
Akhir, adalah sebuah kata untuk menyelesaikan semua rentetan cerita dalam kehidupan.
Satu titik berjuta makna guna memulai hal baru lagi memberikan sebuah harapan. Tidak mudah memang dalam berproses mendapatkannya.
Namun, di balik itu semua ada pembelajaran yang bisa diambil. Melihat suatu masalah dari satu sisi terkadang memberikan dampak negatif, tetapi jika dilihat dari sudut pandang lain bisa mendatangkan aura positif.
Husnuzon lah pada Allah. Karena Dia tahu yang terbaik untuk masa depan.
Keheningan mengambil alih suasana di sana. Bermandikan cahaya matahari yang masuk lewat celah jendela besar di ruang inap tersebut, mereka terus diam menunggu jawaban.
Sang pasien yang menjadi tujuan masih membungkam mulut rapat membiarkan sepi mendominasi.
Sampai tidak lama berselang, satu kata mengembalikan kehangatan.
"Kenapa?" tanya Jasmine setelah sekian lama.
Ayana kembali mengembangkan senyum, senang mendapatkan respon dari lawan bicara.
"Karena aku ingin menunjukkan seperti apa warna-warni di dunia ini. Kamu tidak akan terjebak selamanya di dalam kegelapan," jelas Ayana yang lagi-lagi mengejutkan Jasmine.
Kedua irisnya melebar seraya menoleh padanya lagi.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Sederhana saja, aku akan datang ke mansion keluargamu untuk mencari tahu di mana orang tuamu dan semua anggota keluarga Mahesa dikebumikan."
Penjelasan tersebut kembali mencengangkan. Jasmine menggeleng-gelengkan kepala sambil mencengkram kedua bahu Ayana kuat.
"Tidak! Kamu tidak boleh ke sana," cegahnya takut-takut.
"Kenapa? Apa di sana ada sesuatu yang menyeramkan?" tanya Bening yang sedari tadi terus memperhatikan mereka.
Seketika Jasmine berpaling padanya cepat.
"Lebih dari menyeramkan. Di sana adalah kumpulan orang-orang tak punya hati, sekali kamu masuk... maka jangan harap bisa kembali keluar," jelas Jasmine merinding.
"Apa yang pernah terjadi di sana?" tanya Danieal ingin tahu.
"Pada saat aku masih dikurung... aku pernah mendengar suara beberapa wanita datang ke tempat kami. Di sana paman dan anggota komplotannya melakukan pesta sampai pagi."
"Namun, di saat para wanita itu meminta jatah untuk waktu semalam dan merengek pulang, mereka dengan sadisnya-" Jasmine mencengkram selimut kuat menahan perih dalam dada kala ingatan hari itu kembali terbayang.
"Mereka membunuh para wanita itu. Aku mendengar pedang menghunus tubuh mereka dan setelahnya bau anyir pun tercium. Aku tidak kuasa menahan mual dan muntah begitu saja."
"Seperti... aku melihat ayah dan ibu dibantai tepat di depanku," jelas Jasmine, tubuhnya gemetar berusaha tenang.
__ADS_1
"Istighfar Jasmine... tidak apa-apa semua akan baik-baik saja," kata Ayana menyemangati.
Jasmine pun menutup kedua matanya rapat dan melakukan apa yang disuruh Ayana tadi. Ia terus beristighfar dibantu kata-kata semangat dari sang dokter.
Menyaksikan betapa terpukulnya wanita itu membuat Zidan pun khawatir. Ia berjalan mendekat setelah dirasa kondisinya membaik.
"Apa semua yang datang ke sana tidak bisa kembali lagi?" tanya Zidan kemudian.
Jasmine pun kembali mendongak membalas tatapannya.
"Hanya ada satu, dia adalah-"
Semua orang di sana menunggu dengan sabar serta ada ketegangan melingkupi mereka.
"Aku," lanjut Jasmine membuat keempat insan tersebut menjatuhkan rahang masing-masing.
Ayana terkekeh pelan seraya mengangguk singkat.
"Itu benar, kamu satu-satunya orang yang berhasil keluar serta kabur dari sana. Karena kamu berhasil kabur, aku yakin... aku juga bisa," kata Ayana lagi.
"Tapi tetap saja, Ayana, aku-"
"Tidak apa-apa, Jasmine. Aku melakukan ini untuk kebaikan kita juga. Karena-"
"Kalau begitu izinkan aku yang pergi. Kamu tunggu saja hasilnya di sini," potong Jasmine cepat.
