Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 43


__ADS_3

"APA?"


Satu kata mengandung berbagai pertanyaan tercetus dan bergema di taman.


Sontak hal tersebut membuat kedua wanita itu melebarkan pandangan tidak percaya.


Ayana dan Jasmine sama-sama melihat ke arah kedatangan sosok itu serta tercengang tidak percaya mendapati dokter tampan datang mendekat.


Danieal tidak menyangka bisa mendengar niat Jasmine untuk pergi dari kediaman adiknya.


Selepas menyelesaikan shift malamnya di rumah sakit, Danieal langsung bertandang ke kediaman Zidan.


Ia menyusul keluarganya ke sana berharap bisa ikut sarapan bersama. Namun, yang ia dapati malah permintaan Jasmine hendak pergi dari kediaman sang adik.


Sampai tidak lama kemudian, ia tiba di dekat mereka. Tatapannya tidak lepas dari Jasmine dengan sorot mata penuh pengharapan.


Entah kenapa ia sangat terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan Jasmine. Hati kecilnya berbicara sangat khawatir jika Jasmine harus tinggal sendirian.


"Apa yang kamu katakan? Kenapa kamu mau pindah dari sini?" tanyanya langsung.


"Iya, Jasmine. Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Ayana ikut menimpali.


Jasmine menatap keduanya bergantian lalu menunduk dalam.


"Aku... aku tidak bisa terus menyusahkan mu, Ayana. Lagi... aku ingin hidup mandiri dan merasakan perjuangan baru ini," ungkapnya disertai senyum tulus.


"Aku... tidak ingin mengganggu kalian lagi. Rasanya... canggung jika harus berada di sekitar kalian. Maaf Ayana, aku tidak bermaksud-"


"Aku mengerti," potong Ayana membuat Jasmine mendongak bertatapan dengannya lagi.


"Maaf, jika selama ini membuatmu tidak nyaman. Aku tahu tidak mudah berada di sekitar orang yang berpasangan, bukan? Untuk itu Jasmine, jemput cinta sejati mu juga. Mas-" Ayana melirik Danieal penuh makna, "kamu bisa melanjutkan apa yang seharusnya disampaikan hari itu, kan?" katanya mengingatkan.


Mendapatkan hal mendadak itu Danieal terbelalak. Ia tidak menduga akan kembali mendapatkan waktu untuk mengatakan perasaan.


Namun, sebagai seorang pria yang tidak ingin memendam perasaan tidak jelas itu lebih jauh, Danieal pun meyakinkan diri sekali lagi.


Ia berdehem kuat dan melirik Jasmine sekilas.


"Ini bukan kebetulan ataupun suruhan Ayana... sudah lama aku memendamnya dan tidak ingin terjebak dalam perasaan melenakan ini."


"Jasmine-" Danieal mendongak dengan tatapan serius. Wanita di hadapannya pun dibuat terkejut begitu saja.


"Aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi istriku?"


Akhirnya ungkapan cinta serta lamaran sederhana tercetus jua. Jasmine terpaku, lidahnya kelu, dan bunga magnolia dalam genggaman terjatuh seketika.

__ADS_1


"Terima Jasmine. Terima!" teriak Zidan di balkon.


"Terima Nak Jasmine!" lanjut Celia.


"Mbak... terima saja, Mbak," ucap Gibran ikut menimpali.


"Ayo terima, Nak," ucap Lina kemudian.


"Kamu harus menjadi menantu Ayah!" teriak Adnan seketika.


"Kamu berhak menjadi keluarga baru kami," timpal Arshan.


Tanpa keduanya ketahui mereka melihat bagaimana ungkapan cinta seorang dokter tampan tersebut dilabuhkan.


Mereka tidak percaya bisa menyaksikan romansa sebuah drama tepat di depan mata kepalanya sendiri. Para anggota keluarga itu saling pandang dan tertawa senang bisa menggoda dua insan tidak jauh dari keberadaannya.


Mereka juga sangat mendukung jika Danieal bersama Jasmine.


"Keluarga kami sangat mendukungmu, Jasmine. Jadi, tidak ada alasan bagimu untuk insecure atas pernyataan Mas Danieal barusan."


"Kakakku benar-benar sangat mencintaimu," kata Ayana menjelaskan.


Jasmine memandangi satu persatu keluarga Zidan dan Ayana sampai perhatiannya jatuh pada Danieal. Wajah tanpa ekspresi itu membuat sang dokter terkejut, dadanya naik turun merasakan sesuatu tidak benar.


Semua orang terbelalak mendengar jawaban dari seorang Jasmine.


...***...


Malam ini Jasmine benar-benar meninggalkan kediaman Ayana. Keputusannya sudah bulat untuk hidup mandiri tanpa bergantung pada siapa pun lagi.


Seraya membawa barang-barangnya yang sedikit ia berpamitan kepada dua orang tuan rumah dan mengucapkan terima kasih sudah menampungnya selama ini.


