Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 117


__ADS_3

Menatap sepasang onyx yang kini tengah memandanginya, bagaikan berada di padang oasis tandus.


Misteri hidup siapa pun tidak ada yang tahu. Kadang kala kedatangannya memberikan kejutan tak terduga.


Tidak ada yang mau mengulangi kesalahan, yang mendatangkan kepedihan. Namun, kadang kala diri harus dituntut menerima semua yang terjadi.


Cinta yang masih menuntun keduanya untuk kembali bersama. Kadang kala terbersit dalam diri, bukankah semua cerita akan berakhir? Entah itu sebagai happy ending atau sad ending. Tergantung bagaimana diri menyikapi skenario yang telah Allah berikan.


Layaknya magic, sihir yang dituangkan pada kehidupan seseorang bagaikan kedipan mata. Jika Allah sudah berkehendak, apa pun bisa terjadi.


Tidak ada yang mustahil bagi-Nya, jika kun fayakun sudah didengungkan.


Ayana tidak mengira akan bersama untuk kedua kalinya dengan pria yang telah menyakiti bertubi-tubi.


Ia berpikir memang inilah hidup yang harus dijalaninya. Hitam, putih, senang, sedih, sudah mendapatkan bagiannya masing-masing.


Dalam diam, Zidan menggenggam lengan ramping sang pujaan, Ayana pun menoleh memperhatikannya lekat.


Perlahan, gerakan lembut yang dilakukan tangan berotot itu membuat baju bagian lengan sebelah kiri Ayana terangkat.


Zidan terkesiap, terkejut, tercengang, sekaligus merasakan sakit bertubi-tubi menyaksikan bekas goresan demi goresan yang sudah menghitam di sana.


Air mata mengalir tak tertahankan, tubuh kekarnya bergetar kuat menahan isak tangis. Ayana hanya terus memperhatikannya dalam diam.


Ia tidak mengusik tangisan itu ataupun mengucapkan sepatah kata. Bibirnya terkatup rapat bak terkunci erat tidak ada niatan untuk membukanya.


Kepala berambut hitam lembut Zidan pun semakin merunduk dan merunduk. Hingga dahi tegasnya menyentuh pergelangan tangan sang istri.


Ayana bisa merasakan air mata menetes di sana, kehangatan itu menandakan jika sang suami sangat terpukul atas apa yang terjadi padanya.


Mereka pun hanya diam ditemani detikan jam dan alunan isak tangis lirih sang pianis. Tanpa ekspresi Ayana masih betah dengan posisinya.


Selang beberapa menit kemudian, Zidan mengangkat kepalanya lagi. Pandangan mereka kembali bertemu melakukan kontak mata berbicara lewat sorotannya.


"Bagaimana? Bagaimana bisa ini terjadi padamu, Sayang?" tanya Zidan setelah sekian lama hanya menangis.


Ayana mengulas senyum simpul dan memalingkan muka ke arah lain.

__ADS_1


"Semua sudah terjadi, tidak ada yang perlu kita bahas lagi," balasnya singkat.


"Aku sudah mendengar semuanya dari Danieal. Waktu kejadian di mansion itu ... Danieal menceritakan semua yang terjadi padamu. Mulai dari seorang pria tua yang hampir melecehkan mu sampai ... kamu mengalami trauma dan depresi. Aku-"


Zidan menghentikan ucapannya saat tiba-tiba tubuh Ayana gemetar hebat. Bola mata cokelat beningnya bergulir tak tentu arah seperti menghindari sesuatu.


Seluruh tubuhnya mengingat kembali apa yang terjadi hampir dua tahun lalu. Ia berusaha menahan sesak dalam dada yang semakin meningkat tajam.


Zidan yang melihat Ayana seperti itu pun buru-buru memeluknya erat. Berkali-kali ia memberikan kecupan hangat nan dalam di puncak kepalanya.


"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Jangan takut, ada aku di sini ... aku tidak akan meninggalkanmu, Sayang," ucap Zidan mencoba menenangkan.


"Istighfar Sayang, istighfar," lanjutnya.


Ayana pun mengikuti suruhan sang suami dan mendengungkan istighfar berkali-kali.


Zidan terus menerus mengusap punggung ramping pujaan hatinya dan kembali memberikan kata-kata penenang.


Alhasil perbuatannya itu membuat tubuh Ayana berangsur-angsur tenang. Ia tidak lagi gemetaran serta merasa nyaman berada di pelukan sang suami.


Ia menggenggam erat tangan kanan sang terkasih dan memberikan kecupan di sana.


