
"Mari-mari Nona pelukis, ah... Ayana."
Suara serak nan dalam pria tua di belakangnya mengejutkan.
Ayana kembali berbalik menghadap Alexa memandangi senyum masih tersimpan apik di wajah tuanya.
Pria baya itu menggenggam sebuah tongkat yang begitu menarik perhatian. Namun, Ayana enggan mengatakan sepatah kata dan membiarkan alur bekerja.
"Mari kita mulai kerjasamanya," kata Alexa lagi berjalan menelusuri anak tangga bersama beberapa pengawal di belakangnya.
Ayana pun mengikuti mereka seraya mengawasi sisi kanan dan kiri. Di kedua sisinya terdapat lorong panjang yang menghubungkan ke ruangan lain.
Aura gelap menjadi daya tarik mansion tersebut.
Sepanjang kakinya melangkah bau anyir sedari tadi tidak pernah hilang.
Ayana berusaha mencari tahu dari mana asal bau tersebut, tetapi ketika sudah berada di lantai dua aroma tidak sedap itu perlahan menghilang.
"Aku yakin baunya berasal dari lantai satu," benaknya berspekulasi.
Tidak lama berselang suara pintu terbuka menarik perhatian Ayana lagi.
Ia melihat Alexa melebarkan pintu sebuah ruangan bernuansa putih bersih.
Bermandikan cahaya matahari, ruangan itu terlihat hampa nan kosong.
Tidak ada perabotan di dalamnya, hanya dihiasi jendela besar tepat di depan Ayana.
"Silakan masuk kita akan menggunakan ruangan ini untukmu bekerja," kata Alexa menjelaskan.
Ayana mengangguk lalu masuk begitu saja dan meletakkan peralatan melukis di bawah kaki.
"Di mana saya akan melukis Anda?" tanya Ayana kemudian.
"Kamu bisa melukis saya di tengah-tengah ruangan. Saya akan duduk di sini," ucap Alexa lagi lalu duduk tepat membelakangi jendela.
Ayana mengangguk lalu mengeluarkan kanvas berukuran sedang dan mendirikan dudukannya.
Setelah itu ia pun mengeluarkan lagi kuas, cat minyak, dan lain sebagainya.
Tidak lama setelah itu Ayana mulai melakukan pekerjaan melukis Alexa dalam diam.
Tidak ada yang berbicara sepanjang ia melakukan aksinya tersebut.
Seraya memperhatikan objek di depannya Ayana juga berusaha fokus kepada orang di balik earphone.
Sedari tadi Jasmine terus memberitahu letak-letak ruangan yang ada di mansion.
"Apa kamu tidak takut datang ke sini?"
__ADS_1
Pergerakan Ayana terhenti saat satu pertanyaan tercetus dari bibir tipis Alexa.
Hal tersebut pun mengejutkan membuat sang pelukis termenung beberapa saat.
"Eh, maksud Anda?" tanya balik Ayana berpura-pura.
"Kamu lihat sendiri bukan keadaan mansion ini seperti apa. Seperti... rumah hantu, iya kan?" Alexa menengadah melihat langit-langit ruangan yang memantulkan bayangan lantai marmer.
"Tidak seperti itu, saya bisa pergi ke manapun untuk bekerja," balas Ayana kembali melanjutkan kegiatannya.
Alexa tertawa skeptis dan memandangi Ayana yang terhalang oleh kanvas.
"Kamu benar-benar wanita luar biasa," pujinya.
"Terima kasih."
Setelah itu percakapan pun terhenti sebentar. Sampai Ayana mengajukan pertanyaan lain membuat Alexa sedikit tercengang.
"Maaf sebelumnya Tuan jika saya menanyakan hal ini, tetapi... tadi saya mencium bau amis di lantai satu. Apa Tuan baru saja membersihkan ikan?" tanya Ayana melirik padanya sekilas.
"Iya itu benar. Saya mempunyai hewan peliharaan seekor burung pemakan daging. Setiap harinya kami selalu menyiapkan ikan mentah di rumah, makanya bau amis itu tidak bisa dihindari. Maaf, apa itu mengganggu konsentrasi Anda, Nona pelukis?"
"Tidak, hanya saja saya sangat penasaran," balas Ayana lagi-lagi melirik Alexa untuk melukis wajahnya agar terlihat mirip.
"Kata Anda... Anda akan memberikan lukisan ini untuk keponakan. Apa dia juga ada di rumah ini? Dari tadi saya tidak melihatnya," kata Ayana lagi memulai pembicaraan.
"Tidak, sudah lama dia meninggalkan saya di sini. Saya hidup sendirian, hanya ditemani orang luar," balas Alexa sendu.
"Lebih baik kamu segera selesaikan lukisannya," lanjut Alexa membuat Ayana mengiyakan.
