Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 13


__ADS_3

Memang tidak ada yang tahu seperti apa masa depan. Apakah lebih baik ataupun sebaliknya, semua tetap menjadi misteri.


Kirana masih mematung memandang lekat Danieal dalam diam. Tubuhnya membeku mendapati fakta mencengangkan.


Ayana yang sedari tadi terus memperhatikannya pun menyadari sesuatu. Jika wanita itu masih peduli terhadap kakak sambungnya.


“Kamu tidak usah khawatir, Kirana. Mas Danieal akan baik-baik saja,” ucapnya menjelaskan.


Kirana pun sadar dari lamunan lalu menghadap meja lagi. Ia berusaha mengabaikan apa yang terjadi dan tetap tenang dalam diam.


Ia takut jika Danieal akan masuk ke rumah sakit lagi setelah memakan udang. Karena kejadian mengerikan tersebut pernah ia alami pada masa itu.


Dalam diam, sepasang manik sayu memperhatikan apa yang tengah terjadi di meja makan. Sejak kehadiran Kirana ke rumahnya lagi, Celia terkejut bukan main.


Terlebih saat ia tahu jika wanita itu datang bersama menantunya. Ia semakin tidak karuan kala memori tahun-tahun lalu hinggap dalam ingatan.


“Oh iya, aku dengar Mas Zidan suka sekali dengan kepiting, kan? Sini biar aku yang membukakannya untukmu,” ujar Kirana menggeser piringnya sendiri untuk mencapai kepiting besar di hadapannya.


Namun, sebelum tangannya mencapai makanan itu, Ayana lebih dulu menggenggam lengannya kuat.


Sang empunya mendongak membuat mata kedua wanita itu saling pandang.


“Biarkan saya saja yang melayaninya.” Senyum penuh makna tercetus di celah bibir ranum Ayana.


“Tidak apa-apa, ini sebagai bentuk menghormati atasan. Aku pandai melakukannya,” ucap Kirana tidak mau kalah.


Ia berusaha melepaskan lengan dalam genggaman Ayana menjadikannya saling tarik ulur.


“Ah, Kirana tidak usah. Aku sudah makan banyak sekali barusan,” timpal Zidan melerai percikan persaingan dari mereka.


“Em, baiklah kalau begitu. Lain kali aku akan melakukannya untukmu, Mas.” Kirana memandang sang atasan lekat dengan mengembangkan senyum lebar.


Ayana pun menarik tangannya lagi dan memperhatikan wanita itu dalam diam.


“Tunggu! Mas? Kamu memanggil menantu Tante dengan sebutan itu? Tante dengar kalian bekerja bersama-sama, bukankah kamu harus menghormati rekan kerjamu?” cerca Celia pada Kirana.


Sebelum wanita itu menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari ibu sang sahabat, Zidan lebih dulu menimpalinya.

__ADS_1


“Aku yang menyuruhnya, Mah. Aku pikir Kirana kan sudah akrab dengan Mamah, Ayah, dan Danieal bisa dibilang dia juga menjadi bagian keluarga, kan? Jadi lebih baik santai saja tidak usah formal, khususnya kalau di luar kantor,” jelas Zidan membuat semua atensi mengarah padanya langsung.


Menjadi pusat perhatian, sang pengusaha itu pun memandangi mereka satu persatu. Ia tidak mengerti sekaligus heran apa yang sebenarnya terjadi di sana.


“Ke-kenapa ka-kalian me-“


“Ah, apa kalian sudah selesai makannya? Zidan, apa kamu mau menemani Ayah main catur?”


Adnan melepaskan ketegangan di meja makan seraya beranjak dari duduk dan memandang lekat pada menantunya.


Zidan tersentak lalu mengangguk gugup. Ia pun bangkit dari kursi dan menepuk pundak Ayana singkat kemudian mengikuti ke mana langkah ayah mertuanya pergi.


...***...


Setelah menikmati makan malam bersama, Ayana membantu para asisten rumah tangga untuk membersihkan meja.


Melihat hal tersebut Kirana pun mengikutinya membuat Danieal dan Celia terkejut. Karena selama mereka mengenal wanita itu, dia tidak pernah seperti sekarang.


Celia pun menarik Danieal ke ruang keluarga dan duduk berdampingan di sana.


Sekilas Danieal memalingkan wajah ke samping kanan di mana di sana adik beserta mantan tunangannya tengah bersama.


Ia beralih pada sang ibu yang tengah memberikan sorot mata serius.


