Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 69


__ADS_3

Jalan cerita tidak selamanya seperti apa yang diinginkan. Banyak kejutan terjadi tanpa bisa dicegah serta kedatangannya mengundang misteri tak terelakan.


Ayana tengah tersudut tidak bisa bertindak apa pun kala kelemahannya tengah digunakan. Kartu AS pun sedang dimainkan, Bella tersenyum senang menggenggamnya.


"Aku tidak akan mengatakan kepada nyonya Bening jika jasad anaknya digunakan oleh tangan tak bertanggungjawab sebagai orang asing. Erina dimanfaatkan oleh Ayana Ghazella untuk menipu banyak orang. Serta Ayana juga menguburnya tanpa menggunakan nama anaknya, melainkan-"


"Cukup aku tidak ingin mendengarnya lagi." Ayana berteriak membuat Bella menghentikan ucapan.


Ia kembali menyeringai lebar lalu berjalan mendekat sembari memberikan tatapan nyalang. Ayana tanpa gentar membalasnya lekat.


"Kamu tidak bisa menyembunyikan masalah ini selamanya. Seorang ibu pasti terluka kalau mengetahui anaknya dimanfaatkan oleh orang lain. Apa lagi beliau sangat percaya pada seseorang yang sudah dianggapnya sebagai pengganti sang anak yang sudah pergi. Apa kamu mau melihat nyonya Bening membencimu?" Bella mencengkram kedua pipi tirus Ayana.


Sang empunya menengadah, maniknya memerah menahan tangis yang tidak boleh ia perlihatkan pada wanita ini.


Ayana tidak boleh terlihat lemah dan tidak berdaya di hadapan Bella. Sudah cukup pengkhianatan yang dilakukannya bersama Zidan selama enam tahun.


"Lakukan apa pun yang kamu mau. Aku tidak peduli!" balas Ayana tanpa gentar lalu kembali menghempaskan tangan wanita itu.


"Oh yah? Bagus kalau begitu, aku bisa leluasa menyebarkannya ke media masa dan netizen pasti memberondong mu dengan kata-kata pedas. Juga tidak hanya padamu saja, efek negatifnya pun pasti dirasakan oleh nyonya Bening."


"Aku dengar kondisi kesehatannya sedang tidak baik sekarang, apa kamu juga mau melihatnya semakin terpuruk?" kata Bella lagi.


Ayana sudah tidak bisa berkutik, selama setahun berada di Desa X selain menghabiskan waktu bersama Danieal maupun di rumah sakit, Bening dan Erina menjadi teman setianya. Mereka bertemu di rumah sakit hingga pada akhirnya bisa berteman baik.


Mereka sering membantunya di kala rasa sedih itu datang menerjang. Saat mengetahui Erina dalam kondisi tidak baik, Ayana selalu berada di samping Bening untuk menguatkannya.


Sampai Erina pun dinyatakan meninggal dunia, Ayana malah memanfaatkan kondisi itu untuk mengelabui orang-orang di ibu kota.


Ia berharap dengan mengetahui dirinya meninggal, mereka yang sudah menorehkan luka bisa melupakan keberadaannya.


Ia berkata pada Bening untuk menyiapkan pemakaman yang layak bagi Erina. Namun, tanpa wanita paruh baya itu ketahui, Ayana malah memanfaatkan jenazahnya.


Di mana Erina memiliki wajah yang hampir mirip dengan Ayana. Danieal pun setuju akan idenya yang kelewat batas.


Ia mengatur skenario yang dibantu beberapa orang ahli di bidangnya. Mereka menyebar barang-barang Ayana di hulu sungai untuk mengelabui orang-orang dan berharap jika ada yang menemukan bisa meyakini jika istri dari Zidan sudah meninggal akibat kecelakaan serta terapung di sungai.


Keinginannya pun terkabul, orang kepercayaan Gibran yang dikerahkan untuk mencari Ayana mendapati barang-barangnya di sana.

__ADS_1


Ayana berhasil dengan strategi yang dilakukannya. Hingga satu setengah tahun kemudian ia muncul sebagai orang lain.


"Bagaimana? Apa kamu mau mengecewakan nyonya Bening?" Bella masih menawarkan kesepakatan menyadarkannya dari lamunan.


Ayana pun memberikan tatapan galak layaknya elang memangsa buruan. "Aku-"


Bella tersenyum penuh makna akan jawaban yang diberikan Ayana.


...***...


Tanpa ada angin dan hujan pun baru reda beberapa saat lalu, Lina dan Arshan terkejut dengan pengakuan Ayana.


