Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 12


__ADS_3

Senandung sembilu kian menghunuskan kebaikan.


Sinar mentari menyinari bumi dengan kilauannya yang terang.


Embun di dedaunan menguap memancarkan kilatan cahaya menenangkan.


Di tengah kesyahduan alam sekitar, sepasang insan tengah berada di sebuah ruangan.


Di temani piano besar di depan keduanya, mereka duduk berdampingan bersama.


Di sampingnya terdapat jendela cekung besar memperlihatkan keadaan di luar.


Berbagai macam bunga tumbuh subur di sana menebarkan keharuman.


Kupu-kupu berdatangan, berlalu lalang di sekitarnya untuk menghisap madu.


Burung berkicauan menari indah di udara, menambah keceriaan.


Atmosfer menenangkan tersebut membersamai suami isti yang sejak tadi duduk anteng bersama.


"Kamu sudah berhasil menghadapi masalah lain lagi, untuk itu... bisakah kali ini kamu terbang bersamaku?" tanya Zidan menggenggam kedua tangan istrinya erat.


Ayana yang berada di sebelahnya menghadap lekat, memandang sepasangan onyx bening di sana.


Ia mengerutkan dahi, tidak mengerti tentang terbang bersama yang dicetuskan sang suami.


"Maksudmu?" tanya Ayana, bingung.


"Seperti yang sudah kamu ketahui, minggu depan aku ada konser di kota sebelah, apa... kamu mau ikut mendampingiku?"


"Aku ingin kamu ada di sana sebagai penyemangat," tutur Zidan menjawil pelan dagu lancip sang pujaan.


Mendapatkan tawaran tersebut, membuat Ayana terdiam sekejap.


Ini pertama kalinya ia ditawari mendampingi sang suami tampil. Dulu, jangankan ditawari diberitahu mengenai konser saja tidak pernah.


Sekarang Ayana merasa Zidan benar-benar menganggapnya sosok berharga.


Keberadaan Bella bak ditelan bumi, sudah tidak terhendus lagi.


"Ayana... Ayana, Sayang." Panggil Zidan beberapa kali mendapati kekasih hatinya diam.


Ayana terpekik dan menatap kembali pada iris cokelat bening pria di sampingnya.


"Apa... aku boleh melakukannya?" tanya Ayana ragu.


Zidan terkekeh pelan dan mengusap puncak kepalanya sayang.


"Tentu saja, aku ingin..  kamu mendampingi setiap aku konser, itu juga kalau kamu tidak sibuk," jelas Zidan lagi.


Ayana terharu, perasaannya menghangat menyambut perkataan manis suaminya.

__ADS_1


"Sudah lama, aku ingin mendengar permintaan itu dari darimu, Mas. A-aku-"


Perkataan Ayana terputus begitu saja oleh pelukan yang dilayangkan Zidan.


Manik jelaga sang pelukis melebar sempurna merasakan degup jantung pasangan hidupnya berdebar kencang.


"MasyaAllah, aku minta maaf, Sayang. Dulu, aku tidak pernah menganggap mu. Aku-"


"Shut, sudahlah Mas yang lalu biarlah berlalu. Kita songsong masa depan lebih baik lagi. Aku tidak ingin mendengar hal itu lagi," potong Ayana cepat.


"Baik, aku akan mendampingi mu di setiap konser. Terima kasih sudah menawarkan kebaikan itu," ucap Ayana lagi menahan tangis.


Zidan mengangguk beberapa kali mengusap lembut puncak kepalanya lagi dan terus melayangkan kecupan di sana.


Ayana pun membalas pelukannya tak kalah erat menutup mata rapat teringat pada tahun itu.


Saat di mana pertama kali melihat Zidan di konser musik klasik tepat bertepatan peringatan orang tuanya meninggal.


Di sana ia pernah bermimpi ingin bersanding dengan seorang pianis ternama, Zidan Ashraf dan ingin mendampingi di setiap konsernya.


Mimpi sederhana itu bagaikan harapan yang tidak mungkin bisa digapai.


Namun, nyatanya rencana Allah tidak ada yang tahu. Sekejap mata rasa sakit yang pernah ditorehkan berbalik menyuguhkan kebahagiaan.


Ayana senang harapan semu itu kini bisa digapai.


...***...


Alhasil adanya sang istri di sisinya membuat perkembangan Zidan begitu signifikan.


Ia menciptakan beberapa lagu khusus yang dibuat untuk istri tercinta.


Haikal yang kerap kali datang memantau ikut senang dengan kedekatan suami istri tersebut.


