Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 121


__ADS_3

Siang ini galeri Ayana resmi dibuka kembali. Sang pelukis tengah melayani beberapa pengunjung yang sibuk menanyai keberadaannya beberapa hari ke belakang.


Ia terus memberikan penjelasan jika sedang berada di kesibukan yang lain. Semua orang yang berada di sana begitu mengagumi sosok Ayana.


Orang-orang yang menggilai dunia seni mendukung penuh keberadaan pelukis baru ini. Mereka sering mengikuti pagelaran yang Ayana lakukan.


Di tengah kesibukan yang melanda, pintu galeri dibuka seseorang. Langkah tegap tamu itu pun menyapa pendengaran.


Ayana menoleh ke samping mendapati seseorang yang dikenalnya.


"Mas Arfan?" panggilnya dengan gembira.


Para pengunjung di sana pun menoleh ke arah yang sama. Mereka terkejut mendapati Arfan, pemilik perusahaan seni ternama sekaligus pelukis terkenal datang ke sana.


Mereka saling berbisik-bisik saat Ayana dan Arfan saling pandang serta tersenyum manis.


"Aku pikir mereka cocok satu sama lain."


"Apa kamu bercanda? Bukan hanya cocok mereka seperti ditakdirkan untuk bersama."


"Hei, pelan kan suara kalian, aku juga berpikiran yang sama."


Kelompok wanita muda itu pun membicarakan keduanya. Samar-samar Ayana maupun Arfan mendengar perkataan mereka.


"Mohon maaf sesi tanya jawab kita harus berakhir di sini. Saya harus melayani tamu VIP ini terlebih dahulu?" ucap Ayana berbalik ke belakang memandangi keempat wanita di sana.


"Silakan, silakan, tidak usah sungkan," balas salah satu dari mereka.


Ayana mengangguk pelan dan memberikan senyum lembut. Setelah itu ia pun berjalan beriringan bersama Arfan yang membuat keempat penyuka seni lukis tersebut semakin terkagum-kagum.


...***...


"Kamu dengar apa kata mereka tadi? Katanya kita cocok satu sama lain," ucap Arfan menoleh ke belakang sekilas mengingat percakapan para wanita itu.


Ayana tergelak seketika, "sungguh, apa yang mereka pikirkan?"


Keduanya pun tiba di sebuah meja samping jendela lalu duduk di sana berhadap-hadapan. Tidak lama setelah itu Seruni menyajikan dua gelas teh hijau serta makanan manis sebagai pendamping.


Ayana dan Arfan pun mengucapkan terima kasih bersamaan lalu menikmati minumannya.

__ADS_1


"Em, seleramu masih sama seperti pertama kali kita bertemu," ucap Arfan memulai pembicaraan.


"Aku tidak bisa lepas dari teh ini," balas Ayana kemudian.


Arfan hanya menganggukkan kepala sekilas lalu memandang ke luar. Ayana pun mengikutinya menyaksikan banyak pejalan kaki berlalu lalang.


Siang ini langit begitu cerah dengan awan putih berarak tertiup angin. Sesekali hembusannya akan masuk ke galeri menyapa mereka.


Para pengunjung pun terus berdatangan, melihat-lihat karya Ayana. Seruni disibukan dengan pekerjaannya untuk melayaninya dengan baik.


"Aku turut sedih atas apa yang menimpa Bella," kata Arfan lagi.


Ayana menoleh mendapati pria itu tengah menopang dagu di atas meja seraya masih menatap keluar jendela.


Ia menangkap gurat kesedihan di wajah tampannya. Ayana kembali meneguk tehnya singkat dan menautkan jari jemari di meja.


"Memang sangat disayangkan jika Bella tidak bisa menggunakan jari jemarinya lagi untuk bermain piano. Dia harus pensiun dini," ungkap Ayana.


"Apa?" Arfan menoleh cepat, terkejut bukan main. "Di-dia harus pensiun dini?"


"Iya, itulah yang terjadi. Kecelakaan yang menimpa Bella membuat kesepuluh jarinya terhimpit badan mobil dan mengakibatkan cedera serius," balasnya lagi.


Ayana diam tidak beraksi apa-apa, hingga beberapa detik kemudian ia kembali bersuara.


"Apa dulu Mas mencintainya?" tanyanya begitu saja.


Arfan membungkam mulut rapat, tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Ayana. Masa-masa indah yang pernah ia bagi bersama Bella seketika berkelebatan dalam ingatan.


