Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 85


__ADS_3

"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Mereka akan terus berdatangan sampai kamu buka suara. Mereka punya hak mendengarkan pendapat mu mengenai Bagus Prakasa."


Suara melengking seseorang mengejutkan. Hana yang sedari tadi membelakangi pintu masuk kamar pun terkesiap.


Ia menoleh mendapati wanita berhijab panjang tengah bersandar di ambang pintu sembari melipat tangan di depan dada.


Senyum yang menghiasi wajah keibuannya begitu menawan serta menenangkan.


Hana terkesima, mematung begitu saja tanpa ada sepatah kata terlontar.


Ia tidak menduga akan secepat itu akan bertemu lagi dengannya.


Ia pikir sudah tidak ada siapa pun lagi yang akan menemuinya, mengingat perbuatan sang ayah, semua orang pasti membencinya. Itulah pikiran yang terus menghantui Hana.


"Kenapa? Kenapa Anda bisa datang ke sini? Bukankah-" Hana bingung dan seketika menghentikan ucapannya begitu saja.


"Sejak kapan Mbak Bening ada di sini?" lanjutnya lagi.


Bening, kembali ke istana putih atas permintaan Ayana. Kemarin mereka bertemu satu sama lain membahas keadaan Hana Tsubaki.


Sebagai sesama wanita, Ayana bisa merasakan bagaimana hening dan sepi menghadapi segala permasalahan itu sendirian.


Sebagai wanita yang mengidap penyakit mental, Ayana tahu seperti apa luka nan perih menghadapi semuanya tanpa bantuan siapa pun.


Hanya mengandalkan diri sendiri terus memupuk rasa sakit tanpa berkesudahan.


"Aku masuk dari pintu belakang. Apa kamu tidak tahu jika di sini ada tempat masuk yang lain? Apa selama ini kamu selalu berada di sini?"


Pertanyaan beruntun Bening melebarkan pandangan Hana. Bola matanya mengikuti ke mana ibu dari mendiang sahabatnya di rumah sakit itu melangkah.


Sampai mereka berdiri saling berhadapan dengan Bening masih memperlihatkan lengkungan bulan sabit menawan.


"Saya-"


"Tidak usah terlalu kaku seperti itu, kamu sekarang sudah tahu aku ibu dari Erina. Untuk itu anggap saja aku seperti keluargamu sendiri. Panggil aku Mbak Bening jika kamu berkenan," ucap Bening memotong perkataannya.


Hana kembali membulatkan pandangan, tidak menduga mendapatkan perkataan tersebut dari orang lain.


Kedua alis Bening saling bertautan mendapati reaksi Hana. Ia terus memperhatikan bagaimana sikap lawan bicaranya berprilaku.


"Kenapa kamu seolah terkejut mendengar perkataan ku tadi?" tanya wanita informan itu gamblang.


"Baru kali ini aku mendengar orang lain... ingin aku menganggapnya sebagai keluarga. Bahkan satu-satunya orang tuaku, tidak pernah... menganggap ku ada," jelas Hana, lirih menahan sakit dalam dada.


Bahkan suaranya bergetar menahan tangis yang kian memuncak hingga ke tenggorokan.


Sorot matanya sendu yang seketika menusuk relung terdalam seorang Bening.


Sebagai seorang ibu yang pernah kehilangan buah hati, ia benar-benar terluka melihat seorang anak disia-siakan seperti ini oleh orang tuanya sendiri.

__ADS_1


Hana semakin berusaha menahan tangis dengan mengepal kedua tangan kuat. Tubuh kurusnya bergetar dengan rambut panjang menutupi sebagian besar wajah tirus nya.


Bening yang tidak kuasa melihatnya pun langsung memeluk Hana begitu saja. Ia memberikan tepukan demi tepukan pelan di bahu wanita itu.


Hana yang mendapati hal tersebut kembali tercengang. Seketika air mata menetes tak karuan merasakan kasih sayang yang begitu besar disalurkan oleh Bening.


"Jangan menahannya, menangis saja jika itu bisa membuat perasaan mu lega. Aku tahu apa yang kamu rasakan."


"Aku ibu yang sudah kehilangan seorang anak. Jadi, aku tidak bisa melihat siapa pun terutama seorang anak terluka."


"Itulah yang aku rasakan pada Ayana. Aku juga sudah menganggapnya sebagai keluarga. Bahkan sekarang kami menjadi kakak beradik."


"Jadi, Hana... jangan pernah menganggap mu sendirian. Meskipun orang tua kandungmu memperlakukan dengan tidak baik, percayalah di luar sana masih ada orang yang menyayangi mu dengan tulus," tutur Bening panjang lebar.


