
Teruslah menebar kebaikan, meskipun tidak dihargai, dianggap sok baik, tetapi bisa jadi berkat itu dapat mempengaruhi orang lain.
Seperti yang Ayana lakukan saat ini. Awal kedatangannya ke sana ingin meminta bantuan, tetapi dorongan untuk memberikan semangat juang begitu kuat.
Ayana melupakan tujuannya dan nampak akrab bersama putri dari presdir Han. Ia menyadari, Saida adalah wanita yang luar bisa.
Ia mampu menyandang sebagai violin dengan berbagai penghargaan serta piagam. Meskipun sosoknya tidak ada yang tahu, tetapi berkat keberadaan Saida, banyak anak-anak terinspirasi darinya.
Ayana mendengarnya sendiri dari Saida jika dirinya memang ingin menjadi seseorang yang bisa menginspirasi banyak orang. Terutama nasibnya yang sama seperti dia.
Ayana terharu dan ikut senang mengetahui niat baik tersebut. Hingga tanpa sadar kegelapan menguasai, mereka pun mengakhiri pertemuan itu dengan baik.
Ayana berkata jika lukisannya sudah selesai, ia akan kembali ke sana. Setelah itu ia pamit pulang, sebab masih banyak yang harus dilakukan.
Di tengah perjalanan Ayana mendapatkan panggilan dari Bening dan langsung menerimanya.
"Assalamu'alaikum, iya mbak ada apa?" tanyanya.
"Wa'alaikumsalam, kamu masih di jalan?" tanya balik Bening mendengar deru mesin mobil.
"Iya, aku baru mau kembali ke ibu kota. Kenapa?" Ayana penasaran kenapa wanita itu menghubunginya.
"Baiklah hati-hati di jalan, mbak hanya ingin memberitahu jika kita sudah mendapatkan infomasi yang memberatkan Bella. Wanita itu dalam waktu singkat bisa langsung mendapatkan ganjarannya. Juga ... ada seseorang yang bisa membantu kita menegakan hukum bagi penguasa itu," ucap Bening menjelaskan.
"Benarkah? Kalau begitu kita haru secepatnya segera bertindak, jika tidak ... aku yakin mereka bisa kembali berulah," kata Ayana lagi.
"Em, kita harus menyusun strategi baru. Kalau begitu mbak tunggu di sini."
Setelah itu panggilan pun berakhir. Ayana bergegas melajukan kendaraannya untuk bisa sampai secepatnya ke ibu kota.
...***...
Seminggu berlalu, sejak saat itu Ayana kembali mengunjungi kediaman Yara dan Saida. Ia mulai akrab bersama mereka dan meyakinkan keduanya untuk membuat presdir Han sadar.
Tanpa mengelak ibu dan anak tersebut pun menyetujui idenya. Ayana kini sudah berhasil mengantongi kelemahan pria tua itu dan tinggal menunggu waktu tepat untuk memberikan kejutan.
Di hari ke delapan, Ayana datang ke rumah sakit untuk menjenguk sang suami lagi. Ini kunjungan keenamnya ke sana dan masih mendapati Zidan menutup mata.
Ia sudah mendapatkan izin untuk bisa masuk ke dalam ruang inap. Ia duduk di kursi sebelah ranjang menatap lekat wajah tirus suaminya.
__ADS_1
"Mas, bangun. Mau sampai kapan kamu mengabaikan ku seperti ini? Bangun Mas," ucap Ayana lirih.
Tanpa sadar air mata menetes membasahi punggung tangan. Ayana pun menghapusnya kasar lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Bola matanya berulir ke pergelangan sebelah kiri melihat arloji menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
Kedua irisnya sudah sangat lelah dan mengantuk. Selama seminggu ini Ayana terus bolak-balik ibu kota dan desa tempat tinggal keluarga presdir Han.
Luka lebam di wajahnya pun mulai menghilang, Ayana sudah seperti sebelumnya lagi. Ia sangat bersyukur di balik gempuran kejadian mengerikan sembilan hari lalu, depresinya tidak kembali.
Sangking semangatnya memburu informasi mengenai kelemahan presdir Han dan Bella, Ayana jadi tidak sempat memikirkan diri sendiri.
Namun, hal tersebut sangat berefek baik baginya. Ayana tidak lagi terpuruk dan terus berjuang guna memberikan permainan lain.
Entah sadar atau tidak ia tertidur di sebelah sang suami. Ia meletakkan kepala berhijab itu di lipatan kedua tangan dan menutup mata rapat.
