Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 46


__ADS_3

Mereka pun sekarang jadi tahu apa yang sudah terjadi tujuh tahun lalu menimpa Ayana. Meskipun tidak diceritakan secara gamblang, tetapi melalui lukisan serta artikel yang terbit sudah menjelaskan semua.


Para tamu yang hadir malam itu tidak menyangka jika masa lalu sang pelukis sangatlah suram nan kelam. Pengkhianatan terus berkeliaran selama enam tahun lamanya.


"Tapi bagaimana bisa dia memalsukan kematiannya? Bukankah itu suatu kebohongan yang bisa dipidanakan?" ucap salah satu pria di sana.


"Lalu bagaimana dengan pengkhianatan yang dilakukan suami dan juga temannya sendiri? Apa itu bisa dimaafkan?" timpal seseorang di seberangnya.


Kegaduhan pun tidak bisa dihindari. Ayana yang masih berdiri di atas panggung pun hanya menyaksikan tanpa berkomentar apa pun.


Sampai semua perhatian tertuju kepada dua pianis yang sedari tadi juga turut diam. Pandangan orang-orang menatap mereka lekat seolah menuntut jawaban.


"Apa kalian masih mengkhianati Ayana?" ucap seorang wanita yang duduk tidak jauh dari keberadaan Zidan dan Bella.


Kedua pianis itu pun saling pandang tidak tahu harus berbuat apa. Kini panah tengah mengarah pada mereka, tatapan sengit dilayangkan membuatnya tidak bisa berkutik.


"Tu-tunggu sebentar, apa yang kalian semua inginkan? Kenapa kalian menatap kami seperti itu?" tanya Bella gugup.


"He~, aku tidak menyangka ternyata Bella Ellena menjadi perebut suami orang? Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan terlarang itu?" sindir wanita berambut panjang di sebelahnya.


"Wah, ternyata kalian pasangan yang sangat serasi. Berprofesi sebagai pianis dan juga menjalin sebuah hubungan intim? Sungguh luar biasa," lanjut wanita satunya lagi.


"Apa kamu tidak malu menyandang nama keluarga Ellena yang semua wanitanya terhormat? Bella-Bella, apa ini warna aslimu?" Salah seorang wanita yang juga merupakan rekan sesama musisi pun menggeleng-gelengkan kepala.


"Anda juga Tuan Zidan, apa Anda tidak bersyukur sudah diberi istri secantik itu masih mau mencari yang lain?" timpal seorang pria di hadapannya.


"Kamu kurang bersyukur sekali kawan," ujar rekan sesama bisnis.


"Sungguh kejutan tak terduga," balas salah satunya lagi.


Mereka terus melayangkan perkataan demi perkataan yang memojokkan keduanya. Bella mengepal kedua tangan erat lalu menggulirkan bola mata ke atas panggung.


Ayana tersenyum sangat cerah membalas tatapan sang mantan madu. Bibirnya lalu menyeringai lebar membuat Bella naik pitam.

__ADS_1


Ia tidak menyangka kejutan yang seharusnya diberikan ternyata berbanding terbalik. Ia tidak menduga Ayana akan mengakui jati dirinya sendiri.


Bagaikan boomerang apa yang dilakukannya saat ini kembali pada mereka. Bella menggertak menahan emosi yang kian melanda.


Berbeda dengan Zidan yang sedari tadi terus menundukkan kepala dalam. Ia masih syok atas pengakuan yang dilayangkan Ayana.


Benar dugaan serta keraguannya selama ini jika Ghazella Arsyad adalah Ayana Ghazella. Wanita yang sudah ia sakiti bertahun-tahun lamanya.


Perasaan bersalah semakin menyapa kuat, meremas hatinya kasar, menimbulkan kepedihan mendalam. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima cacian, makian, yang dilayangkan orang-orang di sana.


Tanpa mereka sadari, Gibran yang juga turut hadir terkejut mendengar pengakuan sang mantan kakak ipar. Ia terguncang jika ternyata Ayana masih hidup dan terlihat bugar.


"Mba-Mbak Ayana? Ya Allah, Mbak Ayana," benaknya berteriak histeris. Keringat dingin pun bermunculan di pelipisnya.


...***...


"Kerja bagus." Danieal datang menyodorkan sebotol air mineral.


Mereka pun berjalan beriringan keluar dari belakang panggung. Kegaduhan masih terdengar di sana, tetapi Ayana tidak peduli dan terus berjalan menjauh.


