
"Ma-Mas Arfan?" Panggil Ayana tidak menyangka jika Arfan bisa datang ke sana.
CEO itu pun menoleh sekilas padanya dan kembali menatap nyalang pada Zidan. Sang pianis tak kalah sengit menyaksikan sepasang manik di sebelah.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan tanganku," kata Zidan, suaranya teredam menahan amarah yang tiba-tiba saja memuncak.
"Aku tidak akan melepaskan mu sebelum ... kamu melepaskan Ayana," timpal Arfan tegas.
Zidan menyeringai lebar, lalu berdecak kasar. "Apa hakmu mengatakan itu padaku? Ayana masih istriku, jadi kamu tidak bisa melakukan apa pun."
Kini giliran Arfan mendengus sebal. "Dia memang istrimu, tetapi ... istri di atas kertas."
Perkataan Arfan seketika tepat sasaran, Zidan melebarkan pandangan tidak percaya. Begitu pula Ayana membulatkan kedua mata mendengar penuturan rekan kerjanya. Namun, di dasar hati paling dalam ia cukup puas atas apa yang dilontarkan Arfan barusan.
Ia memandangi kedua pria itu bergiliran, ada kilatan memancar untuk tidak saling mengalah dari sorot matanya.
Arfan semakin mencengkram kuat pergelangan tangan Zidan hingga membuatnya pun melakukan hal sama. Kedua sosok tampan itu mempertahankan egonya masing-masing.
Di bawah langit senja kali ini, Ayana harus di hadapkan pada permasalahan lagi. Ia kembali di pertemukan dengan pria yang sangat ingin dilupakannya.
"Bisakah kamu melepaskan tanganku? Aku sudah tidak mau bersamamu lagi, cepat tandatangani surat itu maka ... kita akan resmi berpisah," kata Ayana membangunkan mereka dari amarah.
Zidan dan Arfan memandanginya kompak. Sang pianis itu tidak menyangka mendengar kata-kata menyakitkan dari istrinya.
"Aku tidak akan menandatangani surat perpisahan kita. Karena bagaimanapun aku ingin memulai lagi semuanya dari awal. Aku mencintaimu, Ayana ... sangat," aku Zidan lagi.
Di hadapan orang ketiga ia berani mengungkapkan perasaan. Namun, kegigihan serta kesungguhannya itu tidak sedikit pun menggetarkan perasaan Ayana.
Sudut bibir ranum Ayana terangkat sebelah dan memberikan tatapan tajam. Ia mendongak untuk lebih jelas memperlihatkan jika dirinya benar-benar sudah muak.
__ADS_1
"Perlu berapa kali lagi aku katakan padamu? Jika aku ingin berpisah? Tidak ada yang bisa kita pertahankan lagi dari hubungan toxic ini. Kamu mengerti? Aku ingin berpisah!" tegas Ayana menekankan kata berpisah di akhir kalimat.
"Kamu dengar itu? Ayana ingin berpisah, sekarang lepaskan tangannya." Arfan secepat kilat menarik tangan Zidan membuat cengkraman di lengan Ayana pun terlepas.
Tanpa mengatakan sepatah kata, Arfan membawa Ayana pergi dari hadapan Zidan. Pria keturunan Ashraf itu diam mematung untuk ketiga kali menatap kepergian sang istri.
Ia mengusap wajah gusar kala menyaksikan Ayana bersama pria lain. Mereka menghilang di balik pintu mobil dan bergegas meninggalkannya sendirian di sana.
Hening menyapa, sepi menyambut, dan kehampaan kian datang menerjang. Rasa sakit terus berdenyut dalam dada mengalirkan luka ke relung hati terdalam.
Ia meremas kuat dada sebelah kiri mencoba mengenyahkan kepedihan di sana. Namun, tetap saja perih tidak bisa pergi begitu saja.
"Ayana, sudah tidak adakah kesempatan untukku lagi? Aku benar-benar menyesal sudah melukaimu selama enam tahun. Sekarang aku mendapatkan ganjarannya, jika ... aku sangat mencintaimu dan tidak bisa mendapatkan mu dengan mudah." Ia menghela napas kasar dan menengadah melihat langit dengan semburat merah jingga melebur menjadi satu.
"Ya Allah, apa jodoh hamba dengan Ayana hanya sebatas sampai sini saja? Ya Allah jika kami masih diperkenankan untuk bersama maka permudahkan lah jalannya," racau Zidan sendirian.
