Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 4 CHAPTER 17


__ADS_3

Luka yang tumbuh dalam diri membangkitkan kepedihan tiada akhir. Semua yang terjadi telah berlalu dan sekarang hanya bisa merasakan perihal kejadian melanda.


Apa pun keadaan yang telah berlalu masih membekas dalam diam. Kenangan yang tercipta menyuguhkan memori kian merundung.


Suatu penyakit dalam diri membuat pertahanan terkadang goyah. Rasa sakit muncul membuat perasaan campur aduk.


Bagaikan menelan buah simalakama, apa pun yang terjadi bisa langsung dirasakan.


Namun, ketika mendapatkan pendamping yang benar-benar mengerti pada kenyataan adalah suatu kebahagiaan. Ia bisa mengerti dan memahami kondisi yang tengah dialami. Karena hubungan pernikahan tidak hanya dijalankan seorang saja, tetapi berdua.


Jasmine Magnolia Mahesa, sangat bersyukur mendapatkan suami yang begitu mengerti akan kondisinya. Penyakit yang tengah dideritanya membuat ia tidak percaya diri. Bagaikan penderitaan itu memberikan kekurangan teramat dalam. Anak, menjadi masalah utama pada keluarga yang menginginkan kehadirannya. Namun, semua itu kembali pada keputusan Allah semata.


Sejak pengakuan Jasmine mengenai penyakitnya, selama itu pula Danieal dengan setia berada di sampingnya, mendampingi ia setiap hari.


Danieal begitu penuh perhatian dan ketelatenannya mengurus sang istri tanpa rasa letih. Ia setia mendampingi dan mengasihi tanpa rasa lelah.


Hari demi hari berlalu, kesungguhan Danieal dalam menemani Jasmine berobat begitu penuh kasih sayang. Perasaan tulusnya terasa sampai ke relung hati.


Jasmine bersyukur bisa mempunyai suami yang sangat mencintainya dalam keadaan apa pun.


"Mas... bagaimana kalau aku benar-benar tidak bisa memberikan mu keturunan? Apa lebih baik Mas mencari istri lain saja?" tanya Jasmine tanpa rasa bersalah dan disertai senyum tengah duduk selonjoran kaki di atas tempat tidur.


Danieal yang berada di sampingnya seraya menjulurkan obat pada sang istri pun menghentikan pergerakan, tangannya terhenti di udara begitu saja.


Ia diam beberapa saat memperhatikan lekat wajah sedikit pucat kekasih hatinya.


"Apa yang kamu bicarakan? Bukankah aku sudah mengatakan kalau apa pun yang terjadi aku akan tetap berada di samping mu. Jadi, jangan menyuruh ku mencari istri lain... karena sampai kapan pun tidak akan terjadi," cerocos Danieal serius.


Jasmine terkesiap singkat lalu menundukkan kepala, kembali melengkungkan kedua sudut bibir.


"Em," gumamnya, hanya itu yang diberikan sebagai jawaban.


Danieal menghela napas panjang lalu meletakkan gelas air minum di atas nakas. Ia beranjak dan duduk tepat di samping sang istri.


Tangannya terulur, merangkul bahu sempit kekasih hatinya lalu menariknya pelan. Ia memeluk Jasmine erat lalu memberikan ciuman mendalam di puncak kepalanya.


Jasmine terus mengembangkan senyum lembut dan setelah itu mendongak menyaksikan air muka sang suami serius lagi.


"Apa Mas marah? Aku minta maaf, sungguh... aku tidak bermaksud menyuruh Mas mencari istri baru, hanya saja... itu kekhawatiran ku," jelas Jasmine menepuk perut rata pendamping hidupnya pelan.

__ADS_1


Lagi dan lagi Danieal hanya menghela napas kasar lalu memberikan kecupan di puncak kepala Jasmine kedua kalinya.


"Jangan pernah berkata seperti itu lagi, apa pun kondisi kita... kita akan tetap bersama, selamanya... sampai kapan pun," ungkap Danieal serius, tanpa ingin dibantah.


Jasmine mengangguk singkat dan membalas pelukannya erat, menikmati raksi yang menguar di tubuh kekar sang suami. Elusan demi elusan pelan di punggung sempitnya membuat ia nyaman.


Tanpa sadar kedua mata Jasmine menutup perlahan dan semakin menyamankan posisi dalam pelukan suaminya. Danieal terus memandangi wajah damai sang pujaan dalam diam.


...***...


Kanaya dan Zidan sudah pindah dari rumah orang tuanya sejak beberapa saat lalu. Ia kembali ke mansion nya sendiri dan kini tengah berkumpul bersama di ruang bermain kedua buah hati.


Canda dan tawa berdengung menjadi satu, mengalun di ruangan tersebut. Kehangatan serta kebahagiaan begitu terasa di sana.


