Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 87


__ADS_3

Fakta baru menghantam mereka lagi. Mereka bisa tahu siapa sebenarnya Hana Tsubaki. Dia merupakan seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan tidak sehat.


Sama seperti Jasmine, kehidupannya penuh dengan lika liku yang teramat terjal.


Wanita yang selama ini disembunyikan sang ayah hadir di tengah-tengah mereka dengan luka menganga di dasar hati paling dalam.


Ayana sampai Jasmine tidak menduga jika ada anak lain yang mendapatkan kehidupan menyedihkan. Bahkan hampir sama dengan salah satu dari mereka.


Kisah yang Hana bagikan kembali memberikan pelajaran berarti, jika jangan pernah menyerah pada sebuah keadaan. Karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di depan.


Rahasia menjadi sebuah misteri tersendiri bagi setiap insan di muka bumi ini. Semua atas kendali yang Di Atas apa yang terjadi.


Selagi masih ada waktu, bersabar dan serahkan semuanya hanya kepada Allah semata, sebab Dia yang tahu semuanya.


"Benarkah? Benarkah kamu ada di malam pembantaian dan kehilangan nyawa pamanmu?"


Jasmine kembali membuka suara, sangat penasaran dan tidak menduga ada anak senasib dengannya.


Hana hanya mengangguk singkat meremas tangan Ayana yang masih setia menggenggamnya.


"Jadi selama ini aku tidak sendirian?" gumam Jasmine yang masih bisa didengar oleh mereka.


"Eh?" Hana menoleh pada sang lawan bicara melihat senyum lemah di wajah cantiknya.


"Apa maksudmu?" tanyanya balik.


Jasmine membalas tatapan wanita itu, lekat sembari memberikan sorot mata hangat.


"Karena aku juga berada di dua kejadian yang kamu lihat," jelasnya lagi.


"Saat pamanmu dihabisi aku hanya mendengar apa yang sebenarnya terjadi."


Kedua manik Hana terbelalak. Ia juga sama tidak menduga mendengar jika ada anak lain yang sama sepertinya.


Jasmine menghela napas pelan lalu menengadah ke atas langit-langit.


"Kejadian yang aku lihat hari itu memberikan ketakutan sendiri. Aku pikir... hanya aku saja yang mengalami semuanya, tetapi... siapa sangka jika ada anak lain? Kita memiliki nasib yang sama," jelas Jasmine kembali.


Lagi dan lagi Hana dibuat tercengang oleh perkataan Jasmine. Ia tidak menyangka mereka memiliki kenangan menyakitkan yang sama.


"Aku memahami apa yang kamu rasakan, menjadi korban keegoisan keluarga sendiri memang tidak mudah, tetapi... ada hal lain yang telah Allah rencanakan untuk kita. Jadi, aku yakin... kamu juga pasti akan mendapatkan hal baik yang selama ini kamu inginkan, yaitu... kebebasan!"


Mendengar kata terakhir Jasmine, degup jantung Hana bertalu tak tertahankan.


Sepasang iris cokelat jernihnya melebar sempurna dengan bibir kemerahan perlahan terbuka.

__ADS_1


"Bisakah... bisakah aku memelukmu?" Pintanya kemudian.


Jasmine mengangguk mengiyakan lalu merentangkan kedua tangan lebar.


Ayana melepaskan pegangan tangannya membiarkan Hana memeluk sang kakak ipar.


Pemandangan tersebut membuat orang-orang yang melihatnya melebarkan senyum.


Ayana saling pandang dengan Bening lalu beralih pada kakak dan berakhir pada sang suami.


Sedari tadi kedua pria itu diam membisu tidak ikut berbicara. Mereka membiarkan para wanita mengambil alih dan memberikan waktu sendiri.


"Mereka memang wanita-wanita tangguh. Kamu tahu, dari Ayana, Bening, Jasmine, sampai Hana adalah bukti jika seorang wanita mempunyai kekuatan sendiri untuk bertahan."


"Jika aku berada di posisi mereka mungkin tidak akan sekuat itu," bisik Danieal masih melihat sang istri bercengkrama dengan Hana.


"Em, kamu benar. Mereka adalah bukti jika wanita lebih kuat dari kita seorang pria. Mentalnya tidak ada yang bisa mengalahkannya, meskipun terkadang ada rasa sakit tengah mereka tanggung... mereka bisa menyembunyikan lewat senyuman, seolah baik-baik saja," balas Zidan yang langsung dijawab anggukan oleh sang kakak ipar.


...***...


Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Sang raja siang perlahan mulai turun hampir menyelesaikan tugasnya hari ini.


