudah tertangkap basah pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia menggenggam ponsel erat dan menyembunyikannya di belakang punggung.
"Tidak usah disembunyikan, selama ini aku sudah tahu jika kamu orang yang disuruh Bella untuk memata-matai ku, tetapi, sepertinya rencana kalian tidak berjalan lancar, yah?" katanya lagi dengan nada menyindir.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Helena melepaskan formalitas di sana.
"Tidak ada. Hanya saja jika kamu mau bekerjasama denganku ... aku bisa melepaskan mereka." Ayana memperhatikan selembar foto padanya.
Seketika itu juga sepasang manik cokelat di depannya melebar. Helena tidak tahu jika selama ini Ayana sudah mencari informasi tentangnya.
Ia terlalu sibuk kepada pekerjaannya untuk memata-matai Ayana demi Bella. Sampai tidak sadar jika target tengah bergerak di belakang.
"Bagaimana bisa kamu tahu mereka?" tanya Helena gugup memandangi ketiga adiknya dalam foto.
"Ketiga adikmu ini benar-benar sangat pintar, tetapi sayang ... mereka harus putus sekolah. Aku akan menyekolahkan mereka asal kamu mau memberitahu di mana Bella berada," ungkap Ayana menjelaskan tujuan.
__ADS_1
Helena terkesiap, menunduk menghindari tatapan Ayana. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang, di satu sisi dirinya adalah orang kepercayaan Bella, dan di sisi lain ketiga adiknya membutuhkan pendidikan yang layak.
"Jawabannya terserah padamu. Aku tidak akan membocorkan hal ini pada Bella," lanjut Ayana kemudian.
"Baiklah, aku memang tidak punya biaya untuk menyekolahkan mereka. Kedua orang-"
"Ayah dan ibumu sudah resmi berpisah. Mereka meninggalkan kalian dan hidup bersama keluarga baru masing-masing, aku tahu ... aku cukup tahu bagaimana susah serta berat membesarkan ketiga adik sendirian. Karena kedua orang tuaku juga sudah lama meninggal, untuk itu ... aku bisa merasakan kesusahanmu, Helena."
Helena terdiam mendengar sedikit kisah yang Ayana alami. Kedua tangannya terus mengepal erat, ia tidak bisa egois mementingkan diri sendiri dan membiarkan adiknya begitu saja.
"Baiklah, aku akan memberitahumu satu hal," ungkapnya.
Ayana mengembangkan senyum lagi menatap penuh harap pada Helena. "Aku janji akan menyekolahkan mereka sampai ketiganya berhasil."
Helena mengangguk singkat. "Aku memang tidak tahu di mana Bella berada. Aku berkata jujur, saat ini Bella sudah pergi dari ibu kota dan pergi entah ke mana. Satu-satunya orang yang tahu keberadaannya adalah Elisha."
"Elisha adalah manager sekaligus asisten Bella. Dia juga anak angkat dari orang tuanya, tetapi tanpa wanita itu ketahui Elisha mengidap kleptomania yang mana sering mengambil penghasilannya ataupun barang-barang milik Bella."
Ayana melebarkan mata tidak percaya mendengar semua itu dari Helena. "MasyaAllah kenapa ini menjadi sangat menarik?"
"Lalu di mana Elisha itu berada?" tanyanya lagi.
"Wanita itu berada di kantor P entertainment," jawab Helena mengungkapkan keberadaan Elisha.
"Baiklah, terima kasih atas kerjasamanya Helena, aku janji akan menyekolahkan mereka. Kirimkan ketiganya ke sekolah paling bagus, masalah biaya kamu jangan khawatir aku akan mengurusnya. Kalau perlu sampai mereka duduk di bangku kuliah, pastikan tidak ada yang tahu tentang hal ini. Serta pastikan mereka sekolah dengan baik," kata Ayana membuat Helena kembali mengangguk.
"Baiklah, kamu bisa memastikan sendiri nanti. Terima kasih untuk semuanya," lanjut Helena tulus.
Ayana mengiyakan lalu setelah itu pergi dari sana.
...***...
"Wanita ini benar-benar luar biasa. Tuan Zidan beruntung bisa mendapatkannya lagi, aku harap mereka bisa menjalankan rumah tangga dengan baik tanpa kehadiran orang ketiga lagi. Bella-" Helena membatin seraya memandangi kedua tuannya dan melepaskan ingatan hari itu.
Sejak pernyataan Ayana terlontar kini ketiga adiknya sudah bisa kembali bersekolah. Mereka sangat senang bisa belajar di sekolah terbaik di kotanya.
__ADS_1
Apa pun yang Ayana lakukan untuk mereka tidak ada orang luar yang tahu dan hal tersebut menjadi rahasia kedua wanita itu.