
Di balik gelapnya malam, serta dinginnya udara yang berhembus, keadaan hening, sepi melanda kuat.
Hiruk-pikuk serta hingar bingar ibu kota yang sejak pagi hingga petang terjadi kini terhenti.
Sebagian besar orang sudah menepi ke rumah masing-masing mengistirahatkan diri.
Di tengah keheningan Jasmine terus menunggu keputusan apa yang akan diberikan Celia padanya.
Ia sudah sangat bersalah telah membuat putra berharga orang lain terluka, bahkan hampir merenggut nyawanya sendiri.
Karena keberadaannya ia menghancurkan acara putri sambungnya serta mencelakai putra pertamanya.
Ia benar-benar menjadi kekacauan keluarga mereka. Pikiran negatif terus berdatangan membuat perasaannya semakin tidak menentu.
Ia sudah mengacaukan dua orang anak dalam hidup seorang ibu. Jasmine sangat merasa bersalah atas peristiwa tidak diinginkan terjadi begitu saja.
Ia terus bersimpuh meminta pengampunan agar keberadaannya bisa diampuni.
Ayana, Kirana, serta Zidan yang berada di sana terkejut atas tindakan Jasmine.
Mereka tidak menyangka wanita yang masih dilingkupi depresi melakukan hal tak terduga.
Ayana yakin Jasmine juga sangat terpukul atas apa yang menimpa.
Tanpa Ayana, Zidan, serta Kirana bayangkan Celia yang sedari tadi memperhatikan Jasmine melangkah mendekat.
Wanita paruh baya itu pun ikut bersimpuh seraya mencengkram kuat kedua bahu Jasmine.
"Angkat kepala mu," titah Celia kemudian.
Mau tidak mau, Jasmine pun menuruti keinginannya dengan perasaan was-was terus menghampiri.
Pandangan mereka saling bertemu, sorot mata tegas nan dalam memandang sepasang manik keabuan Jasmine.
"Semua yang terjadi pada kami bukan disebabkan olehmu, Sayang."
Panggilan sayang yang keluar dari mulut Celia sontak membuat Jasmine terkejut.
Ia terbelalak lebar seraya sepasang jelaganya bergetar tak karuan.
Ia bisa melihat ketulusan serta keikhlasan hati seorang ibu.
Semua perkataan Celia tadi sampai ke relung terdalam.
"Kamu jangan terkejut seperti itu. Sejak Ayana menceritakan mu pada kami... sejak saat itu pula kami sudah menganggap mu seperti keluarga sendiri. Juga... kamu sudah Ibu anggap seperti anak kandung sendiri."
"Karena kamu tahu... Ibu tidak bisa melihat siapa pun lagi terjebak dalam sebuah depresi," ungkap Celia.
__ADS_1
Suara lembutnya, tutur katanya yang tulus, serta sorot mata hangat, sampai kembali ke sanubari.
Hal itu mengakibatkan air mata berlinang. Jasmine tidak bisa berkata apa-apa selain menangis.
Sebagai seorang anak yang telah kehilangan kasih sayang orang tua dan kehangatan keluarga, membuat Jasmine tidak berdaya.
Ia terus menangis sesenggukan dan menahan isakkan nya dengan menunduk dalam membuat tubuh rampingnya bergetar hebat.
Celia pun langsung memeluk Jasmine hangat mengusap punggungnya berkali-kali.
"Tenang saja... Danieal pasti baik-baik saja. Putra Ibu itu sangatlah kuat, dia tidak bisa tumbang begitu saja. Jangan menyalahkan diri sendiri ini hanyalah kecelakaan, jangan merasa bersalah," kata Celia mencoba menenangkan.
"Terima kasih... Terima kasih banyak." Jasmine membalasnya dengan suara lirih nan bergetar.
Sedikitnya ia bisa bernapas lega sudah mendapatkan pengampunan serta ungkapan tak terduga lainnya.
Ayana menoleh pada Kirana dan Zidan bergantian.
Ia tersenyum lega melihat ibu serta sahabatnya saling merangkul satu sama lain.
Menyaksikan hal itu membuat Kirana memandangi keduanya lekat. Ia tidak pernah tahu siapa Jasmine ini sebenarnya.
Ia hanya tahu sekelebat saja dari Ayana mengenai wanita berhijab yang tengah berpelukan dengan ibu dari mantan tunangannya tadi.
...***...
Tidak ada lagi orang-orang hilir mudik dan hanya satu atau dua orang perawat saja yang melakukan tugasnya memeriksa keadaan pasien.
Di lantai enam, tepatnya di salah satu ruangan VVIP, sedari beberapa menit lalu Jasmine melihat kondisi Danieal dari luar ruangan.
Tadi, ia sudah mendapatkan izin dari orang tua Danieal untuk masuk. Namun, entah kenapa ia masih berada di luar tidak sanggup jika harus bertemu secara langsung.