Danieal dan Gibran yang tidak sengaja mendengarnya pun ikut tercengang. Buru-buru keduanya berlarian mendekati mereka yang sedang berbicara di ujung lorong samping jendela besar.


Gelap masih setia mendominasi, udara semkin dingin menusuk kulit. Ditambah perkataan Ayana membuat mereka tidak percaya.


"Apa yang barusan kamu katakan?" tanya Danieal langsung tanpa sadar mencengkram pergelangan tangan Ayana.


Seketika sang adik langsung berbalik ke belakang serta mendongak menatap manik karamel kakaknya.


Ayana menghempaskan tangan itu dan mundur selangkah ke belakang.


"Lepaskan! Bukankah Mas juga memikirkan hal seperti itu padaku? Iya, aku memang berniat untuk membunuh mas Zidan, tapi sayangnya ... aku meleset dan malah mengenai lengannya," tegas Ayana.


Lina masih tidak percaya mendengar semua itu. Ia menutup mulut menganganya menggunakan kedua tangan, seketika pertahanannya roboh dan hampir terjatuh.


"Mamah." Dengan sigap Gibran berjalan ke depan langsung menangkap tubuh sang ibu.


"Mbak ... jangan berkata bohong seperti itu," lanjut Gibran kemudian.


"Itu benar Ayana, tidak mungkin kamu mau melakukan hal itu," balas Arshan.


"Berhenti bicara omong kosong, Ayana. Kamu tidak mungkin memiliki niat buruk," kata Danieal lagi.


Ayana mendengus kasar, mengangkat sebelah bibirnya lebar menatap mereka bergantian.


"Sungguh menggelikan, bukankah kalian tadi juga memiliki pemikiran seperti itu? Jangan menyangkalnya ... dan sekarang aku menegaskan, kalian tidak percaya? Apa yang sebenarnya kalian inginkan, hah?" Ayana meninggikan nada suara diakhir kalimat.

__ADS_1


Dadanya naik turun dengan napas bergemuruh. Ia mencengkram dahi lebarnya lalu mengusap wajah gusar.


Bola matanya kembali memandangi keempatnya dan setelah itu pergi tanpa memberikan kesempatan mereka berbicara lagi.


Danieal, Gibran, Lina, dan Arshan memandangi kepergiannya. Tanpa mereka sadari dari salah satu ruangan di sana, Bella mendengarkan percakapan tersebut.


Ia mengulas senyum senang, "yah bagus Ayana. Rencanaku berhasil, perlahan-lahan aku akan mendekati mas Zidan lagi dan ... kami akan menjadi pasangan pianis yang harmonis seperti dulu," benaknya kemudian.


Ayana sudah kembali ke ruang inapnya berada. Kamar yang hanya dihiasi oleh dinding putih itu menjadi teman setia.


Ia duduk bersandar pada kepala ranjang dan menunduk dalam. Ia kembali mengelus perban di tangan kanannya seraya banyak hal yang dipikirkan.


Tidak lama berselang pintu dibuka seseorang, Ayana menoleh dan mendapati kakak sekaligus dokter pribadinya mengulas senyum.


"Bisa saya minta dokter pengganti?" pintanya memalingkan wajah.


Danieal mendudukkan diri di samping Ayana, manik jelaganya terus memandangi sang adik dengan tatapan penuh penyesalan.


"Ayana ... Mas minta maaf sudah-"


"Jangan meminta maaf memang seperti itulah adanya," potong Ayana cepat.


Danieal menggeleng beberapa kali. "Tidak ... Mas yang keliru. Mas sudah berpikir tidak jernih dan menanyakan hal itu padamu. Mas-"


"Sudahlah, aku lelah. Aku ingin istirahat."


Ayana pun membaringkan tubuhnya memunggungi Danieal. Pria itu hanya menghela napas pasrah melihat sang adik lebih terpuruk.


"Mas akan memasangkan infusan baru padamu," katanya kemudian.


Tanpa menolak, Ayana membiarkan kakaknya memasangkan infus baru. Lagi dan lagi tangannya harus dihiasi jarum yang entah kapan bisa benar-benar di lepaskan.


Ayana tidak menyangka jika kembalinya ke ibu kota bisa mendapatkan kejadian tidak diharapkan seperti ini.


Ia pikir dirinya sudah berubah menjadi wanita tangguh dan tidak lemah lagi. Namun, kenyataannya ia kembali terjebak pada permainan dilakukan oleh orang yang sama.


Bella menjadi dalang di balik semuanya, Ayana tidak bisa berbuat apa-apa selain terjerumus dan masuk ke dalam permainan.

__ADS_1


__ADS_2