"Sayang, aku jadi ragu untuk mengizinkan mu pergi," lanjut Zidan semakin membuat Ayana menautkan kedua alis.
"Apa? Bukankah kita sudah sepakat tadi?" Ayana mendongak melihat sang suami yang ada di belakangnya.
Kepala berhijab itu menyentuh perut six pack pasangan hidupnya membuat Zidan menatap ke bawah.
"Iya, hanya saja-"
"Tidak apa-apa, kalian tidak usah khawatir. Ada Allah yang menjaga kita, lagipula aku tidak bekerja sendiri. Ada Mbak Bening dan Mas Danieal yang akan membantu."
"Lalu bukankah kamu juga akan membantu?"Ayana memberikan tatapan penuh tanya pada sang suami.
Zidan menggaruk pangkal lehernya pelan seraya berdehem singkat. Sebelumnya ia sudah mengizinkan sepenuhnya Ayana pergi ke mansion keluarga Mahesa.
Namun, setelah mendengar serta melihat ketakutan Jasmine, nyalinya kembali ciut. Berbanding terbalik dengan Ayana yang semakin membara, tidak sabar untuk bisa datang ke sana.
Ia pun kembali menarik diri dan beralih pada Jasmine lagi.
"Tidak usah khawatir, semua akan baik-baik saja, okay. Kalau mau, kamu juga bisa ikut bersama kami untuk melancarkan aksi ini, bagaimana?" tawar Ayana membuat Jasmine sedikit bernapas lega.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu aku setuju. Aku akan ikut bergabung bersama kalian... karena bagaimanapun ini menyangkut kehidupanku."
Ayana mengulas senyum senang dan mengangguk mengiyakan.
...***...
Selepas membicarakan rencana demi rencana di rumah sakit, Ayana dan Zidan pun pulang ke kediaman mereka.
Ayana langsung menemui Raima dan memandikannya. Setelah itu ia menidurkan sang putri seraya menepuk-nepuk pelan pundaknya.
Aroma khas bayi yang menguar dari tubuh mungil Raima memberikan ketenangan. Ayana menggendongnya dalam pelukan seraya menimang-nimangnya pelan.
"Anak Mamah yang cantik," gumamnya membubuhkan kecupan di dahi lebarnya.
Tidak lama setelah itu Ayana menidurkan Raima di ranjang lalu mengusap puncak kepalanya sayang.
Ia pun bergegas keluar untuk menemui bayi besarnya yang sedari perjalanan pulang terus merajuk.
Ayana membuka pintu kamar dan mendapati sang suami tertidur menyamping, memunggunginya. Bibir ranum itu melengkung dan perlahan berjalan mendekat.
Tangan ramping Ayana terulur mengusap pundak lebar pasangan hidup.
"Mas, jangan marah. Bukannya aku tidak mau menuruti-"
"Tapi ini berbahaya Ayana. Bagaimana kalau kamu tidak kembali lagi?" Zidan langsung berbalik menghadapnya.
Sang pelukis mengulas senyum singkat. "Apa selama aku menghadapi presdir Han ataupun nenekmu... aku pernah tidak kembali? Di manapun aku berada... kamu akan selalu menemukanku. Sama seperti satu tahun kita terpisah," kata Ayana mengusap rahang pria terkasihnya pelan.
Zidan tercengang dan membenarkan dalam diam perkataan sang istri.
"Tetap saja-"
Ucapan itu seketika terhenti oleh aksi yang dilayangkan Ayana. Ia menghentikan ucapan Zidan dengan memberikan penyatuan.
Ia menciumnya lihai berharap sang suami mengerti. Zidan yang awalnya kesal pun seketika luluh dan ikut ke dalam permainan.
Keduanya saling tarik menarik, tidak mengalah. Zidan semakin menekankan kepala Ayana untuk terus mendekat.
Di tengah pergolakan yang terjadi, Ayana membuka mata melihat wajah menawan tepat di dekatnya. Ia senang kehidupan rumah tangganya baik-baik saja.
Zidan begitu perhatian dan sangat memanjakan dirinya. Namun, meskipun begitu Ayana bukanlah sosok lemah seperti dulu.
Ia bisa meninggalkannya kapan pun jika Zidan kembali bermain di belakang. Kepercayaan yang ia berikan dua kali pada sang suami bisa luluh lantah begitu saja jika lagi-lagi dikhianati.
"Aku yakin penyesalan itu sudah membuatnya belajar," benak Ayana kembali menutup mata.
__ADS_1
Setelah itu mereka pun melanjutkan sampai pada kegiatan puncak.