
Kenyataan menampar keras saat satu fakta mencengangkan tengah terjadi. Setibanya di rumah, Bella langsung bertandang ke kamar mengacak-ngacak barang-barang di dalamnya. Ia mencari dan terus mencari sebuah album masa lalu.
Tidak lama berselang barang yang diinginkan pun berhasil di dapatkan. Ia melihat album sekolah yang beberapa tahun hanya menjadi pajangan di sana.
Ia membuka dengan cepat lembar demi lembar mencari deretan nama-nama sekelas. Ia pun terkejut kala mendapati satu nama terpampang nyata.
"Benar dugaanku. Nama panjang Ayana adalah Ghazella. Aku harus memotretnya sebagai bukti." Bella merogoh saku jaket kulitnya membawa ponsel lalu langsung mengarahkan kamera ke salah satu foto teman sekelasnya.
Di sana ia melihat wanita berhijab segiempat itu tengah tersenyum dengan dua suku kata di bawahnya, Ayana Ghazella.
Keesokan harinya, Bella langsung pergi mencari di mana sosok Ayana itu berada. Ia mulai mengintrogasi beberapa karyawan di perusahaan Arfan.
Salah satu dari mereka pun memberitahu jika Ayana adalah pelukis pendatang baru yang sedang bekerja sama dengan Arfan. Ia juga sudah mendirikan toko lukisannya sendiri di sebelah timur kota.
Magnolia, tulisan di jendela besar bangunan itu pun terpampang nyata. Bella menghentikan mobil tidak jauh dari sana sembari melihat ke arah ponsel beberapa kali.
Ia memperhatikan kedua objek tersebut dan mencocokkannya satu sama lain. Bibir merah meronanya pun tersungging menyaksikan wanita di dalam sana.
"Kali ini kamu tidak akan bisa mengelak, Ayana," gumamnya yakin.
Ayana yang baru saja membuta toko lukisannya dikejutkan dengan kedatangan seseorang. Ia berbalik menyaksikan wajah penuh makna disertai sorot mata tajam.
"Oh jadi begini kelakuanmu di belakang kami? Kamu berpura-pura mati dan menjadi orang lain untuk menipu kami? Dan sekarang ... kamu bahkan merebut pria yang aku cintai. Kenapa? Apa kamu ingin balas dendam padaku? Karena saat itu aku sudah mengkhianatimu?" tutur Bella panjang lebar.
Ayana diam, membungkam mulut rapat mendengar ocehan wanita yang tidak diundangnya sama sekali. Ia lalu mengikuti ke mana Bella pergi yang terus melangkahkan kaki melihat-lihat hasil karyanya.
"Aku tidak menyangka, sekarang kamu seorang pelukis? Wow, sungguh kejutan yang tidak terduga," kata Bella masih memandangi karya Ayana.
Sedetik kemudian ia menoleh pada wanita berhijab di belakangnya. Sebelah sudut bibir itu terangkat, seolah tengah meremehkan.
__ADS_1
"Apa kamu benar ingin membalas semua perbuatan kami? Ayana, kamu benar-benar naif. Aku tidak menyangka kamu bisa berpikir picik sepert ini." Bella terus meracau tanpa henti.
Ayana menghela napas pelan dan membalas tatapannya tak kalah tajam. "Apa Anda sudah selesai bicara?" Bella terperangah, nada dingin serta sorot mata mengintimidasi tepat mengarah padanya.
"Saya tidak tahu apa yang sedang Anda ocehkan sedari tadi. Saya juga tidak mengerti maksud Anda berkata seperti itu. Ayana-Ayana-Ayana, siapa wanita itu? Kenapa kalian selalu membawa-bawa nama itu di hadapan saya?" kini giliran Ayana menimpali.
Bella tertawa kencang membuat suaranya bergema di ruangan. Ia melipat tangan di depan dada seraya memberikan senyum mengejek.
"Benar-benar akting yang luar biasa. Apa selama satu tahun lebih ini kamu belajar menjadi seorang aktor? Aktingmu patut diacungi jempol." Bella benar-benar mengacungkan ibu jarinya.
Ayana mendengus kasar, menoleh ke sebelah singkat. "Apa perlu saya menunjukkan bukti jika-"
"Jika kamu adalah Ayana? Istri Zidan yang sudah dikhianatinya bersamaku? Kamu-"
Ayana berusaha mempertahankan ketenangan, meskipun kini degup jantung bertalu kencang. Diam-diam ia mengepalkan kedua tangan erat menunggu apa yang hendak Bella sampaikan lagi.
