
Panas begitu menyengat menyinari ibu kota. Sang raja siang muncul memberikan cahaya menyilaukan.
Langit cerah dengan gradasi awan putih sebagai penghias berarak mengikuti hembusan angin.
Dedaunan di antara pohon-pohon rindang meliuk-liuk mengikuti alur. Bunga-bunga yang tumbuh subur menghadirkan raksi menebar ke segala penjuru.
Cuaca sangat indah untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarga ataupun orang terkasih.
Itu bagi mereka yang memiliki keluarga cemara, harmonis, serta baik-baik saja.
Berbeda dengan anak-anak yang harus merelakan hari-harinya bersama kesendirian dan linangan air mata.
Beratnya ujian hidup yang Allah hadirkan membuat diri harus kuat serta bertahan pada setiap goncangan melanda.
Karena mereka sadar di balik itu semua ada hikmah yang bisa diraih. Meskipun kedatangannya sangat lama dan entah kapan, tetapi keyakinan diri sangat kuat untuk bertahan dari segala goncangan.
Sama halnya dengan yang dialami Jasmine Magnolia Mahesa. Sebagai anak yang terlahir dari keturunan Mahesa murni, ia dituntut untuk mewarisi darah keluarga agar apa yang telah ada tetap dilestarikan.
Namun, cara yang diambil oleh tetua sangatlah salah. Jasmine tidak mendapatkan kebahagiaan melainkan kesengsaraan.
Sudah satu minggu ia berada di rumah sakit keluarga Arsyad. Selama itu pula Danieal rutin memeriksanya.
Sebagai seorang dokter sekaligus psikolog ia benar-benar merawat Jasmine sepenuh hati.
Ia ingin wanita yang mengidap anxiety disorder ini bisa sembuh, sebagaimana sang adik telah melewati masa krisis yang begitu kelam.
"Ini sesi kita kesekian kali, apa yang kamu rasakan?" tanya Danieal duduk di sofa tunggal samping ranjang sama seperti kemarin-kemarin.
Jasmine yang tengah selonjoran kaki memandang jauh ke bawah. Selimut rumah sakit itu menjadi temannya akhir-akhir ini.
"Entah." Satu kata mewakili semua perasaan gamang.
Danieal mengulas senyum lembut, memandang lurus ke depan menyaksikan pemandangan luar.
"Aku dengar Ayana adalah inspirasi mu. Apa kamu tahu bagaimana dia menghadapi kehidupannya beberapa tahun ke belakang?"
Jasmine mengangguk singkat.
__ADS_1
"Tidak... aku rasa kamu tidak tahu," ungkap Danieal mengejutkan sang lawan bicara.
Jasmine menoleh padanya singkat lalu ke sisi berlawanan mengikuti apa yang tengah sang dokter lihat.
"Mungkin tidak ada yang benar-benar tahu selain Ayana sendiri dan juga Allah, tetapi... sebagai dokter yang menanganinya selama ini aku merasakan seperti apa luka dalam hatinya."
"Ayana, bahkan kondisinya lebih parah darimu, Jasmine. Kehilangan anak yang dibunuh secara sengaja oleh suami sekaligus ayah kandung sang jabang bayi, dikhianati suami dan temannya sendiri, di caci maki oleh keluarga pasangannya, hampir dilecehkan pria tua, serta pembunuh orang tuanya adalah nenek kandung suaminya sendiri, adalah gambaran kisah kelam yang telah Ayana lewati sepanjang hidupnya."
"Aku sebagai kakak yang sudah bersamanya selama kurang lebih tiga tahun ini sangat terpukul mengetahui jalan kehidupannya penuh lika-liku terjal. Aku-"
"Apa? Tiga tahun sebagai kakak? Bukankah kalian seharusnya sudah bersama sejak kecil?" tanya Jasmine heran memotong ucapan Danieal.
Dokter tampan berusia tiga puluh empat itu pun kembali menampilkan senyum menawan.
"Kami bukan saudara kandung, Jasmine."
Mendengar penuturan tersebut Jasmine terbelalak, tidak menyangka. Ia pikir Ayana lebih beruntung darinya, sebab masih mempunyai kakak yang benar-benar menyayanginya.
Ia pun sempat iri dan membohongi diri sendiri jika Ayana tidaklah se-menderita itu.
Namun, nyatanya apa yang Ayana sampaikan memang benar adanya. Cerita itu didukung serta dibenarkan langsung oleh Danieal.
"Kenapa?"
