Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 66


__ADS_3

Asha membentang membentuk sebuah harapan baru kian melebur. Imajinasi semakin bermain untuk bisa berjuang mendapatkan keinginan.


Mimpilah setinggi langit dan bertahanlah sedalam lautan. Lupakan rasa sakit dan biarkan masa depan mengambil alih.


Kapal bisa berjalan baik di atas lautan jika sang nahkoda bisa bekerja sama. Begitu pula dengan mahligai rumah tangga, pasangan suami istri harus bisa saling bekerja sama dalam hal apa pun.


Sendiri bukan berarti sepi, dan kosong bukan berarti senyap. Di balik itu semua terdapat kebaikan yang tidak pernah diduga sebelumnya.


Masa akan mengantarkan takdirnya sendiri seperti apa kehidupan seorang protagonis berjalan. Akhir hanyalah sebuah ajal yang kapan saja bisa menjemput.


Di balik kisah yang telah Ayana jalani selama ini, sudah banyak lika-liku terjal menghampiri. Kini tinggal mengecap manisnya dari sebuah perjuangan.


Bertahun-tahun berkelana tanpa tujuan, dikhianati oleh pasangannya sendiri, menjadikan Ayana berubah menjadi wanita kuat nan tangguh.


Ia tidak membiarkan siapa pun mengambil alih kebahagiaannya. Sekuat tenaga Ayana akan mempertahankan apa yang sudah dirinya dapatkan sekarang.


Hari ini ia berada di kediaman orang tua sambungnya. Sedari tadi ia terus mondar-mandir di ruang depan menunggu seseorang.


Berkali-kali ia melihat ponsel dalam genggaman berharap ada panggilan telepon. Namun, sampai detik ini orang yang ditunggunya tak jua menghubungi ataupun menampakan batang hidung.


"Sudahlah, Sayang... nanti juga kakak dan kakak ipar mu datang." Sang ibu menghampiri seraya memeluk stoples keripik singkong kesukaannya.


Celia duduk di sofa seraya menikmati makanan ringan, kedua maniknya tidak pernah lepas dari putri bungsunya yang nampak gelisah.


Sedetik kemudian Ayana menghentikan langkah lalu menoleh pada sang ibu.


"Mamah? Bagaimana bisa Mamah santai seperti ini? Apa Mamah tidak penasaran mas Danieal dan Jasmine sekarang di mana?" cerocos nya menghampiri sang ibu.


Celia mendengus pelan sambil mengembangkan senyum. Ia meletakkan camilannya di atas meja dan menggenggam kedua tangan sang putri.


Ia lalu membawanya duduk dan memandangi Ayana dalam.


"Duduk, kamu sedang hamil, Sayang. Seharusnya kamu memperhatikan kandungan mu ini." Kini giliran Celia berceloteh seraya mengusap perut membuncit Ayana.


"Maaf... aku hanya merindukan mereka. Sudah tiga minggu mereka berada di negara orang, tetapi... seminggu terakhir ini baik mas Danieal maupun Jasmine tidak menghubungiku sama sekali. Aku hanya khawatir," jelas Ayana memanyunkan bibir pelan.


"Mamah mengerti, Sayang, tetapi... kamu juga harus paham jika mereka masih pengantin baru. Kamu harus memberikan sedikit ruang untuk mereka."


"Mamah tahu, kamu sangat perhatian dan menyayangi mas Danieal serta Jasmine, tetapi... mereka juga membutuhkan waktu tanpa kehadiranmu," jelas Celia mengusap puncak kepalanya sayang.


Ayana hanya menganggukkan kepala singkat, pandangannya jatuh ke bawah seolah tengah memikirkan sesuatu.

__ADS_1


Di tengah keheningan antara ibu dan anak itu, suara mesin mobil berhenti di pekarangan. Ayana terkesiap dan buru-buru berjalan ke ambang pintu.


Melihat aksi calon ibu itu membuat Celia bangkit dari duduk. Ia menggelengkan kepala beberapa kali masih dengan memperhatikan Ayana.


Tidak lama berselang dua sosok yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ayana langsung menerjang kakak iparnya erat, terharu bisa melihat mereka lagi.


"Selamat datang kembali," bisik nya dengan suara gemetar.


Jasmine maupun Danieal bingung dibuatnya, mereka saling pandang seolah bertanya dalam benak apa yang terjadi pada Ayana?


Satu-satunya orang bisa mereka tanyai adalah Celia. Namun, sang ibu menggendikkan bahu tidak tahu apa yang sedang terjadi pada putrinya.


"Ayana kenapa, Mah?" tanya Zidan yang baru selesai memarkirkan mobil, habis menjemput pengantin baru itu di bandara.


"Mamah tidak tahu, istrimu tiba-tiba saja menangis," balas Celia.


Zidan pun menepuk pundak Ayana untuk menyadarkannya. Sang pelukis pun melepaskan pelukannya dari Jasmine lalu memandangi keduanya bergantian.


"Kamu kenapa, Ayana?" tanya Danieal penasaran.


