Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 30


__ADS_3

Keberangkatan Danieal ke Negara K menjadi hal paling berat yang pernah Ayana alami. Ditinggalkan untuk waktu yang tidak bisa ditentukan memberikan kepedihan mendalam dan hal itu lebih berat dibandingkan ditinggalkan oleh Zidan pada waktu itu.


Sebagai seorang adik yang sangat diperhatikan oleh kakak sambungnya, Ayana tidak rela jika harus berpisah cukup lama.


Namun, bagaimanapun juga kepergian sang kakak tidak lain dan tidak bukan adalah sebagai bentuk kepedulian kepada sesama.


Ia tidak bisa mencegah ataupun melarangnya, sebab semua itu sudah menjadi tanggungjawab Danieal.


"Jangan sedih lagi, Mas yakin Danieal akan kembali dalam keadaan baik-baik saja." Zidan datang memeluk istrinya dari belakang membungkus Ayana ke dalam mantel yang tengah dikenakan.


"Aku sedih ... karena mas Danieal tidak mengatakan apa pun padaku mengenai kepergiannya. Bukankah dia sangat kejam?" racau Ayana kecewa sembari mengusap air mata.


Zidan tersenyum singkat lalu mengecup lembut puncak kepalanya. Ayana menikmati setiap sentuhan yang diberikan sang suami membuat perasaannya perlahan-lahan membaik.


Kegelisahan sekaligus kesedihan yang tadi merengkuhnya erat pun ikut memudar. Kenyamanan serta ketenangan didapatkan berkat adanya pasangan hidup.


Di tengah kebersamaan itu suara rengekan bayi terdengar nyaring. Buru-buru Ayana melepaskan lengan sang suami dan berlari kecil menuju tempat tidur.


Zidan menoleh ke belakang melihat istrinya begitu cekatan menghadapi bayi kecil.


"Uh~ Sayang, kamu bangun yah?" Ayana langsung menggendong bayi yang baru sehari menjadi anak angkat mereka.


Zidan yang masih berdiri di dekat jendela besar pun memandangi keduanya. Bibir kemerahan itu melengkung menyaksikan binar kebahagiaan sang istri.


Seraya tangan berada di saku mantel, ia berjalan mendekat dan berdiri tepat di belakang pujaan hati.


"Raima pasti lapar, iya kan Sayang?" ucapnya memandangi bayi berusia lima bulan dalam dekapan Ayana.


"Bisa aku titip Raima sebentar? Aku mau membuatkan susu dulu." Sebelum Zidan menjawab pertanyaan, Ayana sudah lebih dulu menyerahkan Raima padanya.


Setelah itu ia beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar. Zidan cengo melihat betapa antusiasnya Ayana.


"Jadi, seperti inikah gambaran kita nanti punya anak?" gumamnya sembari menimang-nimang Raima.


Di lantai bawah, Ayana berusaha mengatur napas yang tiba-tiba saja memburu. Tangannya menopang pada meja makan seraya meremasnya kuat.


Entah kenapa ia merasa sesak dalam dada sesaat memangku Raima tadi. Bak adegan film yang kembali diputar, tayangan saat Zidan dengan paksa memintanya berhubungan dalam keadaan hamil muda terekam jelas.


Adegan demi adegan terus berkeliaran membuat ia menutup mata erat dengan keringat dingin bermunculan di pelipisnya.

__ADS_1


Wajah ayu itu berubah menjadi pucat pasi berusaha mengontrol diri sendiri. Karena bagaimanapun kehilangan seorang anak adalah pukulan telak yang tidak mudah diterima.


"Astaghfirullahaladzim." Ayana terus beristighfar mencoba mengatur debaran jantung yang semakin bertalu tak karuan.


"Nona muda?" Sapa seseorang mengejutkan.


Ayana menoleh ke belakang mendapati salah satu asisten rumah tangganya berjalan mendekat.


"Oh, Helena? Kamu belum istirahat? Ini sudah jam sepuluh malam, harusnya semua pekerja berada di belakang, kan?" tanya Ayana sedikit terkejut mendapati salah satu maid nya di sana.


Helena, wanita yang dulu menjadi kaki tangan Bella ini pun menggelengkan kepala. Pasca mendapatkan suntikan dana dari Ayana, ia mulai akrab dengan noda mudanya.


Mereka pun tidak segan berbagi kesedihan layaknya seorang teman. Karena berkat Helena, Ayana bisa menemukan Bella dan membuat semuanya terselesaikan.


Hubungan mereka pun menjadi lebih baik, Ayana sama sekali tidak menganggap Helena seperti asisten rumah tangga, melainkan teman biasa yang selalu berbagi suka maupun duka.