Sampai langkahnya dihentikan oleh sepasang manik yang tengah menatapnya sendu. Dengan dada naik turun, pria itu memandangi Ayana lekat.


"Mbak Ayana?" panggilnya kemudian.


Lengkungan bulan sabit pun berpendar menambah kecantikan. "Gibran? Kamu ada di sini juga?" ujarnya menyapa.


Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Gibran langsung berjalan cepat lalu menerjang tubuh Ayana erat. Sang empunya terdorong ke belakang dan hampir jatuh jika tidak Danieal menahan punggungnya.


"Ya Allah, Mbak. Mbak masih hidup? Mbak masih bernapas? Mbak baik-baik saja, kan? Kenapa Mbak memberikan kejutan yang seekstrem ini? Kenapa Mbak bercandanya sangat tidak lucu? Kenapa Mbak? Kenapa?" Gibran terus meracau seraya mengeratkan pelukan.


Ayana yang masih terkejut pun hanya bisa terbelalak diam tanpa bergerak sedikitpun. Danieal yang menyadari hal itu mendorong Gibran untuk melepaskan pelukan.


Ia lalu menarik Ayana ke belakang punggung dan menjadi tameng untuknya. Gibran yang diperlakukan seperti itu pun terkejut.

__ADS_1


Ia memandangi Danieal seolah menutut jawaban atas apa yang dilakukan. Ia tidak terima jika sang dokter menjauhkannya dari Ayana.


"Kenapa? Apa urusan Anda dengan saya?" tuturnya dengan nada tinggi.


"Saya minta maaf, tetapi Anda tidak bisa bersentuhan dengan dia," balas Danieal.


"Itu benar, kita bukan mahram jadi ... kita tidak bisa bersentuhan." Ayana yang sudah sadar dari rasa terkejutnya pun menimpali.


Gibran yang menyadari itu mengangguk mengerti. "Aku minta maaf. Aku sudah lancang sudah memeluk Mbak Ayana. Aku hanya ... aku hanya sangat merindukanmu, Mbak."


"Tidak bisakah kita menjadi keluarga lagi? Tidak ... jangan berpikir aku menyuruh Mbak Ayana untuk kembali bersama pria brengsek itu hanya saja ... aku ingin kita seperti dulu," ungkapnya penuh harap.


Gibran menangis sejadi-jadinya, bahu tegap itu bergetar menandakan ia sangat terguncang. Ayana yang menyaksikan itu seketika terenyuh.


Ia berjalan ke hadapan Danieal dan berdiri di depan Gibran. "Jangan menangis. Simpan air matamu. Kamu pria yang baik, Mbak tidak akan pernah bisa melupakanmu, Gibran. Bagaimana kamu sangat peduli dan perhatian sekali, ketika mereka terang-terangan menyakiti."


"Terima kasih untuk semuanya, tetapi untuk kembali seperti dulu ... Mbak rasa tidak bisa. Kamu tahu sendiri apa yang sudah Mbak lewati selama enam tahun."


Gibran mendongak menyaksikan senyum lembut yang begitu dirindukan. Sosok baik hati, yang benar-benar sudah ia anggap layaknya kakak kandung kini kembali menyapa.


Gibran tidak kuasa membendung kebahagiaan bisa melihat kakak iparnya lagi. Dulu, Ayana selalu baik, penuh perhatian, dan sering menasehatinya.


Sejak berita meninggalnya Ayana, Gibran benar-benar terpukul dan merasakan kehilangan yang sangat mendalam.


"Baiklah, aku mengerti, tetapi ... bisakah aku tetap berhubungan denganmu, Mbak?" pintanya kemudian.


Ayana mengangguk dan menepuk puncak kepalanya pelan. "Tentu, keluarga tetap keluarga. Kalau begitu Mbak permisi dulu." Gibran mengembangkan senyum lebar, mengiyakan ucapan Ayana.


Tidak lama kemudian Ayana melangkahkan kaki pergi dari hadapannya. Danieal mengikuti dari belakang, tahu apa yang tengah dirasakan sang adik sambung.


Gibran berbalik, dalam diam ia menyadari Ayana benar-benar sudah berubah. Namun, meskipun begitu rasa sakit akan masa lalu masih terlihat jelas sebaik apa pun disembunyikan.


"Aku memang tidak tahu apa yang sudah Mbak lewati selama satu setara tahun ini, tetapi ... aku percaya Mbak adalah wanita kuat dan mampu menghadapi semuanya dengan baik," gumam Gibran memandangi sosok itu yang semakin menjauh.

__ADS_1


__ADS_2