
Masa tidak pernah salah memberikan kejadian demi kejadian yang akan terjadi.
Tidak ada yang salah dengan ujian, sebab kedatangannya bisa mengantarkan pada kebahagiaan.
Meskipun terlalu berat dan diri bahkan tidak sanggup menopang rasa sakit, tetapi di balik itu semua ada kebaikan yang telah Allah siapkan.
“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 216)
Air mata mengiringi setiap perjalanan penuh lika dan liku. Luka demi luka tercipta menjadikan diri lebih dewasa lagi.
Akan tetap ada jalan cerita berbeda untuk mendatangkan kejutan tak terelakan.
Sejatinya kebahagiaan dan kesedihan itu saling berdampingan. Keduanya akan terus terulang lagi dan lagi sampai pada masa yang telah ditentukan.
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirah: 5-6)
Menepi kembali dari kesibukan dunia memang dibutuhkan untuk mengembalikan stamina.
Menyendiri, menyepi, dan mengasingkan diri tengah Ayana lakukan.
Sedari tadi ia terus berada di tepi danau yang kurang lebih satu jam perjalanan dari ibu kota. Ia duduk di atas rerumputan hijau memandangi riak air.
“Di saat seperti ini biasanya aku melarikan diri dengan melukis, tetapi sekarang-“ Ayana menjeda kalimatnya, menunduk melihat kain kasa di telapak tangan sebelah kanan.
“Ya Allah … nikmat mana lagi yang kamu dustakan, Ayana? Begitu banyak kenikmatan yang telah Allah berikan, sudahkah kamu mensyukurinya?”
Ia mendongak melihat pada cakrawala yang tengah sendu. Sedari kemarin awan kelam masih menghiasi dan menyembunyikan sang raja siang.
Semburat merah muda hadir di pipi putih Ayana. Lengkungan bulan sabit pun turut mendampingi mengenai perasaannya yang kian membaik.
“Terima kasih ya Allah, karena menguatkan hamba,” lanjutnya, setetes cairan bening meluncur di sudut mata. “Terima kasih untuk tidak membuat hamba menyerah. Terima kasih atas segala kenikmatan yang Kau berikan. Terima kasih ya Allah,” celoteh Ayana lagi dan lagi.
Ia lalu mengeluarkan benda pintar di balik saku gamis dan mulai menuangkan garis demi garis di sana.
__ADS_1
Di tempat berbeda, di rumah sakit pusat kota perseteruan antara kakak dan adik ipar itu masih berlangsung.
Danieal tidak melepaskan cengkraman di jas Zidan membuat sang empunya mendongak menyaksikan kilatan emosi.
Ia tidak mengerti apa yang sudah merasuki dokter itu sampai memukulinya. Ia yang baru saja datang pun benar-benar terkejut dan tidak siap akan kejadian tiba-tiba itu.
“Apa yang sedang kamu lakukan, Danieal? Lepaskan!” Zidan balik menggenggam kuat kedua lengan Danieal kencang.
“Lepaskan!” ucapnya lagi berusaha melepaskan tangan sang dokter.
“Harus berapa kali lagi kamu menyakiti Ayana, hah? Apa selama enam tahun itu tidak cukup? Bagaimana bisa … bagaimana bisa kamu kembali menyakitinya?” ucap Danieal dengan suara teredam menahan amarah.
“A-apa yang kamu katakan? Aku menyakiti Ayana lagi? Aku-“
Danieal langsung menyambar ucapannya menjelaskan kejadian demi kejadian menimpa Ayana sampai ucapan Kirana tadi pagi.
Zidan terpaku mendengar kata demi kata dilayangkan sang kakak ipar. Ia tanpa sadar telah menorehkan luka lagi dan lagi pada Ayana.
Di tengah perseteruan tersebut, Haikal yang tengah berjalan di lorong rumah sakit tidak sengaja melewati ruangan Danieal.
Buru-buru ia berjalan mendekat dan melerainya.
“Astaghfirullah, apa yang kalian berdua lakukan? Berkelahi di rumah sakit, apa kalian tidak malu? Banyak yang sakit di sini,” ucapnya terus berceloteh sembari melepaskan tangan Danieal lalu membantu Zidan berdiri.
