
Tiba-tiba saja ketegangan di meja makan itu terjadi. Kehangatan yang tadi tercipta memudar begitu saja.
Ayana yang baru saja mengutarakan pendapatnya menautkan kedua alis tegas. Ia tidak menduga raut muka masam sang kakak ipar terlihat jelas.
Diam-diam Ayana membaca raut bimbang Jasmine, ada kesedihan yang terpancar di sana.
Sang kakak ipar menggulirkan bola mata ke segala arah berusaha menghindari tatapan semua orang. Ia tidak tahu harus berbuat apa kala mendapati pernyataan yang Ayana cetuskan tadi.
Danieal yang mempelajari tentang psikolog pun tahu jika saat ini istrinya sedang panik.
"Apa benar yang ditanyakan Ayana? Kamu... hamil?"
Jasmine membeku, tidak bisa mengatakan apa pun atau menggerakkan bagian tubuhnya lagi. Ia sangat tidak menduga jika kondisi seperti ini bisa di hadapinya secara langsung.
Pertanyaan yang sama dicetuskan langsung oleh suaminya sendiri. Jasmine hanya bisa meremas kedua tangannya kuat, berusaha tegar pada kenyataan yang mendatanginya.
"A-aku belum memeriksanya, jadi-"
"Apa memang kemungkinan kamu hamil?" tanya Danieal lagi dengan kedua kaki melangkah perlahan.
Sampai ia tiba tepat di hadapan Jasmine membuat wanita itu kelimpungan. Kepala berhijabnya pun bergerak ke sana kemari, menghindari pasangan hidupnya.
Tangan tegap Danieal terulur hendak menggenggam jari jemari sang pujaan. Namun, secepat kilat Jasmine menarik tangannya dan bertatapan langsung dengan sang suami.
"A-ah, maaf. Aku harus pergi!"
Jasmine melarikan diri dari sana memberikan sejuta kebimbangan pada semua orang, terutama Danieal.
Dokter tampan itu menggerakkan kepalanya pelan memandangi ke mana langkah sang istri pergi. Ayana yang mendapati kakak iparnya pergi pun beranjak dari duduk.
Dengan cepat Zidan mencengkram pergelangan tangannya pelan membaut sang empunya menunduk dan melihat suaminya menggeleng pelan.
Ia pun kembali duduk dan membiarkan Jasmine begitu saja untuk sesaat.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa istrimu melarikan diri? Apa pertanyaan Ayana sangat sulit di jawab?" tanya Celia beruntun.
Danieal masih menghadap ke arah istrinya pergi lalu berkata, "Aku tahu... ada sesuatu yang dia sembunyikan."
Ayana melebarkan kedua mata singkat dan setelahnya mengulas senyum simpul.
...***...
Jasmine tiba di sebuah danau tidak jauh dari kediaman suaminya. Kedua kakinya pun lemas seketika dan terjatuh begitu saja.
Ia menangis, meraung, dan memukul-mukul pelan dada sebelah kiri berusaha mengenyahkan rasa sakit yang terus mengendap di sana.
Sudah satu bulan lebih saat ia didiagnosis mengidap PCOS di mana ada kista-kista kecil di ovariumnya. Hal tersebut membuat ia sulit hamil bahkan mungkin tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya.
__ADS_1
Ujian yang datang kali ini membuat ia benar-benar tidak berdaya. Rasanya sangat sakit bagaikan terkena anak panah tepat mengenai sasaran.
"Ya Allah sakit sekali. Apa yang harus hamba lakukan?" gumam Jasmine.
Kedua tangannya meremas rumput-rumput liar sembari memandang ke arah danau. Ia meraung, merunduk, dengan posisi seperti sujud.
Ia menangis sejadi-jadinya membiarkan air mata mengambil alih seperti apa luka menganga di relung terdalam.
Ayana dan Zidan saat ini sedang berjalan-jalan membawa si kecil di area mansion. Mereka sesekali bertemu dengan para tetangga yang menyapanya ramah.
Tetangga di sekitar rumah ikut senang mendengar Ayana sudah melahirkan bayi kembar. Mereka pun mengatakan turut sedih pada saat sang pelukis tersebut mengalami koma.
Ayana dan Zidan mengucapkan terima kasih banyak atas doa-doa yang mereka panjatkan pada mereka.
Pasangan yang baru menjadi orang tua itu pun kembali mendorong stroller kedua bayi kembarnya.
Ghazali dan Ghaitsa terlihat senang menyaksikan langit cerah masuk ke dalam retina. Dunia baru yang mereka lihat sangat menyilaukan pandangan.
Angin sejuk pun berhembus menemani kebersamaan mereka.
"Aku semakin yakin jika Jasmine menyembunyikan sesuatu. Dari gelagatnya tadi ia seolah ketakutan, aku jadi merasa bersalah," kata Ayana kemudian.
