Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 99


__ADS_3

"Alhamdulillah, keadaan Tuan Muda berangsur-angsur membaik. Luka tembaknya pun mulai menutup kembali," tutur Dokter Abizar pada Ayana.


Wanita itu pun lega mendengarnya, ia mengucapkan terima kasih dan kembali memandangi sang suami.


Kurang lebih lima belas menit mereka bercengkrama, Danieal dan Haikal pun memberikan kesempatan pada pasangan suami istri itu untuk menikmati waktu sendiri.


Selepas kepergian kedua dokter tampan tersebut, Ayana duduk di tepi ranjang seraya memandang lekat padanya.


Ditatap sebegitu nya oleh sang istri membuat Zidan tak kuasa membendung kebahagiaan. Bibir pucatnya melengkung sempurna sembari membalas pandangan Ayana.


"A-ada apa?" tanya Zidan gugup.


Tanpa membalas pertanyaan suaminya, Ayana mencondongkan tubuh ke bawah lalu menutup kedua manik jelaganya.


Pelan, tapi pasti pergerakan tiba-tiba tersebut membuat Zidan sangat terkejut. Benda kenyal semerah cherry itu mendarat di kain kasa dada sebelah kiri.


Lembut nan hangat, membuat degup jantung sang pianis bertalu kencang. Suaranya sangat keras hingga Ayana pun kembali membuka mata.


Objek yang menjadi pusat pandangan pun membuatnya terpaku. Ayana diam beberapa saat mendengar sendiri seperti apa denyut jantung sang suami.


"Denyut jantungnya ... apa Mas Zidan berdebar untukku? Benarkah?" benaknya masih ada setitik keraguan di sana.


"Kamu mendengarnya? Ah~ ini sangat memalukan, bagaimana bisa aku menyembunyikan perasaan ini darimu, Ayana? Ah, tidak aku ... tidak akan pernah menyembunyikannya lagi. Aku ingin kamu dan satu dunia tahu kalau ... aku sangat mencintaimu, Sayang."


Kata-kata penuh kelembutan menyapa relung dasar hati terdalam. Ayana terdiam tidak bergerak sedikit pun bak bongkahan es.


Zidan melengkungkan bibir perlahan dan sedikit mengangkat tubuh untuk melihat ekspresi sang istri.


Tidak kuasa menahan gemas, Zidan langsung memeluknya erat. Ayana seketika terkejut kala pipi sebelah kanan menempel di dada bidang sang suami.


Ini pertama kali setelah satu tahun lebih mereka tidak bertemu dan saling menyentuh, pelukan hangat yang sudah lama memudar kembali.


Ayana masih tidak menyangka melihat dengan mata kepala sendiri perubahan terjadi pada pasangan hidupnya.


Ia berpikir jika Zidan akan selamanya terus menyakiti dan berakhir perpisahan menyedihkan. Tanpa mencintainya kembali dan tetap menaruh hati pada Bella.


Namun, nyatanya roda berputar begitu cepat. Kehidupan kelam penuh lika liku dan air mata berubah secepat kilat menyambar.

__ADS_1


Kristal bening mengalir tak tertahankan, kala Zidan mengelus punggungnya pelan dan berkali-kali.


Ayana tidak bisa menahan air mata yang terus menerus mengalir membasahi permukaan kulit sang pria.


"Jangan menangis, Sayang. Aku ... tidak ingin melihatmu menangis lagi," ungkap Zidan.


Tangan kekarnya beralih menangkup kedua pipi sang pujaan. Lengkungan bulan sabit masih setia bertengger di wajah tampannya.


Ibu jari pria itu mengusap bulir demi bulir cairan bening di sana. Zidan menangkap sorot mata tidak percaya bertengger di sepasang hazelnut milik Ayana.


"Apa kamu masih tidak percaya padaku, Sayang?" tanyanya lagi dengan suara rendah.


Ayana menggeleng beberapa kali lalu menunduk singkat.


"Ketiga kalinya Mas menyelamatkan aku bagaimana mungkin ... bagaimana mungkin aku tidak percaya? Bahkan lebih dari itu, aku ... benar-benar akan memberikanmu kesempatan, Mas," balas Ayana mengembangkan senyum tulus.


Seketika Zidan terbelalak, pergerakan tangannya terhenti dengan mulut sedikit terbuka. Ia tidak menyangka Ayana sungguh memberikan kesempatan itu.


Tanpa sadar air mata mengalir membasahi bantal rumah sakit. Zidan tidak kuasa membendung kebahagiaan serta lega di waktu bersamaan.


