
Hari-hari berlalu begitu saja dengan perjalanan panjang penuh rintangan berliku terjal. Tidak ada yang mengetahui akan ada apa esok hari, semua menjadi rahasia Illahi Rabbi.
Jejak masa lalu akan selalu mengikuti ke manapun sang pemiliknya pergi. Melupakan menjadi satu-satunya jalan guna melepaskan.
Hana Tsubaki tidak menyangka jika dirinya benar-benar bisa terbang bebas dan mendapatkan kembali sayapnya yang telah patah.
Ia menemukan harapan baru, lebih besar dari sebelumnya. Mimpi yang dulu sempat meredup perlahan cahaya masuk memberikan keinginan lain lagi.
Ia tidak menduga jika rahasia yang bertahun-tahun disembunyikan sang ayah terbongkar begitu saja. Keinginannya untuk mengadakan pesta di istana putih menjadi keputusan terbaik.
Sejak ia melakukan speak up mengungkapkan siapa jati dirinya pun keadaan berangsur-angsur mereda. Banyak orang percaya jika Hana tidak terlibat apa pun dengan kejahatan sang ayah.
Kini sudah satu bulan berlalu Hana bisa menerima keadaan baru, tanpa ada bayang-bayang siapa pun lagi.
Ia bahkan sering bertemu Ayana dan menghabiskan waktu bersama di galeri. Sang pelukis senang bisa bersama dengan teman satu hobinya lagi.
Hana juga sudah keluar dari istana putih dan tinggal di salah satu apartemen sederhana.
Satu minggu ini Ayana dan Hana menciptakan karya baru untuk menebus janji yang sempat tertunda. Wanita berbadan dua itu mendapatkan izin dari keluarganya agar bisa berada di sana lagi.
Dengan pengawalan yang ketat serta penjagaan luar biasa Ayana kembali ke galeri. Meskipun keadaan tersebut tidak membuatnya nyaman dan leluasa, tetapi itu syarat yang harus dirinya lakukan agar bisa keluar.
"Pasti kamu tidak nyaman dengan keberadaan mereka, kan? Maaf, aku tidak bisa menolaknya," kata Ayana di tengah kegiatan melukis mereka.
Hana menyapukan pandangan ke sekitaran di mana ada empat pria berpakaian serba hitam mengawasi keduanya.
Bibir keriting itu melengkung sempurna dan kembali pada Ayana.
"Tidak apa-apa, itu buktinya keluargamu sangat peduli. Aku ikut senang... kamu bisa mendapatkan orang-orang yang sangat mencintai dan menyayangimu," balas Hana kemudian.
Ayana pun mengulas senyum lembut dan menyapukan kuasnya lagi ke atas kanvas.
"Alhamdulillah, terima kasih, Hana. Semua ini aku dapatkan tidak mudah. Aku yakin... kamu juga bisa mendapatkannya," jawab Ayana lagi.
"Aamiin, semoga. Sudah keluar dari ruangan saja aku sangat bahagia, apalagi... bisa melukis denganmu lagi seperti ini, Ayana," ungkap Hana melirik sekilas pada lawan bicaranya.
Ayana menghentikan pergerakan, menggulirkan iris matanya ke samping. Ia melihat coretan demi coretan cat minyak di kanvas milik Hana.
Lukisan yang dibuatnya sudah tidak asing lagi. Nuansa serta gradasi warna yang digunakan wanita itu masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah.
__ADS_1
Ia sadar selama ini Hana adalah pelukis berbakat dalam aliran surealisme. Gambar-gambarnya yang unik terkadang bisa membuat Ayana membayangkan sesuatu di luar nalar.
Semua itu hanya bisa dilakukan oleh Hana semata, sedangkan dirinya berkecimpung dalam aliran realisme.
Apa pun yang menarik pandangan bisa ia lukis dan hanya ditambah beberapa imajinasi untuk menghidupkan gambar.
"Hana, boleh aku bertanya sesuatu?"
Ayana buka suara lagi, Hana yang tengah menuangkan khayalannya pun hanya bergumam "hm" sebagai jawaban.
"Dari mana kamu belajar melukis? Dan... kenapa kamu memilih aliran surealisme?"
Mendengar pertanyaan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, seketika menghentikan pergerakan Hana.
Tiba-tiba saja kuas dalam genggaman terlepas begitu saja membuat Ayana ikut terkesiap.
"Ma-maaf, sepertinya aku salah bertanya seperti itu. Aku-"
"Tidak." Secepat kilat Hana memotong ucapan Ayana.
Ia membalikan badan hingga saling berhadapan dengan sang lawan bicara. Sorot mata tegas tertangkap pandangan Ayana, pelukis cantik itu tidak tahu apa yang tengah Hana pikirkan.
Ayana manggut-manggut paham, jika Hana benar-benar terkejut akan pertanyaan yang ia berikan tadi.
