
Malam kembali datang, atmosfer di sekitar terasa begitu hening nan sepi. Duka nestapa melingkupi perasaan seseorang yang terus memeluk erat.
Ilusi semu hanya sebatas mimpi yang tidak bisa menjadi nyata. Harapan demi harapan yang diinginkan terwujud, berbanding terbalik dengan kenyataan.
Fakta mengatakan jika mimpi hanyalah tinggal mimpi, tidak bisa digenggam ataupun dimiliki.
Hanya bisa terus berharap Allah akan memperlihatkan kuasanya atas apa yang terjadi.
Jasmine dan Danieal duduk berdampingan di atas tempat tidur. Tangan keduanya saling menggenggam satu sama lain, menyalurkan kekuatan.
Kemelut dalam diri keduanya meriuhkan pikiran masing-masing. Danieal merasa jika sang istri menyembunyikan sesuatu.
Gelagatnya selama satu bulan lebih ke belakang ini memberikan tanda tanya besar.
Kehangatan yang menjalar dari tangan tegap sang suami sampai ke hati terdalam. Begitu kuat dan nyaman, bagaikan separuh napasnya menggenggam juga rasa sakit.
Luka tak kasat mata di ujung hati seperti duri yang menusuk-nusuk, meskipun kecil, tetapi kesakitan itu terus terasa.
"Aku mendengar kalau malam kemarin, mamah kembali bertanya kapan kita punya anak, kan? Juga... mamah bertanya apa kita program hamil, benar?" tanya Danieal membuka suara.
Jasmine mengangguk singkat. "Bagaimana Mas tahu?" tanyanya balik.
"Aku mendengarnya sendiri dari mamah," balas Danieal kembali.
Jasmine diam begitu saja, tidak mengatakan apa pun lagi.
Di saat seperti ini mereka mempunyai waktu pribadinya sendiri. Kebetulan Danieal sedang libur dan tidak ada jadwal pasien yang harus dioperasi. Keduanya memanfaatkan hari senggang dengan saling bercengkrama.
Jasmine yang mendapati pertanyaan itu hanya mengangguk mengiyakan saja. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi permasalahan menyangkut anak.
Sudah jelas jika dirinya tidak bisa memberikan keturunan dalam kurun waktu secepat itu.
"Jadi, bagaimana menurutmu? Apa kita harus ikut program hamil?"
Pertanyaan yang tidak diharapkan keberadaannya tercetus jua. Jasmine bungkam seribu bahasa tanpa ada niatan membalas pertanyaan sang suami.
Danieal melihat istri tercinta menunduk dalam. Ia tidak tahu apa yang sedang dirasakan serta dipikirkan Jasmine saat ini.
Rasanya ada sesuatu yang disembunyikan kekasih hatinya sekarang. Namun, Danieal tidak mengatakan apa pun dan terus memperhatikannya dalam diam.
"Ya Allah apa yang harus hamba lakukan? Hamba harus menjawab apa? Hamba tidak mungkin menjelaskan jika... ada kista di rahim hamba. Hamba tidak ingin mengecewakan Mas Danieal, ya Allah... hamba mohon yang terbaik dari-Mu. Penyakit ini datangnya dari-Mu maka sembuhkan lah lagi. Hamba mohon pada-Mu ya Rabb. Hamba ingin membahagiakan suami hamba, tanpa mengecewakannya. Namun, apalah daya kenyataan inilah yang harus hamba terima. Ya Allah kuat kan hamba dalam menghadapi ujian ini," monolog Jasmine dalam diam, melupakan semua hal di sekitarnya, termasuk jika di sana ada sang suami.
"Sayang." Panggil Danieal kemudian.
Sudah terlalu lama Jasmine diam, tidak ada sedikitpun niatan untuk membuka suara lagi.
Hal tersebut membuat ia sangat khawatir dan cemas. Danieal pun sampai menepuk punggung tangan Jasmine pelan.
__ADS_1
Sang empunya terkejut dan menoleh pada Danieal lagi. Ia mendapati suaminya menatap dalam.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Apa kamu tidak ingin-"
"Bisakah... bisakah kita tidak ikut program hamil dulu? Aku... belum kepikiran untuk punya anak," balas Jasmine mencoba mengembangkan senyum.
Dahi lebar sang dokter mengerut dalam, tidak menyangka mendengar jawaban seperti itu dari istrinya.
Ia pikir Jasmine akan langsung mengiyakan mengingat mereka telah berumur.
Sudah bukan waktunya lagi buat main-main terlebih keduanya telah menikah. Keberadaan sang buah hati benar-benar didambakan. Bukan hanya bagi mereka berdua saja, tetapi keluarga juga.
"Kenapa? Apa kamu belum siap menjadi orang tua? Bukankah kita sudah sangat cukup untuk mempunyai anak? Atau... kamu tidak ingin punya anak dariku?"