Jam demi jam berlalu, di tengah malam sang pasien menggerakkan jari jemarinya. Kegelapan yang semula menguasai kini cahaya temaram tertangkap pandangan.
Kelopak mata itu perlahan terbuka menampilkan lagi iris cokelat kelamnya. Zidan sadar dari koma dan memandang langit-langit ruangan.
Ia diam beberapa saat mengingat apa yang sudah terjadi. Sampai ia pun menyadari sesuatu, Zidan takut Ayana kembali meninggalkannya sama seperti kecelakaan waktu itu.
Deru napas wanitanya terlihat tenang seolah berada dalam buaian mimpi indah. Bibir pucat di balik masker oksigen itu melengkung perlahan.
"A-Yana," panggilnya lirih.
Namun, bisa menyadarkan sang empunya. Ayana terbangun dan seketika terperanjat merasakan tatapan seseorang.
Ia menegakkan tubuhnya lagi lalu terkejut melihat sepasang onyx tengah memandanginya.
"Mas ... Mas sudah sadar? MasyaAllah, Alhamdulillah, terima kasih ya Allah." Ayana heboh dan lega melihat sang suami bangun dari koma.
Tidak lama setelah itu Ayana pun memanggil Abizar untuk memeriksa keadaan Zidan.
Danieal serta Haikal pun turut datang dan melihat sang pianis sudah sadarkan diri.
Sebagai seorang kakak, Danieal lega melihat suami dari adiknya membuka mata lagi.
"Kamu senang melihat dia bangun?" tanyanya pada Ayana yang tepat berdiri di sebelah.
__ADS_1
Tanpa menoleh ke arahnya Ayana mengangguk berkali-kali. "Lebih dari senang ... aku sangat bahagia dan beruntung ... masih diberikan kesempatan untuk melihatnya kembali."
"Justru, dia yang beruntung bisa mendapatkan kesempatan untuk bersamamu dan juga ... mendapatkan cintamu lagi." Perkataan Danieal tadi seketika menyadarkan Ayana.
Ia menggerakkan kepala ke sebelah menyaksikan bulan sabit bertengger di wajah tampan sang kakak.
Perlahan manik bulatnya membola mendengar penuturan Danieal barusan.
"Kenapa? Apa Mas salah bicara?" tanya dokter itu lagi dan lagi.
"Kenapa Mas bertanya seperti itu?" Ayana pun penasaran.
"Eh? Bukankah kamu sudah membuka hati untuknya lagi? Buktinya kamu menangis di kapal waktu itu dan ... kamu berjuang mendapatkan kelemahan presdir Han untuk memberinya pelajaran, kan? Karena sudah membuat Zidan seperti ini?" tutur Danieal panjang.
Ayana terdiam beberapa saat, pandangannya kembali mengarah pada Zidan yang masih berada dalam penanganan dokter.
"Cinta? Apa aku sudah jatuh cinta lagi?" tanyanya entah pada siapa.
Danieal yang melihat itu pun menghela napas pelan.
"Jika masih belum yakin, lebih baik lepaskan Zidan. Dia tidak bisa menjalin hubungan bersama seseorang karena kasihan semata. Dia-"
"Aku-" Tanpa sadar Ayana meninggikan suara memotong perkataan sang kakak. Kepala berhijabnya kembali menatap sang lawan bicara.
"Aku tidak mengatakan ... aku kasihan padanya. Aku hanya-"
Danieal mengembangkan senyum dan memberikan tepukan pelan di pucak kepalanya.
"Em, Mas mengerti. Kamu masih belum yakin, tidak apa-apa pelan-pelan saja," katanya.
Ayana memandang lurus ke bawah memikirkan perkataan Danieal. Cinta? Ia mencoba merasakan perasaan itu sekali lagi.
"Cinta? Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Mas Zidan sudah benar-benar mencintaiku. Dia bahkan rela mengorbankan dir sendiri untuk menyelamatkanku. Apa aku?" monolog Ayana dalam benak yang kini kembali memandangi sang suami.
Di sana ia melihat Zidan tengah berkomunikasi dengan Abizar. Sang dokter menjelaskan mengenai kondisinya saat ini.
Masker oksigen pun sudah dilepas yang kini memperlihatkan wajah tampan nan pucat nya.
"Aku harus memastikannya sendiri," lanjut benak Ayana.
__ADS_1