"Terima kasih, terima kasih banyak, Sayang. Aku janji ... mulai saat ini aku akan membahagiakan mu," balas Zidan lagi.


Senyum di wajah keduanya pun hadir menemani waktu mendebarkan. Detik demi detik terlewati mengenyahkan keheningan melanda.


Alat-alat medis menjadi saksi bisu bagaimana sepasang insan saling membuka hati. Ayana maupun Zidan berharap rumah tangganya kali ini bisa jauh lebih baik.


Zidan akan berusaha berubah sebaik mungkin dan menggantikan rasa sakit Ayana dengan kebahagiaan. Ia akan terus mencintai dan menyayanginya sepenuh hati serta menjadi keluarga yang sesungguhnya.


...***...


Tiga hari setelah Zidan sadar dari koma, Ayana setia menemaninya. Setiap saat, setiap waktu, pasangan suami istri itu menghabiskan hari bersama-sama.


Senyum ceria selalu menemani keduanya. Tidak ada lagi konflik apa pun dari mereka, yang hadir hanyalah kelegaan.


"Aku bersyukur saat membuka mata kamu ada di sampingku," kata Zidan yang sudah bisa duduk di atas ranjang.


Ayana yang tengah menggenggam semangkuk bubur pun menoleh singkat.

__ADS_1


"Em, aku tidak akan meninggalkanmu lagi, Mas," balasnya lalu menyuapi sang suami.


Zidan tersenyum senang dan tidak henti-hentinya memandang lekat pada pujaan hati. Ia bersyukur akan kesempatan yang Ayana berikan dan tidak akan menyanyikannya lagi.


"Terima kasih," ungkap Zidan kemudian.


Ayana terdiam kaku, bibir ranumnya terangkat singkat.


"Tidak usah berterima kasih, aku jauh lebih banyak harus mengatakan itu. Jika bukan karena Mas Zidan ... mungkin sekarang aku tidak akan ada di sini," jawab Ayana lagi.


Zidan mengangguk-anggukan kepala, "baiklah kita tidak usah membahas itu lagi yang jelas ... aku sangat bahagia sekarang."


Zidan tersenyum riang layaknya seorang anak yang baru diizinkan memakan permen. Ayana tergelak seketika, dirinya tidak pernah menyangka melihat sikap kekanakan dari suaminya.


"Oh sungguh pemandangan yang romantis sekali." Suara yang sudah Ayana kenal menginterupsi.


Pasangan suami istri itu menoleh kompak ke arah pintu masuk. Di sana sang dokter sekaligus kakak sambung Ayana mengembangkan senyum lebar.


"Mas Danieal?" Panggil Ayana.


Danieal masuk ke dalam dan berdiri tepat di samping mereka.


"Mas bersyukur akhirnya hubungan kalian sudah jauh lebih baik. Mulai sekarang hiduplah dengan baik dan jangan mengulangi kesalahan yang sama."


"Juga ... kamu harus menjaga adikku sebaik mungkin. Kamu tahu? Dia sangat menderita waktu itu," ungkap Danieal menoleh pada Zidan dan Ayana bergantian.


Dengan yakin Zidan menganggukkan kepala cepat. "Kamu tidak usah khawatir, aku akan menjaga serta membahagiakan Ayana. Aku akan menebus kesalahan di masa lalu."


"Baguslah, aku senang mendengarnya. Aku percayakan Ayana padamu ... jika sampai aku mendengarnya menangis lagi jangan harap kamu bisa menemuinya." Danieal mengancam seraya memberikan tatapan tajam.


Zidan mendengus pelan sembari mengangkat kedua sudut bibir.


"Tenang saja, aku tidak akan membuat Ayana menangis, jika bukan air mata kebahagiaan. Aku berjanji akan menjaganya sepenuh hati," ungkap Zidan beralih memandangi Ayana.


Wanita itu terkejut menyaksikan sorot mata penuh keyakinan. Ia tidak menyangka sosok Zidan yang arogan bisa memberikan hal tersebut padanya.


"Masa lalu hanyalah tinggal kenangan. Rasa sakit, kecewa, nan perih memang menjadi cerita belaka, tetapi untuk sepenuhnya lupa butuh waktu seumur hidup. Bohong jika aku mengatakan kalau ... aku sudah lupa perbuatannya dulu, tetapi ... sekarang aku benar-benar akan memberikan Mas Zidan kesempatan untuk memperbaiki semuanya," monolog Ayana dalam benak.

__ADS_1


Ia membalas sepasang manik cokelat itu hangat sembari melengkungkan bulan sabit lagi.


__ADS_2