
Waktu tidak akan pernah meninggalkan bekas masa lalu. Kenangan itu selalu ada dan melekat dalam diri sekuat apa pun dilupakan.
Rasa sakit memang tidak mudah untuk dihempaskan begitu saja, terlebih terlalu banyak kenangan yang mengakibatkan ingatan berkepanjangan. Meskipun hanya ada memori kepedihan, tetapi di dalamnya terdapat suka cita meskipun hanya sesaat.
Dari lantai dua, Ayana menyaksikan semua orang tengah bercengkrama satu sama lain. Ia meletakan kedua tangan di besi pembatas dengan sorot mata tajam.
"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Sekarang kamu sudah bertemu dengan orang-orang di masa lalu." Suara baritone menyapa.
Ayana menoleh ke sebelah singkat. "Tidak ada, aku hanya akan hidup seperti orang asing bagi mereka."
"Apa kamu masih mencintainya?"
Pertanyaan itu mengundang seringaian, Ayana mendengus pelan dan menoleh padanya lagi. "Mas Danieal sudah tahu bagaimana tersiksanya aku waktu itu. Bagaimana sekarang aku masih bisa mencintainya? Aku-"
"Dia sudah menyesal dan jatuh cinta padamu." Danieal memotong ucapannya cepat.
Ayana menegakan tubuh lalu mencengkram besi pembatas kuat. Di bawah sana bola matanya jatuh pada sosok masa lalu yang pernah menyakitinya berulang kali.
"Menyesal dan cinta adalah dua hal berbeda. Dia hanya menyesal sudah melakukan hal salah, dan cinta? Apa benar ada cinta untukku di hatinya? Setahuku di matanya hanya ada wanita lain," tutur Ayana datar.
"Kamu salah Ayana, dia benar-benar sudah mencintaimu. Mungkin rasa bersalahnya sangat besar, tetapi perasaan itu telah tumbuh," kata Danieal lagi menjelaskan.
"Aku bisa melihatnya dari kacamata seorang pria. Jika Zidan ... benar-benar mencintaimu," ungkapnya lagi.
Ayana kembali mendengus kasar tanpa mengatakan apa pun. Sulit untuk percaya pada kata-kata cinta yang orang lain katakan.
Perasaan itu bagaikan sudah menghilang dan terhapus dalam kamus hidupnya. Saat ini Ayana hanya ingin menata kehidupan lebih baik lagi tanpa harus dibayang-bayangi masa lalu kelam.
"Anakku ... dia meninggal disebabkan oleh ayahnya. Bukan tanpa sengaja, tapi ... sangat disengaja. Aku masih belum bisa melupakan kejadian itu. Sakit ... rasanya sakit sekali."
__ADS_1
"Bayi yang tidak bersalah harus menanggung keegoisan orang tuanya. Anakku yang malang, maafkan Mamah, sayang. Mamah-"
"Shut, sudah Ayana. Maaf, Mas mengingatkanmu lagi pada masa menyakitkan itu." Danieal menepuk pundak sebelah kirinya pelan.
Ayana yang hendak menangis pun kembali menelannya. Ia menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan. Bibir ranum itu melengkung sempurna masih dengan menatap ke bawah di mana orang-orang di masa lalu berkeliaran.
"Sekarang aku ingin menata hidup menjadi lebih baik untuk ... anakku juga," lanjutnya.
Danieal mengulas senyum simpul. "Iya, Mas akan mendukung apa pun keputusanmu, tapi ... jangan pernah melihat kesedihan itu lagi." Ayana hanya mengangguk mengiyakan.
...***...
Sedari tadi diam-diam, Zidan menoleh ke lantai dua menyaksikan Ayana yang tengah berinteraksi dengan Danieal. Wajah berseri penuh keceriaannya begitu menarik pandangan, tanpa sadar ia membeku memandangi kecantikan sang mantan istri.
Sudah lama mereka tidak saling sapa, satu tahun bukan waktu sebentar memisahkan keduanya. Jarak dan waktu yang dirasa sudah berbeda nyatanya takdir memberikan kejutan lain.
Wanita yang mengaku sebagai Gahzella Arsyad hadir mengikis kekosongan dalam dada. Zidan yakin, seyakin-yakinnya, jika wanita itu adalah Ayana.
Merasakan kehadiran seseorang, sang dokter menoleh ke samping kanan mendapati Zidan berdiri mematung di sana.
"Oh Tuan Muda, Zidan," panggilnya.