Bayi kembar mereka sudah beranjak tiga bulan, Ghazali dan Ghaitsa semakin gempal di usianya sekarang.


Suara renyah dari bayi kembar itu membuat perasaan ayah dan ibu sangat damai.


"Sayang... anak-anaknya Mamah." Ayana mengecup kedua buah hatinya yang tengah berbaring di sofa bayi, berganti.


Ghaitsa dan Ghazali pun semakin tergelak saat Ayana memberikan ciuman bertubi-tubi di perut mereka. Zidan yang sedari tadi menyaksikan interaksi ketiganya ikut mengembangkan senyum lebar.


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (Q.S. Ar-Rahman)


Segala kenikmatan yang terjadi adalah rahmat dari Allah tak ternilai. Kasih sayang-Nya, cinta kasih-Nya tidak bisa dibandingkan dengan apa pun.


"Ya Allah, terima kasih atas segala kelimpahan nikmat yang telah Kau berikan. Hamba benar-benar bersyukur bisa mendapatkan kembali Ayana dan diberi putra-putri luar biasa," benak Zidan dalam diam.


"Mas... Mas... Mas Zidan!" Ayana sedikit meninggikan suara kala memanggil sang suami yang tak kunjung menanggapi.


Zidan terkesiap dan langsung berpaling pada sang istri.


"Iya Sayang?"


"Apa yang sedang Mas lakukan di sana? Hanya berdiri saja? Apa makanan itu hanya sebagai pajangan?" tanya Ayana beruntun sambil menahan gelak tawa.


Zidan kelimpungan, menunduk ke bawah melihat di atas nampan ada dua cheese cake dan susu hangat.


"A-ah iya, aku lupa. Aku senang melihat kalian tertawa bersama seperti itu," jelas Zidan seraya berjalan mendekat.

__ADS_1


Ia lalu meletakkan nampan di atas karpet bulu dan memberikan sepiring makanan manis itu pada istrinya.


"Kenapa tidak ikut bergabung kami saja?" tanya Ayana kemudian memasukkan sepotong cake ke dalam mulut.


"Iya, hanya saja aku sedang menonton kebersamaan kalian," balas Zidan lagi.


Ayana mengembangkan senyum lembut dan mereka sama-sama menikmati makanan ringannya.


Setelah itu Zidan ikut bermain bersama kedua buah hati kembarnya. Sebagai seorang ayah ia sangat mendalami peran dengan baik.


Diam-diam kini Ayana yang tengah memperhatikan suaminya. Lengkungan bulan sabit pun terpendar di wajah cantiknya. Jauh di relung terdalam ia juga sangat bersyukur atas kondisi keluarganya saat ini.


Jauh dari bayangan ia bisa mendapatkan anak kembar, ternyata kehilangan waktu itu dibalas dua kali lipat oleh Allah. Ayana sangat bersyukur dan bisa bernapas lega mempunyai keluarga lengkap.


Malam menjelang, setelah melakukan berbagai aktivitas, Ayana dan Zidan meletakkan Ghazali serta Ghaitsa di box bayi. Wajah damai putra-putri begitu menyejukkan jiwa.


Selepas menidurkan mereka, Ayana merebahkan diri di atas tempat tidur. Kedua tangannya terentang lebar sembari menutup mata rapat.


Melihat hal itu Zidan tersenyum penuh makna. Ia berjalan mendekat dan dengan perlahan merangkak ke atas tubuh terlentang sang istri.


Merasakan seseorang di atasnya kelopak mata itu kembali terbuka. Kedua sudut bibir melebar memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya.


Kedua tangan ramping Ayana terulur dan mengalung di leher jenjang suaminya.


"Apa Mas mau melakukannya?" tawar Ayana hangat.


"Hm? Apa kamu tidak lelah, Sayang?" Zidan mengusap pelipis pujaan hatinya pelan.


Kepala berhijabnya menggeleng singkat, "untuk mu, apa pun akan kulakukan."


Mendapati jawaban seperti itu Zidan menyeringai lebar. Ia sangat terkesan akan balasan yang diberikan Ayana.


"Kalau begitu aku tidak akan menyia-nyiakan nya lagi."


Zidan melayangkan aksinya dengan meraup benda kenyal merah muda berkilau di bawahnya.


Ayana melenguh pelan dan ikut ke dalam permainan. Rasanya begitu memabukkan bagaikan dunia hanya milik mereka berdua saja.


Pasangan suami istri itu sangat serasi dan sinkron dalam melakukan aksi di tempat tidur. Keduanya begitu menikmati kesyahduan yang kian bergelora.

__ADS_1


Ayana dan Zidan terlena akan waktu yang mereka dapati bersama setelah seharian beraktivitas.


__ADS_2