Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 18


__ADS_3

Malam itu juga, Ayana dan Zidan langsung bertandang ke apartemen Bening.


Wanita yang sudah dianggap sebagai kakak kandungnya pun membukakan pintu dengan muka bantalnya.


Ia terkejut mendapati pasangan suami istri penuh misteri itu ada di sana. Ia bersandar pada pintu memandangi keduanya penuh makna.


"Kali ini apa lagi? Apa kalian mau mengajukan perceraian?" tanyanya begitu saja dan menguap lebar.


Mendengar candaan tersebut seketika membuat Zidan naik pitam. Ia memberikan jitakkan kuat di dahi lebar wanita lebih tua tujuh tahun darinya, sedangkan Ayana langsung melenggang pergi enggan ikut campur perseteruan keduanya.


"Hei Zidan! Bisakah kamu lebih sopan sedikit pada orang yang lebih tua darimu?" teriak Bening melihat pria itu juga masuk begitu saja.


"Pikirkan apa kesalahanmu, Mbak. Kamu pantas mendapatkannya," balas sang pianis acuh tak acuh mengikuti ke mana istrinya pergi.


Bening menghentakkan sebelah kaki, kesal seraya melipat tangan di depan dada. Napasnya naik turun memandangi kedua insan itu menghilang di balik pintu.


"Mereka itu tidak bisakah bercanda sedikit saja? Apa candaan ku keterlaluan?" Bening memiringkan kepala menatap pintu bercat putih tidak jauh dari keberadaannya.


"Tidak-tidak-tidak, mereka saja yang tidak bisa diajak bercanda," keluhnya membela diri sendiri.


"Mereka itu benar-benar, bagaimana bisa datang ke rumah orang di tengah malam seperti ini? Apa ada sesuatu mendesak lainnya?" racau Bening kembali seraya melangkah menemui Ayana dan Zidan.


...***...


Malam semakin larut, keadaan sekitar pun hening, senyap, tanpa ada tanda-tanda kehidupan.


Sebagian besar orang yang tinggal di apartemen sudah jatuh terlelap. Mereka sedang menyambut mimpi melupakan kepenatan alam nyata.


Berbeda dengan di unit seratus dua puluh tujuh, ketiga insan di sana masih terjaga.


Ayana, Zidan, dan Bening duduk berderet memperhatikan layar beberapa komputer di depannya.


Beberapa saat lalu Ayana mengatakan ingin mencari seseorang bernama Alexa.


"Jadi, maksudmu pria tua itu adalah paman dari wanita yang kamu sebutkan tadi?" tanya Bening sembari mengunyah sayuran hijau favoritnya.

__ADS_1


Ayana mengangguk mengiyakan, ia pun mengeluarkan benda pintar di balik saku gamis dan menjulurkannya ke hadapan Bening.


"Aku sudah merekam percakapan kita di ruang tunggu tadi. Aku ingin mendengar apa pendapatmu, Mbak," katanya lagi dan langsung menyetel ulang rekaman suara yang berhasil dirinya ambil.


Sebelum Ayana mendapatkan pertanyaan mendebarkan dari Alexa, ia sempat membuat sebuah rekaman dalam ponselnya.


Kesibukannya membereskan peralatan makeup, Ayana diam-diam melancarkan aksi tersebut.


Sampai di tengah-tengah mereka percakapan tadi kembali berdengung.


Bening dan Zidan terkesima akan kesiapan yang dilakukan Ayana. Bening sadar wanita yang telah dianggap sebagai keluarganya itu memiliki timing sangat tepat.


Beberapa menit berlalu, rekaman berakhir begitu saja. Ayana memandangi Bening lagi menunggu pendapatnya.


"Menurutku, sebelumnya pria tua ini sudah mencari tahu keberadaan mu. Dia dari awal memang menargetkan mu, Ayana," jelasnya. "Dan... ini ada hubungannya dengan wanita yang sudah kamu ceritakan tadi. Jasmine, benar?" lanjut Bening lagi.


Ayana mengangguk cepat. "Itu yang aku pikirkan juga. Alexa, bisakah Mbak mencari tahu siapa dia?" pintanya lagi.


Tanpa mengatakan apa pun, Bening langsung menghubungi rekan-rekannya. Ia meminta mereka untuk mencari tahu siapa itu Alexa.


"Tidak lama lagi kita akan tahu siapa itu Alexa. Aku yakin ada hubungannya dengan Jasmine, mengingat dia mengatakan keponakan. Itu adalah sebuah clue yang entah sengaja atau tidak diucapkan," kata Bening kemudian.


Ayana kembali mengiyakan. "Aku juga berpikiran yang sama. Kata keponakan yang dia sebutkan seolah menunjukkan siapa jati dirinya."


