
"Keluarga?"
Satu kata berjuta makna tercetus dari celah bibir ranum Hana Tsubasa. Kata yang tidak pernah memiliki arti tersendiri hanya mengambang tanpa kepastian.
Seolah kata itu hanya sebatas nama tanpa adanya makna berarti. Satu-satunya keluarga yang ia punya malah memberikan luka teramat kejam, sulit dilupakan.
Keluarga, orang-orang terdekat yang memberikan kasih sayang tanpa pamrih, nyatanya terkadang menjadi luka terberat serta sumber rasa sakit terparah.
Orang-orang yang harusnya memberikan kasih sayang tulus, nyatanya malapetaka terbesar dalam kehidupan.
Orang tua yang seharusnya memberikan cinta kasih, nyatanya menorehkan sakit teramat luas. Luka itu terus tumbuh seiring berjalannya waktu tanpa ada sedikitpun kesembuhan di berikan.
Trauma dan depresi, hanya dua kata itulah hasil dari kejadian mengerikan yang mereka berikan. Sakit mental kadang kala tidak bisa disembuhkan begitu saja.
Ucapan selamat datang di rumah, kadang kala hanya menjadi bagian terkecil sebuah harapan bagi seorang anak kecil tumbuh dalam lingkungan toxic.
Lagi dan lagi hanya ada keheningan yang menyambut setiap kali pulang. Namun, kata pulang itu sendiri tidak memberikan jaminan jika itu adalah tempat sesungguhnya untuk kembali.
Terkadang rumah menjadi tempat paling tidak nyaman yang harus dikunjungi. Kadang kala dunia luar menjadi pelampiasan ternyaman yang bisa didapatkan.
Semua serba salah, hanya mengandalkan diri sendiri agar bisa kuat menghadapi segala permasalahan yang ada.
Itulah yang sering dirasakan Hana. Ia tidak pernah mendapatkan arti sebuah rumah sesungguhnya. Ia terus menerus didoktrin oleh sang ayah untuk tetap mengikuti apa yang diinginkannya.
Egois, menjadi satu kata untuk menggambarkan serang ayah seperti Bagus Prakasa.
Sayap kehidupan di punggung Hana dipatahkan secara paksa. Ia hancur lebur bersama mimpi yang harus dikubur bersama hidupnya.
"Iya, keluarga. Kamu pasti mendapatkannya juga. Kamu tahu... aku yang sempat berpikir tidak pernah merasakan kasih sayang dari keluarga, nyatanya... Allah menghadirkan Ayana untuk menggantikan orang-orang ku yang telah berguguran."
"Rencana Allah tidak ada yang tahu dan... itulah sebaik-baiknya rencana. Kamu harus yakin dan percaya diri jika semuanya akan baik-baik saja," kata Jasmine masih menyisir rambut panjang Hana memberikan sedikit kekuatan.
Sang empunya kembali diam beberapa saat menyaksikan wajah cantik bak barbie di belakangnya lewat cermin.
Aura positif terus menguar dalam diri seorang Jasmine, yang mana wanita itu pernah mengalami masa kelamnya sendiri.
Ia pun menjadi saksi hidup seperti apa orang-orang itu membantai habis keluarga Jasmine. Selama ini ia hanya tutup mata tidak menceritakan kengerian tersebut pada siapa pun.
__ADS_1
Sendiri, sendiri, dan sendiri, itulah yang selalu Hana lakukan selama bertahun-tahun. Ia tidak mempunyai seorang teman pun yang bisa berbagai segalanya.
Bagus terlalu mengekang Hana agar sang putri selamanya berada di dalam ruangan. Ia tidak mempedulikan keinginannya dan melakukan keegoisannya sendiri.
Air mata hanya menjadi saksi bisu seperti apa luka tak kasat mata itu terus tumbuh dan tumbuh.
"Apa aku bisa mendapatkan keluarga baru?"
Pertanyaan lain tercetus, Jasmine kembali menghentikan gerakannya dan memandang sekilas pada Hana. Bibir ranumnya melebar sempurna mendengar pertanyaan yang sarat sebuah pengharapan itu.
"Em, aku yakin kamu bisa mendapatkannya. Kamu tahu sendiri bukan? Ayana... wanita itu sosok baik hati. Dia selalu menganggap siapa pun sebagai keluarganya, termasuk dirimu... bukankah tadi dia juga mengatakan demikian?" celoteh Jasmine mengingatkannya pada beberapa menit lalu.
Di mana Ayana mengatakan jika dirinya membantu seorang teman, tetapi diubah menjadi kerabat.
Perasaan hangat tiba-tiba saja menyeruak ke dalam dada. Hana menautkan jari jemari di depan dada semakin merasakan perasaan asing masuk ke relung terdalam.
...***...
Tidak lama setelah itu Hana dan Jasmine keluar dari kamar mandi. Di sana mereka melihat orang-orang di ruangan itu berkumpul bersama membentuk suatu lingkaran.