"Em, kamu benar, Sayang. Jasmine seolah takut saat mendengar pertanyaan mu tadi," balas Zidan setuju.
"Apa mungkin-" Ayana menghentikan langkah lalu menyamping menghadap suaminya.
"Mungkin apa, Sayang?" tanya Zidan kemudian.
Zidan yang mengerti akan kekhawatiran istrinya pada sang kakak ipar pun mengusap sebelah rahangnya pelan.
"Jangan khawatir, aku yakin semua akan baik-baik saja," katanya lagi.
Ayana hanya bergumam "em" sembari mengangguk singkat.
Setelah itu keduanya melanjutkan jalan-jalan kecilnya membawa sang buah hati melihat dunia luar.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Senja perlahan datang memberikan cahaya hangat begitu menyilaukan.
Sejak tiga jam lalu Jasmine pergi ke galeri Ayana. Seruni yang bekerja menggantikan sang owner pun terkejut kala mendapati kakak ipar pelukis itu datang tanpa pemberitahuan.
Setelah menyapa Seruni singkat, Jasmine langsung masuk ke ruangan samping kasir. Sedari tadi ia terus melakukan hal yang bisa membuat pikirannya teralihkan.
Khawatir terjadi sesuatu, sebab dari tadi Jasmine hanya duduk menghadap meja seraya memunggunginya, Seruni pun menghubungi Ayana.
"Itu benar, Mbak. Mbak Jasmine ada di sini dan sedari tadi terus merancang sesuatu," jelasnya berbisik-bisik, seraya sesekali menoleh ke arah pintu ruangan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi ke sana, pastikan Jasmine baik-baik saja," balas Ayana di seberang sana.
__ADS_1
"Baik, Mbak. Hati-hati di jalan."
Setelah itu panggilan pun terputus, Seruni menghela napas pelan dan melanjutkan lagi pekerjaannya menyapa pengunjung.
Helaan napas lain pun terdengar berat di ruangan. Jasmine diam memandangi batu kristal yang saat ini berada dalam penanganannya.
Bola mata keabuan itu memindai lekat batu cantik tersebut dalam diam. Ia terus memikirkan apa yang harus dirinya lakukan dalam menghadapi keluarganya, khususnya sang suami sekarang.
Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, pintu ruangan dibuka kasar seseorang. Jasmine menoleh ke belakang mendapati adik iparnya datang.
"Ayana? Kenapa kamu-"
"Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu tidak tahu bagaimana khawatirnya aku?" cerocos Ayana sembari berjalan mendekati Jasmine.
Sang pemahat itu pun beranjak dari duduk melihat kedatangan sang adik ipar yang menggebu-gebu.
"A-aku-"
Lagi dan lagi ucapannya terhenti seketika saat Ayana menepuk pundaknya kuat.
"Jangan memendamnya sendiri, kamu tahu... kita sekarang adalah keluarga. Jadi, jangan pernah berpikir sendirian," kata Ayana lagi.
Jasmine melebarkan pandangan. Ia bisa merasakan napas Ayana memburu, menyapu permukaan wajah.
Ia sadar adik iparnya ini buru-buru pergi dan mungkin bisa saja tidak mempedulikan peringatan orang-orang rumah.
"Bagaimana kamu bisa sampai di sini?" tanya Jasmine penasaran.
"Tentu saja aku diberitahu oleh Seruni, juga... aku bawa mobil sendiri."
Mendengar penjelasannya membuat manik Jasmine kembali melebar. Ia mengangkat jari jemarinya dan menyentil dahi lebar Ayana.
Sang empunya mengaduh dan menggosok-gosok keningnya yang sedikit berdenyut.
"Dasar, kamu meninggalkan ponakan kembar ku begitu saja? Apa yang kamu pikirkan, Ayana?" tanya Jasmine, "kamu pasti tidak mengindahkan perkataan mamah," lanjutnya lagi.
"Em, aku sempat adu mulut dengannya," balas Ayana kemudian.
Jasmine mendengus singkat, memperhatikan adik ipar di hadapannya. "Dasar kamu ini. Apa yang-"
Belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja Ayana memeluknya erat. Jasmine kembali terkejut dan merasakan pelukan itu semakin bertambah kuat.
"Ayana, apa yang-"
"Shut! Kamu berisik Jasmine, jangan melarikan diri seperti itu lagi. Aku benar-benar khawatir, tahu!" racau Ayana mencebikkan bibir.
Jasmine yang merasakan ketakutannya pun mengulas senyum simpul dan membalas pelukan Ayana tak kalah kuat.
__ADS_1
"Terima kasih," jawabnya singkat.
Jasmine sangat bersyukur bisa bertemu dengan Ayana, yang bisa memahami dirinya.