Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 16


__ADS_3

Hari H pun tiba, semua tamu undangan berdatangan ke gedung musik di kota sebelah.


Orang-orang penikmat musik klasik terus berdatangan mengenakan kostum terbaiknya.


Tidak hanya musik klasik saja, tetapi musik lain pun turut dihadirkan di sana.


Artis, selebritis, para pengusaha, maupun penguasa hadir memeriahkan acara.


Para wartawan pun nampak sibuk di sana sini memotret keberadaan orang-orang penting di sana.


Lensa kamera terus memindai tamu-tamu yang hadir memeriahkan acara.


Sampai tidak lama berselang, mobil mewah Zidan hadir dan berhenti tepat di karpet merah.


Pintu geser kendaraan roda empat itu pun terbuka menampilkan sang bintang yang saat ini akan memberikan performance terbaiknya.


Zidan keluar dari mobil lalu menggandeng sang istri yang sangat cantik dalam balutan gaun abu bertabur batu kristal berkelap-kelip serasi dengan suaminya.


Mereka berjalan berdampingan bersama menyapa setiap wartawan yang menyapa.


Sampai tidak lama kemudian mereka tiba di arena berfoto. Zidan memberikan dulu tanda tangannya di banner besar dan kembali menyapa semua wartawan.


Ia di minta untuk bergaya di sana, tetapi Zidan mengajak sang istri untuk mengambil foto bersama.


"Tidak usah, Mas aku di sini saja," kata Ayana yang berada tidak jauh dari keberadaan sang suami.


"Tidak Sayang, aku ingin berfoto denganmu," ajak Zidan membawa sang istri mendekat.


Namun, sang photographer memberi arahan Ayana untuk menepi ke sisi. Sang pelukis pun mengiyakan, tetapi Zidan melarangnya pergi.


"Saya tidak akan mengambil foto jika istri saya tidak diperbolehkan untuk ikut," tegas Zidan.


Tindakan tersebut seketika membuat heboh orang-orang di sana, terutama para wanita.


Mereka sangat terpesona pada kebaikan serta kesungguhan Zidan dalam menghargai pasangan hidup.


Photographer yang tengah melakukan pekerjaannya pun dibuat malu. Ia sudah salah dalam memperlakukan istri dari orang penting malam ini.


Mendapatkan dukungan dari orang-orang sekitar, Ayana pun ikut berfoto bersama sang suami.


Setelah kejadian singkat itu banyak artikel yang mengelu-elukan Zidan Ashraf.


Ayana yang kini sudah duduk di bangku menghadap panggung beser pun dibuat takjub.


Ia senang sang suami benar-benar menghargainya sebagai pasangan sejati.


"Alhamdulillah," benaknya bersyukur.


Satu persatu orang-orang bertalenta itu pun memberikan pertunjukan.


Sampai tidak lama berselang giliran Zidan pun tiba.


Sekejap mata lampu di sekitar mereka redup menyisakan kegelapan dan sedetik kemudian salah satu lampu sorot di atas panggung memancarkan satu objek di sana.

__ADS_1


Sosok Zidan duduk berhadapan dengan piano.


Kesepuluh jari jemarinya siap mengambang di udara tepat di atas tuts-tuts piano.


Tidak lama berselang lagu lembut mengalun.


Semua orang pencinta musik klasik pun terkagum-kagum dibuatnya.


Sosok Zidan Ashraf sebagai pianis muda berbakat tidak lekang oleh waktu.


Kemampuannya masih sama memesonakan para penggemarnya.


Meskipun sempat dilanda kegoncangan akibat masalah tetua Ashraf, dan nama Zidan ikut terseret, tetapi pria itu membuktikan jika dirinya masih layak untuk bersinar.


Satu demi satu lagu cipataan Zidan sendiri pun diperdengarkan.


Lagu lembut penuh makna itu sampai ke hati terdalam para tamu.


Ada juga yang menitikkan air mata ikut terbawa suasana.


Bisikan demi bisikan terdengar di sekitar Ayana. Ia tidak menyangka Zidan bisa memberikan pertunjukan luar biasa.


"Aku yakin lagu tadi diciptakan khusus untuk istri tercintanya."


"Beruntung sekali wanita itu, aku sampai iri dibuatnya."


"Aku juga ingin mempunyai suami pianis seperti dia."


"Wanita itu benar-benar beruntung bisa bersanding dengannya. Dia sangat romantis."


