
Tidak ada yang paling membahagiakan bagi wanita hamil, selain bisa menghabiskan waktu bersama sang suami dan bercengkrama dengan buah hati.
Momen-momen menyenangkan itu akan selalu dikenang dan diingat sepanjang waktu.
Kebahagiaan yang tercipta terjalin di satu kondisi membentuk kenangan paling berharga.
Seperti hari ahad kali ini, Ayana dan Zidan menikmati waktu hanya berdua saja. Mereka berada di gazebo belakang kediaman Arsyad memandangi keindahan tanaman tersebar di sana.
Sebelum Ayana melahirkan, ibunya berpesan agar tetap berada di rumahnya.
Mau tidak mau untuk kebaikan sendiri Ayana dan Zidan sepakat tinggal di sana untuk sementara.
Hari libur itu juga dimanfaatkan Danieal dan Jasmine pergi liburan ke tempat terdekat. Mereka juga ingin melepaskan sejenak dari waktu bersama keluarga.
Di gazebo itu Ayana dan Zidan saling melihat riaknya air kolam. Ditemani hembusan angin siang keduanya benar-benar menikmati waktu sendirian.
"Mas... kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita?" tanya Ayana penasaran seraya memainkan jari jemari sang suami yang berada di belakangnya.
Zidan bergumam "hm" sembari mengelus pelan perut buncit Ayana. Ia merasakan tendangan bertubi-tubi dari buah hati mereka.
Sesekali Ayana meringis ngilu saat perbuatan buah hatinya terlalu kuat. Dengan cekatan Zidan akan mengusap-usap perutnya lagi penuh kasih sayang.
"Aku sudah menyiapkannya," balas pianis itu kemudian.
"Benarkah? Boleh aku tahu?" tanya Ayana lagi.
"Nanti, aku ingin memberikan kejutan untukmu," jawabnya tidak membocorkan satu kata pun untuk anak mereka.
Ayana berdecak singkat mengundang senyum lebar di wajah tampan Zidan.
Hening melanda, mereka membiarkan angin mengambil alih memberikan kesejukan alami.
Ayana menikmatinya dalam diam sembari menutup mata dan bersandar nyaman di dada bidang sang suami.
Raksi yang menguar memberikan ketenangan sendiri padanya. Inilah aroma menenangkan yang sudah lama Ayana rindukan dan kini ia bisa mendapatkannya lagi.
"Mas." Panggil Ayana.
"Hm? Iya, Sayang?" balas Zidan meletakkan dagu lancip di puncak kepala sang istri.
"Kalau aku boleh tahu, Mas menginginkan anak perempuan atau laki-laki?" tanya Ayana kesekian kali.
"Mau itu laki-laki atau perempuan, yang penting anak kita sehat, lengkap, dan lahir dengan selamat. Karena apa pun jenis kelaminnya mereka adalah anugerah terindah yang telah Allah berikan untuk kita."
"Jadi, kita harus menyayangi dan mencintainya sepenuh hati."
__ADS_1
"Meskipun aku tidak pantas mengatakan ini, setelah apa yang aku lakukan pada buah hati pertama kita," kata Zidan sendu.
Ayana kembali membuka mata, menatap lurus ke depan lalu mendongak menyaksikan awan berarak di atas sana.
Ia menggenggam jari jemari sang suami yang masih bertengger nyaman di perut buncitnya erat.
"Jangan berkata seperti itu... kita sudah sepakat untuk tidak mengatakan masa lalu. Lebih baik kita fokus saja pada masa depan," balas Ayana langsung.
Zidan mengangguk dan semakin mengeratkan pelukan.
Bayangan demi bayangan hari-hari telah lalu berputar layaknya kaset kusut.
Ayana tidak pernah membayangkan bisa kembali bersama suami yang telah menyakitinya.
Namun, semua itu tidak lepas dari rencana Allah. Dia tahu mana yang terbaik dan memberikan skenario terindah bagi setiap hamba.
Ayana bersyukur dengan adanya kejadian kemarin, ia bisa lebih menghargai hidup.
Terutama saat hendak mengakhiri diri sendiri, ia mendapatkan kesempatan kedua yang sangat berharga.
"Ya Allah, ya Rabbi... berkat karunia dan kasih sayang-Mu hamba bisa mendapatkan kebahagiaan seperti ini. Maa syaa Allah, begitu nikmat karunia yang telah Kau berikan. Terima kasih sudah merubah Mas Zidan menjadi lebih baik. Semoga rumah tangga kami selalu berlandaskan pada-Mu. Semoga kami bersama hingga jannah-Mu. Bimbing kami untuk selalu berada di jalan-Mu," monolog Ayana mengutarakan sepenggal doa kepada Allah, Sang Pemilik Kehidupan.