Bening pun mengangguk setuju.


Sedari tadi Zidan hanya memperhatikan keduanya. Ia terkejut mendapati Ayana berbeda dari biasanya, aura sang istri lebih berkarismatik seperti memiliki kepribadian ganda.


Ia sangat terpesona pada ketegasan serta keyakinan yang tergambar jelas dalam sorot mata itu. Ia semakin kagum dan bangga memiliki pasangan hidup luar biasa.


"Aku tidak pernah tahu, Ayana memiliki aura pejuang. Apa yang ia perlihatkan saat berhadapan dengan presdir Han dan juga nenek waktu itu? Jika saja ada rekamannya, aku ingin melihat. Ayana... pasti sangat luar biasa," racaunya dalam benak.


Semalaman mereka bekerja untuk mencari tahu siapa Alexa sebenarnya. Sampai-sampai ketiganya pun ketiduran di sana.


Ayana dan Zidan terlelap bersama di sofa panjang, sedangkan Bening di meja menghadap alat-alat kerjanya.

__ADS_1


Pada saat pukul empat pagi ia dikejutkan oleh panggilan di salah satu komputernya. Buru-buru ia bangun dan langsung menerima seruan tersebut.


"Benarkah? Baiklah, terima kasih atas kerja samanya," kata Bening mengakhiri panggilan singkat itu.


Ia lalu membuka sebuah file yang dikirimkan salah satu rekannya di tempat berbeda. Ia melihat banyak sekali informasi berdatangan.


Sampai satu fakta mencengangkan mengejutkan Bening seketika. Ia langsung membangunkan Ayana guna melihatnya bersama-sama.


"Aku baru menerima ini dari rekanku di wilayah selatan. Dia berkata jika Alexa memang keturunan keluarga Mahesa. Dia sama sekali tidak memiliki bakat hebat itu, sepanjang hidupnya dia selalu dikucilkan dan dianggap sebagai aib."


"Sampai-sampai kakak pertamanya yang memiliki usia jauh dengannya mengurung ia sejak usia lima tahun. Dia di kurung disebuah ruangan gelap tanpa diketahui oleh siapa pun."


"Dia bagaikan noda dalam keluarga, sebab sepanjang sejarah keluarga Mahesa baru kali ini mendapatkan anak yang tidak mempunyai bakat alami. Kamu tahu siapa orang yang mengurungnya itu?"


"Apa dia?"


"Benar, beliau adalah Urdha Mahesa ayah dari Jasmine. Bertahun-tahun pernikahannya dengan putri dari keluarga darah biru Naura Agasta tidak dikaruniai seorang anak."


"Namun, mereka tidak pantang menyerah sampai pada akhirnya Tuhan mengkaruniai seorang putri cantik yang diberi nama Jasmine Magnolia Mahesa."


"Dia adalah seorang anak yang dikaruniai bakat murni sejak masih kecil. Kelahirannya sangat dielu-elukan dan dibangga-banggakan oleh semua keluarga serta pelayan di mansion tersebut."


"Sampai di usia Jasmine ke lima tahun dan bertepatan di hari ulang tahunnya semua anggota keluarga dibantai habis-habisan. Alexa sang pemimpin dari komplotan bersenjata itu mempunyai dendam dan ingin menghancurkan kebahagiaan sang kakak."


"Ia membunuh orang tua Jasmine, yaitu kakak kandung dan kakak iparnya sendiri tepat di depan mata kepala sang keponakan. Informasi ini memang tidak banyak yang tahu, tetapi rekanku berhasil mendapatkannya."


"Kebencian itu sudah mendarah daging dan menjadikan Jasmine seperti dirinya bahkan.. dia memperlakukan wanita itu lebih parah. Itu sebabnya Jasmine tumbuh menjadi seorang anak yang jauh dari dunia penuh warna."


"Semua kejadian pada hari itu tidak ada yang tahu, Alexa... pria tua tersebut sudah merencanakannya secara matang. Namun, tetap saja tidak ada rahasia yang berhasil disembunyikan selamanya. Akan ada saatnya kejadian mengerikan tersebut terbongkar."


Penjelasan panjang dari Bening membuat Ayana terpaku. Ia sangat terkejut kala mendapatkan fakta mencengangkan.


Ia tidak bisa membayangkan seperti apa berada di posisi Jasmine saat melihat ayah dan ibu dibunuh tepat di depan kedua matanya sendiri.


Rasa sakit itu semakin merembet kuat kala ia pun merasakan betapa terlukanya mendapati orang terdekat membunuh orang tua kandungnya.

__ADS_1


Tanpa sadar air mata berjatuhan membuat Ayana menangis dalam diam.


__ADS_2