Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 4 CHAPTER 14


__ADS_3

Jasmine yang tengah bersiap-siap mandi pun menghentikan pergerakannya. Ia yang baru saja membersihkan wajah samar-samar mendengar pergerakan seseorang di dalam kamar.


Merasa ada yang tidak beres, ia mengusap air di wajahnya begitu saja dan buru-buru keluar dari kamar mandi.


Ia mematung di tempat kala mendapati wanita berhijab hitam yang beberapa saat lalu bersamanya ada di dalam ruangan pribadinya.


Ia memperhatikan sang adik ipar, seolah tengah menemukan sesuatu yang sangat mengejutkannya.


"Ayana!"


Jasmine memanggil Ayana yang tengah berdiri di depan meja rias seraya menggenggam kertas. Seketika pelukis cantik itu berbalik dan sontak membuat jantungnya berdegup tak karuan kala menyaksikan benda yang tengah berada di kedua tangannya.


Darah di sekujur tubuh Jasmine pun berdesir hebat, otot-otot tubuhnya kaku tidak bisa menggerakkan tangan ataupun kaki sedikitpun.


Terbuka sudah rahasia besar yang selama ini mati-matian ia sembunyikan. Detik itu juga Ayana Ghazella mengetahui kondisi Jasmine yang sebenarnya.


Mendengar namanya dipanggil dengan nada terkejut, Ayana pun mengangkat pandangan. Kedua matanya memerah dengan bibir ranum terbuka perlahan.


Dengan gerakan patah-patah, Ayana berjalan mendekat sembari masih menggenggam kertas yang sudah dibukanya.


Rasa tidak percaya merundung nya seketika. Lidah Ayana kelu tidak bisa mengatakan sepatah kata saat berhadapan dengan kakak iparnya.


Seolah ada sesuatu dalam tenggorokan, tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Hanya sorot matanya saja yang berbicara, memperlihatkan apa ini benar?


Secepat kilat menyambar, seketika itu juga Jasmine mengambil alih surat dalam genggaman Ayana. Ia menyembunyikannya di balik punggung dengan wajah dingin.


Ia berusaha tegar dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa menghadapi Ayana.


"Apa yang kamu lihat, itu tidak benar. Aku-"


"Ja-jadi ini yang kamu sembunyikan selama ini? Ka-kamu mengidap PCOS? Ada kitsa-kista kecil yang membuatmu... sulit hamil?" tegas Ayana mengutarakan apa yang baru saja didapatinya.


Belum sempat Jasmine menjawab pertanyaan itu, suara dari belakang sang pelukis mengejutkan.


"Apa? Apa itu benar?"


Keduanya sama-sama menoleh ke arah pintu masuk di mana Danieal tengah berdiri di sana dengan sorot mata serius.


Ia berjalan mendekati sang istri dan melewati adiknya begitu saja.


"Ka-kamu mengidap PCOS?" tanya suaminya lagi sambil mencengkram kuat kedua bahu Jasmine.

__ADS_1


Merasa keberadaannya tidak diharapkan, Ayana balik badan. Namun, pergerakannya begitu berat seperti ada berton-ton besi merantai kedua kaki.


Dengan gerakan perlahan Ayana menyeret langkahnya keluar ruangan. Sampai beberapa saat kemudian ia sudah tiba di luar kamar keduanya dan menutup pintu.


Pandangannya jatuh ke bawah dengan rasa sesak mengendap dalam dada. Tanpa sadar buliran kristal bening terus bercucuran.


"Sayang?"


Suara lain mengejutkan, Ayana menoleh ke samping kiri di mana, di sana sang suami tengah memandanginya penuh khawatir.


"Mas Zidan." Ayana langsung berlarian lalu menerjang tubuh kekarnya cepat.


Zidan yang belum mengerti apa yang terjadi pada istrinya membalas pelukan itu tak kalah erat. Tangan tegapnya mengusap lembut sang pujaan, berusaha menenangkannya.


"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja," bisik nya, mengerti jika ada sesuatu tengah terjadi.


Ayana terus menangis dan terisak di balik punggung tegap sang suami. Ia sangat terluka menerima kenyataan yang menamparnya begitu kuat.


Ia tidak pernah membayangkan Jasmine akan mengidap suatu penyakit yang menghambat kesuburannya. Ia pikir ada masalah kewanitaan lain yang tidak begitu berat, tetapi nyatanya sangat jauh berbeda.


Ia benar-benar terpukul dan merasa bersalah. Karena selama ini ia pun ikut andil dalam kapan Jasmine punya anak. Meskipun ia berusaha menenangkannya, tetapi fakta mengatakan tidak semudah itu dalam menghadapi permasalahan.


...***...


