Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 47


__ADS_3

"Apa Nenek sudah melihat kejutan yang aku berikan? Apa Nenek tidak keberatan jika aku memberitahu mereka?"


Pertanyaan Ayana tadi masih menarik perhatian.


Basima menyadari jika perkataan wanita muda di sampingnya untuk menjebaknya.


Kedua tangan yang sudah mengerut itu mengepal kuat. Basima memandang Ayana penuh amarah ingin sekali memberikan pelajaran saat itu juga.


Namun, sebelum keinginannya tercapai Ayana sudah lebih dulu memperlihatkan layar ponsel kepada keempat wanita satu lingkungannya.


Basima semakin kelimpungan dan rasa takut menyeruak dalam dada. Matanya merah padam mengarah pada Ayana yang memberikan senyum penuh makna.


"Nenek pandai sekali kan, Nyonya-Nyonya," kata Ayana semakin menarik perhatian Basima.


Di dalam layar benda pintarnya itu menayangkan bagaimana lihainya jari jemari lentik tetua Ashraf menari di atas tuts-tuts piano.


"Wah, ternyata kamu pandai bermain piano juga yah Basima. Pantas saja Zidan begitu lihai memainkannya," puji salah seorang sahabatnya.


"Benar, ternyata bakatnya lahir dari sang nenek," lanjut salah satunya lagi.


"Neneknya sangat berbakat sekali," timpal yang lain.


"Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya, sungguh keluarga yang luar biasa," ucap temannya yang lain lagi.


Basima yang mendengar itu sangat terkejut dan langsung menarik ponsel Ayana.


Di sana masih menayangkan bagaimana ia bermain piano begitu lihai. Tawa canggung pun begitu kentara membuat keempat temannya menautkan alis dalam.


Ia kembali mendongak saling beradu tatap dengan cucu menantunya.


Seketika itu juga tawanya menggelegar sempat menarik perhatian tamu lain.


"Cucu menantuku ini memang kerap memberikan kejutan tidak terduga." Basima berjalan mendekat pada Ayana lalu menggandeng lengannya kuat. "Sayang, bagaimana bisa kamu membocorkan rahasia Nenekmu ini?" lanjutnya tebar pesona.


"Aku pikir teman-teman Nenek berhak tahu semuanya," balas Ayana menekankan kata semuanya.


Pujian demi pujian pun terus berdatangan dari keempat wanita baya tadi.


Ayana pun melepaskan pegangan Basima dan minta izin untuk menyapa tamu undangan yang lain.


Sepanjang jalan melangkahkan kali, Ayana menyeringai dengan sorot mata tajam menahan amarah.


...***...


Waktu terus bergulir sebagaimana mestinya, jam berlalu sampai acara demi acara berlangsung lancar.

__ADS_1


Di tengah puncak acara semua orang berada dalam satu ruangan. Mereka dijamu dengan sangat meriah dan mewah.


Makanan penggugah selera serta minuman halal pun tersebar di sana sini.


Para tamu undangan menikmatinya seraya bersenda gurau bersama.


Di tengah hangatnya suasana, lampu tiba-tiba saja padam. Gelap menguasai dengan udara dingin menyambut.


Tidak lama berselang satu cahaya menyoroti satu titik di depan menampilkan satu lukisan menarik perhatian.


Dasar berwarna hitam itu memperlihatkan gradasi merah layaknya cairan darah kental mengalir begitu saja.


Di sana juga terdapat bayangan beberapa orang bak tengah meminta tolong dengan mengangkat kedua tangan.


Meskipun sederhana para penikmat seni tahu makna terdalam di sana.


Sampai seorang wanita bergaun putih dengan warna merah di ujungnya, berkobar seperti api menyambar.


Ia berjalan selangkah demi selangkah dengan tertatih mencapai lukisan di sana.


Satu lampu sorot pun begitu apik memantaunya dalam diam.


Wanita itu terus berjalan lunglai menggapai lukisan penuh makna di dalamnya.


"Lepaskan!" teriaknya sambil berlari begitu saja.


Semua orang yang ada di sana pun ikut berteriak, tetapi ada juga yang anteng duduk menyaksikan pertunjukan, termasuk Ayana.


Wanita berhijab itu terus menikmati sepotong cake menontonnya dalam diam.


Di sampingnya sang suami memandang lekat lalu menepuk pundaknya pelan.