"Apa sulit untuk kamu jawab? Kalau memang seperti itu, aku tidak keberatan jika kamu tidak memberikan jawaban," kata Ayana lagi, tidak memaksa.
Hana menggeleng singkat dan mengulas senyum simpul. Bola matanya bergulir ke samping kiri Ayana menatap jendela di belakang sang pelukis.
"Dulu... sejak berumur enam tahun, aku pernah menghabiskan waktu bersama ibu."
"Pernah? Apa hubungan Hana dan ibunya tidak sebaik itu? Benar juga... aku tidak mendengar apa pun mengenai ibunya," benak Ayana di tengah mendengarkan cerita Hana.
"Satu hari... kami duduk bersama di belakang rumah. Pemandangan di sana terlihat sangat indah, di mana bangunan-bangunan rumah nampak jelas berjajar rapih."
"Saat itu ibu mengajariku cara melukis, beliau juga sempat mengatakan, Hana, jika kamu punya mimpi, tetapi sulit untuk diwujudkan, maka lukis lah khayalan itu dalam bentuk gambar. Tuangkan semua yang kamu inginkan. Meskipun tidak bisa menggapainya, tetapi kamu masih bisa melihatnya."
"Aku pun mengiyakan ucapan ibu itu dan mulai menggambar apa yang ada di kepalaku. Imajinasi demi imajinasi liar aku tuangkan ke dalam bentuk lukisan."
"Tahun berganti tahun, keadaan keluarga kami semakin tidak karuan. Pada akhirnya mimpi yang aku ingin capai benar-benar hancur tak terselamatkan," jelas Hana menceritakan sepenggal kisah kelamnya selama ini.
__ADS_1
Ia tidak pernah mengatakan pada siapa pun perihal mimpi yang ingin sekali bisa dirinya wujudkan. Sudah banyak karya yang ia buat secara diam-diam agar tidak diketahui sang ayah.
Namun, serapat apa pun ia menyembunyikan, Bagus tetap saja mengetahuinya. Pria tak berperikemanusiaan itu menghancurkan semua lukisannya dan mengasingkan Hana ke sebuah desa terpencil.
Di sanalah Hana bertemu dengan Ayana yang sama-sama memiliki hobi melukis. Mereka cocok satu sama lain dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk melukis.
Kenangan masa-masa itu masih segar dalam ingatan, tidak akan pernah bisa Hana lupakan sampai kapanpun.
"Bertemu denganmu membangkitkan kembali khayalanku, Ayana. Sejak saat itulah aku sering menggambar seperti ini," jelasnya lagi.
Ayana tercengang, ia pikir Hana belajar secara formal. Namun, nyatanya mereka sama-sama belajar otodidak.
Dua wanita yang memiliki hobi sama itu pun memiliki aliran melukis berbeda, tetapi perbedaan itulah membuat mereka bersatu.
"Jadi, kamu tidak sengaja menemukan aliran surealisme... karena perkataan ibumu?" tanya Ayana kembali.
Hana mengangguk singkat menjawab pertanyaannya barusan.
"Iya, mungkin bisa dibilang seperti itu," balasnya.
Kedua sudut mulut sang pelukis pun melengkung, membentuk kurva sempurna. Ia lega mendengar alasan Hana senang melukis.
"Terima kasih, kamu sudah mau menceritakannya padaku. Jujur... aku suka dengan lukisan mu ini, seolah... aku bisa merasakan apa yang ada dalam mimpimu," aku Ayana.
Hana terkesiap, tidak percaya ada seseorang yang menyukai karyanya. Sejauh ia melukis baru kali ini ada satu orang yang memuji hasil jerih payahnya.
Bahkan sang ayah sering memberikan kata-kata menyakitkan mengenai bakatnya tersebut.
Keharuan pun menyeruak mengalirkan cairan bening, kebahagiaan.
"Jangan menangis, aku tahu seperti apa perjuangan kita dalam mempertahankan sebuah karya. Aku sangat menyukai lukisan mu, Hana." Ayana menepuk pundak sang lawan bicara pelan membuat Hana tersentak.
Ia pun langsung menerjangnya cepat dan menangis sejadi-jadinya. Ayana membalas pelukan itu tak kalah erat seraya memberikan elusan pelan di punggung rapuhnya.
Keempat pria yang berada di sana pun berusaha mengontrol emosi berkecamuk dalam dada. Mereka juga tahu siapa Hana Tsubaki.
Saat mendengar sendiri mengenai mimpinya, keempat pria bertugas menjaga Ayana pun ikut terharu.
Mereka sama-sama melihat kedua wanita itu saling berpelukan dan menguatkan satu sama lain.
__ADS_1
Ayana bersyukur, teman seperjuangannya di rumah sakit hingga sekarang bisa terlepas dari jerat rasa sakit.