
Kejadian mengerikan harus terjadi di mansion Zidan. Di tengah tenangnya rasa syukur menerima kelimpahan rahmat yang telah Allah hadirkan, nyatanya mendatangkan kengerian.
Orang tidak dikenal hadir memberikan satu peristiwa mendebarkan.
Keberadaannya menjadi sebuah noda yang seharusnya tidak terjadi. Namun, apa bisa dikata semua telah menjadi bagian dari rencana Allah.
Semua orang terkejut melihat putra tampan dari keluarga dokter tersebut terkena busur panah.
Tubuh tegapnya tergeletak dengan darah mengalir dari tusukan anak panah dari seseorang yang menancap di punggung sebelah kiri.
Orang-orang terus berdatangan pada dokter muda yang kini tengah terbaring bersimbah darah di balkon lantai satu.
Jasmine berdiri mematung yang tengah bertatapan langsung dengan Danieal.
Bibir menawan yang semula memberikan pernyataan cinta nampak memucat dan tersenyum lebar padanya.
Jasmine terpaku, membeku menyaksikan itu semua.
Setetes air mata mengalir tak tertahankan membuat Jasmine semakin terbelalak.
Kepala berhijabnya menoleh ke segala arah mencari petunjuk asal datangnya anak panah.
Manik keabuannya seketika melebar kembali menangkap siluet seseorang yang berada di balik pohon besar itu.
"Dia-" benaknya langsung berlari keluar dari sana.
Bersamaan dengan itu Ayana yang hendak mendekati Jasmine pun terkejut.
Bola matanya mengikuti ke mana wanita itu pergi dalam diam. Zidan yang sedari tadi setia merangkul bahunya hangat memberikan perlindungan.
"Ke mana Jasmine pergi? Apa yang akan dia lakukan?" gumamnya penasaran.
"Mas." Ayana mendongak melihat ke dalam iris jelaga sang suami. "Kenapa semuanya terjadi seperti ini? Mas Danieal? Apa yang terjadi dengan Mas Danieal? Apa Mas Danieal akan baik-baik saja? Kenapa harus Mas Danieal? Kenapa?" Ia terus memberondong Zidan dengan berbagai pertanyaan mengenai sang kakak.
"Shut, tenang Sayang. Kamu tidak usah khawatir, Danieal akan baik-baik saja. Dia pria tangguh yang tidak akan tumbang begitu saja. Tenang yah, kamu jangan khawatir," balas Zidan menenangkan.
Keduanya lalu melihat Danieal yang tengah dikerumuni keluarga besar.
Sang ibu terus memberikan pengobatan pertama sembari menunggu ambulans datang.
Wajahnya nampak cemas melihat anak panah yang menancap di tubuh kekar sang putra dan bekerjasama dengan suaminya.
Orang tua yang berprofesi sebagai dokter itu pun bersama-sama menahan pendarahan dari luka menganga tersebut.
Semua orang yang ada di sana ikut khawatir sekaligus takut sesuatu terjadi pada Danieal terlebih melihat mata itu menutup rapat.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini? Om, Tante, apa ada yang tidak suka dengan Mas Danieal? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa-"
__ADS_1
"Kamu yang tenang yah Kirana. Kita belum tahu motif apa yang dilakukan pelaku sampai melayangkan anak panah ini," potong Celia berusaha menenangkan diri sendiri.
Kirana yang kembali pulang dari luar negeri beberapa minggu lalu pun menganggukkan kepala.
Ia datang ke mansion Zidan untuk menghadiri acara syukuran empat bulanan Ayana sekaligus bertemu putri kandungnya.
Beberapa hari lalu ia sudah berjanji untuk pulang dan menemui Ayana beserta Raima.
Namun, di tengah suka cita yang mendera kejadian mengerikan harus terjadi.
Semua di luar bayangan, Ayana terus menangis melihat keadaan sang kakak. Ia sangat terpukul, pertama kali menyaksikan saudara sambungnya tidak berdaya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Semua akan baik-baik saja. Tidak apa-apa." Zidan terus melayangkan kata-kata menenangkan bagi pujaan hati.
Tidak lama setelah itu ambulans pun datang. Buru-buru Danieal dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Ayana, Zidan, Celia, Adnan, dan Kirana ikut bergabung menemaninya pergi.
...***...
Jasmine terus berjalan mengitari taman belakang mansion. Kepalanya menoleh ke segala arah untuk mencari lebih jauh apa yang terjadi.
Kakinya terus melangkah menuju pohon besar tempat orang tak diundang tadi berada.
Tidak lama setelah itu ia terdiam, membeku di tempat. Manik jelaganya melebar sempurna dengan bibir ranumnya sedikit terbuka.
