Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 11


__ADS_3

Sedih tidak selamanya terus dilakoni setiap peran utama dalam kehidupan.


Masanya akan tiba untuk menggantikan tangisan dengan senyuman.


Semua butuh waktu serta proses tida mudah.


Butuh pergolakan tidak sebentar serta banyak hal yang harus dilewati.


Harapan yang semula pupus haruslah kembali dibangun untuk mendapatkan mimpi melupakan kepedihan.


Kisah hidup yang begitu kelam sekalipun pasti masih ada setitik cahaya untuk bisa dibangun kembali guna mendapatkan kebahagiaan.


Sengsara, kadang kala satu kata konservatif tersebut menjadikan diri luluh pada suatu keadaan negatif.


Kadang kala menitik beratkan pada satu pikiran, jika tidak mungkin ada kebahagiaan di balik jalan kehidupan yang begitu rumit akan suatu keadaan, hanya mendatangkan pikiran buruk saja.


Gelap, gambaran tentang kisah kelam yang mengandung racun hanya terus mengundang air mata.


Namun, di tengah badai kesedihan menerpa, Jasmine terpaku pada satu sosok yang belakangan ini menjadi inspirasinya.


Ayana Ghazella Ashraf Arsyad, adalah seseorang yang bisa membuat Jasmine sedikit mendapatkan cahaya.


Selepas mendengar semua kisah kehidupan Ayana, Jasmine masih diam membisu.


Manik keabuan nya melirik sekilas pada sang lawan bicara. Kedua tangan kembali meremas selimut, kuat mengalirkan segala kepelikkan dalam diri.


Melihat diamnya Jasmine, Ayana sadar satu hal. Wanita ini masih belum bisa membuka hati untuk merubah keadaan.


"Jangan takut, Jasmine. Selagi masih ada Allah di hati kita, apa pun tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Apa kamu mau bangkit bersamaku?" tanya Ayana sekali lagi menawarkan harapan.


Menyaksikan uluran tangan itu lagi-lagi membuat Jasmine terpaku.


Perlahan setelah sekian detik berlalu, sebelah tangannya terangkat hendak membalas uliran tangan Ayana.


Namun, entah kenapa tiba-tiba saja bayangan saat-saat dirinya dikurung berkeliaran.


Kepalanya seperti ada yang menusuk-nusuk, begitu berat dan sakit.


Ia menutup kedua mata erat dengan keringat dingin bermunculan, mencoba mengenyahkan semuanya.


Ayana yang menyadari itu pun langsung bangkit dari duduk memeluknya erat.


"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja."


Kata-kata itu terus diputar beberapa kali oleh Ayana yang seketika memberikan efek pada Jasmine.


Perlahan-lahan wanita itu kembali tenang dan membalas pelukan Ayana tak kalah erat.


Ia pun kembali menangis, meraung, melampiaskan segala kesulitan yang pernah dijalaninya selama ini.


Ayana terus mengatakan hal yang sama sembari mengusap puncak kepalanya.

__ADS_1


Ia ingin setidaknya perlakuan tersebut bisa mengurangi rasa sakit di hati Jasmine.


Karena ia tahu bagaimana kesepiannya pada saat trauma dan depresi itu menghampiri.


...***...


"Jadi, wanita itu mengalami suatu kondisi yang memprihatinkan?" tanya Zidan duduk di kursi tunggu tidak jauh dari ruangan Jasmine berada.


Danieal yang tengah berada di sebelahnya pun mengangguk singkat.


"Itu benar, kemungkinan hidupnya penuh dengan siksaan. Istrimu, adikku, dia... merasakan hal sama ketika melihat Jasmine. Itu sebabnya Ayana memintaku untuk membantu menyembuhkannya," jelas sang dokter.


Zidan termenung beberapa saat menjatuhkan pandangan ke bawah.


"Ayana... bagaimana kondisinya pada saat mengatakan itu?" tanya Zidan kembali.


Danial pun menarik kembali ingatannya pada saat Ayana melakukan aksinya dalam menghadapi Jasmine.


"Dia... sungguh luar biasa, istrimu, adikku itu mampu merasakan apa yang orang lain rasakan, khususnya pada sebuah kasus mirip dengannya," tutur Danieal mengulas senyum lembut seraya mendongak menatap langit-langit koridor.


Bibir menawannya melengkung sempurna menarik garis ada kebanggan tersendiri.


Zidan yang melihat itu pun terpaku. Ia bisa membayangkan seperti apa aksi heroik sang istri.


"Istriku, adikmu... sangat luar biasa. Dia sangat baik dan juga bijaksana." Zidan ikut terharu hanya dengan mendengar sedikit ceritanya saja.


Beberapa saat kemudian, di tengah kebersamaan dua pria di sana, tiba-tiba saja pintu ruang inap Jasmine terbuka.