Di salah satu ruangan di mansion keluarga Arsyad, Ayana membawa Hana ke sana.


Setelah makan siang berakhir, Ayana sudah berjanji untuk memperlihatkan sesuatu padanya.


"Kamu tahu Hana? Sebenarnya aku anak sebatang kara."


"Eh?" Hana tidak mengerti apa yang Ayana sampaikan.


Jelas-jelas tadi ia melihat orang tua Ayana duduk bersamanya di meja makan dan menikmati makanan bersama.


"Kamu pasti berpikir, aku berbohong kan?" Ayana menggeleng beberapa kali dan berbalik menghadap Hana.


"Aku tidak sedang berbohong. Apa kamu ingat di rumah sakit Desa X, aku lebih dekat dengan Dokter Danieal? Iya, beliau... khususnya orang tua Dokter Danieal mengangkat ku sebagai anak."


"Iya mereka orang tua dan kakak sambung ku sekarang," jelas Ayana kemudian.


Hana bungkam beberapa saat, tidak menduga jika teman yang ditemuinya di rumah sakit Desa X adalah seorang anak sebatang kara.


Ia hanya tahu jika Ayana lebih dekat dengan Dokter Danieal dibandingkan tenaga medis lainnya. Kedekatan mereka terkadang menimbulkan rasa iri di hati Hana.


"Benarkah? Maaf, aku tidak tahu, juga... wajah kalian mirip jadi aku pikir kalian keluarga kandung," balasnya.


Ayana tergelak singkat dan mengangguk paham.

__ADS_1


"Kalau begitu aku ingin menunjukkan ini padamu." Ayana berjalan semakin ke dalam dan di satu sisi tembok terdapat kanvas besar ditutupi kain putih.


Sang pelukis menarik kain tersebut dan memperlihatkan apa yang ada di baliknya.


Sedetik kemudian Hana terbelalak lebar tidak kuasa melihat objek di depannya.


Mulut ranum itu menganga dan langsung dibungkam oleh kedua tangannya.


"A-Ayana ini?" gumam Hana seraya berjalan tertatih mendekati satu lukisan di hadapannya.


"Itu benar. Dulu kita pernah berjanji untuk melukis bersama dan akan dipajang di hari jadi rumah sakit. Setelah kamu keluar dari sana aku terus melukis dan melukis sampai menciptakan lukisan ini," jelasnya.


Hana masih terkesima dengan gambar yang dibuat oleh Ayana dalam kanvas berukuran besar. Di sana memperlihatkan dua orang wanita tengah duduk di tepi sungai sambil melukis pemandangan.


Seolah kejadian yang pernah keduanya lakukan tempo hari itu dipindahkan langsung ke sana.


Senja yang Hana ingat pada sore hari itu pun sama persis dalam lukisan Ayana.


Bola matanya lalu bergulir, menyapukan pandangan ke sekitar kanvas. Hingga tidak lama berselang Hana mendapati logo sayap dan huruf G di pojok samping kanan kanvas.


"I-ini?" Hana menunjuk tepat ke arah dua objek tersebut.


"Em, sayap dan huruf G. Kamu tahu artinya?"


"Aku sengaja membuat itu agar mengingatkan diri sendiri jika... sayap dan Ghazella pernah duduk bersama membangun mimpi serupa."


Hana membeku, mengingat perkataan Ayana hari itu. Semua kenangan yang pernah mereka bagi bersama hinggap dalam ingatan.


Ia pun berbalik mendapati sang pelukis tengah melebarkan senyum. Secepat kilat Hana melemparkan diri memeluk Ayana.


Dengan senang hati pelukis cantik itu membalas pelukannya tak kalah erat seraya menepuk-nepuk pelan punggung sang sahabat.


Tanpa ada kata yang bersuara, keduanya menyalurkan perasaan rindu telah lama dikubur.


Ayana dan Hana, wanita yang mempunyai mimpi sama sebagai seorang pelukis.


Keduanya sempat bermimpi menjadi pelukis terbaik yang bisa mengharumkan nama bangsa.


Namun, mimpi seorang Hana Tsubaki harus kandas begitu saja, sebab keegoisan sang ayah.


Melihat Ayana yang sudah sukses mengejar mimpinya, sebenarnya Hana bangga dan senang teman seperjuangan bisa meraih apa yang diinginkannya sejak dulu.


"Selamat Ayana... selamat, kamu bisa mewujudkannya dengan baik," kata Hana kemudian.


Ayana terperangah dan sedetik kemudian mengangguk sambil memeluknya lebih erat.

__ADS_1


Ia juga berharap setelah ini Hana bisa mewujudkan mimpi yang sempat tertunda.


__ADS_2