Kata-kata menenangkan seketika masuk ke dalam hati membuat perasaan Hana tidak karuan.


Kristal bening bercucuran dan isak tangis pun terdengar menyayat.


Bening mengusap puncak kepalanya lembut, memberitahukan pada Hana jika dirinya benar-benar tidak sendirian.


...***...


Kurang lebih dua jam lamanya, Hana kembali tenang. Mereka duduk berdampingan di tepi tempat tidur yang langsung menghadap jendela kamar.


Suara orang-orang di bawah masih berdengung. Beberapa petugas keamanan mencoba untuk membubarkan mereka, juga hal itu menjadi santapan para wartawan untuk memuat berita baru.


Bersama seseorang yang mengerti akan dirinya membuat Hana terharu. Ini pertama kali sejak sang ibu meninggal beberapa tahun lalu ada orang lain yang benar-benar menghargainya.


Bahkan memintanya untuk menganggap orang lain sebagai keluarga.


"Terima kasih sudah menemui ku hari ini. Aku sangat bersyukur bisa bertemu kalian."


"Juga... aku sangat menyesal sudah memperlakukan Ayana seperti itu."


Bening diam, mencerna perkataan Hana mengenai Ayana. Ia tidak tahu apa yang terjadi sebelum dirinya sampai ke ruangan itu.


Namun, satu hal yang pasti Bening mendapati jika telah terjadi antara Hana dan Ayana.


"Kamu tahu... kedatanganku ke sini atas usulan Ayana. Dia... sangat mengkhawatirkan mu. Dia juga berharap bisa kembali bertemu denganmu," jelas Bening.


Hana berkali-kali tercengang, tidak menduga mendengar penjelasan Bening mengenai Ayana.


"Bahkan jika kamu melakukan kesalahan padanya, aku yakin... Ayana bisa memaafkan mu," kata Bening lagi.


"Kenapa Mbak bisa se-yakin itu?" tanya Hana tidak menyangka dan kini sudah tidak formal lagi padanya.


"Karena aku sudah lama bersama Ayana sejak kami berada di rumah sakit itu."


Bening menoleh melengkungkan kembali kedua belah sudut bibir sempurna.

__ADS_1


Hana diam beberapa saat melihat sorot mata hangat dan tulus dari lawan bicaranya.


"Bisakah... bisakah aku bertemu dengan Ayana sekarang?" pinta Hana kemudian.


Kini giliran Bening melebarkan kedua mata mendapatkan permintaan paling Ayana tunggu.


Tadi sebelum Bening ke istana putih, Ayana sempat mengatakan jika dirinya berharap Hana bisa datang ke tempatnya.


Ia ingin bertemu dengan Hana dan bisa mendengar sendiri apa yang sebenarnya terjadi.


Ayana juga ingin mengatakan sesuatu sebagai sesama penyuka dunia lukis.


"Itulah yang Ayana harapkan, dia ingin kamu bertemu dengannya. Ayana juga minta maaf tidak bisa pergi bertemu denganmu di sini. Kamu tahu sendiri kejadian itu-"


"Bisakah kita pergi sekarang?" Potong Hana cepat.


Bening kembali mengangguk mengiyakan.


"Baiklah, mari kita pergi," ajak Bening mengulurkan tangan.


Hana menerimanya lalu beranjak dari sana bersama-sama.


Kedua wanita berbeda usia itu menelusuri lorong panjang menuju lantai satu.


Bening mengelabui orang-orang agar tidak mengetahui jika Hana keluar dari gedung tersebut.


Tidak lama berselang mereka tiba di van milik Bening. Keduanya meluncur cepat menuju kediaman keluarga Arsyad.


Sepanjang jalan Hana hanya diam membisu, memperhatikan jalanan yang dilewati.


Pemandangan yang terhampar seolah tidak pernah dilihat oleh Hana sebelumnya.


Sejak keluar dari istana, Bening selalu memperhatikan putri dari Bagus Prakasa tersebut.


Sang informan mengerti jika selama ini Hana tidak pernah diberikan akses untuk keluar, melihat dunia luar.


Kurang lebih satu setengah jam kemudian, Bening dan Hana tiba di kediaman keluarga dokter itu.


Mobil van nya terparkir di pekarangan dan bergegas masuk ke dalam.


Hana melihat ke sekeliling di mana banyak para pelayan menyambut kedatangan mereka.


Ia terkesima dengan keramahtamahan orang-orang yang ada di sana.


Sampai tidak lama berselang Ayana datang menyambut keduanya dengan melebarkan senyum hangat.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu datang juga," kata Ayana halus.


Hana terkesiap dengan perasaan hangat.

__ADS_1


__ADS_2