"Kamu adalah Ayana Ghazella."
Bayangan hari-hari menyakitkan kemarin datang silih berganti. Bak film kusut di tayangkan kembali, adegannya terus berada di satu titik.
Sakit nan perih, kenyataan menampar kuat jika wanita di hadapannya ini salah satu orang yang sudah menorehkan luka.
Bella dan Ayana, pernah menjadi teman masa sekolah. Wanita yang lahir dari keluarga berada itu pun tidak malu untuk mengakui Ayana sebagai temannya.
Namun, satu kesalahan yang ia buat adalah memperkenalkan Zidan kepada Bella. Meskipun dari awal keduanya sudah saling mengetahui satu sama lain, tetapi mereka tidak pernah berkenalan secara langsung.
Setelah itu terjadi, kedekatan mereka pun terjalin sampai pada sebuah hubungan yang tidak pernah Ayana ketahui.
Pengkhianatan mereka baru terbongkar di usia pernikahan keenam. Selama itu pula Zidan dan Bella bermain-main di belakangnya.
__ADS_1
Zidan layaknya suami setia dan penuh kasih sayang di rumah kala orang tuanya ada. Namun, pada saat ibu dan ayahnya pergi, sang suami menjadi orang asing.
Seperti tidak saling mengenal, Zidan acuh kepada istrinya sendiri. Kadang, pria itu memberikan kata-kata menyakitkan yang tidak pernah Ayana sangka.
Jatuh cinta pada pandangan pertama nyatanya mengantarkan ia pada jurang kesengsaraan. Tidak ada kebahagiaan selama pernikahan yang ia jalani. Bahkan Ayana kehilangan anak yang dibunuh secara paksa oleh ayah sang jabang bayi serta suaminya sendiri.
Kenangan hari-hari itu terus berdengung seiring senyum masih mengembang di wajah Bella. Ayana menatap lekat sosok yang seolah sudah berhasil membongkar rahasianya.
"Apa menurut Anda nama Ghazella hanya satu orang saja yang memiliki? Apa orang lain tidak boleh mempunyai nama yang sama? Lantas bagaimana nama belakang yang saya sandang? Apa saya tidak boleh menggunakan nama keluarga saya?" tutur Ayana membuka suara lagi.
Bella menyaksikan keyakinan serta ketegasan di sana. Ia tidak bisa mundur, firasatnya terus mengatakan jika wanita ini adalah Ayana.
Ayana Ghazella, teman masa sekolah menengah atasnya dulu. Namun, ia juga menyadari suatu hal berbeda dalam diri lawan bicaranya.
"Ayana, tidak mempunyai tahi lalat di bawah bibir dan dagu, tapi ... ah bisa saja kan dia memalsukannya?" benak Bella berkutat dengan diri sendiri.
Di tengah pikirannya yang melalang buana, Ayana pun sibuk mengeluarkan ponsel dan berjalan mendekat. Ia lalu menjulurkan benda pintar itu ke hadapan Bella membuatnya tersentak kaget.
"Saya tidak tahu apa ini bisa membuat Anda percaya atau tidak, tetapi ... saya adalah putri kedua keluarga Arsyad."
Ayana menunjukan foto keluarga sambungnya. Ia juga ada di sana duduk di antara semua anggota keluarga Arsyad.
"Foto ini diambil lima tahun lalu saat saya masih berada di Negara Z. Jadi, mana mungkin saya bisa mengenal Anda," jelasnya.
Namun, semua itu tidak membuat Bella percaya. Ia menyeringai tajam dan ikut mengeluarkan ponsel lalu menunjukan penemuannya.
"Lalu bagaimana dengan ini? Ini adalah kamu sebelas tahun lalu. Foto kelulusan kita saat di bangku sekolah menengah atas."
Ayana menyaksikan dirinya dalam ponsel Bella. Ia melihat foto masa lalu lengkap dengan nama panjangnya.
__ADS_1
Ayana menjatuhkan tangan yang tengah menggenggam benda pintar miliknya seraya terus memandangi Bella. Pianis itu pun menyeringai lebar sudah yakin dengan kemenangan yang ia dapatkan.
"Kena kamu, Ayana," benaknya.