Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 31


__ADS_3

"Jadi, bagaimana keadaan ketiga adikmu? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Ayana balik setelah sedikit kepelikkan melanda.


Senyum pun merekah di wajah cantik Helena. Kepalanya mengangguk singkat seraya menegakan tubuh tegas.


"Mereka sangat bersemangat, sekolah merupakan tempat yang paling adik-adikku impikan. Bisa menuntut ilmu dan bertemu teman-teman lain membuat ketiganya gembira. Terima kasih Ayana, berkat bantuan mu ketiga adikku bisa melanjutkan mimpinya," ucap Helena haru.


"Alhamdulillah, aku sangat senang mendengarnya. Semoga ketiga adikmu bisa mewujudkan cita-cita setinggi langit," balasnya lega.


"Aamiin," jawab Helena singkat. "Oh yah, apa kamu perlu sesuatu? Biar aku lakukan," lanjutnya.


"Ah, aku lupa membuat susu untuk Raima. Tidak usah, kamu kembali saja aku yang akan menyiapkannya sendiri," balas Ayana menolak secara halus.


"Baiklah kalau begitu aku ke belakang dulu."


Ayana hanya bergumam hm sebagai jawaban.


Tidak lama setelah itu susu untuk Raima selesai dibuat. Ayana kembali ke lantai dua hendak memberikan minuman putih tadi kepada anak angkatnya.


Pintu kamar dibuka perlahan, seketika pemandangan di depan membuatnya terpaku. Sang pelukis diam diambang pintu menyaksikan kebersamaan suami dan putri kecil mereka.


Senyum penuh keharuan pun mengembang perlahan. Ayana meremas botol susu saat bayangan mendiang buah hatinya kembali menyeruak.


Kepala berhijabnya menengadah menahan air mata untuk tidak tumpah lagi.


"Seandainya anak kami lahir ke dunia, mungkin seperti inilah gambarannya. Jika dia ada mungkin sekarang sudah berusia dua tahun."


"Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan? Tidak Ayana, semua sudah menjadi ketentuan di atas. Aku harus terima karena inilah yang terbaik," racaunya lalu masuk dan berbaring di sisi lain Raima.


Suami istri itu pun tidur bersama bayi mungil di tengah-tengah mereka.


...***...


Tiga minggu kemudian, pesta syukuran menyambut kedatangan Raima ke keluarga Ashraf dan Arsyad pun digelar di kediaman Zidan.


Bangunan berlantai dua dengan arsitektur menarik itu disulap menjadi bernuansa hangat. Banyak sanak saudara serta rekan-rekan kerja di undang.


Mereka turut senang atas pengangkatan anak yang kini sudah diberi nama Raima Ashraf.


Acara demi acara berlangsung lancar. Semua tamu undangan menikmati hidangan yang tersedia di sana.


Tak jarang berbagai pro dan kontra hadir sebagai bumbu yang tidak pernah lepas dari segala aspek kehidupan.

__ADS_1


Meskipun Ayana mengetahui hal tersebut, ia lebih memilih untuk mengabaikannya.


"MasyaAllah, Mbak turut senang untukmu Ayana," ucap Bening yang juga turut hadir memeriahkan.


"Alhamdulillah, terima kasih banyak Mbak," balas Ayana mengembangkan senyum manis.


"Sayangnya bukan anak kandung. Apa kamu tidak malu? Suamimu rela merogoh kocek tidak sedikit untuk mengadakan syukuran demi anak orang lain." Basima dengan kipas di tangannya menyindir cucu menantunya sarkas.


"Apa yang akan dikatakan rekan-rekan kerja kita setelah tahu kalian punya anak orang lain? Kamu benar-benar yah Ayana, tidak tahu malu," lanjut Mega yang berdiri tepat di sebelah ibunya.


Perlahan Ayana mengepalkan kedua tangan erat berusaha menahan emosi dan tidak mengacaukan jalannya acara.


Ia lalu menyeringai memandangi keduanya bergantian dan berjalan mendekat. Melihat hal tersebut baik Basima maupun Mega pun terkesiap.


"Tidak tahu malu? Apa kalian tahu arti tiga kata itu?"


Menyaksikan reaksi keduanya Ayana semakin menyeringai lebar. Ia kemudian mencondongkan tubuh ke depan tepat di tengah-tengah mereka.


"Artinya kalian sama saja, tidak tahu malu sudah ikut hadir ke acara ini." Ayana kembali menarik diri memandangi keduanya lagi.


Basima dan Mega pun terkesiap tidak bisa berkata-kata. Keduanya tidak menyangka Ayana bisa membalas perkataan tadi lebih dari apa yang bisa diucapnya mereka.


"Assalamu'alaikum, selamat siang semuanya."