Wajahnya tertutup topeng, di punggungnya tersampir tas busur serta panah besar menjadi barang bukti.
Sedetik kemudian sosok itu membuka topeng yang semakin membuat Jasmine terbelalak.
"Sudah aku duga, kamu pelakunya. Ada lambang keluarga kita di ujung busur yang kamu layangkan."
"Kenapa? Apa yang kamu inginkan dariku? Semua sudah berakhir, jangan pernah menganggu aku lagi!" ujar Jasmine dengan emosi memuncak.
Pria itu tertawa kencang, seraya melipat tangan di depan dada terus meremehkan Jasmine.
"Jasmine-Jasmine, kamu benar-benar munafik. Kamu anak tidak tahu malu dan tidak tahu diri sudah membuat orang yang membesarkan mu mati!" sarkasnya.
Mendengar kata-kata menyakitkan itu membuat Jasmine hanya menyeringai lebar.
Ia mendengus kasar dan mengepal tangan erat. Kedua kakinya melangkah lalu berdiri tepat di hadapan pria itu.
"Dengar yah, Darius... jangan kamu pikir aku akan membiarkan kamu berkeliaran begitu saja setelah apa yang terjadi saat ini. Aku akan membuatmu juga berakhir di jeruji besi."
"Aku tidak peduli apa yang kamu katakan, yang jelas orang tuamu sudah sangat bersalah. Camkan itu!" Jasmine mendorong kasar bahu sepupunya tersebut.
Ia pun melangkahkan kaki dari hadapannya seraya memberikan tatapan nyalang.
__ADS_1
Darius, pria berusia sama dengannya itu tertawa sarkas. Ia memandangi kepergian sepupunya dengan sorot mata tajam.
"Awas kamu Jasmine! Aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang. Aku harus membalaskan kematian ayah. Gara-gara dia semuanya hancur berantakan. Aku terlambat selangkah darinya," gumam pria berperawakan tinggi semampai itu.
Selama ini Darius menghabiskan masa remaja serta dewasanya di negara orang. Ia sengaja diasingkan oleh Alexa agar tidak ikut terseret masalah gelap pria tua keji itu.
Malam menjelang, Ayana, Zidan, dan juga Kirana sama-sama berada di rumah sakit.
Mereka menunggu operasi Danieal yang dilakukan oleh kedua orang tuanya dan juga beberapa dokter lain.
Di lorong sepi itu, Ayana terus gelisah dalam diam. Berkali-kali ia melirik pintu ruang operasi berharap ayah dan ibunya segera keluar.
Namun, harapan hanyalah tinggal harapan. Semua keinginan itu tak kunjung terkabul.
"Apa kamu tahu sesuatu? Kenapa bisa ada orang lain yang melayangkan panah pada Danieal?" tanya Kirana yang duduk di samping Ayana.
"Aku juga tidak tahu, kenapa semua ini bisa terjadi. Padahal kami tidak punya musuh dari siapa pun," jelas sang pelukis berbadan dua tersebut.
"Apa jangan-jangan-"
"Lebih baik kita tidak usah menduga-duga sebelum kebenaran terungkap," ujar Zidan cepat memotong perkataan Kirana.
Wanita itu hanya mengangguk mengiyakan.
Di tengah kemelut diri yang menerpa, perlahan satu sosok berjalan lunglai mendekati mereka.
Dengan wajah pucat serta ketakutan kian mendera, ia hadir tepat di depan Ayana.
Ketiga orang itu mendongak bersamaan mendapati keberadaannya.
"Ja-Jasmine, kenapa-"
Jasmine langsung bersimpuh di depan Ayana dengan kepala berhijabnya menunduk dalam.
Ayana, Zidan, serta Kirana pun menautkan alis tidak mengerti. Mereka sama-sama diam menunggunya apa yang hendak disampaikan Jasmine.
Tidak lama berselang, suara lirih wanita itu berdengung di lorong sepi.
"Aku... minta maaf, Ayana. Semua ini terjadi karena kesalahanku. Maaf... aku benar-benar minta maaf. Aku yang menyebabkan semua kekacauan ini."
"Ma-mas Danieal sampai masuk rumah sakit karena perbuatan ku. Syukuran empat bulanan mu kacau, karena kehadiran ku. Jika saja aku tidak ada pasti semua ini tidak akan terjadi."
Jasmine terus meracau dengan berlinang air mata. Ia tidak kuasa menahan kesedihan yang terus menerus membuatnya bersalah.
Ia sangat malu pada Ayana, sebab sudah mengacaukan acara syukuran sang sahabat dengan menghadirkan peristiwa mengerikan.
Isakkan tangisnya pun mengalun di sana.
__ADS_1