
Bau disinfektan begitu menyengat, sepasang manik tengah mengawasi seorang pasien di ruang khusus. Ia tidak bisa mendekat langsung, sebab hanya keluarga saja yang diutamakan.
Sebelah sudut bibir terangkat membentuk seringaian sempurna. Iris berlensa abunya pun memindai lekat pria terbaring lemah di atas berankar rumah sakit.
"Syukurlah kalau mas Zidan masih selamat. Aku tidak akan membiarkanmu sampai terluka lagi, mas," gumamnya kemudian.
"Sedang apa kamu di sini, Bella? Apa kamu tidak punya hati sudah mencelakai mbak Ayana? Dasar wanita tidak tahu malu, pergi kamu dari sini!" Gibran datang tersulut emosi seketika menyaksikan wanita ular itu ada di depan ruang inap sang kakak.
"Tentu saja menjenguk kakakmu," balas Bella jujur, berbalik memandanginya nyalang.
"Pergi! Sebelum aku memanggil pihak keamanan." Gibran mengusirnya telak.
"Oh, tenang saja. Aku bisa pergi sendiri tanpa kamu usir." Bella memberikan tatapan serius lalu mendelik tajam.
Gibran mendengus kasar melihat kepergian mantan istri kedua Zidan. Kepala bersurai hitam rapih itu pun menggeleng beberapa kali.
"Dasar wanita tidak tahu malu, bagaimana bisa dia masih berkeliaran? Apa mbak Ayana masih belum melaporkan apa-apa? Dan ke mana mbak Ayana pergi?" gumam Gibran seraya memandangi sang kakak lewat kaca di depan pintu.
Zidan masih belum sadarkan diri, denyut jantung terlihat normal, dengan kasa putih melilit di dada sebelah kiri.
"Bagaimana bisa kamu berhubungan dengan wanita ular itu, Mas? Syukurlah sekarang semuanya sudah baik-baik saja, Mas ... bisa melihat siapa wanita yang benar-benar kamu butuhkan dan mencintaimu," lanjutnya lagi.
...***...
Ayana masih duduk diam memandang ke sekitar. Hawa dingin berkali-kali menyapa, tidak jauh dari tempatnya ia melihat ada perapian.
Sang pemilik rumah pun menyalakannya hingga kehangatan mulai menyebar. Bibir ranum Ayana melengkung sempurna kala wanita baya itu duduk lagi tepat di seberangnya.
Ayana mengangguk pelan dan mereka saling bertatapan.
__ADS_1
"Sebelumnya, saya minta maaf sudah datang secara mendadak. Saya-"
"Bagaimana bisa Nona mengetahui tempat ini? Tidak ada seorang pun yang tahu kediaman kami," potong wanita tadi.
"Ah, itu saya mengetahuinya dari seseorang. Perkenalkan saya Ayana ... saya datang ke sini ingin menyampaikan sesuatu," balas Ayana cepat.
Ia lalu menjulurkan sebuah memori card ke atas meja kayu. Wanita baya tersebut memandangnya penuh tanya, kepala yang sudah ditumbuhi uban itu mendongak kembali, seolah mengatakan, apa ini?
"Di dalam sana terdapat sebuah rekaman yang bisa menjerat suami Anda ke jeruji besi. Namun, seperti yang kita ketahui sebelumnya, presdir Han adalah orang berkuasa di negara ini. Siapa pun akan tunduk padanya sampai hukum juga tidak berkutik terhadapnya."
"Namun-" Ayana menjeda kalimatnya saat melihat manik sayu sang lawan bicara melebar perlahan. "Belau masih lah seorang ayah yang mencintai kedua putrinya." Ayana meletakkan selembar foto yang di dalamnya terdapat sebuah gambaran keluarga harmonis.
"Foto ini di ambil saat usia putri Nyonya dan presdir Han berusia sepuluh tahun. Waktu itu beliau masih menjadi seorang ayah yang benar-benar mencintai serta menyayangi keluarganya."
"Tahun berganti, pada saat putri Sabina dan Saida duduk di bangku sekolah menengah pertama. Nona muda Saida dirundung teman-temannya sebab fisiknya tidak sama seperti nona Sabina. Sejak saat itu presdir Han atau Tuan Han Bose berubah."
"Beliau menjadi gila kerja, berkecimpung di dunia malam, dunia gelap, bermain perempuan dan menyembunyikan nona Saida di sini. Hal itu dilakukan agar beliau bisa menyembunyikan fakta jika mempunyai seorang putri yang istimewa," tutur Ayana panjang lebar.