Di tengah ketegangan terjadi di sana, suara seseorang mengalihkan perhatian. Atensi keempat wanita berbeda usia itu pun menoleh ke belakang.


Mereka melihat sepasang manik berlensa cokelat terang tengah memandanginya satu persatu. Senyum lembut yang mengambang di wajah cantiknya menambah pesona.


"Kirana?" Panggil Ayana terkejut.


"Kirana? Siapa dia?" tanya Mega kemudian.


"Ah, perkenalkan saya Kirana Mahesa. Saya model untuk produk baru perusahaan tuan Zidan dan sudah bekerja sama hampir satu bulan," jelas Kirana memperkenalkan diri.


"Oh, senang bertemu denganmu. Saya Mega, adik ayahnya dan ini Nenek Zidan. Beliau adalah istri dari pendiri perusahaan Floella parfume," ungkap Mega.


"Ah senang bertemu dengan Anda. Suatu kehormatan bisa berjumpa dengan pendiri perusahaan tempat saya bekerja. Kebetulan saya datang ke sini karena mendapatkan undangan dari tuan Zidan, dan ini-" Kirana menyodorkan barang bawannya kepada Mega.


Wanita itu pun langsung mengambilnya tanpa rasa malu.


"Semoga Anda menyukainya," lanjut Kirana lagi.

__ADS_1


"Wow, barang branded. Mah lihat ini," katanya menunjukkan paper bag dari merek tas terkenal kepada sang ibu.


Basima berdehem pelan dan mengangguk singkat.


"Kamu punya selera yang bagus juga," ucapnya membuat Kirana mengulas senyum.


"Terima kasih banyak, Nyonya. Saya senang bisa datang ke sini, tuan Zidan terlihat bahagia bisa memperkenalkan putri kecilnya. Saya sangat menyayangkan jika bayi itu bukan darah dagingnya. Ah, maafkan atas kelancangan saya." Kirana berpura-pura menyesali ucapannya barusan.


"Tidak usah meminta maaf memang seperti itu kenyataannya. Istrinya memang tidak becus membahagiakan suaminya sendiri," balas Mega lagi dan lagi, senang mendapatkan seseorang yang membelanya.


"Kamu cukup paham situasi juga," timpal Basima kemudian.


"Ah kalau begitu ayo kita bicara di sana," ajak Mega menarik pelan lengan sang model.


Kirana mengangguk mengiyakan dan mengikuti ke mana kedua wanita itu membawanya.


Di sana tersisa Ayana dan Bening yang sedari tadi diam menyaksikan drama singkat mereka. Ia tidak menyangka tepat di depan mata kepalanya sendiri wanita asing itu menghinanya secara terang-terangan.


"Siapa wanita itu? Apa itu dia? Bagaimana bisa dia berkata seperti tadi? Wah, dia benar-benar seperti rubah. Wanita itu pintar memanipulatif dan memanfaatkan keadaan. Juga, bagaimana bisa nenek dan tante Zidan mempermalukan mu? Apa mereka tidak punya hati? Astaghfirullahaladzim," racau Bening mengusap wajah gusar.


Ayana hanya menghela napas kasar memandangi ketiganya yang berjalan menjauh. Mendengar dengusan itu Bening menoleh kembali padanya.


Sorot mata kesal terlihat jelas dalam manik jelaganya. Bening melipat tangan di depan dada kala teringat sesuatu yang sudah berhasil dirinya dapatkan.


"Jadi, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Aku sudah mengirim semua file mengenai kedua wanita itu," lanjutnya lagi.


"Tidak usah terburu-buru, aku tahu apa yang harus dilakukan," gumamnya penuh keyakinan.


Bening mengangguk senang melihat ketegasan di wajah cantik itu untuk kesekian kali.


"Mereka salah sudah merendahkan mu. Semua orang yang sudah mengusik ketenangan mu hanya tinggal menunggu waktu kapan keadaan berbanding terbalik. Sayang sekali, Danieal tidak ada di sini," ucap Bening membuat Ayana menyeringai lebar.


"Sepintar-pintarnya kita menyembunyikan bangkai pasti akan terendus juga. Baunya akan menyebar cepat atau lambat. Allah maha tahu kapan waktu untuk membalas semuanya." Yakin Ayana menguarkan aura dominan.


Bening yang merasakan hal itu pun mengembangkan senyum. Ia tahu jika saat ini Ayana tengah mengatur strategi guna melawan orang-orang yang telah merendahkannya.


Bagaimanapun juga tidak ada orang yang bisa luput dari kesalahan masa lalu. Jika itu sebuah kesalahan maka akan terus membayang-bayangi diri.


Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Itulah pribahasa yang Ayana suka.


Sepandai-pandainya menyembunyikan kesalahan pasti akan terbongkar juga, hanya tinggal menunggu waktu kapan semuanya bisa berlalu.

__ADS_1


__ADS_2