Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 99


__ADS_3

Gelap nan mendung, cuaca pagi ini begitu tak karuan. Sang raja siang yang baru saja muncul, harus kembali bersembunyi di balik awan kelabu. Ia enggan memberikan sinarnya membiarkan kegelapan mengambil alih.


Gerimis masih turun membersamai aktivitas orang-orang di ibu kota. Udara dingin dengan tajam menusuk kulit membuat orang-orang mengenakan mantel tebal.


Meskipun kondisi tidak bersahabat, mereka tetap harus menjalan pekerjaan untuk menyambung hidup.


Di tengah cuaca tak menentu, Zidan Ashraf dirundung sembilu. Sejak beberapa menit lalu ia berada di ambang pintu ruang inap sang istri.


Sepasang onyx kelamnya terus memperhatikan Ayana yang masih nyaman menutup mata. Tanpa ada kata terucap, ia hanya diam di sana dengan perasaan campur aduk.


Wajahnya kian menyendu, teringat akan perjuangan sang istri yang berhasil melahirkan dua buah hati mereka.


"Mau sampai kapan kamu berdiri terus di sini? Apa kamu tidak ingin melihat bayi kalian?"


Suara berat seseorang kembali mengejutkan, Zidan berbalik mendapati kakak iparnya lagi di sana.


Ia hanya membalas tatapan Danieal tidak mengatakan apa-apa. Sang dokter menghela napas kasar, mengerti apa yang tengah di rasakan sang adik ipar.


Ia melirik sekilas ke arah adiknya dan menghadap langsung Zidan.


"Lihatlah walau sebentar, anak-anak kalian membutuhkan kehadiran orang tuanya," kata Danieal lagi mengingatkan.


"Kapan... kapan Ayana akan sadar?"


Pertanyaan sarat ketakutan pun tercetus di balik bibir keriting sang pianis. Zidan memandang sendu ke bawah, seolah hilang semangat.


Kembali, Danieal menghela napas kasar lalu memberikan tamparan kecil di wajah suami dari adiknya ini.


Zidan terkesiap dan kembali mengangkat kepala.


"Apa yang kamu takutkan? Apa kamu tidak percaya dengan kebesaran Allah? Sadar Zidan... anak-anak kalian membutuhkanmu. Tidak hanya bayi kalian... tetapi juga Ayana."


"Bagaimana Ayana akan sadar kalau suaminya saja pesimis seperti ini? Bangkit, kuatlah Zidan... serahkan semuanya pada Allah semata. Karena Dia tahu apa yang terbaik untuk kalian. Kamu harus tabah menghadapinya!" Danieal naik pitam, tidak suka melihat keadaan Zidan yang seolah putus asa pada keadaan.


Di dalam dirinya Danieal juga merasakan hal yang sama, ketakutan dan kekhawatiran terus melingkupinya sejak mengetahui kondisi Ayana.


Namun, jika terus larut dalam kesedihan tanpa berusaha dan berdoa hanyalah kesia-siaan.


Mendengar penuturan dokter menawan di depannya, Zidan terkesiap. Ia beruntung bisa mempunyai kakak ipar yang sangat mengerti akan dirinya.


Ia tersadarkan dan kembali mendapatkan pencerahan.

__ADS_1


"Ah, kamu benar. Terima kasih sudah mengingatkan ku, kalau begitu... aku pergi melihat mereka dulu, tolong jaga Ayana!" ujarnya lalu bersiap pergi menuju ruang bayi.


Danieal bergumam "em" sebagai jawaban dan melambaikan tangan agar Zidan segera enyah dalam pandangan.


Sepeninggalan pria itu, Danieal membalikan badan dan menyaksikan sang adik masih berbaring di tempat tidur.


Perlahan kedua kaki jangkung Danieal melangkah memasuki ruangan dan menutup pintu. Pelan, tapi pasti ia mendekati Ayana. Bagaikan berjalan di atas kaca, perih nan pedih menyaksikan pemandangan itu untuk kesekian kali meluluhlantakan seorang Danieal.


Ia berdiri tepat di samping ranjang rumah sakit menyaksikan wajah ayu itu kini kembali pucat. Senyum gamang hadir di wajah tampannya.


Sebelah tangan tegap Danieal terulur mengelus pelan puncak kepala adik sambungnya penuh kasih sayang.


Kesedihan nampak jelas lewat air muka sang dokter.


"Mas tahu... kamu wanita kuat yang tidak akan menyerah pada keadaan apa pun. Bangun Ayana... suami dan kedua anak kalian masih membutuhkanmu."


"Ya Allah, sadarkan lah kembali adik hamba. Hamba... tidak ingin kehilangan adik untuk kedua kalinya, tidak untuk kali ini!" racau Danieal penuh harap.


Lima menit kemudian, Danieal duduk di kursi menghadap Ayana yang masih menutup mata. Pandangan dokter tampan itu memandang lurus ke depan di mana pemandangan mendung terlihat jelas.