Mendengar kata demi kata dari wanita muda di hadapannya nyonya besar itu menunduk. Air mata menetes tak tertahankan.
Firasatnya mengatakan dengan benar jika sang suami kembali berulah dan sekarang benar-benar parah. Sampai sang korban mengetahui keberadaan mereka. Karena selama ini belum ada siapa pun yang datang ke sana.
Ayana terperangah dan merasa tidak enak hati. Namun, ia sudah berhasil meyakinkan sang nyonya agar mau membantunya.
Sampai perkataan selanjutnya dari wanita baya itu pun benar-benar membuat lengkungan bulan sabit hadir di wajah ayu Ayana.
"Apa yang harus saya lakukan? Nona datang ke sini untuk itu, kan?" tanyanya sembari mendongak kembali.
Tanpa mengelak Ayana mengangguk antusias. "Iya, Anda benar Nyonya. Saya datang ke sini untuk meminta bantuan Anda agar menyadarkan presdir Han."
__ADS_1
"Saya Yara, istri sah presdir Han. Selama tiga puluh lima tahun saya bersama Saida tinggal di sini. Saya seriang bolak-balik ibu kota untuk menemani tuan besar itu agar tidak dicurigai. Saya kasihan pada Saida yang harus berada di pengasingan, sedangkan adiknya, Sabina hidup layaknya anak-anak normal lain."
"Sampai ia pun menikah dan mempunyai anak. Saya merasa ayahnya tidak adil pada mereka. Saya memilih menetap di sini ... karena saya ingin menjaga perasaan Saida" Yara, nama wanita berusia enam puluh tujuh tahun tersebut menjelaskan situasinya.
Di usianya yang terbilang sudah sangat matang, Yara terlihat masih sangat cantik. Presdir Han memang selalu menjaga dan merawat istri serta putrinya dengan baik.
Uang memang bisa merubah segalanya, termasuk kepribadian seseorang.
Seperti itulah yang dialami presdir Han, kekuasaan, harta berlimpah, menjebaknya ke dalam kesenangan sementara. Baginya jika ada uang semua masalah akan selesai, tanpa tahu semua itu bisa membinasakan.
Presdir Han tanpa sadar sudah berbuat zalim terhadap orang lain terutama keluarganya sendiri.
"Saya ingin beliau sadar dari perbuatan kejamnya. Selama ini saya sering menerima kabar jika dia mengekploitasi banyak orang. Layaknya orang paling berkuasa, ia tidak takut akan ancaman Tuhan," lanjut Yara lagi.
Ayana mengangguk setuju. "Itulah yang terjadi pada saya. Presdir Han dikuasai napsu belaka hingga membuat saya seperti ini."
Yara terkesiap melihat banyak sekali luka di wajah cantik Ayana. Ia tahu apa yang sudah terjadi pada wanita muda di hadapannya.
"Jadi, di dalam memori card ini ada bukti kekejamannya?" Yara mengacungkan benda kecil itu ke depan.
"Iya itu benar, dua hari lalu saya disekap dan hampir dilecehkan. Saya berusaha melawan hingga pada akhirnya ... suami saya menjadi korban. Sekarang dia berada di rumah sakit dan mengalami koma akibat luka tembak dari presdir Han," jelas Ayana lagi.
Yara tidak bisa menahan keterkejutan. Bibirnya terbuka perlahan dan menatap iba pada Ayana. Pelukis itu pun mengulas senyum mengerti.
"Jadi, bisakah Anda membantu saya untuk memberikan efek jera pada beliau? Saya harap dengan ini presdir Han bisa sadar dan tidak terus menerus mengulangi kejahatannya lagi," lanjut Ayana kemudian.
Yara terdiam beberapa saat, hingga sedetik kemudian kepalanya mengangguk pelan.
Bibir menawan Ayana kembali melengkung sempurna. Sorot mata penuh makna memandangi istri dari penguasa tersebut.
__ADS_1
Dalam diam Ayana tengah merancang strategi. Ia yakin rencananya kali ini bisa menumbangkan sang pengusaha itu dari kekejaman.
"Semoga dengan Nyonya Yara speak up bisa meyakinkan hukum jika presdir Han adalah orang yang sangat kejam. Ya Allah bantu kami untuk membuka kebenarannya, serta ... mudah-mudahan di negeri ini ada seseorang yang bisa menegakkan hukum seadil-adilnya dan tidak tunduk pada kekuasaan," monolog Ayana penuh harap.