
Banyak sekali kejutan tak terduga mendatangi setiap insan di bumi. Kehadirannya kadang kala mengundang air mata ataupun senyum kebahagiaan.
Skenario Allah tidak ada yang tahu. Takdir-Nya memang luar biasa baik bagi setiap hamba, meskipun terbalut luka, tetapi setelahnya ada kebahagiaan yang tidak pernah terduga.
Pagi ini Bening tengah memantau keberadaan tetua Ashraf. Ditemani roti dan susu ia hendak memulai investigasi lebih jauh lagi.
Namun, rencananya pun melenceng saat melihat seorang wanita tengah menggendong bayi keluar dari mansion.
Bening terperanjat, mengerutkan kening dalam dan melemparkan roti yang tengah dinikmatinya ke jok sebelah.
"Ke-kenapa wanita itu keluar dari mansion keluarga Zidan? Dia... Kirana, kan?" celotehnya terus memantau ke mana wanita tadi melangkah.
Hingga tidak lama berselang, Kirana masuk ke dalam taksi seraya menggendong Raima.
Bening semakin bingung, mencengkram stir mobil kuat. "Aku harus mengikutinya," lanjut wanita itu, kembali memutar kunci mobil dan mengikuti ke mana Kirana pergi.
Irisnya terus memperhatikan jalanan yang mereka lewati. Banyak gedung-gedung pencakar langit di sekeliling yang nampak masih asing dalam pandangan.
Bening berkali-kali berdecak kagum menyaksikan bangunan tinggi tersebut.
"Sebenarnya ke mana wanita itu hendak membawa Raima? Kenapa dia bersama Kirana? Apa yang dilakukan Ayana dan Zidan? Apa mereka sedang membuat adik untuknya? Ah, apa yang kamu bicarakan?" celotehnya mengenyahkan keheningan lalu tertawa ringan memikirkan imajinasinya sendiri.
Beberapa saat kemudian mereka memasuki kawasan perumahan elit di tengah kota.
Bening yang sedari tadi mengekorinya, lagi-lagi terkejut bukan main mengetahui taksi ditumpangi Kirana berhenti tepat di depannya.
Ia pun seketika langsung menghentikan laju kendaraannya melihat Kirana memasuki gedung.
"Apa dia tinggal di sini?" tanyanya pada keheningan.
"Wah, dia kaya sekali. Aku harus melihat apa yang terjadi." Bening pun berbalik ke belakang mencapai tas berisi peralatan mengintai.
Ia mengeluarkan laptop dan beberapa peralatan lain di atas pangkuan. Jari jemarinya menari indah di atas keyboard mengetikkan apa yang sudah berada di luar kepala.
Tidak lama setelah itu ia berhasil meretas sistem kemananan dalam gedung. Satu demi satu CCTV yang ada di sana diaksesnya dengan mudah, hingga iris bening itu melebar melihat Kirana ada di salah satu kamar.
"Apa dia tinggal di sini? Sepertinya begitu," racaunya.
Ia pun terus memperhatikan dalam diam, sampai satu kejadian membuatnya benar-benar tercengang.
Bening langsung menutup mulut menganganya kuat, tidak percaya apa yang baru saja dilihat. Kepala berhijabnya menggeleng beberapa kali berusaha memfokuskan diri.
__ADS_1
Namun, meskipun sudah berkali-kali mengucek kedua mata, tetap saja keadaan itu masih tetap sama.
"Astaghfirullah, benarkah ini?" gumamnya tidak percaya.
...***...
Ayana kini tengah berada di galerinya lagi. Sedari tadi kedua tangannya tidak pernah berhenti bekerja menyiapkan lukisan baru untuk pameran.
Di temani secangkir kopi ia mencoba fokus pada pekerjaan, walaupun kenyataan kepala terbungkus hijab hitamnya terus berisik.
Satu demi satu fakta terungkap mengenai sebab-akibat meninggalnya ayah dan ibu. Ayana juga tidak menyangka jika tetua Ashraf adalah dalang dari segalanya.
Wanita tua itu yang selama ini selalu menteror dirinya di masa lalu maupun sekarang.
Ia duduk di kursi kayu memandang kanvas berukuran besar yang dibawa dari rumah. Tegukan demi tegukan kopi masuk ke tenggorokan mengalir hingga ke dasar menemani kesendirian.
Manik jelaga itu terus memindai media lukis dengan sorot mata memancarkan ketegasan.
Tangan yang tengah menggenggam telinga gelas bergetar kuat dan sedetik kemudian ia melemparkannya ke tembok.
Suara berdentum yang dihasilkan cukup kuat, pecahan gelas itu berhamburan di lantai dengan cairan pekat bercampur menjadi satu.
Degup jantung Ayana bertalu kencang, dadanya naik turun memunculkan keringat dingin di pelipis.
Perasaannya campur aduk antara ingin membalas dendam atau membiarkan semuanya berjalan biasa saja.