“Seharusnya, kamu sebagai dokter pribadi sekaligus kaki tangannya lebih mendisiplinkan dia. Jangan pernah terus menerus menyakiti wanita yang sudah membuka kesempatan kedua untuknya,” ujar Danieal memandang marah pada kedua pria di hadapannya.
Seketika itu juga Haikal menoleh pada ZIdan yang tengah memandang lurus ke depan. Ia melihat sang pianis mengepalkan tangan kuat menahan sesuatu.
“A-apa itu benar? Bagaimana bisa Tuan-“
“Semua ini hanyalah salah paham,” potong Zidan cepat.
Mendengar jawabannya, Danieal tertawa kencang. Ia melipat tangan di depan dada melayangkan sorot mata tajam.
__ADS_1
“Salah paham katamu? Apa hati Ayana sebuah permainan bagimu? Seharusnya kamu sadar, Ayana masih memiliki trauma yang belum sembuh sepenuhnya. Seharusnya kamu sebagai seorang suami sadar akan hal itu.”
“Trauma itu seperti kaca pecah, meskipun kembali di satukan, bekas pecahannya akan tetap ada seumur hidup.”
Kedua manik Zidan melebar sempurna, degup jantung bertalu kencang menyadari perkataan Danieal sama seperti yang dirinya pikirkan.
Namun, di saat situasi seperti ini ia malah bersikap egois lagi. Ia lupa jika trauma sang istri dihasilkan oleh dirinya sendiri.
Kehilangan seorang anak, tidak mudah dilalui bagi sebagian besar wanita. Sudah sangat wajar jika Ayana trauma pada kenyataan yang ada.
“Seharusnya kamu lebih memahami situasi Ayana … dia terus menerus dipojokan oleh keluarga besar agar cepat memiliki seorang anak. Namun, apa kamu sadar memiliki anak tidak hanya dilimpahkan pada satu pihak, tetapi kalian berdua.”
“Di tambah, kamu memperlihatkan seorang bayi yang ditemui bersama Kirana. Bisa kamu bayangkan bagaimana terlukanya Ayana saat ini? Dia merasa terus disalahkan dan sama sekali tidak dianggap.” Danieal kembali meracau, sebelah sudut bibirnya menyeringai lebar melihat wajah tampan sang pianis pucat pasi.
“Aku akan membawa Ayana jauh darimu jika masalah ini belum juga teratasi.” Danieal merapihkan jas dokternya lalu berjalan melewati kedua pria itu.
Zidan mematung, tubuhnya terdiam kaku mendengarkan setiap untaian kata yang terlontar dari kakak iparnya.
Ia tidak menyangka jika kejutan yang ingin diberikan pada Ayana mengundang kepedihan. Ia juga tidak pernah tahu selama ini keluarga besarnya meneror sang istri untuk cepat punya anak.
“Bukan seperti ini yang aku inginkan. Aku bermaksud untuk memberi kejutan pada Ayana dengan bayi itu dan … aku harap kami bisa mengadopsinya sebagai pancingan agar mendapatkan anak,” gumamnya lirih.
Haikal yang masih ada di sana pun menepuk pundak tuannya pelan.
“Seharusnya, Tuan mendiskusikan hal ini lebih dulu pada nona muda untuk menghindari kesalahpahaman, tetapi … sekarang nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terjadi, Tuan harus meyakinkan nona agar hubungan kalian kembali baik-baik saja,” ujarnya menyemangati.
Zidan mengangguk singkat, memandang ke bawah menahan rasa sakit yang kian menyapa. Setelah beberapa saat kemudian ia pun meninggalkan rumah sakit.
“Aku harus bertemu Ayana,” jelasnya melangkahkan kaki.
Haikal berbalik melihat ke mana sosok itu pergi hingga menghilang dalam pandangan.
Ia menghela napas kasar seraya meletakkan kedua tangan di saku celana.
__ADS_1
“Aku pikir semuanya sudah membaik, tapi siapa yang menyangka badai besar akan kembali menerjang? Semoga kali ini semakin menambah kekuatan ikatan pernikahan kalian,” gumam Haikal tulus.