Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 4 CHAPTER 24


__ADS_3

Ini pertama kalinya Ayana melakukan imunisasi kedua buah hati tanpa keberadaan sang suami. Biasanya ia dan Zidan akan sama-sama menggendong buah hati mereka, penuh suka cita.


Namun, sekarang keadaan berubah. Karena Zidan masih disibukkan dengan latihan dan latihan. Sebentar lagi pianis berbakat itu akan melakukan konser di kota sebelah.


Banyak waktu terlewati, ia hanya berada di rumah hanya beberapa jam saja dan setelah itu pergi kembali ke studio. Zidan lebih banyak menghabiskan hari berada di sana ketimbang bersama sang buah hati serta istrinya.


Meskipun begitu, Ayana tetap mendukung dan memberikan semangat penuh pada pasangan hidupnya. Karena bagaimanapun juga Zidan melakukan itu untuk kebahagiaan mereka.


Ia tidak bisa mencegah ataupun berkata tidak pada perjuangan sang suami dalam menafkahinya.


Zidan melakukan itu semua juga guna memberikan yang terbaik bagi keluarga kecilnya. Ia ingin menyenangkan mereka dengan kerja kerasnya sendiri.


Zidan tahu, walaupun Ayana sudah bisa menghasilkan uang, tetapi tugasnya sebagai seorang suami ingin memanjakannya jauh lebih besar. Ia ingin menebus kesalahan yang pernah dilakukannya dulu. Ada harga yang harus dibayarnya atas semua air mata keluar dari sang istri.


Kerja keras yang dulu tidak pernah dirinya berikan, Zidan ingin membalasnya pada masa sekarang. Ia terlalu dilenakan oleh cinta buta yang pada akhirnya memberikan penyesalan. Ia terlalu fokus pada istri kedua dan mengabadikan istri pertama.


Sedari tadi Ayana terus bermain ponsel, menghilangkan jenuh dan mengalihkan perhatian. Siang ini ia sedang mengantri untuk imunisasi Ghazali dan Ghaitsa di bidan terdekat.


Bayi kembarnya nampak nyaman berada di stroller. Mereka terus berceloteh sembari mengigit teether kesukaannya. Sesekali Ayana akan berpaling pada keduanya dan ikut mengembangkan senyum lebar.


Tidak lama setelah itu ada seorang ibu duduk di sebelah. Ayana yang masih fokus pada ponsel tidak menyadari keberadaan wanita tersebut. Hingga suara asing tertangkap pendengaran membuat ia sedikit terkesiap.


"Apa mereka kembar?" tanyanya.


Secepat kilat Ayana menoleh ke samping mendapati wanita berhijab lebar tengah mengembangkan senyum.


"Ah... iya mereka kembar," balas Ayana kemudian.


"Maa syaa Allah, mereka menggemaskan sekali." Puji wanita itu dan mengajak Ghazali serta Ghaitsa bermain sebentar seraya mencondongkan tubuh mendekati mereka.


"Terima kasih," balas Ayana singkat.


Wanita itu kembali menegakkan dirinya dan membalas tatapan sang lawan bicara lagi.


"Berapa bulan?" tanyanya kemudian.


"Alhamdulillah, sudah sembilan bulan. Putri Anda?" tanya balik Ayana ketika melihat wanita di sampingnya tengah menggendong seorang bayi.


"Baru satu bulan," ungkapnya.


Ayana mengangguk singkat dan menjawil gemas pipi bayi perempuan itu.


"Sayang, ayo giliran kita."


Suara lain menyahut, Ayana dan wanita tadi seketika menoleh ke sumbernya. Di sana ia melihat seorang pria berperawakan tinggi berdiri tepat di sisi wanita itu.

__ADS_1


"Ah, kalau begitu kami duluan. Mari," ucapnya sembari mengangguk ramah.


"Iya, silakan," jawab Ayana lalu melihat kepergian mereka.


Ia mengembangkan senyum haru melihat keduanya nampak bahagia, saling merangkul satu sama lain. Bagaikan gambaran keluarga kecil nan harmonis ada di mereka.


Ayana mendengus pelan dan kembali menghadap putra-putrinya.


"Sayang, apa kalian merindukan ayah? Biasanya ayah akan menemani kita imunisasi, tetapi sekarang... ayah sibuk dengan latihan," celoteh Ayana memandangi anak kembarnya bergantian.


"Tetapi, kita harus tetap memberikan semangat untuk ayah agar bisa memberikan pertunjukan yang terbaik," lanjutnya lagi menyemangati diri sendiri.


Tidak lama setelah itu gilirannya pun tiba. Ayana mendorong dua stroller sendirian mengundang simpati orang lain.


Namun, meskipun begitu Ayana sama sekali tidak keberatan. Ia sangat senang bisa melakukan tugas sebagai ibu bagi kedua buah hatinya.


...***...


Malam menjelang, setelah Ghazali dan Ghaitsa di imunisasi, kedua buah hatinya tidak berhenti menangis.