...***...
Begitulah sistem Allah bekerja, yang tidak mungkin menjadi mungkin, dan yang mustahil menjadi nyata.
Namun, satu yang pasti Allah memberikan sesuatu terbaik.
Hari demi hari berlalu, bulan pun berganti begitu cepat. Minggu-minggu yang mereka habiskan sebagai calon orang tua baru begitu mendebarkan.
Ayana dan Zidan bekerja sama dalam menyiapkan segala keperluan untuk lahiran nanti.
Di antara mereka yang paling overthingking adalah Danieal. Dokter tampan satu itu sangat memperhatikan kandungan sang adik.
Ayana harus menjaga setiap pola makan sampai pola hidup untuk menghadapi lahiran.
Ayana menerimanya dengan baik, walaupun terkadang ada saja hal yang diberikan Danieal terlalu berlebihan.
Semua perhatian mereka Ayana terima. Karena ia tahu semua itu pasti yang terbaik untuk buah hatinya.
Sesekali Bening ataupun Hana juga datang ke sana untuk saling bercengkrama dan menghabiskan waktu bersama.
Tidak terasa kehamilan Ayana memasuki sembilan bulan. Waktu-waktu emas sebagai seorang ibu sudah dilewati pelukis manis itu dengan lancar dan penuh rasa syukur.
Ia senang bisa melewati semua hal sebagai calon ibu dengan luar bisa. Perhatian serta dukungan semangat dari orang-orang tercinta, menambah rasa syukur.
__ADS_1
Setiap pagi Ayana dan Zidan berjalan-jalan di sekitar mansion untuk melancarkan persalinan.
Orang-orang sekitar selalu menyapa dan senang melihat pasangan menawan itu sering menghabiskan waktu di sana.
Hari ini Ayana tengah mendengarkan murotal di taman belakang, tiba-tiba saja keningnya mengerut tajam.
Ia merasakan mulas tak tertahankan dari dalam perut. Ia melepaskan earphone dan mencengkram pelan perut buncitnya.
Di saat bangun dari duduk seketika itu juga Ayana merasakan cairan mengalir di selangkangannya.
Ia berteriak kencang memanggil sang suami.
"MAS ZIDAN!" Panggilnya menggemparkan semua orang.
Buru-buru Zidan yang tengah berlatih piano terkejut bukan main dan langsung menghampiri Ayana di taman belakang.
Di saat Zidan tiba, ia melihat cairan itu terus mengalir.
"Pe-perut ku... perutku sakit, Mas," ucap Ayana lirih.
Tanpa mengatakan apa pun Zidan langsung menggendong Ayana dan membawanya ke rumah sakit.
Di saat orang-orang rumah bertanya Ayana kenapa, Zidan hanya mengatakan jika sang istri tengah mengalami kontraksi dan air ketubannya pecah.
Seketika mereka langsung kelimpungan dan mengikuti keduanya ke rumah sakit.
Tidak lama berselang, pasangan suami istri itu tiba di sana. Bintang yang sudah dihubungi sejak di perjalanan pun menyiapkan ruang bersalin khusus untuk putri pemilik rumah sakit tersebut.
"Cepat bawa ke ruangan!" titahnya pada Zidan.
Pianis itu pun membaringkan sang istri di ranjang. Ayana mencengkram kuat dua besi di sisi kanan kirinya.
Bintang sebagai dokter kandungan Ayana pun langsung memeriksa kondisi sang ibu hamil.
"Ayana baru pembukaan lima, kita harus menunggu beberapa saat sebelum ia siap melahirkan," ucap Bintang kemudian.
Ayana masih merasakan mulas teramat kuat di dalam perut. Wajahnya pucat menahan rasa sakit yang tidak bisa dibendung.
Zidan yang berada di sampingnya menggenggam tangan sang istri erat. Ini pertama kali mereka berada dalam kondisi mendebarkan.
Kehamilan kedua Ayana ini benar-benar sangat mengharukan. Ia bisa sampai di titik sekarang yang tidak lepas dari perjuangan.
Rasa sakit semakin menjadi-jadi di setiap waktunya. Ayana berusaha bertahan dan menyikapinya dengan baik.
Zidan sebagai suami siaga terus mendampingi Ayana dan memberikan dukungan penuh. Ia mengucapkan kata-kata menenangkan agar sang istri tidak panik di saat menghadapi kontraksi.
__ADS_1
Semua yang melihat di luar ruangan terharu akan kesiapan keduanya hendak melalui kondisi mendebarkan tersebut.