Ayana menoleh sekilas dan kembali menarik diri.


"Kamu yang menyiapkan ceritanya juga?" tanya Zidan berbisik.


Ayana mengangguk singkat. "Tentu saja, Mas duduk saja nikmati pertunjukan ini," balasnya.


Zidan hanya mengiyakan tanpa suara dan ikut menikmati pertunjukan di depan.


"Dua puluh tahun lalu terjadi sebuah kebakaran yang menewaskan sepuluh orang. Namun, apa kalian semua tahu jika peristiwa itu bukanlah kecelakaan semata?" Sang penyair memindai satu persatu orang yang hadir di sana sampai perhatiannya jatuh pada satu titik.


"Itu terjadi akibat rencana seseorang," lanjutnya memberikan seringaian tajam.


Sang objek yang menjadi sumber perhatian penyair tadi tersentak seketika.

__ADS_1


Ia memandang ke sekitar di mana orang-orang di sekelilingnya terus memperhatikan pertunjukan.


Hingga tidak sengaja irisnya berhenti di sepasang jelaga yang tengah duduk tidak jauh dari keberadaannya.


Seraya memasukan sesendok cake terakhir ia tersenyum lebar.


Basima mengepal tangan kuat saat Ayana menatapnya tajam.


"Wanita itu-" geramnya.


Penyair tadi terus menerus memberikan kata-kata yang menjurus ke arah sang pelaku.


Para tamu yang datang saling berbisik tidak menyangka ada orang begitu kejam dibutakan oleh harta semata.


Di tengah-tengah pertunjukan yang masih berlangsung satu persatu pesan masuk ke ponsel semua orang.


Di sana mereka melihat satu tayangan yang semakin menguatkan jika pelaku kejadian dua puluh tahun lalu yang juga sempat menggemparkan masyarakat pun terpampang jelas di sana.


Sedetik kemudian lampu kembali menyala terang. Orang-orang kompak melihat ke arah yang sama dan bersamaan dengan selesainya pertunjukan tadi.


Hening menyambut, tidak ada siapa pun yang membuka suara setelah mengetahui jika orang berpengaruh di negara tersebut adalah pelaku kejahatan.


"Selamat malam semuanya, terima kasih banyak sudah datang ke pameran seni yang dilaksanakan di gedung seni kami. Seperti yang sudah kita semua saksikan jika pertunjukan tadi merupakan kejadian yang sebenarnya pernah terjadi dua puluh tahun lalu."


"Lukisan di belakang saya ini diberi judul Jeritan Malam... di mana lukisan tersebut adalah ilustrasi yang pernah terjadi di tahun tersebut. Kejahatan memang tidak akan pernah abadi, suatu saat pasti terbongkar dengan sendirinya, berbahagialah pada kehidupan bebas yang masih Anda jalani," ujar sang pemilik gedung seni tersebut, Ratu.


Ayana yang kegirangan mendengar sambutan itu pun bertepuk tangan seraya berdiri dari duduk.


Suaranya bergema membuat banyak pasang mata menoleh ke arahnya.


"Bagus sekali... sangat bagus. Saya suka dengan pidatonya," kata Ayana menyapukan pandangan ke sekitar sekilas dan kembali ke depan.


Melihat aksinya itu, Basima semakin mengepalkan tangan di atas pangkuan.


Ia juga ikut bangkit menimbulkan decitan kursi menarik perhatian. Kini semua orang memandanginya membuat tetua Ashraf itu bungkam seribu bahasa.


Sedari tadi ia terus memandangi Ayana dengan raut muka kelam. Sang pelukis menyeringai tajam dan memberikan tatapan nyalang.


"Pada akhirnya kebenaran bisa ditegakkan," gumam Ayana tanpa bersuara.


Menyadari kata-kata itu Basima semakin naik pitam. Tanpa mengatakan apa pun wanita tua itu melangkahkan kaki keluar dari sana.


Suara sepatu heels nya bergema bersamaan dengan banyak artikel yang membicarakannya.


Para korban satu persatu bermunculan membuat perusahaan keluarga Ashraf semakin tercoreng.

__ADS_1


Para netizen pun terus memainkan ibu jarinya memberikan komentar demi komentar yang semakin memojokkan.


Ayana memandang ke depan menatap Ratu yang juga sedang menatapnya seraya tersenyum haru.


__ADS_2