Hanya satu kata mewakili kemelut dalam diri seraya merasa bersalah pada Ayana. Ia pun meremas selimut kuat menyalurkan perasaan pelik.
Menyadari tingkah lakunya, Danieal tahu apa yang dipikirkan sang pasien.
"Karena aku ingin memberikan keluarga utuh padanya. Aku ingin melihat senyum Ayana yang sebenarnya, tanpa kepalsuan."
"Tiga tahun lalu, kami bertemu di sebuah desa asing jauh dari pusat ibu kota. Pada saat itu aku menemui Ayana di tengah kejadian tidak mengenakan. Di mana Ayana berusaha kabur dari serangan pria tua untuk melecehkannya."
"Dari sana aku membawa Ayana ke rumah sakit tempatku bertugas. Saat itu Ayana bahkan membenci diri sendiri, mengatakan jika dirinya sudah kotor tidak pantas untuk bahagia."
"Trauma dan depresi menguasai diri Ayana yang mana hari-hari selalu saja ada kejadian tidak mengenakan."
"Ayana mengamuk, meraung, menghancurkan barang-barang yang berkali-kali membuat kondisinya semakin menurun."
__ADS_1
"Ia juga senang melakukan self-harm, di mana ia menyayat-nyayat anggota tubuhnya sendiri. Entah itu lengan, atau kaki, dilakukannya berulang kali."
"Sampai puncaknya pun tiba. Pada suatu malam, setelah semua pekerja medis beristirahat, Ayana melancarkan aksinya. Kamu tahu apa yang dia lakukan?"
Dengan pelan Jasmine menggelengkan kepala.
Danieal mendengus pelan dan tersenyum masam mengingat kembali kejadian paling mengerikan sepanjang dirinya menjadi dokter.
Sebelum bertemu Ayana, ia tidak pernah mendapatkan kasus mengerikan seperti itu.
Kejadian yang menimpa Ayana benar-benar memukulnya telak, sebagai dokter serta orang terdekatnya, Danieal merasa dirundung sembilu.
Ia benar-benar terpukul, tidak menyangka Ayana bisa melakukan hal nekad.
Pada saat itu, di kala menangani Ayana, Danieal terus mengeluarkan air mata tidak sanggup menyaksikan betapa terlukanya sang pasien.
Di tengah ketakutan serta kepanikan, Danieal berusaha sekuat tenaga mengobati Ayana. Meskipun tangannya gemetaran hebat, ia mencoba fokus untuk tidak lebih menyakitinya.
"Apa yang terjadi pada saat itu?" tanya Jasmine menyadarkannya dari lamunan.
"Pada saat itu Ayana menyayat pergelangan tangan kirinya yang hampir memutuskan urat nadi. Kamu tahu seberapa bahayanya tindakan Ayana yang dilakukan pada saat itu?"
"Aku dan dokter senior di sana mengatakan jika sampai Ayana telat sedikit saja nyawanya benar-benar bisa melayang. Percobaan bunuh diri itu hampir delapan puluh persen berhasil."
"Ayana ditemukan sudah bersimbah darah di ruang rawatnya oleh salah satu petugas keamanan yang kebetulan tengah melakukan patroli. Mendapatkan jika pasien di ruang seratus sebelas tidak sadarkan diri dengan darah di mana-mana tentu saja membuatku terpukul."
"Hatiku benar-benar sakit dan hancur melihat betapa menderitanya Ayana. Sampai-sampai ia memikirkan cara bodoh untuk mengakhirinya."
"Allah masih menyayanginya dan memberikan kesempatan kedua. Aku pun langsung membawa ayah dan ibu menemuinya untuk menjadikan Ayana sebagai anggota keluarga kami. Alhamdulillah, orang tuaku menyetujui keinginanku dan mengangkat Ayana sebagai anaknya serta adikku."
"Namun, penderitaannya tidak sampai di sana saja, Ayana harus menelan pil pahit lagi saat mengetahui kejadian mengerikan yang merenggut nyawa orang tuanya."
"Tetapi, seberapa berat pun masalah yang menimpa, Ayana tidak pernah menyusahkan orang lain. Bahkan orang lain yang rela mengulurkan tangan untuknya, wanita itu juga sudah mengajarkanku, untuk... bersyukur pada kehidupan yang sedang aku jalani."
"Karena apa yang aku alami tidak sebanding dengan penderitaannya," tutur Danieal panjang lebar menceritakan apa yang sudah Ayana alami.
Luka yang begitu dalam hampir merenggut nyawanya sendiri.
__ADS_1