Suara langkah kaki memburu menghampiri mereka mengundang atensinya untuk menoleh.


Seketika dokter dan pianis itu bangkit dari duduk menyambut keberadaannya.


Seketika itu juga, Ayana langsung menerjang sang suami membenamkan wajah di dada bidangnya.


Zidan terkejut, menoleh pada Danieal seolah mengatakan ada apa?


Sang dokter yang memahami sorot mata adik iparnya pun menggeleng singkat, tidak tahu apa-apa.


Sedetik kemudian, Zidan merasa tubuh Ayana sedikit gemetar. Ia khawatir sekaligus takut sesuatu telah terjadi padanya.


"Sa-Sayang, ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Zidan kemudian.


Ayana berusaha menguasai diri dan terus memeluk suaminya erat.


"Ja-Jasmine... Jasmine setuju untuk berubah menjadi lebih baik," ujarnya yang juga didengar oleh Daniela.


Sang dokter pun balik badan dan melarikan diri lalu masuk ke ruangan Jasmine.


Ayana melepaskan pelukan memandangi kakaknya berlarian ke sana.


Senyum manis pun mengembang di wajah ayu Ayana.


Pikirannya kembali ke beberapa saat lalu di mana Jasmine memberikan jawaban atas tawaran yang diberikan.

__ADS_1


Setelah saling berpelukan beberapa saat, Jasmine mendorong Ayana pelan seraya memandang ke manik jelaganya kuat.


"Aku... ingin bangkit, Ayana. Aku ingin menjadi seperti mu," jelasnya.


Namun, tanpa diduga kepala berhijab sang pelukis menggeleng beberapa kali.


Tentu saja hal tersebut mengejutkan Jasmine yang kembali membuatnya kecewa.


"Jangan berubah seperti orang lain, cukup menjadi diri sendiri dan berubah lah lebih baik. Itulah yang bisa memotivasi diri kita untuk merubah ke arah lebih baik," tutur Ayana hangat.


Jasmine termenung, sepasang maniknya melebar sempurna dan perlahan kedua sudut bibirnya mengembang sempurna.


"Baiklah, aku mengerti," kata Jasmine membuat Ayana mengangguk semangat.


Kurang lebih dua puluh menit kemudian, pasangan pelukis dan pianis itu pun meninggalkan rumah sakit membiarkan sang dokter mengambil alih.


Zidan membawa istrinya pulang untuk beristirahat. Ia tahu batin Ayana sedikit terguncang kala mendapati sosok wanita memiliki kisah hidup sedikit mirip dengannya.


Sepanjang jalan Zidan memperhatikan keadaan sang istri.


Raut muka lelah, terpampang jelas di sana. Namun, ia sadar ada kebanggan sekaligus kelegaan.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, Sayang?" tanya Zidan melirik sekilas seraya menepuk punggung tangannya.


Ayana yang tengah termenung terkejut seketika.


Ia juga menoleh singkat pada Zidan dan kembali memandang lurus ke depan.


"Aku... baik-baik saja," katanya lemah.


Nada suaranya mengisyaratkan jika ia benar-benar lega, meskipun melelahkan, tetapi ada kepuasan sendiri.


Karena perjalanan hidup tidak selamanya terus menepi pada satu titik yang sama.


Bisa saja, entah kapan dan bagaimana pertolongan Allah datang tanpa diduga.


"Kamu sudah berhasil, Sayang. Kamu benar-benar berhasil," pujinya bangga.


Ayana hanya mengulas senyum lembut, masih memikirkan keadaan Jasmine.


Wanita asing yang tiba-tiba saja datang ke dalam hidupnya mempunyai jalan cerita yang begitu pelik.


Ahli waris yang digadang-gadang memiliki kehidupan bergelimpangan harta, nyatanya di rundung duka.


Layaknya sosok membahayakan, sepanjang hidup Jasmine, dirinya terus dikurung dan dipaksa kerja rodi.


Hasil kerja kerasnya dinikmati sang paman tanpa memberikan kebebasan pada dirinya.


Air mata menjadi peneman di kala luka kembali ditorehkan.


Tanpa orang tua, tanpa seseorang di samping yang menyayanginya, Jasmine hidup penuh dengan penderitaan.


"Aku harap Jasmine juga bisa bangkit dari rasa sakit yang dideritanya. Aku memang tidak tahu pasti bagaimana hari-hari yang dilaluinya, tetapi Allah tidak mungkin memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Itu sebabnya Jasmine wanita kuat bisa menghadapi semua ini. Bantulah dia ya Allah," benaknya penuh harap.

__ADS_1


Kepala berhijabnya mendongak memperhatikan langit yang sudah berubah gelap.


Keheningan tercipta dalam pesona bahari yang hanya ada dalam senyapnya malam.


__ADS_2