Zidan mengangguk singkat dan mendekatinya. Kedua pria itu kini saling bersebelahan, Danieal menunggu apa yang hendak disampaikannya terlebih dahulu.
"Ghazella, dia ... benar-benar mirip dengan mendiang istriku, Ayana," kata Zidan tiba-tiba.
Danieal yang tahu kebenarannya pun mendengus pelan. "Kenapa kamu terus terobsesi dengan adikku? Apa yang sudah kamu lakukan pada istrimu? Sampai-sampai Ghazella dianggap seperti dia."
"Aku ... sudah melakukan banyak kesalahan yang tidak bisa termaafkan," ungkap Zidan jujur.
__ADS_1
Dalam diam Danieal membaca gerak-geriknya. Sebagai dokter yang tahu mengenai kejiwaan, ia memahami jika Zidan memiliki riwayat depresi serta halusinasi.
Ia bisa membaca dari gerak-geriknya serta penyesalan yang tersorot jelas dari kedua mata. Ia menarik sebelah sudut bibir singkat teringat lagi bagaimana rasa sakit yang dimiliki Ayana disebabkan oleh pria ini.
"Memang tidak mudah menerima kepergiaan seseorang, terlebih ... ada luka yang sudah ditorehkan. Namun, penyesalan tidak bisa mengembalikan keadaan. Sekuat apa pun, sejauh apa pun, kita berusaha, masa lalu tidak akan pernah terulang kembali."
"Nasi sudah menjadi bubur, peristiwa tersebut sudah terjadi. Waktu akan terus berputar dan memberikan perubahan. Jika kamu memang benar-benar menyesal ... perbaiki saja hubunganmu dengan Sang Pencipta. Minta pada-Nya untuk memaafkan semua kesalahan yang sudah kamu lakukan, terutama pada istrimu, Ayana. Sampai saatnya tiba Tuhan akan memberikan jalan kebenaran." ungkap Danieal panjang lebar.
Zidan terperangah dan seketika menoleh padanya memberikan tatapan penuh tanya. Danieal pun membalas hingga pandangan mereka mengunci satu sama lain.
"Aku seorang dokter dan psikolog. Aku tahu apa yang sudah kamu lalui selama ini. Jangan pernah terpuruk dan menyerah pada keadaan. Semua akan baik-baik saja, jika kamu menerima segalanya dengan lapang dada."
Zidan terdiam tidak percaya. Baru kali ini ada seseorang yang menasehatinya panjang lebar seperti itu. Ia semakin dan semakin teringat pada istrinya, Ayana. Penyesalan terus menggerogoti diri mengalirkan bayangan masa lalu.
Penyiksaan yang kerap terjadi secara verbal terus dilayangkan mengalirkan asa sakit tak berkesudahan. Ia mengerti bagaimana terlukanya Ayana waktu itu.
"Eum, terima kasih." Hanya itu yang bisa ia katakan.
Danieal memberikan senyum simpul menyaksikan kegelisahan dari lawan bicaranya. Ia juga tidak percaya jika sosok suami dari Ayana di masa lalu adalah Zidan Ashraf. Seorang pianis berbakat yang namanya sudah melalang buana di mana-mana.
Pria di hadapannya ini kerap mendapatkan berbagai penghargaan di berbagai negara. Keberadaannya pun patut diapresiasi berkat bakat yang dimilikinya.
Zidan Ashraf sudah mengharumkan nama negara di kancah internasional sebagai pianis termuda waktu itu. Namun, Danieal tidak menduga jika perlakuannya pada Ayana berbanding terbalik dengan nada-nada lembut yang dimainkannya.
Musik klasik itu nyatanya, hanya menampilkan pesonanya saja di atas panggung tanpa memberikan kebahagiaan pada pasangan hidup.
Ia juga tidak percaya jika Zidan tega membunuh jabang bayinya sendiri yang masih berada dalam kandungan. Danieal mengerti seperti apa rasa sakit yang harus Ayana tanggung saat itu sampai memutuskan untuk pergi.
Bahkan sekarang ia mencoba menjadi orang asing dan mengubur dirinya dengan kata meninggal. Waktu itu Ayana sendiri yang menginginkan kematian palsu.
__ADS_1
Ia berharap dengan kejadian itu bisa membunuh rasa sakit dan mengubahnya menjadi kebaikan. Ayana berharap masa lalu terkubur bersama jiwa yang telah meninggalkannya. Ia tidak bisa kembali lagi pada orang yang sudah menyakitinya.