Manik jelaganya terus memandangi sang suami yang masih memberikan permainan terakhir.


Diam-diam pandangan mereka saling bertatapan satu sama lain.


Cinta berbicara lewat sorot mata keduanya. Perasaan terdalam mereka tersampaikan secara diam.


Tidak lama kemudian permainan Zidan selesai digelar. Ia lalu memberikan sambutan singkat mengenai lagu tadi.


"Empat lagu yang saya bawakan barusan adalah... ungkapan saya betapa kagumnya sosok Ayana Ghazella. Dia istri sekaligus pasangan hidup paling berharga untuk saya."


"Saya beruntung bisa mendapatkannya kembali. Saya sangat mencintainya," ungkap Zidan mengundang tepuk tangan bergema di sana.


Semua wanita yang hadir terharu pada perasaan tulus seorang Zidan. Pianis itu sangat romantis memperlakukan istrinya dengan sangat baik.


Ia menghargai sepenuh hati terhadap pasangan hidupnya.


Perkataan yang dilayangkan orang-orang tadi kembali hinggap ke indera pendengaran Ayana.


Ia terharu sekaligus terkesima atas tindakan yang kembali dilayangkan sang suami.


Tanpa sadar air mata meluncur begitu cepat. Hal itu pun tidak luput dari sorot kamera.


Pemandangan tersebut difilmkan dalam layar kaca.

__ADS_1


Jasmine yang masih berada di rumah sakit ikut senang melihat kebersamaan mereka.


Begitu pula dengan Danieal, bersyukur sang adik bisa dicintai oleh pria yang pernah menyakitinya.


Penyesalan itu berlabuh pada perasaan tulus.


"Syukurlah Ayana," gumam Danieal diam-diam.


Jasmine yang berada di sebelahnya pun menoleh singkat, mengerti bagaimana perasaan seorang kakak terhadap adik kecilnya selepas badai besar datang menerjang.


...***...


Setelah acara selesai, para wartawan datang berbondong-bondong mendekati pasangan menawan tersebut.


Bak ksatria, Zidan langsung melindungi Ayana dari kebisingan pertanyaan yang terus diajukan.


Mereka hanya memberikan jawaban sekedarnya dan langsung hengkang dari sana.


Beberapa saat kemudian keduanya pun tiba di sebuah ruangan. Di sana mereka beristirahat sebentar untuk menerima surat-surat dari penggemar Zidan.


Sampai tidak lama berselang pintu ruangan mereka diketuk seseorang.


Ayana yang tengah membantu sang suami membersihkan makeup tipisnya pun buru-buru menuju pintu.


Ia membukanya dan seketika pandangan mereka saling bertemu.


"Halo, apa saya bisa berbicara dengan kalian, Nona?" Pintanya hangat.


Ayana yang memandanginya dalam diam mengangguk singkat lalu mempersilakannya masuk.


"Perkenalkan saya Alexa. Saya mendengar permainan piano Anda tadi Tuan Zidan. Sungguh permainan yang sangat indah. Sampai-sampai saya ikut menitikkan air mata," ungkap pria baya tersebut.


"Oh terima kasih banyak Tuan Alexa, saya benar-benar senang mendengarnya," balas Zidan yang tengah duduk berhadapan dengannya.


Ayana sedari tadi sibuk membereskan peralatan makeup di meja rias.


Diam-diam lewat cermin di depannya Ayana memperhatikan pria asing itu.


Keberadaannya entah kenapa membuat perasaan Ayana tidak karuan, seolah ada sesuatu yang akan dirinya hadapi lagi.


Namun, ia menggelengkan kepala mengenyahkan pemikiran dangkalnya tersebut.


Sampai di tengah kesibukannya lagi suara berat nan serak itu langsung menyapanya.


"Bukankah Anda Ayana Ghazella? Pelukis terkenal dengan makna-makna dalamnya?"


Pertanyaan tadi menarik atensi Ayana yang langsung menoleh ke belakang.


Tatapan manik cokelat susunya beradu pandang dengan sorot mata sayu pria baya di sana.


Seakan ada sesuatu di balik senyum yang Alexa berikan, kedua alis Ayana mengerut perlahan.


"Entah kenapa aku merasakan firasat tidak mengenakkan. Pria baya ini... siapa dia sebenarnya? Aku... harus berhati-hati," benaknya waspada.

__ADS_1


Radarnya kembali bekerja pada suatu hal tidak menguntungkan.


__ADS_2