Danieal dengan setia mencengkram kedua bahu Jasmine dan menunggu apa yang hendak disampaikannya. Namun, setelah lima menit berlalu sang kekasih hati tidak mengatakan apa pun.


"Sayang. Jawab aku, apa benar kamu mengidap PCOS seperti yang Ayana katakan tadi?" tanya Danieal lagi dan kali ini sedikit mengguncangkan tubuh kecil kekasih hati.


Jasmine menjatuhkan pandangan ke bawah, tidak sanggup jika harus melihat tatapan penuh luka kekasih halalnya.


"Benar."


Satu kata meluluhlantakkan perasaan Danieal. Ia menjatuhkan tangan begitu saja dan bersamaan dengan guntur kembali datang.


Perasaannya bagaikan tercabik-cabik, tak karuan. Kepala berambut hitam kelam itu pun menggeleng beberapa kali.


Ia mengusap wajah gusar dan menunduk dalam.


Jasmine yang sedari tadi memperhatikan sikapnya pun merasa buruk. Ia sudah sangat mengecewakan suaminya teramat dalam.


Ia kembali meremas surat dokter yang belum sempat dirinya buang. Ia terlalu ceroboh dan membiarkan sang adik ipar melihatnya.

__ADS_1


Namun, ia juga menyadari jika tidak ada yang bisa menyembunyikan bangkai selamanya. Suatu saat pasti baunya akan tercium juga.


Ia tidak pernah menyangka hari tidak terduga seperti itu datang melanda. Ia belum siap melihat reaksi suaminya, dan benar saja Danieal terlihat sangat terluka dan kecewa.


"Aku minta maaf. Aku tidak bisa memberikan keturunan, lebih baik... lebih baik Mas ceraikan saja aku dan menikahi wanita subur lainnya," ungkap Jasmine, suaranya bergetar nan lirih.


Seketika itu juga Danieal, mengangkat kepalanya lagi dan melihat senyum lemah di wajah istrinya.


Tanpa mengatakan apa pun ia menarik Jasmine ke dalam pelukan dan memberikan ciuman mendalam di puncak kepalanya.


"Apa yang kamu katakan? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Bagaimanapun kondisinya kita akan selamanya bersama-sama. Karena aku mencintaimu, Sayang. Aku sangat mencintaimu."


"Saat aku mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu, dalam hati berbisik... aku berjanji di hadapan Allah jika aku akan mencintai wanita ini selamanya, apa pun kondisinya. Jadi, jangan berkata berpisah atau menyuruhku mencari wanita lain."


"Karena aku tidak akan pernah melakukan itu, Sayang."


Ungkapan yang diberikan suami tercintanya sampai ke relung terdalam. Jasmine terbelalak dan sedetik kemudian isak tangis mengalun pelan di kamar mereka. Ia sangat terharu dan tidak menduga mendengar kata-kata manis tadi.


Ia lalu membalas pelukan sang suami dan mencengkram kemeja Danieal kuat. Ia menumpahkan segala kesakitan yang selama ini dipendamnya seorang diri.


Dengan penuh ketelatenan dan kasih sayang, Danieal mengusap punggung rapuh sang terkasih perlahan. Berkali-kali ia memberikan kecupan mendalam di puncak kepalanya lagi.


Setelah beberapa menit mereka saling merengkuh, Danieal menangkup wajah berair sang istri dan mengusap jejak liquid bening di pipinya.


Pandangan mereka kembali bertubrukan menyelami bola mata masing-masing. Di dalam iris keduanya saling memantulkan wajah satu sama lain.


Tanpa mengatakan sepatah kata, Danieal kembali memberikan ciuman di dahi tegas Jasmine lama nan dalam.


Ia pun menutup mata menikmati setiap sentuhan yang diberikan. Ciuman di dahi memiliki makna terindah baginya.


Seperti, sang pasangan hidup begitu mencintainya selamanya dan tidak akan pernah pergi begitu saja apa pun kondisinya.


Ciuman itu lalu beralih ke kedua mata, hidung, pipi, dan berakhir di bibir merah muda berkilauan di hadapannya.


Danieal tidak bisa menahan diri dan langsung meraup nya secepat kilat. Jasmine yang menerima keadaan tak terduga pun membelalakkan kedua mata.


Ia melihat dengan jelas sang suami tengah menutup mata dan merasakan apa yang sedang dilakukan pada bibirnya.


Permainan yang seakan memabukkan itu pun membuatnya terlena. Jasmine mengulurkan tangan rampingnya dan mengalung di leher jenjang sang suami.


Ia menerima gerakan demi gerakan Danieal dan mengimbangi permainan yang dilakukan pasangan hidupnya.

__ADS_1


"Mas Danieal... ciuman ini terasa begitu putus asa dan juga... meluapkan kesedihan. Iya... aku merasa seperti itu," benak Jasmine berspekulasi.


__ADS_2