Awan kelabu masih menutupi indahnya langit biru. Ia masih betah berada di sana tanpa beranjak sedikitpun.


"Saat pertama kali bertemu denganmu... pandanganku tidak bisa dialihkan ke manapun. Kamu tahu Ayana... melihatmu pada saat itu merupakan anugerah untukku."


"Mas menyadari jika ada kesedihan teramat dalam yang kamu sembunyikan. Tidak hanya dari kejadian pria tua itu saja, tetapi jauh sebelum tragedi tersebut terjadi... kamu sudah mendapatkan luka."


"Mas ingin membagi kehangatan keluarga yang hilang darimu. Terima kasih sudah bersedia menjadi adikku... Mas sayang menyayangimu, Ayana."


"Jadi Mas mohon, bangunlah."


Danieal menggenggam sebelah jari jemari sang adik dan meletakkan dahi tegasnya di punggung tangan Ayana.


Diam-diam ia menitikkan air mata, mengetahui Ayana koma pasca melahirkan. Dulu, saat mendapati wanita itu bersimbah darah pun sang dokter ketakutan setengah mati.


Sekarang kondisi serupa terulang kembali, cemas, takut yang dirasakan olehnya maupun Zidan terus menerus menghantui.


Namun, ia tidak putus harapan dan menggantungkan semuanya pada Allah semata. Ia berharap dan terus berharap Allah memberikan keajaiban dengan menyadarkan Ayana dan mengembalikannya pada mereka.


Di luar ruangan, tanpa ia sadari Jasmine menyaksikan hal itu. Ia pun ikut menitikkan mata merasakan ketakutan mereka akan kondisi Ayana.


Setelah mengetahui jika adik iparnya mengalami pendarahan sampai koma, Jasmine menangis sesenggukan. Ia melipir ke toilet terdekat dan menumpahkan kesedihan di sana.

__ADS_1


Selama ini Ayana sudah membantunya keluar dari sangkar gelap dan memperlihatkannya akan keindahan warna-warni dunia.


Ia tidak sanggup jika harus kehilangan Ayana begitu saja.


"Hamba mohon ya Allah sadarkan lah Ayana." Sepenggal doa pun tercetus di dalam benak Jasmine sembari memandangi kakak beradik di sana.


...***...


Air mata terus bercucuran di kedua pipi sang pianis saat mendapati dua bayi merahnya. Dokter Bintang menemaninya untuk menimang salah satu dari mereka.


Perasaan haru, bahagia, sedih, menjadi satu berkumpul di relung hati. Seharusnya ia menerima momen berharga itu dengan Ayana.


Namun, sang istri saat ini tak kunjung membuka mata dan tetap menyembunyikan iris jelaga indahnya.


Keberadaan sang buah hati sedikit mengobati ketakutan. Zidan memberikan kecupan-kecupan ringan di wajah mungil malaikat kecilnya.


"Apa sebaiknya Mas azani mereka dulu?"


Pertanyaan tadi datang dari adik kandungnya, Gibran. Pria itu muncul di balik pintu membuat mereka memandangnya lekat.


Zidan yang tengah menggendong bayinya pun kembali memperhatikan sang putra.


"Haruskan?" bisik nya sendu.


"Itu benar. Lebih baik bayi kalian diazani dulu," lanjut Bintang setuju.


"Padahal aku ingin melakukannya di depan Ayana," jawab Zidan lirih.


Bintang dan Gibran saling pandang, mengerti apa yang tengah dirasakan sang pianis.


"Tapi... kita tidak tahu kapan mbak Ayana sadar, jadi lebih baik jika Mas melakukannya lebih dulu," sambar Gibran mengejutkan.


Zidan sedikit melebarkan kedua mata singkat sembari terus memandangi bayi yang berada dalam gendongan.


Wajah tampannya sangat mirip Ayana, bisa dibilang bayi ini adalah versi laki-laki dari sang istri. Zidan kembali menangis dalam diam, berusaha tegar, tetapi tidak sekuat itu.


Ia benar-benar rapuh kala mengetahui kondisi sang istri. Bayi merahnya yang baru saja lahir ke dunia selama beberapa jam pun hanya menggeliat kecil.


Aroma menenangkan yang menguar dari tubuhnya mengejutkan Zidan. Ia kembali memberikan kecupan di pipi mungilnya berusaha tenang.


"Kita harus kuat menghadapi ini sama-sama yah, Sayang. Kita harus terus berdoa untuk kesembuhan mamah," celotehnya pada sang bayi.

__ADS_1


Melihat itu, baik Gibran maupun Bintang ikut terbawa suasana. Kedua manik mereka berkaca-kaca mengetahui betapa berat beban yang harus Zidan lalui.


Kondisi yang seharusnya penuh dengan suka cita, nyatanya ada kesedihan yang harus dilalui. Meskipun begitu, mereka tidak boleh larut dalam kesedihan dan mengorbankan salah satu.


__ADS_2