Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 22


__ADS_3

Inilah kisah tentang seorang wanita memperjuangkan kebaikan dalam dirinya. Pedih, perih, sakit, nan terluka telah dilaluinya selama enam tahun.


Perjalanan tidak mudah mengandung air mata yang tak berkesudahan. Pergi menjadi pilihan terakhir guna menata hati dan hidup kembali.


Tidak mudah untuk melupakan masa lalu, terlebih begitu kuat luka menganga didapatkan dari pria tercinta. Pernikahan hanya sebatas status tanpa ada cinta dikedua belah pihak, hanya bertepuk sebelah tangan dan berjuang sendirian.


Sakit, sakit, dan sakit sudah menjadi santapannya setiap hari waktu itu. Kebohongan serta dusta menari begitu indah menertawakan nasib tidak menguntungkannya.


Di tengah lantunan musik klasik yang beberapa musisi mainkan, Ayana mengembangkan senyum. Pencapaian selama ini telah membuktikan jika ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri.


Satu berbanding enam, bukan hal mudah untuk kembali bangkit dari terpaan kejadian menyakitkan. Banyak kepedihan dilalui guna menata hidup menjadi lebih baik dan berusaha melupakan masa lalu.


Namun, dari itu ia belajar untuk bersabar dan pasrah pada ketentuan Allah semata. Ia sempat terpuruk, depresi, bahkan sekarang trauma mendera.


Ia tidak bisa percaya pada orang lain lagi tanpa adanya bukti kuat. Ia tidak mau terluka untuk kedua kalinya atas kegagalan yang telah dirinya lewati.


Ia juga tidak menyalahkan siapa pun. Karena ia sadar takdir yang sudah dikecapnya merupakan jalan yang harus dilalui dari Allah.


"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (Q.S. Al-Baqarah: 286)


Ayana meyakini Allah mengujinya dengan luka teramat dalam itu, sebab hanya dirinya saja yang mampu. Ia menerima semua yang telah terjadi dan yakin di baliknya terdapat kebaikan.


Sekarang ia menerima kejutan luar biasa yang Allah datangkan selepas perginya rasa sakit. Ia bisa menjadi seorang pelukis dengan karyanya begitu menakjubkan.


Ia sangat dihargai, dijunjung tinggi oleh orang-orang yang dulu tidak pernah dirinya terima. Di acara megah tersebut ia kembali mendapatkan sebuah penghargaan serta pengakuan.


"Terima kasih ya Allah, atas pencapaian yang sudah Engkau berikan pada hamba," benak Ayana tersenyum manis.


Keberadaannya semakin terendus hingga membuat seorang pria terpaku. Zidan Ashraf, pianis tampan berbakat itu pun sedari terus diam menatap kosong setelah Ayana menerima penghargaan.


Manik cokelat susunya tidak pernah lepas dari wanita berhijab hitam tidak jauh dari pandangan. Tiba-tiba saja jantungnya berdebar kencang membuatnya menegang.


Kejadian satu setengah tahun lalu berdengung mengakibatkan luka lama terbuka. Ia mencengkram dadanya kuat dengan napas naik turun.


Keringat dingin bermunculan hingga kepala bersurai hitam lembutnya menggeleng beberapa kali. Ia mencoba mengontrol dirinya sendiri untuk tidak terlihat lemah.

__ADS_1


"Wa-wanita itu ... kenapa wanita itu mirip sekali dengan Ayana? Apa mungkin dia benar-benar Ayana? Itu tidak mungkin, dia ... dia sudah meninggal satu tahun lalu. Aku sendiri melihat bagaimana jenazah itu masuk ke liang lahat. Apa yang sebenarnya terjadi?" Ia terus bergumam mengundang atensi beberapa orang di sekitar.


Menyaksikan keadaan Zidan seperti itu, Haikal bergegas mendekat. Ia menepuk pundaknya pelan membuat sang empunya mendongak.


Tatapan mereka bertemu, Haikal terperangah menyaksikan sorot mata sayu nan lemah di hadapannya. Sebagai seorang psikolog yang selama ini menemaninya ia menyadari sesuatu, yaitu depresi Zidan kembali.


"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.


Zidan menunduk dalam lalu menautkan jari jemarinya kuat. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Beberapa menit bibirnya tertutup rapat, Haikal yang berdiri di belakang pun menatap ke sekeliling. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang menarik depresi Zidan muncul.