Semua orang kompak menoleh ke belakang mendapati kedua wanita itu datang. Buru-buru Haidan dan Haikal bangkit dari duduk mempersilakan mereka bergabung.
Setelah mereka kembali bersama, pembicaraan pun dilanjutkan. Kali ini Ayana yang memulai perkataan yang sudah disepakati orang-orang di sana.
"Hana." Panggilnya lembut.
Tidak sampai di sana saja, Ayana bahkan bangkit dari duduk dan berjalan menuju Hana. Bening yang berada di sampingnya bangkit, mempersilakan sang pelukis duduk di tempatnya.
Ayana mengucapkan terima kasih dan kini tepat berada di dekat Hana.
"Hana, apa kamu mau semuanya segera berakhir?" tanya Ayana kemudian.
Hana terperangah, bola matanya memandang semua orang bergiliran dan kembali pada Ayana. Ia melihat sorot mata yakin membuatnya tidak karuan.
Ia mengangguk singkat sebagai jawaban, Ayana mengulas senyum lembut dan menggenggam kedua tangannya hangat.
"Kalau begitu, aku ingin meminta bantuan mu. Apa boleh?" tanya Ayana lagi.
__ADS_1
Seketika Hana ragu menjawab pertanyaan tersebut, sampai Ayana pun kembali melanjutkan ucapannya.
"Maaf, jika kesannya menyudutkan mu atau menyuruhmu melakukan sesuatu, tetapi... jika kamu ingin semuanya selesai dan berakhir maka ini satu-satunya jalan bagi kita untuk menghadapinya. Tenang saja, kami tidak akan membuatmu melakukannya sendirian," jelas sang pelukis semakin menambah kebimbangan pada Hana.
Wanita itu memperhatikan lawan bicaranya, di mana Ayana begitu hati-hati dalam bertutur kata. Hal tersebut membuat Hana bertambah tidak karuan.
Ini pertama kali dalam hidupnya, ada seseorang yang meminta sesuatu dengan sangat hati-hati agar tidak melukai perasaannya.
Sepanjang hidup, Hana terus diminta melakukan sesuatu tanpa memikirkan apa itu bisa menimbulkan rasa sakit atau tidak. Bahkan sang ayah tidak segan-segan meminta sesuatu yang sangat berarti untuknya.
"Tidak usah sungkan, Ayana. Katakana saja, jika aku bisa melakukannya... aku akan lakukan," balasnya melengkungkan bulan sabit di wajah cantik sang pelukis.
Hana kembali dibuat terperangah saat kedua manik Ayana berkaca-kaca. Ia tersenyum haru hanya dengan mendengar jawabannya saja.
Hana semakin tidak mengerti dibuatnya dan menunggu kata apa yang hendak disampaikan Ayana selanjutnya.
"Kamu bisa mengatakan pada semua orang apa yang sebenarnya terjadi. Kamu bisa menceritakan semuanya, kesulitan mu, kesakitan mu, apa yang kamu rasakan selama ini, bahkan... sampai rahasia terkecil mu... kamu bisa mengatakannya."
"Jangan menyimpannya sendirian, Hana. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan dan melepaskan rasa sakit itu."
"Karena burung tidak akan bisa terbang bebas jika terus berada di dalam sangkar. Kamu bisa membuka pintu sangkar itu dan pergi ke manapun yang kamu inginkan. Terbang lah... terbang setinggi yang kamu mau."
Kata-kata Ayana barusan membangkitkan keinginan lain dalam diri Hana. Perlahan manik cokelat karamelnya melebar sempurna.
Hana tidak pernah mendengar sebuah harapan besar yang telah lama dirinya kubur. Menjadi seseorang yang ia inginkan selama ini jauh dari jangkauan.
Bahkan mimpi kecil untuk keluar kamar pun tidak pernah diberikan. Ia selalu terkurung tanpa diberikan akses ke manapun.
Di saat ayahnya sedikit terancam, ia diungsikan ke tempat terpencil agar orang-orang dari media tidak bisa mengendus keberadaannya.
"Kenapa Ayana terlihat terharu? Bahkan kata-kata yang ia berikan sebenarnya untukku... aku memang tidak mengerti siapa Ayana sebenarnya."
"Namun, setelah mendengar kata-kata Jasmine tadi aku sadar jika Ayana... wanita yang sangat baik. Dari dulu sampai sekarang, dia... selalu mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri," monolog Hana dalam benak.
Sedetik kemudian ia melemparkan diri memeluk Ayana erat seraya bergumam membuat manik jelaga sang pelukis melebar.
"Baiklah... aku akan melakukannya. Aku akan melakukannya, Ayana," jawab Hana.
__ADS_1
Ayana terkejut, dan seketika membalas pelukan itu tak kalah erat. Semua orang melihat itu tersenyum haru, mengerti apa yang terjadi.