Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 97


__ADS_3

Ada waktunya lingkup kehidupan tidak berjalan sesuai harapan. Ada masanya harapan yang diinginkan tak terwujud kepastian. Ada kalanya mimpi hanya sebatas mimpi tanpa bisa digapai.


Begitulah kehidupan di dunia yang terus berputar layaknya sebuah roda. Kadang kala ada di atas dan kadang juga berada di bawah.


Bermimpi lah setinggi langit dan berharap lah setinggi angkasa, sebisa mungkin gapai lah apa yang diinginkan, serta serahkan semuanya hanya pada Allah semata.


Karena yang tahu segalanya hanyalah Allah. Dia Maha Pemberi Rencana terindah, tanpa pernah kita duga sebelumnya.


Luka masa lalu terkadang menjadi duri tajam di dasar hati paling dalam. Keberadaannya mampu mengundang suatu pembelajaran berharga ataupun sebaliknya, tergantung bagaimana menyikapi setiap permasalahan.


Ada yang berhasil melewatinya dan ada pula yang terpuruk hingga terjatuh ke dalam lubang hitam begitu jauh.


Ketika di hadapkan dengan suatu permasalahan terima, renungkan, dan hadapi. Meskipun terkadang teramat pahit, jalani saja sampai Allah memberikan obat penawarnya.


Menjadi istri dan ibu merupakan cita-cita terbesar seorang wanita, bagi ia pemilik mimpi luar biasa tersebut.


Tidak mudah memang mengemban tugas itu jika tidak didasari oleh kesiapan mental serta fisik. Kadang kala pernikahan menjadi malapetaka terhebat dan berujung trauma.


Namun, ketika dijalaninya dengan berlandaskan cinta kepada Allah, serta sama-sama hanya mengharapkan ridho-Nya, maka kondisi yang terjadi bisa dilalui.


Berdua, bersama, menjadikan beban seberat apa pun terasa ringan. Jangan menyerahkan pada salah satu pihak, sebab pondasi utama pernikahan dibangun bersama.


Ayana Ghazella, diusianya yang baru menginjak kepala tiga, dihadapkan pada kondisi mendebarkan.


Salah satu keinginannya kini bisa terwujud dan sekarang ia sedang berjuang melahirkan sang buah hati.


Kontraksi yang dirasakannya tadi sore kini berhasil dilewatinya dan sudah pembukaan lengkap. Dokter Bintang dan beberapa tenaga medis lainnya membantu persalinan Ayana.


Orang tua, keluarga, serta kerabat dekat pun berdatangan dan menunggunya di luar ruangan. Mereka sama-sama berdoa meminta yang terbaik untuk ibu dan anaknya.


Erangan demi erangan rasa sakit bergema di sana. Dengan setia Zidan berada di samping sang istri dan terus memberikan kata-kata semangat agar Ayana bisa melewati rintangan tersebut.


"Ayo Sayang, kamu pasti bisa! Kamu pasti bisa melahirkan buah hati kita," ucap Zidan sembari menggenggam tangan Ayana kuat.


Sang empunya mengeram kesakitan, bersusah payah mengeluarkan kepala malaikat kecilnya.


"Mas... aku tidak sanggup. Sakit sekali rasanya," kata Ayana lirih.


"Tidak Sayang... kamu pasti bisa. Kamu wanita kuat... kamu harus melahirkan anak kita dengan selamat," jawab Zidan lagi, mendukung penuh.


"Mas... boleh... aku minta sesuatu?" Pintanya disela-sela perjuangan.


"Tentu Sayang, apa pun untukmu," jawab Zidan cepat.

__ADS_1


"Jika... jika sesuatu terjadi padaku... aku mohon... Mas jaga dia untukku, yah."


Sontak pernyataan tersebut mengejutkan sang pianis.


"Apa yang kamu katakan, Sayang? Jangan berkata seperti itu, kita akan menjaganya bersama-sama." Zidan tidak suka dengan ucapan Ayana barusan, seolah istrinya akan pergi begitu saja.


"Aku mohon, Mas... berjanjilah." Ayana masih memberikan kata-kata yang membuat Zidan ketakutan.


Namun, meskipun begitu ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengiyakan.


"Aku janji padamu, Sayang. Kamu harus kuat... harus bertahan untuk buah hati kita dan juga... untukku! Berjanjilah!"


Air mata jatuh tak tertahankan membasahi pipi, Ayana terkesiap menyaksikan ketakutan di wajah tampan suaminya.


Seulas senyum pun terpendar di bibir pucat nya seraya memandangi manik sang pasangan hidup lagi.


Untuk kesekian kali Ayana berjuang kembali melahirkan malaikat kecilnya.


Tidak lama berselang, suara tangisan bayi melengking di ruangan. Bintang tersenyum melihat bayi merah itu lahir dengan selamat.


Namun, di tengah-tengah kesadaran Ayana, mereka kembali dikejutkan dengan satu bayi lagi yang muncul di balik gua.