...***...
Terlebih ia sudah tahu riwayat Ayana satu tahun lalu. Depresi dan traumanya tidak boleh kembali lagi. Jika hal itu terjadi, maka jiwanya lah yang akan terancam.
Ia meremas stir mobil kuat, menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Baru saja bibir menawan itu terbuka hendak mengucapkan sepatah kata, suara Ayana pun menghentikannya.
"Bukankah aku istri durhaka? Mengabaikan suamiku sendiri seperti ini?" ungkap Ayana tanpa mengalihkan pandangan dari jendela di sebelahnya.
Ia menyaksikan pemandangan yang mereka lewati, pikirannya pun melalang buana ke mana-mana memikirkan banyak hal.
Arfan menggelengkan kepala beberapa kali, "menurutku tentu saja tidak. Istri yang durhaka itu suaminya yang bagaimana dulu. Jika seperti Zidan, apa pantas kamu yang durhaka?"
Ayana diam kembali, perkataan Arfan menari di indera pendengaran. Ia tidak bisa menjawabnya takut membela diri sendiri.
__ADS_1
"Ya Allah hamba tidak tahu apa ini benar atau salah, tetapi ... hamba ingin berpisah darinya. Maafkan hamba atas segala kesalahan yang hamba perbuat padanya," benak Ayana.
Arfan mengembangkan senyum mengerti arti diamnya sang pelukis. Memang tidak mudah menghadapi permasalahan dari masa lalu, terlebih keduanya tidak ingin mengalah satu sama lain.
Ayana yang ingin berpisah dan Zidan yang ingin mempertahankan rumah tangga, sangat bertolak belakang.
Mereka saling tarik ulur akan hubungan mengambang tanpa kepastian yang jelas. Hal tersebut tentu saja bisa memberikan luka pada diri masing-masing.
...***...
Sejak hari itu Zidan memutuskan untuk tidak lagi mendatangi Ayana. Selain mendapatkan penolakan dari istrinya langsung, ia juga mendapatkan ancaman dari Danieal.
Pria berprofesi sebagai dokter di rumah sakit terbesar di negaranya itu pun memperingati Zidan untuk tidak mendekati adiknya lagi.
Namun, sebelum itu terjadi ia memang sudah mempunyai niat menjauh dari Ayana. Ia tidak menyerah dengan perasaannya ataupun melupakan segalanya, tetapi Zidan ingin fokus kepada Allah semata.
Setiap hari, selepas latihan atau pulang kerja ia menyempatkan diri untuk datang ke masjid terdekat. Di sana ia sering salat maghrib sampai isya berjamaah.
Setelah itu ia pun mendengarkan ceramah yang diberikan oleh beberapa ustadz di sana. Ia juga meminta saran serta nasehat dari orang-orang berilmu tersebut mengenai hubungannya.
Sebagian besar dari mereka menyarankan agar Zidan mendekatkan diri kepada Allah. Minta pada Sang Pemilik Hati agar Dia meluluhkan hati Ayana.
"Jika kamu benar-benar menyesali perbuatanmu selama enam tahun itu, maka bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha. Aku yakin Allah akan membukakan pintu rahmat-Nya untukmu. Karena ampunan Allah itu luas, tidak peduli seberapa banyak dosa hamba-Nya ... Allah senantiasa memberikan kesempatan untuk berubah dan mendekat lagi pada-Nya."
"Jika kamu sudah bertaubat minta kepada Allah agar hati istrimu kembali dibukakan. Tentu aku juga mengerti bagaimana perasaan dia setelah bertahun-tahun disakiti suaminya. Tidak mudah untuk menerima masa lalu yang telah menorehkan luka."
"Namun, percayalah jika Allah sudah berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin, dan ... jika Allah masih meridhoi kalian untuk bersama lagi maka akan ada jalan yang bisa kamu tempuh," tutur ustadz bernama Danish.
Mereka berbincang-bincang bersama di dalam masjid setelah para jamaah membubarkan diri. Zidan kembali meminta nasehatnya dan kali ini benar-benar membuatnya terbuka.
__ADS_1
"Terima kasih Ustadz atas sarannya, aku mengerti sekarang," balasnya membuat pria bersorban itu pun mengembangkan senyum.