"Aku tidak bisa tidur, tenggorokanku kering. Rasanya malam ini panas sekali, apa kamu merasakannya juga?" racau Helena sembari terus berjalan menuju tempat air lalu menuangkannya ke dalam gelas.


Ia berbicara informal ketika hanya ada mereka berdua saja. Jika di hadapan Zidan, baik Ayana maupun Helena bersikap layaknya atasan dan bawahan.


Zidan sama sekali tidak mengetahui jika hubungan istri dan salah satu maid nya lebih dari seorang pesuruh dan pekerja.


"Em, aku merasakannya juga," balasnya begitu saja.


Tidak lama berselang, Helena membawakan segelas air putih dan meletakkannya di meja tepat di depan Ayana.


"Terima kasih," balas pelukis itu duduk di kursi lalu meminum air hingga tandas.


"Alhamdulillah," gumamnya.


"Jadi, apa yang kamu lakukan? Kenapa ada di sini? Suamimu sudah tidur? Dan ... kenapa kamu pucat sekali?" tanya Helena beruntun yang juga duduk tepat di seberangnya.


Ayana tidak langsung menjawab, hanya memutar-mutar gelas kaca melihat pantulan dirinya di sana. Sangat menyedihkan, pikirnya menyeringai pelan.


Sedetik kemudian senyum kepalsuan pun hadir membuat Helena manautkan alis tidak mengerti.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Kenapa wajahmu berubah masam seperti itu? Jelek tahu," ujar Helena diakhiri dengan candaan.


Hal tersebut berhasil membuat Ayana kembali menoleh. Ia mengerucutkan bibir pelan mendengar setiap kata keluar dari mulut sang lawan bicara.

__ADS_1


"Aku dengar kalian mengangkat anak, apa ini ada hubungannya dengan bayi itu?" tanya Helena lagi.


Ayana memudarkan senyuman, wajahnya berubah datar seolah tidak semangat untuk melakukan apa pun.


Helena yang melihat lagi reaksinya seperti itu menyimpulkan satu hal, pasti sudah terjadi sesuatu, pikirnya.


"Jika memang sulit untuk dilalui kenapa menyetujui pengangkatan anak itu? Apa kamu menderita?" tuturnya kembali yang tidak mendapatkan jawaban pasti dari Ayana.


Beberapa detik hanya ada keheningan di antara mereka. Ayana masih betah memandangi dirinya dalam pantulan gelas kaca.


"Memang tidak mudah menganggap orang lain seperti anak sendiri, tetapi Raima adalah bayi yang sangat menggemaskan. Jujur, aku langsung menyukainya dan menyayanginya. Siapa yang bisa menolak kecantikannya? Aku pun tidak bisa, terlebih dia begitu pintar. Aku sudah menyayanginya seperti anak kandung, aku-"


"Lalu apa masalahnya? Kenapa kamu murung?" tanya Helena memotong ucapannya.


Ayana mengangkat kepala hingga mereka saling bertatapan lagi. Helena terkesiap menyaksikan air mata merembes di balik kelopaknya.


"A-Ayana?"


"Kamu tahu ... seharusnya kami sudah mempunyai anak berusia dua tahun sekarang, tetapi anak itu ... aku keguguran," jelasnya lemah.


"A-apa? Astaghfirullah, maaf aku tidak tahu Ayana. Aku-"


"Em, tidak apa-apa. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya atau apa pun, tetapi entah kenapa rasanya sangat berat."


"Aku mengerti apa yang kamu rasakan. Mendekap seorang bayi terlebih kamu seorang calon ibu yang bisa dibilang baru kehilangan seorang anak, memang tidak mudah dilalui, tetapi ... kamu harus percaya di balik keberadaan Raima dalam rumah tangga kalian, itu sebagai pelengkap."


"Allah tahu apa yang terbaik untukmu," tutur Helena disertai senyum manis.


Kini gilian Ayana terkesiap, tidak percaya. Ia senang mendengar kata-kata tadi meluncur di balik bibir tipis Helena.


"MasyaAllah, akhirnya aku bisa mendengar nasehat darimu," ucapnya.


Iris Helena melebar sempurna dengan rona merah meremas di pipi putihnya.


"A-aku hanya ... akh sudahlah, pokoknya kamu harus sabar sampai mendapatkan anak sendiri."


"Jangan dengarkan apa kata orang, mereka hanya bisa berkomentar tanpa tahu seperti apa rasanya di posisimu sekarang."


"Bukankah mereka juga punya urusan sendiri? Kenapa sibuk mencampuri urusan orang lain? Aneh memang." Helena terus meracau, kedua tangannya melipat di depan dada dengan napas naik turun.

__ADS_1


Melihatnya seperti itu Ayana tidak bisa menahan senyum. Tawa kecil pun hadir mencairkan atmosfer di antara keduanya.


__ADS_2