Mereka terus saja merengek membuat Ayana kelimpungan. Ia menggendong mereka bergiliran berusaha menenangkan.


Ia pun semakin bertambah panik saat Ghaitsa maupun Ghazali demam. Ia tahu itu adalah gejala dari imunisasi siang tadi.


"Sayang, Mamah mohon berhenti menangis, yah. Mamah tahu kalian pasti tidak enak badan, kan? Sabar yah, Sayang."


Ayana terus menimang-nimang Ghazali yang masih menangis. Di atas tempat tidur Ghaitsa pun terisak kuat.


Ayana berjalan mendekat dan memberikan tepukkan pelan di punggungnya.


"Sakit yah, Sayang bekas suntikan nya? Sabar yah Sayang, sebentar lagi kalian pasti akan baik-baik saja."


Ayana berusaha menenangkan mereka, walaupun ia sendiri pun sangat khawatir. Mau tidak mau ia menggendong keduanya.


Ghazali dipindahkan ke belakang punggung dan setelah itu memangku Ghaitsa lalu menimangnya bersamaan.


Suara tangis kedua buah hatinya semakin kencang. Ayana yang baru saja memberikan obat pada mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi.


Ghazali dan Ghaitsa juga sama-sama tidak mau minum asi. Mereka terus saja menangis tanpa jeda.


Ayana berusaha keras untuk menenangkan keduanya, dan mencoba tenang di tengah kelimpungan yang kian marak dalam dada.


Tanpa sadar air mata menitik tak tertahankan. Ia menghapusnya kasar, berusaha tegar menghadapi semua itu sendirian.


Ia berusaha menghubungi Zidan, tetapi sang suami tidak mengangkat panggilannya sekalipun. Ayana bertambah kalang kabut menghadapi tangisan kencang Ghazali dan Ghaitsa.

__ADS_1


Sampai satu setengah jam kemudian, kedua buah hatinya terlelap juga. Perlahan-lahan, Ayana menidurkan mereka di tempat tidurnya.


Ia menghela napas kasar dan menjatuhkan diri sendiri di sofa tunggal.


"Ya Allah," gumamnya sembari mengusap wajah yang dipenuhi peluh.


"Biasanya di saat rewel seperti ini, mas Zidan ada di sampingku. Sekarang dia sedang sibuk latihan... Ya Allah, hamba sangat merindukannya," gumam Ayana memandangi wajah malaikat kecilnya.


Ditemani dengan linangan air mata, Ayana mengistirahatkan tubuh letih di sofa. Bola matanya bergulir ke atas melihat jam dinding telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


Ayana kembali berusaha menghubungi Zidan, tetapi baru beberapa kali ponselnya tersambung pintu kamar dibuka seseorang.


Ia langsung menoleh ke sana dan mendapati Zidan masuk ke dalam.


"Assalamu'alaikum, aku pulang," sapa nya lembut sembari menutup pintu.


"Wa'alaikumsalam," balas Ayana lirih dan bangkit dari duduk.


Baru saja Zidan berbalik, ia langsung dikejutkan dengan tubrukan sang istri. Dahi tegasnya mengerut dalam merasakan tubuh kekasih hatinya bergetar.


"Sayang? Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" tanyanya, khawatir.


"Aku... merindukanmu. Kenapa Mas susah sekali dihubungi?" celotehnya terus mengeratkan pelukan.


Zidan terkesiap dan mendorong pelan tubuh kekasih hatinya. Ayana pun mendongak memperlihatkan wajah berair.


Sang pianis terkekeh pelan dan mengusap jejak air mata di pipi Ayana. Ia pun menangkup wajah cantiknya seraya memandanginya lekat.


"Aku minta maaf. Aku tidak sempat membuka ponsel tadi, dan saat latihan selesai... aku langsung pulang tidak melihat ponsel sama sekali. Maaf," jelas Zidan.


"Aku khawatir... aku sangat khawatir, kedua anakmu menangis kencang tadi. Mereka habis imunisasi," jelasnya.


"Benarkah? Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku?" tanya Zidan, terkejut.


"Karena aku tidak ingin mengganggu latihan mu, tetapi ternyata... aku tidak bisa mengatasinya sendirian," adu Ayana kembali menitikkan air mata.


Zidan mengusapnya lagi dengan lembut.


"Maaf, aku melimpahkan tanggungjawab anak-anak padamu sepenuhnya." Zidan langsung mengecup dahi, kedua mata, pipi, hidung, dagu dan berakhir di benda kenyal manis sang kekasih hati.


Ayana yang terlena akan sentuhan suaminya ikut ke dalam permainan. Mereka saling memberikan penyatuan yang memabukkan. Begitu melenakan setiap pergerakan yang keduanya mainkan.


Hingga tidak menyadari jika ada rasa lelah di pundak keduanya.


"Tidak apa-apa, aku senang kamu kembali," lirih Ayana dan mereka kembali melanjutkan aktivitas tersebut.

__ADS_1


__ADS_2