Sampai pandangannya terhenti pada wanita berhijab di atas panggung. Pelukis yang baru mendapatkan penghargaan tadi pun membuatnya menyunggingkan senyum.


"Jadi, wanita itu?" benaknya.


...***...


Acara sudah selesai lima menit lalu, saat ini Ayana sedang berjalan keluar gedung. Langkah percaya diri mengembangkan auranya teramat kuat.


Orang-orang yang berpapasan dengannya saling menyapa, dengan ramah Ayana menganggukkan kepala dan tersenyum lebar.


Tidak ada raut terkejut, maupun tercengang dalam dirinya. Ayana mengembangkan senyum ramah lalu menatap tangan kekar yang tengah mencengkeramnya kuat.


"Bisa lepaskan saya? Saya tidak bisa bersentuhan dengan orang lain," katanya ketus disertai senyum simpul.


"Ah, aku minta maaf." Suara itu kembali menyapa indera pendengaran. Pria di hadapannya ini pun bergegas melepaskan cengkraman.


Sudah satu setengah tahun berlalu ia mencoba melupakan suara yang memberikan kata-kata pedas dan tidak disangka sekarang menyapanya lagi.


Sorot mata hangat menatapnya erat. Dalam diam Ayana menarik sudut bibirnya menyaksikan ada luka di sana.


"Tidak apa-apa. Apa Anda ada keperluan dengan saya?" tanya Ayana memandangi kedua pria di hadapannya.


"Kami minta maaf sudah menghentikan Anda. Saya Haikal dan beliau ini-"

__ADS_1


"Saya tahu, beliau seorang pianis terkenal yang dimiliki negara kita, kan? Em, Zidan Ashraf, benar? Permainan Anda tadi bagus sekali." Ayana lagi-lagi mengembangkan senyum memujinya.


Zidan terperangah, jantungnya kembali berdenyut tak karuan. Bagaikan melihat sosok sang istri tepat di depan matanya, ia ingin merengkuh dan memberikan kata-kata maaf padanya.


"A-Ayana?" panggilnya tanpa sadar.


Ayana mengerutkan dahi sekilas dan melipat tangan di depan dada. "Ayana? Siapa itu?" tanyanya balik menatap mereka lagi.


"Kamu Ayana, kan?" Zidan terus menyebut nama yang sama.


Ayana berpura-pura heran mendengar apa yang baru saja diucapkan Zidan. "Ayana? Saya Ghazella."


"Tidak! Kamu benar-benar Ayana. Ayana kenapa kamu berpura-pura menjadi orang lain?" Zidan bersikukuh jika wanita di depannya adalah Ayana.


Bola mata bening Ayana bergulir memandangi Haikal menuntut penjelasan. Ia mundur dua langkah ke belakang saat Zidan mencoba mencapainya.


Melihat gelagat sang tuan muda, Haikal mencengkram lengannya kuat. "Kami minta maaf, Tuan Zidan sedikit tidak enak badan. Ayo kita pergi dari sini ... senang berkenalan dengan Anda Nona Ghazella."


Haikal mendorong Zidan pergi dengan berbagai kemelut dalam kepalanya. Ia terus yakin jika wanita itu adalah Ayana, istrinya.


"Iya aku memang Ayana ... bahkan nama belakangku saja kamu tidak tahu? Sepertinya selama satu tahun ini banyak yang terjadi," gumam Ayana memandangi kepergian kedua pria tersebut.


Tidak lama berselang langkah kaki seseorang terdengar mendekat. Ayana menoleh ke samping mendapati pria yang selama ini sudah membantunya tengah menatapnya dalam.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanyanya langsung.


"Mas Danieal? Aku hanya bertemu teman lama," balas Ayana lalu kembali menatap ke depan.


Danieal mengikuti arah pandangnya, sekilas melihat siluet dua orang yang menghilang di belokan. Ia kembali memperhatikan Ayana yang terus menyunggingkan senyum penuh makna.


"Sepertinya teman lamamu itu-"


"Aku tidak ingin membahasnya." Ayana pun melangkahkan kaki diikuti Danieal.


Tanpa mereka sadari sepasang mata mengawasinya sedari tadi. Ia muncul di balik tembok melihat Ayana yang sudah masuk ke dalam kendaraan roda empat.

__ADS_1


Kedua maniknya membulat sempurna, ia mengepal kedua tangan erat menyaksikan apa yang baru saja terjadi.


"Mba-Mbak Ayana?" gugup Gibran yang dari awal sudah memperhatikan Ayana.


__ADS_2