
Nyatanya masa depan tidak seperti yang dipikirkan. Kadang kala mengandung luka tak kasat mata dan memberikan kepedihan tiada tara.
Masa depan akan datang sebagaimana masa dan waktu telah ditentukan. Baik maupun buruk, senang maupun duka, lelah maupun berkah, sudah mempunyai ketentuannya masing-masing.
Sakit memang sakit, di saat mendapatkan fakta mencengangkan kian merundung pilu. Jika tidak ada siapa pun yang berdiri di samping untuk melepaskan kegelisahan, nyatanya masih ada Allah.
Dia... Allah, sampai kapan pun akan tetap membersamai dan menemani. Apa pun dan segala ketentuan yang mendatangi diri itu sudah menjadi takdir dan rencana-Nya.
Akhir dari kehidupan ini hanyalah di alam keabadian. Semuanya akan berakhir dan selesai, serta memulai semuanya dari awal.
Bekas jejak kehidupan yang dibawa ke alam nanti, itulah yang membersamai.
Nyatanya hidup di dunia hanya sebatas sementara. Kejadian demi kejadian yang kerap kali datang merundung, menyerahkan luka begitu apik, serta mendatangkan kepedihan hanya sebatas permainan.
Kisah akan tetap berjalan sebagaimana pemilik skenario menghendaki.
Ayana menjadi protagonis di dalam cerita mengandung air mata. Senyum hanyalah pelengkap selepas badai hujan air mata itu pergi.
Kemelut dalam diri mengandung awan gelap kian menyapa. Fakta baru terungkap setelah dua puluh tahun lamanya.
Ayah dan ibu meninggal bukan disebabkan oleh kecelakaan pesawat, melainkan atas adanya kesengajaan.
Namun, di balik itu semua Ayana sadar jika memang takdir lah yang telah berbicara. Kalaupun tidak ada kebakaran itu, orang tuanya pasti akan meninggal juga.
Ia hanya berusaha tegar dan kuat menghadapi segala kenyataan yang baru terungkap. Ia menyadari Allah-lah Sang Pemilik Kehidupan, apa pun yang diinginkan-Nya pasti akan terjadi.
Ia juga percaya suatu saat kebaikan serta kebahagiaan sesungguhnya akan datang menyertai.
"Aku percaya, burung tidak selamanya terjebak dalam sangkar. Suatu saat, jika pemiliknya sudah meridhoi maka ia akan terbang menghirup kebebasan. Ujian ini datang sebagai tombak kekuatan guna mencapai kejayaan."
"Ya Allah, terima kasih... karena Engkau masih memperhatikan serta menyayangi hamba. Hamba percaya di balik kejadian demi kejadian yang menimpa Engkau tengah mempersiapkan kebahagiaan," racau Ayana di balkon lantai dua rumahnya.
__ADS_1
Pagi ini langit nampak begitu mendung, awan kelam berarak memberikan kesenyapan.
Angin dingin datang menyapa kesendirian, Ayana meremas kuat besi pembatas seraya menutup mata erat menikmati setiap oksigen yang telah Allah hadirkan.
Nikmatnya sebuah keberhasilan membuat Ayana lega atas pencapaian yang dilakukan. Ia hanya membongkar semua kebusukan sang tetua Ashraf agar tidak ada lagi korban seperti orang tuanya.
"Mamah... ayah... Ayana tahu, sekarang kalian sudah tenang di alam sana. Kalian mengatakan padaku untuk tidak menyimpan dendam dan senantiasa memaafkan kesalahan orang yang telah menyakiti kita... tetapi, aku hanyalah manusia biasa yang kerap kali menyimpan kesal dan amarah pada orang yang sudah membuat kalian pergi."
"Mamah... ayah... maafkan Ayana. Ayana, bukan anak baik seperti yang kalian harapkan. Ayana... masih berharap pelaku pembunuhan kalian dan delapan orang lainnya bisa dihukum seberat-beratnya. Aku-" Ayana tidak kuasa melanjutkan racauannya.
Rasa sesak dalam dada semakin memukul telak. Air mata mengalir di kedua pipi lagi dan lagi, memudarkan kepiluan.
Ia membungkam mulutnya menggunakan sebelah tangan menahan isakkan yang kian muncul. Perlahan-lahan kedua kakinya lemas dan ia bersimpuh tepat di besi pembatas balkon.