"Kenapa kalian lama sekali perginya? Juga... kenapa tidak menghubungiku seminggu ini? Apa Mas dan Jasmine tahu? Aku di sini sangat mengkhawatirkan kalian. Aku takut... aku takut tidak bisa melihat kalian lagi." Ayana semakin terisak dan menangis kencang seperti anak kecil.


"Hei, Sayang... apa yang kamu bicarakan? Bagaimana mungkin kamu tidak bisa melihat kakak dan kakak ipar mu lagi." Zidan mengusap-usap punggung sang istri menenangkannya.


"Ha-habisnya... habisnya Mamah bilang aku mengganggu Mas Danieal dan Jasmine. Apa artinya aku tidak boleh menghubungi kalian lagi?" Ayana kembali menjerit histeris di pekarangan rumah.


Melihatnya seperti itu ketiga orang di sana pun langsung beralih pada Celia. Sang ibu yang ditatap seperti itu langsung menggelengkan kepala dan melambaikan kedua tangan.


"Tidak seperti itu, ini hanya salah paham. Kalian tahukan bagaimana kondisi ibu hamil? Dia gampang sensitif dan lebih perasa. Ucapan Mamah yang didengar Ayana hanya salah paham," balas Celia membela diri.


Mereka pun mengangguk setuju dengan hormon orang hamil. Danieal berjalan mendekati sang adik dan memeluknya erat.


"Sudah, jangan menangis. Mamah tidak mungkin bermaksud seperti itu, juga... bagaimana bisa kamu mengganggu kami? Itu tidak benar," ucapnya mencoba meredakan tangis sang adik.


Perkataan Danieal pun membuahkan hasil, Ayana menghentikan tangisannya lalu mendongak memandangi sepasang manik kakaknya.


"Benarkah itu, Mas?" tanyanya dengan mata berbinar.


"Tentu saja, bagaimana mungkin adik Mas yang cantik ini mengganggu kami." Danieal mencubit pipi berisi Ayana pelan.


Sang empunya hanya terkekeh dan kembali mengusap air mata.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu ayo kita masuk dan bongkar belanjaan kalian. Apa ada oleh-oleh untukku?" Ayana langsung menyambar koper mereka dan menariknya ke dalam.


Zidan, Danieal, Jasmine, serta Celia yang memperhatikannya sedari tadi menggelengkan kepala. Mereka tidak menyangka perubahan signifikan yang terjadi pada Ayana mengubah kepribadiannya.


Tidak ada lagi Ayana yang tegas, kharismatik, tangguh, yang tersisa hanyalah sikap cengeng dan ingin dimanja nya saja.


"Hei, mau sampai kapan kalian berada di sana terus? Ayo masuk... aku dan ayah sedang membongkar koper mas Danieal dan Jasmine," teriak Ayana dari dalam mengejutkan.


Buru-buru keempat orang itu juga melangkahkan kaki masuk dan tersenyum senang.


Di ruang keluarga tersebar berbagai macam oleh-oleh yang sudah dibeli Jasmine dan Danieal. Mulai dari makanan sampai pakaian ada di sana.


Dengan senang Ayana menerima buah tangan dari mereka. Ada pakaian bayi juga yang sangat lucu membuat calon ibu itu terharu.


"Bagaimana bulan madu kalian di sana?"


Disela-sela keriuhan membongkar belanjaan, pertanyaan sang ayah datang pada pengantin baru itu.


"Alhamdulillah, semuanya lancar, Yah," balas Danieal.


"Tidak terjadi sesuatu?" Kini giliran Zidan memberikan pertanyaan yang duduk tidak jauh dari mereka.


"Tentu saja ada."


Jawaban itu datang dari wanita di sampingnya yang masih mengubek belanjaan Danieal serta Jasmine.


"Apa yang kamu maksud Ayana?" tanya sang kakak, penasaran.


Ayana mengangkat kepala memandangi mereka bergantian.


"Bukankah terjadi sesuatu? Kalian sedang mempersiapkan untuk memberikanku keponakan, bukan? Kalian pasti giat melakukannya."


Tanpa rasa malu Ayana melayangkan pertanyaan seperti itu. Danieal tertawa gamang, sedangkan Jasmine menunduk dengan wajah merah padam.


Adnan dan Celia hanya tertawa senang, tidak habis pikir dengan cara Ayana menyampaikan perkataan tadi.


Pelukis cantik itu hanya terkekeh tanpa dosa dan kembali pada kegiatannya sendiri. Zidan yang ikut tercengang pun memandangi pasangan pengantin baru itu tengah dilingkupi malu-malu kucing.


"Apa benar... apa yang dikatakan istriku?" bisik nya pada Danieal.


Kakak iparnya itu pun mengangkat kepala dan terbelalak lebar. Zidan tidak bisa menahan tawa dan ikut tergelak bersama kedua mertuanya.

__ADS_1


Kehangatan keluarga mereka begitu tulus, tidak ada ketegangan ataupun kepelikkan melanda, yang ada hanyalah kebahagiaan.


__ADS_2