
"Perkembangan bayi kalian sangat baik dan sehat. Lihat bentuknya sudah mulai sempurna, tangan, kaki lengkap, sudah ada kelopak mata, alis, bulu mata, serta rambut. Em, semuanya sempurna, tidak kurang apa pun," jelas dokter cantik itu sembari menggulirkan probe di atas perut buncit sang ibu.
"Panjang janin sekitar empat belas sentimeter dan berat berada diperkiraan dua ratus dua puluh gram. Cukup bagus semuanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan," lanjutnya lagi.
Dokter Bintang menoleh pada suami istri tersebut sembari mengembangkan senyum hangat. Ia paham seperti apa antusias mereka dalam melihat perkembangan janinnya.
"Apa kalian mau mendengar detak jantungnya?" tawarnya pada pasangan menawan abad ini.
Mendapatkan hal itu Ayana dan Zidan yang tengah melakukan pemeriksaan kandungan di rumah sakit saling pandang. Layar berbentuk segiempat di samping ranjang memperlihatkan bagaimana janin mereka di dalam perut.
Tawaran tadi seketika menarik atensi sepenuhnya dari calon ibu tersebut.
"Alhamdulillah, jika semua baik-baik saja. Bisakah? Bisakah aku mendengarnya? Aku ingin sekali mendengar detak jantungnya," pinta Ayana sangat.
"Tentu saja, sebentar." Dokter Bintang mempersiapkan alat-alatnya agar calon orang tua baru itu bisa mendengarkan detak jantung sang jabang bayi.
Beberapa saat kemudian, lantunan degup jantung yang bertalu tenang mengalun di ruangan. Ayana terkesiap, manik jelaganya melebar sempurna, dan air mata jatuh tak tertahankan.
Ia menangis haru bisa mendengar suara halus berasal dari dalam perutnya. Itu adalah detak jantung sang buah hati yang selama ini mereka idam-idamkan.
Ini pertama kali bagi Ayana merasakan seperti apa bahagianya menjadi seorang ibu saat mendengar detakan kehidupan dalam diri.
Zidan pun merasakan hal sama, sebagai calon ayah tubuh tegapnya gemetar tak karuan mendengar detak jantung malaikat kecilnya.
Ia yang tengah memangku Raima pun tidak kuasa menahan haru dan memeluk putri pertamanya erat.
"Sayang, kamu juga mendengarnya? Detak jantung adikmu, Nak," bisiknya lalu mengecup sebelah pipi Raima.
Balita itu hanya terkekeh senang dan memandang ibunya yang tengah berbaring di atas berankar. Ayana pun mengembangkan senyum bertatapan langsung dengan putri sambungnya, haru.
"MasyaAllah, suaranya begitu menenangkan. Terima kasih, sayang sudah hadir dalam kehidupan kami," ucap Ayana halus sembari mengusap perutnya beberapa kali.
Perhatiannya lalu tertuju pada sang suami yang seketika langsung membuat mereka saling menggenggam tangan satu sama lain.
Baik Ayana maupun Zidan, keduanya dilingkupi kebahagiaan tiada tara, hanya dengan menyaksikan pergerakannya di layar serta mendengar detak jantung sang buah hati sudah sangat melegakan.
Tidak henti-hentinya pasangan menawan itu memanjatkan syukur atas kelimpahan rahmat yang telah Allah berikan.
__ADS_1
Terutama Ayana yang pernah kehilangan buah hati pertama akibat keegoisan suaminya semata. Di kehamilan keduanya, mereka sama-sama menjaga sang jabang bayi dari segala aspek.
Ayana bahagia Zidan menepati janji untuk membahagiakannya. Kesempatan kedua yang ia berikan, benar-benar dilaksanakan sepenuh hati oleh sang pianis.
Ia berubah menjadi suami siaga yang sangat memperhatikan kebutuhan sang istri juga anak-anak mereka.
Dua puluh empat jam, Zidan menyempatkan waktu berada di samping Ayana, menjaga serta melindungi keduanya dari marabahaya apa pun.
Mereka juga memperlakukan Raima sebaik mungkin, terkadang orang tua kandungnya bergantian datang untuk menjemputnya.
Mereka hidup dalam kedamaian serta ketenangan. Namun, ada satu keganjalan dalam keluarga, yaitu hubungan Danieal serta Jasmine yang masih mengambang tanpa kepastian.
Selepas memeriksakan kandungan, Ayana bergegas menuju lantai atas untuk menjenguk dua orang berharganya, sedangkan Zidan mengantar Raima ke depan untuk membeli makanan ringan sekaligus bertemu Ihsan serta Kirana yang datang bersamaan.
Sesampainya di lantai enam, Ayana melangkahkan kaki mencapai ruangan sang kakak. Namun, langkahnya harus terhenti begitu saja tepat di samping kamar inap sang sahabat.