Di sana ia menangis sejadi-jadinya mengungkapkan segala kekesalan serta kepedihan yang masih tersisa.
"Hanya aku yang bisa merasakan betapa sakit kehilangan kalian. Mamah, ayah, setelah kepergian kalian aku sangat terluka... benar-benar terluka."
Di temani keheningan pagi ini, isak tangis Ayana mengudara ke angkasa lepas.
...***...
Hari demi hari berlalu, proses kejahatan Basima tetap berjalan. Ayana dan Zidan sudah sepenuhnya menyerahkan kepada pihak berwajib serta menunggu hasil yang akan diberikan.
Setelah beberapa minggu berlalu, pada akhirnya putusan pengadilan pun dilayangkan pada Basima. Tetua Ashraf dikenai hukuman seumur hidup setelah mendapatkan keringanan dari keikhlasan korban, yaitu Ayana.
Sang pelukis meminta pada hakim agar Basima tidak langsung dihukum mati, sebab wanita tua itu harus tetap hidup melihat semuanya di balik jeruji besi.
"Saya bukanlah wanita baik yang memberikan maaf begitu saja. Saya harap Anda menikmati waktu kehidupan Anda di dalam kesengsaraan," ucap Ayana berhadapan langsung dengan Basima dengan kaca sebagai penghalang keduanya.
Wanita tua itu menggebraknya kuat membuat sipir di belakang mengingatkan ia untuk tetap tenang.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan, hah? Kamu senang melihat Nenekmu sendiri hancur berantakan di sini?" ucap Basima nyalang.
Ayana menyeringai mendengar kata-katanya barusan. "Nenekmu? Tidak Nyonya, sejak kapan Anda menganggap saya sebagai cucu menantu mu? Sejak Anda di kurung di sini? Sungguh ironi."
"Jika Anda tidak lupa... dari dulu Anda hanya menganggap saya sebagai pembantu, tidak lebih. Bahkan pernikahan kami tidak pernah mendapatkan restu dari Anda."
"Nyonya selalu merendahkan saya, menganggap saya layaknya barang tak berharga. Saya pernah menawarkan Anda untuk meminta pengampunan, tetapi kesempatan itu Nyonya sia-siakan. Jadi, sudah jelas bukan jawaban apa yang akan saya berikan?" racau Ayana semakin membuat Basima geram.
"Kamu benar-benar anak kurang ajar, Ayana. Kamu tidak tahu malu, tidak tahu diuntung, dan tidak tahu terima kasih."
"Kamu harusnya berterima kasih berkat bantuan keluarga Ashraf bisa berada di posisi sekarang," lanjutnya pongah.
Ayana terkekeh pelan merasa geli mendengar penuturannya.
"Sungguh, saya hampir lupa. Terima kasih atas luka yang keluarga Ashraf berikan pada akhirnya saya bisa berada di posisi ini."
"Oh, betapa tidak tahu malunya saya," sindir Ayana yang semakin nyeleneh.
"Dasar anak kurang ajar! Aku pikir kamu anak baik, mengingat pakaian yang kamu kenakan." Basima terus menerus naik pitam, suaranya meredam seiring kekesalan terus memuncak.
"Sudah saya katakan... jika saya bukanlah wanita baik. Pakaian dan akhlak adalah dua hal berbeda, saya berpakaian seperti ini adalah untuk melaksanakan apa yang sudah Tuhan perintahkan. Jadi tidak ada kaitannya dengan akhlak saya."
"Mengenai akhlak saya... juga bukan Nyonya yang harus menilainya," jawab Ayana tanpa gentar sedikit pun.
Basima menyadari jika wanita muda yang tengah duduk di depannya sudah berubah.
Ayana bukan wanita polos, tidak tahu apa-apa, mudah dimanfaatkan, dan dimanipulasi lagi, melainkan sosoknya kini bagaikan seorang prajurit yang tengah mengacungkan pedang di medan pertempuran.
"Aku sudah salah berurusan dengannya... aku tidak tahu jika hari ini akan datang dan orang yang mengungkap semuanya adalah wanita yang selama ini kami anggap lemah. Waktu memang sudah berhasil merubah sikap seseorang," benak Basima seraya terus memperhatikan Ayana.
Sang pelukis kembali menyeringai membalas tatapannya tak gantar sedikitpun.
__ADS_1