Bintang segera menyerahkan bayi Ayana dan Zidan ke salah satu perawat lalu langsung menghadap pada ibu baru itu lagi.


"Ayana... jangan tidur dulu! Kamu masih punya satu bayi lagi yang harus dikeluarkan!"


Ketegangan semakin menjadi-jadi di tengah-tengah Ayana mengeluarkan bayi keduanya. Tenaga sang pelukis itu pun menipis dan hampir tidak sadarkan diri.


Berkali-kali Zidan memberikan dukungan moril agar Ayana bisa kuat untuk menyelesaikan perjuangan. Sampai tidak lama kemudian tangisan kencang kedua kalinya bergema di ruangan.


Bintang kembali mengembangkan senyum melihat betapa imutnya bayi mereka.


"Kamu sudah berjuang dengan keras, Sayang. Terima kasih." Zidan memberikan kecupan mendalam di dahi lebar Ayana yang sudah dipenuhi peluh.


Napas sang pianis tersengal-sengal dengan kesadaran yang mulai menipis. Ia sangat senang dan bahagia mendengar suara tangis kedua bayinya.


Sebagai ibu baru ia benar-benar lega berhasil melewati masa-masa sulit hingga melahirkan mereka dengan selamat ke dunia.


Di tengah suka cita yang mendera, Ayana tiba-tiba saja menutup mata menghilangkan pandangan mendebarkan tadi dan berganti kegelapan.


Zidan yang mendapati istrinya tidak sadarkan diri langsung kelimpungan.


"Sa-Sayang... hei, Sayang. Jangan bercanda Ayana. Bangun... Ayana bangun! Bangun Ayana." Zidan menggoyang-goyangkan bahu sang istri berusaha mengembalikan kesadarannya.

__ADS_1


Namun, seberapa keras ia berjuang Ayana tidak kunjung membuka mata. Bahkan kelopak mata sang istri begitu rapat, seolah tidak akan membukanya lagi.


"Do-Dokter apa yang terjadi? Ke-kenapa istri saya tidak sadarkan diri?" tanyanya takut-takut, menoleh pada sang dokter.


Kembali, Bintang menyerahkan bayi kedua Ayana ke salah satu perawat lagi. Ia bergegas memeriksa sang pasien dengan dahi mengerut dalam.


Menyaksikan air muka sang dokter seketika memunculkan kengerian dalam dada sang pianis. Ia tidak tahu apa yang tengah terjadi, tetapi ekspresi Bintang seolah sudah menjelaskan semuanya.


"Bisa Anda keluar dulu?" pinta Bintang kemudian.


Dengan cepat Zidan menggeleng begitu saja.


"Tidak, Dok. Aku akan di sini menemani Ayana!" kukuhnya.


"Tidak! Kamu harus keluar!" tekan sang dokter lagi.


Namun, Zidan masih keras kepala untuk tetap tinggal tanpa beranjak dari tempatnya. Ia tidak bisa meninggalkan Ayana begitu saja, terutama saat melihat sang istri tidak sadarkan diri.


Ia takut dengan meninggalkannya Ayana bisa kesepian. Zidan sama sekali tidak mau pergi ke manapun.


Mau tidak mau Bintang meminta para bantuan medis menyeret pianis itu keluar ruangan. Seketika Zidan berontak, berusaha melepaskan mereka.


"Jangan khawatir, kami akan berusaha semaksimal mungkin!" tegas Bintang dan menutup pintu ruangan rapat.


Zidan pun diam mematung, terkejut bukan main mendapatkan hal tak terduga pada Ayana. Rasa bahagia atas kelahiran dua buah hatinya kini berganti kesakitan.


Beberapa orang yang menunggu di luar ruangan pun berduyun-duyun mendekat. Ibunya, Lina mencengkram kuat lengan kekar sang buah hatinya.


"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja," katanya menenangkan.


"Mas tidak usah khawatir, mbak Ayana pasti selamat," lanjut adiknya, Gibran.


"Jangan cemas. Ayana tidak selemah itu," timpal Danieal.


"Ayana wanita kuat, dia bisa melewati masa kritisnya," ucap Jasmine melanjutkan.


"Kita semua di sini juga mendoakan yang terbaik untuk Ayana." Terdengar ibu mertuanya ikut berbicara.


Zidan melirik sekilas pada mereka lalu menganggukan kepala lemah. Rasanya seperti disiram air panas di atas kepala membuat pikrian sang pianis berkecamuk.


Kata-kata Ayana beberapa saat lalu berdengung dalam pendengaran. Apa itu sebuah firasat? Pikirnya gamang.


Zidan sangat terpukul atas apa yang menimpa Ayana. Ia tidak menduga akan mendapatkan kejadian memilukan seperti ini.

__ADS_1


Ayana tidak sadarkan diri dan ia masih tidak tahu apa penyebabnya. Zidan sangat kelimpungan dan ketakutan di saat bersamaan.


Ia tidak ingin kehilangan Ayana untuk kedua kalinya.


__ADS_2