"Ayo, aku akan mengantarmu." Danieal membawa barang bawaan Jasmine dan menuntunnya hingga ke mobil.


Setelah perpisahan singkat, mereka pun meninggalkan kediaman Ayana dan Zidan.


Sepanjang jalan Jasmine terus melihat ke arah luar. Ia tidak sekalipun mengindahkan keberadaan Danieal yang tengah fokus menyetir.


Namun, sesekali ia menoleh ke samping memastikan keadaan Jasmine baik-baik saja.


Di bawah langit gelap tanpa adanya taburan bintang maupun cahaya bulan, Jasmine semakin dirundung sembilu.


Ia tidak tahu harus berbuat apa setelah kejadian mendebarkan itu berlangsung. Ia benar-benar terkejut mendapatkan ungkapan cinta dari orang luar biasa seperti Danieal.


Jasmine pikir sang dokter mengabaikan sekaligus menjauhinya begitu saja. Namun, pada kenyataannya ada hal yang tidak ingin ia ketahui.

__ADS_1


Sepanjang jalan hanya ada deru mesin mobil yang terus menemani bungkamnya mereka berdua. Sedari tadi Danieal memperhatikan wanita di sampingnya berulang kali.


Ia tidak menduga pernyataan yang dirinya ungkapkan beberapa saat lalu mengambang begitu saja.


Diam-diam ia menghela napas mencoba mengenyahkan segala gelenyar dalam dada.


"Apa ini alamatnya?" tanya Danieal mengenyahkan keheningan seraya menghentikan kendaraan roda empat tidak jauh dari bangunan berlantai sepuluh tepat di hadapan mereka.


Jasmine yang sedari tadi terus melihat ke arah jalanan pun terkejut dan langsung menolehkan kepala ke depan.


"Ah, ini benar. Terima kasih sudah mengantarkan ku," kata Jasmine lalu turun dari mobil membawa barang bawaannya yang hanya satu ransel saja.


Danieal pun ikut turun dan bergegas menyusul Jasmine yang sudah hampir mencapai pintu masuk gedung.


"Jasmine." Panggilan itu pun seketika menarik atensi sang empunya nama menoleh ke belakang.


Ia memandangi Danieal yang turut menatapnya lekat.


"Apa ada hal lain lagi?" tanya Jasmine penasaran.


Danieal terkesiap saat melihat air muka wanita di hadapannya terlihat sedikit dingin.


Bayangan beberapa saat lalu saat Jasmine memberikan jawaban terus terngiang dalam ingatan.


"Apa-" Danieal berdehem pelan lalu menggeleng singkat meyakinkan diri sendiri untuk meneruskan apa yang seharusnya segera diselesaikan.


"Meskipun kamu memberikan jawaban seperti itu, tetapi ketahuilah Jasmine, perasaanku... tidak main-main. Ini bukan semata-mata iba atau kasihan, melainkan sebuah rasa ingin membahagiakan."


"Aku tahu... kita belum lama saling mengenal satu sama lain, dan mungkin... kamu berpikir jika perasaanku ini hanya sebatas kasihan semata, sebab bersamaan dengan kejadian yang baru saja menimpamu."


"Tidak! Semua itu tidaklah benar, aku sangat mencintaimu dan... aku tidak ingin membuat perasaan ini menggangguku. Aku sudah memikirkannya berulang kali, bahkan... aku melakukan salat istiqarah untuk meminta jawaban atas semuanya, dan Allah memberikan balasannya."


"Jika, perasaan ini benar-benar berlabuh padamu, Jasmine. Aku hargai keputusanmu, tetapi... aku tidak akan menyerah begitu saja. Karena hati ini sudah berlabuh padamu, dan... aku tidak ingin perasaan ini membuatku lupa pada sang pencipta."


"Terima kasih sudah memberikan kesempatan padaku untuk membantumu. Aku tulus ingin menyembuhkan mu dari luka yang orang itu berikan. Jangan menyerah, jangan merasa diri rendah. Karena... kamu berhak bahagia, Jasmine. Selamat malam, selamat beristirahat," tutur Danieal kembali mengutarakan perasaan terpendam.


Setelah itu ia melangkah kaki dari hadapan Jasmine membuat wanita itu terpaku, terdiam membisu tidak tahu harus berbuat apa.


Pandangannya jatuh ke bawah sedari tadi menghindari sorot mata menenangkan sekaligus hangat sang lawan bicara.


Kedua tangannya mengepal kuat, dadanya terus bergemuruh dengan darah berdesir hebat. Ia tidak tahu apa yang dirinya rasakan saat ini.


Tidak lama setelah itu ia masuk ke dalam apartemen yang sudah dipesan hari-hari lalu tanpa sepengetahuan Ayana.


Danieal yang masih ada di sana menyaksikan di balik jendela mobil. Kedua sudut bibirnya melengkung membentuk kurva sempurna dan setelah itu ia pergi membawa mobilnya menjauh.

__ADS_1


__ADS_2