“Apa Mamah juga merasakan itu?” Celia mengangguk cepat. “Apa yang Mamah pikirkan?” tanya Danieal kemudian.


“Kamu ingat? Saat Eliza baru saja diterima di perguruan tinggi?” Danieal mengangguk singkat.


“Dia pernah ketahuan selingkuh dengan kekasih adikmu, kan? Apa yang Eliza lakukan saat itu? Mereka tetap bersahabat, dan adikmu malah mengatakan menginginkan dia menjadi kakak iparnya?”


“Ya Allah, Mamah sampai tidak percaya adikmu mempunyai hati sebaik itu. Ia tidak sadar sudah dimanfaatkan oleh sahabatnya sendiri.”


“Kirana … dia wanita yang pandai memanipulatif. Mamah yakin, pada saat itu Eliza juga termakan ucapannya. Bagaimana bisa dia percaya pada orang yang sama selepas pengkhianatan itu terjadi?” cerocos sang ibu tanpa jeda.


Danieal mendengarkan dengan baik menunggu sampai Celia selesai bicara. Ia melihat wanita yang sudah melahirkannya itu melipat tangan di depan dada sembari napas naik turun.


“Apa Mamah tidak sadar? Ayana juga seperti itu? Dia … kembali pada pria yang benar-benar sudah mengkhianatinya.” Danieal mengingatkan membuat lipatan tangan sang ibu memudar.

__ADS_1


“Ya-ya, itu berbeda, Zidan benar-benar sudah memperlihatkan kesungguhannya, sedangkan Kirana? Apa dia pernah menunjukkan rasa bersalah?” tanya balik Celia, Danieal memandang ke bawah menyelami ingatan yang sudah terlewat.


“Sama sekali tidak, bahkan saat kami berhubungan pun, dia-“


“Dia sering tidak mempedulikan mu, kan? Beruntung pada saat itu kalian hanya bertunangan, bagaimana kalau sampai menikah? Oh, Mamah tidak habis pikir apa yang akan terjadi.” Celia berkali-kali menggelengkan kepala mengenyahkan pikiran tersebut.


“Em, padahal aku benar-benar mencintainya,” gumam Danieal menyatukan jari jemari erat.


Celia terpaku mendengar perkataan samar tercetus dari sang putra. Sebagai seorang ibu, ia sangat terluka melihat anaknya terpuruk oleh seseorang.


Pada saat itu, setelah mengetahui jika Kirana pergi meninggalkan negara kelahiran tanpa sepatah kata, Danieal sangat terpukul.


Ia berusaha menghubunginya, tetapi nomor sang kekasih sudah tidak aktif. Ia mencoba mencari-carinya ke bandara, meminta kepada petugas untuk melihat nama-nama penumpang pesawat.


Namun, anehnya tidak ada satu pun nama Kirana yang terdaftar. Ia semakin tidak karuan, kala perasaannya semakin menggebu-gebu pada wanita itu.


Sayang seribu sayang, Kirana pergi membawa perasaannya.


Sejak saat itu Danieal menutup hati pada semua wanita dan lebih fokus kepada pekerjaan.


Lantunan tuts-tuts piano bergema ke segala menuju ruangan. Kirana yang baru saja keluar dari kamar mandi, terpaku mendengarnya.


Langkah kaki itu membawa ia ke ruang keluarga, di mana di sana terdapat alat musik klasik tepat di depan jendela besar.


Di sana ia mendapati sang atasan bersama istrinya tengah duduk berdua. Mereka terlihat bahagia dengan gelak tawa mengiringi.


“Tunggu! Sepertinya aku tidak asing dengan lagu ini dan juga wajah itu-“ Kirana menjeda kalimatnya dan merogoh saku celana jeans.


Ia mengeluarkan benda pintar di dalamnya lalu mengklik mesin pencarian membubuhkan nama sang pengusaha di sana.


Seketika laman pertama yang ia lihat menunjukkan profil lengkap seorang Zidan Ashraf.


“Ja-jadi dia? Seorang pianis sekaligus pengusaha? Wah, pantas saja wajahnya tidak asing, sepertinya aku pernah melihat dia di-“ Sembari berceloteh ibu jari tangannya meng-scroll web demi web di sana.


Sampai pandangannya pun terhenti pada salah satu judul menarik perhatian.


“Benar dia pernah konser di negara Z. Dia juga pernah terkena skandal? Ini sangat menarik,” gumamnya lalu mengulas senyum penuh makna.

__ADS_1


__ADS_2