Bertahun-tahun mereka menjalin kasih, nyatanya Arfan hanya dimanfaatkan sebagai alat oleh Bella untuk melancarkan aksinya.


"Dulu ... aku sangat mencintainya. Aku tahu meskipun dia tidak pernah membalas perasaan ini ... aku selalu berada di sampingnya dan mengikuti apa pun keinginannya, yang mana hal tersebut justru menyakiti seseorang."


"Dia ... satu-satunya wanita yang aku kencani dengan serius. Namun, sekarang aku sadar menjalin hubungan sebelum adanya ikatan pernikahan adalah dusta dan ... Allah tidak meridhoi nya. Sampai Allah pun membuka mata hatiku untuk melihat kebenaran."


"Aku berpisah dengan Bella dan mulai menata kehidupan lebih baik. Darinya aku juga menjadi Arfan yang sekarang," tutur sang pengusaha tampan itu panjang lebar.


Ayana yang sedari tadi mendengarkan mengulas senyum lembut. Ia mengerti begitu banyak cerita yang ditempuh seseorang untuk berubah menjadi lebih baik.


Termasuk dirinya. Ia juga harus melalui jalanan penuh liku nan terjal, bahkan sampai tergoda untuk mengakhiri hidup.

__ADS_1


Beruntung Allah memberikan kesempatan padanya agar kembali berubah. Ayana tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu dan hendak menjalankannya sebaik mungkin.


Ia pasti menebus kesalahan di masa lalu dengan menata hidup lebih baik lagi dan hanya berlandaskan kepada Allah semata.


"Aku harap kejadian ini bisa menyadarkan Bella dari kesalahannya," ucap Ayana setelah sekian lama bungkam.


"Em, aku pun berharap seperti itu."


"Apa Mas sudah menjenguknya?" tanya Ayana lagi.


"Untuk saat ini ... belum," jawab Arfan, Ayana pun hanya mengangguk mengerti.


Beberapa saat kemudian, seseorang datang mengusik kebersamaan mereka. Ayana dan Arfan menoleh ke samping melihat sang pianis tengah memandangi keduanya dengan tatapan nyalang.


"Mas Zidan?" Panggil Ayana acuh tak acuh.


"Aku dengar semuanya. Dari tadi semua orang membicarakan kalian betapa cocoknya kalian satu sama lain sebagai pasangan pelukis," cerocosnya tanpa henti.


Ayana dan Arfan saling pandang lalu tertawa bersama.


"Ya, Ayana ... apa kamu benar-benar menerima pria ini bersamamu?" ucap Arfan seraya menengadahkan tangan kiri ke samping tepat di mana Zidan berdiri.


Ayana mengangkat cangkir tehnya lagi sambil menggelengkan kepala dan tersenyum lebar.


"Apa kamu tahu? Kami bahkan terlihat serasi jika bersama, apa kamu mau memberikan Ayana padaku?" tanya Arfan menengadah menjahili pria itu.


Zidan langsung mengambil kursi dan meletakkannya di samping Ayana. Tanpa malu ia merangkul bahu sempit sang pujaan memamerkan wanita ini adalah miliknya.


"Tidak ada tempat bagimu untuk merebut Ayana. Aku tidak akan menyerahkannya pada siapa pun, Ayana istriku ... sampai kapanpun akan menjadi istriku!" ucapnya menggebu-gebu seperti anak kecil yang tengah mendekap orang berharganya.


Arfan cengo lalu memandang Ayana lagi hingga keduanya pun kembali tertawa bersama. Zidan yang tidak mengerti menatap mereka bergantian.


"Hei, aku berkata serius. Kenapa kalian malah tertawa?" tanyanya heran.


"Iya-iya Tuan serius, tidak akan ada yang bisa merebut Ayana darimu," timpal Arfan lagi.


Ayana masih tergelak dan berusaha menahannya. Ia tidak menyangka bisa melihat kecemburuan Zidan seperti anak kecil.


"Jadi, seperti inikah Mas Zidan jika sedang cemburu? Benar-benar, aku tidak pernah tahu jika dia memiliki sisi yang sangat manis. Aku-" benak Ayana terhenti seketika kala manik jelaganya memandang lekat sang suami.

__ADS_1


Arfan yang sedari tadi memperhatikannya pun melengkungkan kedua sudut bibir lebar. "Syukurlah Ayana, kalian sudah baik-baik saja," batinnya.


__ADS_2