...***...
"Apa kamu yakin Ayana tidak akan apa-apa?" tanya Zidan khawatir.
Saat ini mereka tengah berada tidak jauh dari mansion keluarga Mahesa.
Keempat orang itu bersembunyi disebuah van dengan peralatan lengkap.
Tidak hanya mereka saja, ada satu mobil lagi di belakang, yaitu rekan-rekan Bening yang ikut memantau kegiatan Ayana di bangunan megah itu.
Bening yang sedari tadi sedang mengawasi Ayana dan Alexa lewat rekaman kamera terletak di pin bros hijab wanita itu pun menggeleng singkat.
"Tenang saja sejauh ini baik-baik saja. Jasmine juga sudah mengatakan letak-letak ruangan di sana. Jika terjadi sesuatu kita bisa langsung datang ke sana dan Ayana juga bisa melarikan diri," kata Bening membuat Zidan sedikit bernapas lega.
"Bagaimana bisa Ayana terdengar tenang seperti itu?" tanya Jasmine kemudian.
"Dia sudah berpengalaman menghadapi setiap permasalahan seperti ini. Jadi mungkin, saat ini menjadi tantangan baru lagi untuknya. Kalian jangan terlalu khawatir," balas Danieal. Meskipun ia sendiri pun ikut merasakan hal sama.
"Kita hanya tinggal menunggu di mana pamanmu meletakkan mayat-mayat orang tua serta keluarga mu yang lain," ujar Bening lagi, Jasmine hanya mengiyakan.
__ADS_1
Kembali lagi pada Ayana, saat ini ia sedang berjalan sendirian menelusuri ruangan demi ruangan di sana.
Sebelumnya ia meminta izin untuk melaksanakan kewajiban, Alexa pun mengiyakan dan pria tua itu juga pamit untuk menyelesaikan urusan.
Ayana terpaksa menggunakan taktik tersebut untuk melancarkan aksinya. Karena saat ini ia sedang berhalangan, sebab tamu bulannya datang.
Ia bisa bebas mendapatkan akses untuk berjalan menuju lantai satu.
Kebetulan pada saat itu Alexa mengajak semua orang yang ada di mansion berada di satu tempat.
Entah apa yang sedang mereka lakukan, Ayana sedikit waspada, tetapi ini kesempatannya untuk mencari tahu.
"Jasmine, kamu bilang di lantai satu ada tempat saat kamu dikurung kan? Apa dari sana ada jalan lain?" tanya Ayana lewat earphone.
"Sejauh yang aku tahu, tidak ada Ayana. Aku hanya dikurung dan sesekali mendengar ada ruangan apa saja di sana. Jadi, aku kurang yakin," balas Jasmine kemudian.
"Baiklah kalau begitu... aku menemukan tempatmu dikurung."
Ayana membuka pintu besi itu dan seketika maniknya terbuka lebar.
Ia bisa merasakan aura dingin nan kelam kala melihat ruangan tersebut.
Ada rantai besi menancap di sudut ruangan, juga banyak sekali peralatan memahat yang mungkin biasa Jasmine lakukan.
Ada ranjang sederhana yang setiap malam menjadi pelepas lelah Jasmine. Ayana bisa membayangkan bagaimana tersiksanya wanita itu kala berada dalam kemewahan.
Semua harta yang melingkupinya tidak membuat Jasmine bahagia.
Entah sadar atau tidak Ayana masuk dan tangannya menelusuri tembok dingin di sana.
Sampai tidak lama berselang ia merasakan sebuah benda menonjol. Ayana berhenti lalu mengeluarkan pisau kecil dari saku gamis untuk membuat lubang di sekitar tonjolan tersebut.
Sampai ia pun berhasil menyingkirkan semen serta cat yang menghalanginya.
"Kenapa ini seperti sebuah tombol?" gumam Ayana.
Ia pun menekan tonjolan kecil tersebut dan seketika terdengar seperti sebuah pintu terbuka.
Ayana mundur beberapa langkah ke belakang dan terkejut melihat dua penghalang yang saling menyatu perlahan berpisah.
Seperti benteng setinggi seratus lima puluh sentimeter menampilkan ruangan lain di sana.
Ayana terpaku kala menyaksikan kegelapan menyambut.
Namun, seakan menarik atensi Ayana tersedot masuk ke dalamnya. Kedua kaki itu entah sadar atau tidak melangkah untuk mencari tahu ada apa di sana.
Ayana bisa merasakan hawa dingin menusuk kulit. Sampai sedetik kemudian ia menemukan saklar lampu dan seketika cahaya menerangi.
Bak dipaku di tempat Ayana terdiam menyaksikan apa yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"I-ini-" Lidahnya kelu tidak bisa melanjutkan ucapannya sendiri.