Tanpa terasa air mata jatuh tak tertahankan. Ia mengusapnya kasar seraya menarik napas dan menghembuskannya beberapa kali.
"Ya Allah," katanya lirih.
Selang sepuluh menit kemudian, setelah meyakinkan diri Jasmine pun memutuskan untuk masuk ke ruang inap.
Seketika dingin menyapa dengan aroma disinfektan begitu menyengat.
Langkah demi langkah mencapai sebuah tempat tidur nyaman yang tengah di tempati seorang pasien.
Layar berbentuk kotak menunjukkan kurva mengenai detak jantungnya.
Garis bergelombang itu terlihat tenang. Jasmine menggulirkan bola mata indahnya ke wajah pucat sang dokter.
Seketika air mata meleleh tak tertahankan, berderai layaknya air sungai mengalir deras.
__ADS_1
Kedua kakinya lemas tak berdaya membuat ia duduk di sofa tunggal samping ranjang.
Lagi dan lagi Jasmine menangis mengeluarkan pengap serta rasa sakit yang terus menusuk dalam hati.
Meskipun Celia dan Ayana mengatakan semua itu bukanlah kesalahannya, tetapi tetap saja pikiran tadi masih merundung.
Pikiran negatif menetap dan enggan untuk pergi. Ditambah melihat kondisi Danieal yang masih menutup mata menambah luka tak berkesudahan.
"Kenapa? Kenapa kamu harus melakukan semua ini? Seharusnya... biarkan saja. Biarkan aku yang berada di posisi mu sekarang. Atau lebih baik lagi, aku tidak berada di dunia ini."
"Melihatmu terbaring tidak berdaya dengan alat-alat medis di tubuhmu seperti ini, membuatku... membuatku... terluka," gumamnya lirih.
Ia menyembunyikan wajah berair nya di telapak tangan. Tubuh rampingnya bergetar tak karuan dengan rasa penyesalan tetap berada dalam dada.
Kurang lebih lima belas menit kemudian, Jasmine berhasil menguasai diri. Ia memandang Danieal yang masih nyaman dalam ketidaksadarannya.
Kedua mata yang selalu menatapnya penuh kasih kini menutup rapat. Bibir yang biasa mengutarakan kata-kata motivasi, sekarang terkatup.
Wajah tampan itu pun terlihat pucat pasi tanpa ada satu ekspresi terlihat. Jasmine terus memandang dalam diam.
"Mas Danieal." Panggilnya bergema di ruang inap.
"Aku minta maaf, Mas. Atas kesalahan yang telah ku perbuat hingga membuatmu terbaring di rumah sakit seperti ini. Juga... aku benar-benar minta maaf atas penolakan sore itu."
"Aku... bukan tidak merasakan hal yang sama, tetapi, aku tidak tahu apa yang sebenarnya... aku rasakan. Sebelumnya aku tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun, jadi tidak tahu harus bagaimana ketika menghadapi seseorang mengutarakan perasaannya padaku."
"Kenapa Mas? Kenapa kamu harus menyukai wanita seperti ku? Aku bukanlah wanita baik-baik. Masa laluku suram nan kelam. Keluargaku hancur berantakan tidak bisa dibandingkan dengan keluarga cemara kalian. Itu sebabnya terkadang aku merasa tidak nyaman berada di sekitar kalian. Karena... aku tidak ingin terluka lagi."
"Maaf, sekali lagi aku tidak mengatakan hal sebenarnya mengenai perasaan ini. Jangan pernah melakukan apa pun lagi untuk wanita sepertiku. Karena... aku tidak layak untuk dicintai."
"Terima kasih sudah mengobati, melindungi, dan juga... mencintai ku sedalam ini. Maaf... aku tidak bisa membalas apa pun padamu. Aku takut jika kita bersama hanya akan menimbulkan luka yang kamu terima."
"Karena aku juga tidak tahu bagaimana caranya bahagia itu. Terlepas dari kehidupan kelam kemarin, bagiku itu sudah lebih dari cukup."
"Aku tidak menginginkan hal lebih. Sekali lagi... terima kasih sudah mencintaiku."
Suara halus nan lirih Jasmine bergema di ruangan.
"Aku tidak akan membiarkan orang itu terus mengincar kalian," gumamnya lagi.
Setelah mengungkapkan apa yang dirasakan, Jasmine pun pergi dari sana.
Tanpa ia duga, selepas pintu ruangan di tutup, kristal bening menetes di kedua sudut mata Danieal.
Dalam diam ia mendengar semua perkataan Jasmine atas apa yang dirasakannya selama ini.
Ia nyatanya merasakan hal sama, tetapi tidak tahu harus bagaimana mengutarakannya.
__ADS_1
"Jas-mine." Panggilan itu pun tercetus jua.