Kepala berhijabnya bergulir menatap pintu bercat putih itu lekat. Samar-samar ia mendengar pembicaraan dua orang saling bersahut-sahutan.
Kedua kakinya melangkah ke samping lalu mencondongkan tubuh ke daun pintu untuk lebih jelas apa yang tengah dibicarakan di dalam.
Di dalam, Jasmine dan Danieal masih berbincang-bincang melanjutkan pembahasan semalam. Dokter tampan itu masih dilingkupi penasaran atas pernyataan wanita di hadapannya.
Serta Jasmine pun dirundung kegelisahan atas jawaban yang diberikan. Kedua insan itu dilahap pikiran gamang yang semakin memberikan rasa penasaran.
"Apa maksud pernyataanmu semalam? I love you? Apa benar kamu mencintaiku?" tanya Danieal langsung.
Tanpa diduga, Jasmine melengkungkan kedua sudut bibir lebar membuat debaran jantung sang dokter semakin tidak karuan.
"Jika bukan seperti itu, lantas buat apa aku mengatakannya?"
Pertanyaan lain yang mengandung penjelasan membuat manik jelaga Danieal melebar. Ia diam beberapa saat, hanya menatap lurus pada lawan bicara.
Tidak pernah ia membayangkan akan mendapatkan hari di mana dirinya bisa mendengar pernyataan cinta dari wanita yang dikaguminya.
Bagaikan mimpi tak bertepi, layaknya imajinasi berputar dalam bayang, ilusi itu hanya sebatas angan-angan semata.
Namun, di balik gelapnya pernyataan dengan penolakan menemukan setitik cahaya. Ia menyapa relung hati terdalam memberikan harapan baru.
__ADS_1
Danieal kembali membeku tidak tahu harus merespon pernyataan tadi seperti apa. Ia dilingkupi kebahagiaan, tetapi tidak tahu bagaimana bereaksi.
"Apa Mas tidak percaya?"
Pertanyaan lain lagi berdengung cepat menyadarkan Danieal dari lamunan.
"A-ah, bukan seperti itu, hanya saja... hanya saja bagaimana bisa?" Danieal bimbang sekaligus masih tidak mengerti.
Jasmine mendengus pelan, kepala berhijabnya mendongak ke atas memandangi langit-langit ruangan.
Putih mendominasi, cahaya mentari masuk ke dalam memberikan kecerahan. Semilir angin dari AC yang dinyalakan memberikan ketegasan pada perasaan.
Lengkungan bulan sabit muncul menambah kecantikan wanita keturunan Mahesa tersebut.
Manik indahnya menutup perlahan, dan beberapa saat kemudian terbuka lagi.
"Aku sadar saat melihat senyumanmu hari itu. Seolah mengatakan, selamat tinggal, semoga kamu hidup dalam kebaikan. Aku tidak menyesal sudah melakukan ini, itulah yang aku pikirkan."
"Melihatmu tidak sadarkan diri dengan bersimbah darah menyadarkan ku pada perasaan aneh ini. Jika-" Jasmine menolehkan wajahnya pada Danieal lagi. "Aku mempunyai perasaan sama sepertimu, Mas... aku tidak ingin melihatmu terluka."
"Dan... aku tidak bisa kehilanganmu. Terima kasih sudah bertahan dan mendengarkan semua yang aku katakan ini," ungkap Jasmine lagi.
Sepasang jelaga itu kembali melebar menyaksikan senyum tulus nan ikhlas seorang Jasmine. Danieal terharu, benar-benar tidak percaya mendengar semua ungkapan isi terdalam wanita pujaannya.
Seketika itu juga air mata mengalir tak terbendung. Ia menangis dalam diam berusaha menahan isakan agar tidak terdengar seraya menunduk dalam menyembunyikannya.
Melihat reaksi yang diberikan Danieal, Jasmine pun mengatupkan bibir rapat berusaha menahan air mata bahagia. Namun, sekuat apa pun ditahan, kristal bening itu tetap mengalir di kedua pipi.
Buru-buru ia mengusapnya kasar dan beralih ke belakang punggung tegap sang dokter. Jasmine meyakini jika ada bekas tusukan anak panah keluarga Mahesa di sana.
Luka itu bahkan hampir merenggut nyawanya yang membuat ia benar-benar menyesal. Ini pertama kali dalam hidup seorang Jasmine, seseorang rela mengorbankan diri sendiri untuk melindunginya.
Jasmine sangat tersentuh atas pengorbanan yang dilakukan Danieal. Tanpa pikir panjang dokter menawan itu melemparkan diri sendiri mencegah anak panah agar tidak mengenainya.
Dari sana Jasmine sadar jika ia pun mempunyai perasaan yang sama, tetapi ia tidak tahu harus mengekspresikannya seperti apa.
Ia takut Danieal terluka olehnya dan menolak pernyataannya waktu itu, tetapi sekarang Jasmine ingin melindunginya juga dengan cara yang sama.
__ADS_1