Pertanyaan demi pertanyaan sang suami kembali menumbuhkan luka baru. Jasmine hanya diam, lagi dan lagi menunduk dalam menyembunyikan wajah pilunya.
"Bukan seperti itu, Mas. Aku hanya-" Jasmine menghentikan ucapannya begitu saja, tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
Ia tidak bisa menjelaskan kebenaran yang terjadi pada dirinya.
"Hanya apa Jasmine? Bilang saja kalau kamu tidak mau mempunyai anak dariku. Apa kamu menyesal sudah menikah dengan ku?"
Jasmine terkejut bukan main mendengar pertanyaan yang tepat mengenai ulu hati. Dadanya sesak, membuat napasnya memburu tak karuan.
Ia kembali menoleh pada sang suami, mendapati air muka kecewa mengendap di wajah tampan Danieal.
"Hanya apa?"
Danieal bangkit dari tempat tidur, berdiri tegak sembari memberikan tatapan nyalang.
"Hanya apa, Jasmine? Apa kamu diam-diam mengiyakan pertanyaan ku tadi?"
Danieal tetap kekeuh dengan spekulasinya, mengingat Jasmine tidak mengatakan apa pun lagi untuk melanjutkan perkataannya sendiri.
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku-"
Belum sempat Jasmine menjelaskan ucapannya, tiba-tiba saja Danieal angkat kaki.
Jasmine menghela napas lelah dan melihat pintu kamar ditutup sedikit dibanting.
Tanpa terasa air mata jatuh begitu saja. Hatinya benar-benar sakit tak karuan, seperti lagi-lagi ada tangan tak kasat mata meremasnya kuat.
Begitu sesak, begitu pilu, luka yang dirinya dapatkan kali ini.
"Ya Allah sangat sakit. Sakit sekali rasanya, kenapa semuanya jadi seperti ini?" Jasmine me-racau mencengkeram rambut panjangnya kuat.
Perlahan tubuh rampingnya merunduk dan semakin merunduk dengan isakkan lirih begitu menyayat di ruang kamar.
__ADS_1
...***...
Danieal mendumel sambil turun dari lantai dua hendak menuju dapur ingin minum air, mencoba menenangkan diri.
Baru saja ia tiba di ruang makan, ia dikejutkan dengan keberadaan sang adik. Danieal mendapati Ayana tengah menikmati berbagai macam hidangan di depannya.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Malam-malam begini kenapa kamu belum tidur?" tanya Danieal sambil berjalan mengambil segelas air putih.
Setelah mendapatkan air ia membawanya ke meja makan lalu duduk tepat di seberang Ayana.
Ia meneguk air mineral tersebut hingga tandas.
Ayana yang masih menikmati makanannya memperhatikan sang kakak dalam diam.
Setelah Danieal menyelesaikan minum, baru Ayana buka suara.
"Aku kelaparan. Kedua ponakan Mas makannya banyak, jadi aku harus banyak makan juga," kata Ayana menjelaskan.
Danieal hanya mengangguk, mengerti lalu memutar-mutar gelas kaca dalam genggaman di atas meja.
Kembali, Ayana memperhatikan kakaknya dalam diam. Air mukanya begitu kusut, bad mood, tidak terlihat sedikitpun keceriaan di sana.
Ayana yang sedari tadi memperhatikannya pun dibuat penasaran.
"Ada apa Mas? Apa kalian bertengkar?" tanya Ayana, memasukan sepotong kue donat terakhir ke dalam mulut.
Danieal melirik sekilas dan mengulas senyum simpul.
"Apa terlihat begitu jelas?" tanya Danieal kemudian.
"Em, sangat," balas Ayana lagi.
Detik demi detik berlalu, suara jam mengambil alih kebersamaan kakak beradik di sana. Daniel kembali diam merenungi apa yang sudah dirinya lakukan.
Ayana pun ikut mengunci mulut rapat setelah meneguk habis susunya.
"Aku... bertengkar dengan Jasmine barusan. Aku mungkin... sudah menyakitinya," jelas Danieal kemudian.
Ayana terperangah dan melebarkan pandangan singkat. Kedua celah bibirnya melengkung masih menyaksikan raut muka sang kakak.
Ia tidak menyangka Danieal bisa bertengkar dengan Jasmine. Mengingat pasangan itu begitu harmonis dan kompak satu sama lain. Pertengkaran jauh dari harapan keduanya.
"Bertengkar? Tidak seperti biasanya. Apa yang sebenarnya kalian bahas sampai bertengkar seperti ini?" tanya Ayana penasaran.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Danieal kembali diam. Manik cokelat terangnya beralih ke atas meja.
Ia kembali memikirkan pembahasan mengenai anak dengan istrinya tadi.
__ADS_1
Pembahasan itu sangat sensitif dan bisa saja berdampak besar pada diri seseorang.