"Setiap hari selalu saja melihat kemesraan kalian. Apa kalian tidak bosan terus bersama seperti ini?" ujar Haidan yang kebetulan ikut adik kembarnya lagi ke kediaman sang tuan muda.


Ia tengah duduk di sofa panjang tidak jauh dari keberadaan mereka, seraya menikmati keripik pisang ia terus memantau objek di depannya.


Pria berkacamata yang tengah berdiri tidak jauh darinya pun berdehem pelan.


Sembari membetulkan letak kacamata membingkai wajah tampannya, Haikal memandangi mereka bergantian.


Ayana dan Zidan yang menjadi pusat perhatian pun saling pandang lalu tersenyum lebar.


"Makanya kalian cepat menikah, mau sampai kapan terus sibuk mengejar dunia?" timpal Zidan menghentikan jari jemari di atas tuts-tuts piano.


"Eh kerja itu perlu agar kelak setelah bertemu dengan jodoh yang pas bisa membahagiakannya. Jangan asal mengambil anak orang begitu saja tanpa bertanggungjawab," balas Haidan masih menikmati makanan ringan.


"Itu benar," lanjut Haikal membenarkan ucapan kembarannya.


"Sudah-sudah masalah pasangan itu pasti datang di waktu yang tepat. Tidak usah khawatir, Allah telah mengaturnya dengan baik," kata Ayana menengahi.

__ADS_1


Ketiganya mengangguk setuju.


"Kalau begitu aku siapkan minuman dingin dulu." Ayana pun bangkit dari sana memberikan waktu kepada tiga pria itu untuk menghabiskannya bersama.


Ayana yang tengah membuat minuman dingin pun dikejutkan dengan kedatangan Haidan.


Sang jaksa yang sudah membantunya menangani dua kasus berjalan mendekat mencomot sebutir anggur di meja makan.


"Jadi, bagaimana kehidupan kalian sekarang setelah tetua itu di penjara?" tanyanya to the point.


Ayana meletakkan pitcher keramik di atas meja dan membalas tatapan sang lawan bicara.


"Alhamdulillah, meskipun terdengar sangat pelik dan berat, tapi hubungan kami baik-baik saja," balas Ayana mengembangkan senyum lembut.


"Syukurlah, aku sedikit khawatir mengenai rumah tangga kalian, mengingat ini menyangkut dua keluarga, terlebih orang tuamu dan nenek Zidan," ungkap Haidan lagi.


"Iya memang pada awalnya aku takut mengguncang hubungan pernikahan kami, tetapi nyatanya tidak seperti itu."


"Mas Zidan tahu mana yang benar dan salah. Dia... ingin kebenaran terungkap. Karena menurut mas Zidan juga kejahatan tidak ada yang dibenarkan, perbuatan siapa pun itu," jelas Ayana kemudian kembali sibuk membuat minuman dingin yang menambahkan buah-buahan dan lain sebagainya ke dalam gelas.


Haidan mengangguk-anggukan kepala setuju.


"Itu benar, aku juga setuju. Syukurlah, aku senang mendengarnya," kata jaksa tampan itu lagi.


Ayana mengulas senyum singkat dan menyelesaikan kegiatannya.


Di sekitar mereka para pelayan terus berlalu lalang mengerjakan kesibukannya masing-masing.


Diam-diam Helena mendengar pembicaraan mereka dan tersenyum pada Ayana secara sembunyi-sembunyi.


Ia juga tahu masalah yang menyangkut antara Ayana dan nenek mertuanya.


Ia tidak menyangka Ayana harus mengemban masalah besar seperti itu yang ibarat kata seorang diri.


Namun, ia bersyukur setidaknya Zidan sudah berubah dan bisa mendampingi sang istri.


Ia bangga pada pencapaian Ayana yang berhasil membuat namanya semakin melambung tinggi.


Sosok dermawan itu telah membantu Helena dan ketiga adiknya membuat ia sangat senang.


Ia kembali bersyukur dipertemukan dengan Ayana, meskipun dengan cara kurang baik.


Ia yang dulu menjadi kaki tangan Bella, berbalik mendukungnya sepenuh hati.


"Syukurlah semua sudah baik-baik saja," benaknya.


Tidak lama kemudian Zidan datang seraya menggendong Raima.


Disusul Haikal yang turut membawa jadwal sang tuan muda.


Mereka pun jadi duduk bersama di meja makan menikmati santap ringan disertai obrolan-obrolan menambah keakraban.

__ADS_1


Canda dan tawa terdengar hangat membuat para pelayan ikut senang mendengar serta melihatnya.


__ADS_2