Namun, ia hanyalah manusia biasa kerap kali ingin membalas rasa sakit hati pada orang-orang yang telah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya.
Hatinya begitu sakit kala teringat kejadian dua puluh tahun lalu. Di mana pada saat itu ia mendengar berita mengenai kecelakaan orang tuanya.
Ia yang tengah mengikuti kontes melukis pun tidak kuasa membendung kesedihan. Ia meninggalkan tempat tanpa mendengar jawaban yang diberikan juri.
Ia langsung bergegas pulang dan mendapatkan dua jenazah di ruang depan rumahnya. Di sana juga banyak sekali tetangga yang datang hendak mengurusi mendiang orang tuanya.
Pada saat itu Ayana tidak diperbolehkan melihat keadaan mereka. Ia memberontak, berusaha untuk melihat ayah dan ibu untuk terakhir kali.
Namun, baru saja pembungkus orang tuanya dibuka sedikit Ayana sudah limbung. Ia tidak kuat melihat banyak sekali darah mengalir dari tubuh keduanya.
Ia menangis dalam diam tanpa ada siapa pun menguatkan.
Sejak ayah dan ibunya meninggal, Ayana berusaha bangkit seorang diri dan bertemu pianis tampan yang kini menjadi suaminya.
__ADS_1
Perjalanan rumah tangganya pun tidak berjalan mulus, banyak sekali ranjau datang menghadang hingga pada akhirnya menjadikan sosok Ayana seperti sekarang.
"Ternyata luka itu dihasilkan dari kebakaran yang dilakukan oleh dia? Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Hamba ingin pelaku dari kejahatan bisa dibalas setimpal, ayah, ibu, semoga kalian mendukung apa yang harus aku lakukan," gumam Ayana kembali menegakan tubuh lagi.
Ia berjalan beberapa langkah ke depan mengusap lembut permukaan kanvas. Ia mengambil kuas dan melanjutkan apa yang harus dilakukan.
Coretan demi coretan menghasilkan sebuah gambar yang terlihat mengerikan. Ayana dengan lengkungan bulan sabit sempurna terus melanjutkan pekerjaan.
Di tempat berbeda, Zidan tengah memainkan piano di lantai atas perusahaan. Tidak banyak pekerjaan membuat ia memiliki waktu luang.
Ia memanfaatkannya dengan berlatih untuk persiapan di pameran sang istri. Tahun ini ia diundang melakukan performance di gedung seni terbesar di ibu kota.
Ia senang bisa tampil di sana, sekaligus menemani sang istri, tetapi pada kenyataannya Zidan tidak bisa fokus sama sekali.
Terlalu banyak hal berkecimpung dalam pikiran membuat permainannya terdengar berantakan.
"Apa ada sesuatu yang Anda pikirkan, Tuan?" Suara halus seseorang mengalun, Zidan berhenti lalu menoleh ke samping kanan.
Ia melihat sang model berjalan mendekat sembari tersenyum lebar.
"Kirana? Ah, tidak," jawabnya singkat.
Kirana berdiri tepat di depan piano, seraya melipat tangan di depan dada wanita itu memindai wajah bimbang di sana.
"Ini pertama kalinya saya mendengar permainan piano Anda yang terburuk," jelasnya langsung.
Zidan menegakan kepala lagi, dahi tegas itu mengerut dalam seolah tidak terima.
"Maksud kamu? Apa sebelumnya kamu pernah mendengar saya bermain piano?" tanya Zidan penasaran.
Tanpa mengelak Kirana mengangguk mengiyakan. "Tentu saja, siapa yang tidak tahu pianis jenius Zidan Ashraf. Bahkan nama Anda saja sudah melalang buana ke banyak negara."
Zidan hanya mendengus tanpa bersuara. Kirana semakin kuat hendak melakukan niatnya yang sudah disepakati tetua Ashraf.
"Permainan Anda sangat luar biasa, lagu tema apa pun itu bisa langsung menyentuh hati. Jari-jemari yang menari di atas tuts-tuts piano-" Kirana menjeda kalimatnya, tubuh semampai itu merunduk bertumpu pada piano seraya menopang dagu, ia pun mengulas senyum lembut.
"Sudah menembus hatiku. Permainanmu sangat indah, Mas Zidan," lanjutnya lagi.
Zidan terpaku, perlahan kedua iris cokelatnya melebar sempurna. Tiba-tiba saja degup jantung bertalu kencang mendengar ucapan yang sudah lama tidak pernah ia terima.
"Permainanmu sangat indah." Kata-kata itu mengingatkannya pada beberapa tahun ke belakang.
__ADS_1
Ia tidak pernah menyangka akan mendengarnya lagi dari wanita seperti Kirana. Zidan terdiam, mulutnya terkunci rapat tidak bisa mengatakan sepatah kata.
Kirana masih memberikan senyum lembut penuh makna, dengan sorot mata hangat.