"Waktu itu merupakan waktu terkejam bagiku. Di mana tidak ada satu pun yang tahu bagaimana hancurnya perasaan ini. Hatiku sangat sakit ... sangat-sangat sakit. Hancur, satu kata yang bisa mewakilinya."


"Aku merasa ... jiwaku sudah mati, lalu, saat berada di rumah sakit aku menemukan kaca dan dipecahkan menjadi bagian-bagian kecil. Menggunakan pecahan itu aku-" Ayana menjeda kalimatnya kemudian mengangkat lengan sebelah kiri sembari menyingkap piyama yang tengah dikenakan.


Seketika semua bekas luka terpampang nyata, di balik cahaya lampu terang benderang sayatan itu pun terlihat jelas.


Zidan mengikuti arah pandangnya dan kembali tergores luka dalam dada.


"Satu sayatan memiliki cerita sendiri dan air mata menjadi saksinya. Saat melihat darah keluar dari sayatan ini aku merasa ... benar-benar hidup."


"Saat itu aku berpikir, kenapa semua orang begitu kejam memberikan luka teramat dalam kepadaku yang benar-benar hidup?"


"Kenapa?" Di saat pertanyaan itu terlontar kristal bening berjatuhan. Lengkungan bulan sabit pun muncul sebagai tanda jika perasaan masa lalu masih tertinggal dalam benak.


"Kenapa semua orang sangat kejam padaku? Dan menyakitiku teramat parah? Termasuk ... orang yang sangat aku cintai."

__ADS_1


"Aku hidup ... aku benar-benar hidup di sini, tetapi kenapa kalian memperlakukanku seperti orang meninggal tak berperasaan? Kenapa?"


Ayana terus meracau, menangis dan menangis menyalurkan perasaan yang masih mengendap di dada.


Ia memeluk kedua lutut erat menyembunyikan wajah berair di atasnya. Zidan lagi-lagi terpukul melihat sendiri bagaimana terpuruknya Ayana.


Hatinya bak diremas tangan tak kasat mata memberikan luka teramat perih. Ia memeluk istrinya lagi dari belakang dan menyembunyikan wajah di bahu ramping itu.


"Aku benar-benar minta maaf, Sayang. Kelakuanku waktu itu sudah membuatmu se-menderita ini, aku sangat menyesal," ungkap Zidan kembali.


Ayana masih terisak tanpa mengindahkan ucapannya.


Pasangan suami istri itu menghabiskan malam dengan menangis bersama. Mereka mencoba menguatkan satu sama lain dengan gerakan impulsif.


...***...


Ayana membuka matanya, hal pertama yang dilihat adalah wajah damai sang suami. Tangan rampingnya terulur dan bersandar di rahang tegas Zidan.


Manik jelaganya terus memindai lekuk wajah pria yang sudah bertahun-tahun ia cintai. Perasaan yang awalnya hanya bertepuk sebelah tangan, kini telah terbalaskan.


"Apa harus melewati rasa sakit dulu baru perasaanku kamu balas, Mas? Terima kasih sudah mau melindungi ku berkali-kali dan mengorbankan dirimu sendiri-" Ayana menghentikan perkataannya begitu saja, tanpa ada niatan untuk melanjutkan.


Ia pun sedikit beranjak dari berbaring lalu memberikan kecupan hangat di pipi sebelah kanannya.


"Aku-" lanjut benaknya yang masih menggantung.


Entah kenapa lidahnya seketika tercekat saat hendak mengutarakan sebuah kata-kata. Masih ada ketakutan dalam diri Ayana jika mengutarakan kalimat itu kejadian kemarin bisa saja terjadi lagi.


Trauma, perasaan tersebut tidak bisa dihapuskan begitu mudah dan menjadi kekhawatiran sendiri.


"Aku minta maaf," katanya lagi lirih dan kembali menutup mata.


Diam-diam Zidan memperhatikan gerak-gerik Ayana. Selang beberapa detik kemudian kelopak matanya terbuka memindai wajah cantik sang pujaan.


Bibir menawan itu melengkung membentuk kurva sangat indah seraya berbisik lirih dalam benak, "Aku akan menunggu sampai kamu mengatakan cinta lagi. Sampai kapan pun aku akan menunggumu, Sayang."


Keheningan menjadi saksi bisu bagaimana ungkapan terdalam pasangan suami istri tersebut bergelora. Kini mereka saling mencintai dan masih terhalang oleh tembok tak kasat mata bernama masa lalu.

__ADS_1


__ADS_2