
Untuk kesekian kali ia harus terbaring di rumah sakit. Bau yang sudah tidak asing lagi terendus membuatnya terdiam kaku.
Entah sudah berapa jam terlewat ia tidak mengetahui bagaimana keadaan di luar. Ia hanya bisa terdiam, memandang langit-langit dan berada di ruang kedap suara tanpa adanya jendela sedikit pun.
Ia menarik tangan kanan dan mengacungkannya ke depan. Di sana terpasang selang infus di mana bekas jarum masih terlihat jelas.
Ia menghela napas kasar dan meletakan kedua tangan di atas perut.
"Aku berada di posisi ini lagi, ya Allah ada apa dengan kondisi mental hamba? Jujur ... hamba benar-benar lelah. Setiap kali ingatan itu kembali lagi hamba ... merasa ketakutan dan-" Ayana tidak bisa menyelesaikan ucapannya.
Ia menahan isak tangis yang merengsek di dada membuatnya pengap. Ayana kembali menangis tanpa seorang pun di sisinya.
Di tengah air mata yang terus menerus mengalir, samar-samar ia mendengar beberapa orang tengah berbicara.
Ia bangkit dari berbaringnya dan menarik infusan untuk berjalan ke arah pintu. Dahi lebar itu mengerut dalam kala menangkap suara yang dikenalnya.
Ia pun membuka pintu dan berjalan pelan menuju sumber suara. Hanya dalam beberapa meter ia menangkap beberapa orang tengah berbicara bersama di salah satu ruangan.
Di sana ia melihat ada sekitar lima orang pria dengan wajah penuh kekhawatiran. Diam-diam Ayana memperhatikan mereka di balik jendela kecil yang terdapat di pintu masuk.
"Apa kamu bilang? Ayana tidak mungkin mau membunuhku," kata Zidan menatap lekat pengawal sekaligus psikolognya.
"Saya juga tidak begitu yakin dengan apa yang saya katakan, tetapi ... setelah mendapati Tuan Muda tergeletak bersimbah darah di kamar ... saya menyimpulkan jika seseorang berusaha membunuh Anda," kata Haikal kemudian.
"Itu tidak mungkin bagaimana bisa Ayana mau membunuh Zidan," timpal Danieal menatap pria yang memiliki profesi sama.
"Apa kalian meragukan mbak Ayana? Meskipun dalam kondisi terguncang, mbak Ayana tidak mungkin melakukan tindakan sebodoh itu," kata Gibran menatap mereka satu persatu.
"Itu benar, Ayana tidak mungkin memiliki niat itu," balas Zidan lagi.
"Lalu apa niatnya mengambil pecahan kaca?" tanya Haikal kembali.
"Yah mungkin bisa saja Ayana hanya asal mengambilnya. Tidak mungkin dia mempunyai niat buruk seperti yang dibicarakan," ucap Arfan yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Ayana-"
Belum sempat Zidan menyelesaikan ucapannya, suara pintu terbuka mengalihkan pandangan. Semua orang nampak tegang dengan mata terbelalak.
Zidan dan Danieal yang paling terkejut mendapati Ayana di sana. Meskipun bibirnya tersenyum, sorot mata tidak bisa membohongi mereka.
Tatapan penuh luka dan kecewa tercetus di sana. Ayana menatap mereka bergiliran sampai terhenti pada sang suami.
"Aku lelah ... aku sangat lelah," katanya. Air mata meluncur di balik mata sayu itu.
Danieal berjalan mendekat hendak menghapus liquid bening di kedua pipi sang adik. Ayana menepisnya pelan lalu mendongak membalas tatapan kakak sambungnya ini.
"Apa Mas percaya pada pembicaraan mereka? Mas kan yang tadi pagi bertanya padaku ... apa yang sudah aku lakukan pada Mas Zidan?" Ayana menoleh sekilas pada sang pianis dan kembali pada kakaknya.
"Jawab aku Mas, kenapa Mas diam saja? Kenapa kalian semua diam? Apa kalian memang berpikir jika ... aku ingin membunuh Mas Zidan? Karena mentalku yang tidak baik-baik saja? Apa kalian berpikir aku sudah gila? Bisa melakukan apa pun untuk membalaskan rasa sakit ini? Sungguh kalian luar biasa." Ayana terus meracau dengan air mata mengalir tanpa henti.
Ia meremas kedua tangan menyalurkan rasa sakit yang datang bertubi-tubi menimpa hatinya. Ia sakit, tapi tidak ada seorang pun yang percaya padanya.
"Apa Mas juga berpikir hal yang sama? Jika aku mengambil pecahan kaca itu untuk melukaimu?" Ayana beralih pada sang suami.
"Terima kasih untuk semuanya. Aku lelah ... selamat tinggal."
Ayana mencabut kasar selang infus yang mencap tangannya hingga membuat darah berceceran di sana. Setelah itu ia berlari sekuat tenaga meninggalkan rumah sakit.
Kelima pria yang menyaksikan hal tersebut pun seketika berhamburan, bergegas menyusul Ayana. Di tengah kondisinya yang masih belum stabil Danieal maupun Zidan takut ia melakukan hal nekad.
Terlebih Danieal pernah mendapati sang adik berniat mengakhiri hidupnya.
"Astaghfirullahaladzim, seharusnya aku tidak bertanya seperti itu pada Ayana tadi pagi," gumam Danieal di tengah berlarinya.
...***...
Zidan terus berlari dan berlari tidak mempedulikan beberapa pasang mata menatapnya aneh. Orang-orang yang berpapasan dengannya berpikiran jika ia adalah pasien rumah sakit yang melarikan diri.
__ADS_1
Tanpa mengindahkan orang-orang di sekitar, Zidan terus mencari dan mencari keberadaan Ayana.
Tidak terduga hujan pun datang, ia masih menelusuri tempat-tempat di sekitaran rumah sakit. Ia mengunjungi bangunan demi bangunan yang ada di sana berusaha menemuka sang istri.
Tubuhnya sudah basah kuyup dengan guyuran hujan yang semakin lebat. Zidan berlari kembali di sepanjang trotoar menyapukan pandangan ke sekitaran.
Sampai dirinya pun menangkap bayangan seorang wanita yang mirip sekali dengan Ayana. Ia bernapas lega jika sosok itu adalah benar istrinya.
"Yang benar saja, aku sudah mencarinya ke mana-mana, jadi dia ada di sini?" gumamnya mendapati Ayana yang tengah berjalan tidak jauh dari keberadaannya.
Ia pun bergegas berjalan mendekat hingga tidak sengaja netra cokelat susu itu melihat sebuah mobil melaju kencang ke arah Ayana.
"AYANA!" teriaknya kencang, Ayana menoleh dan mendapati sang suami di sana.
Tanpa mempedulikan keadaannya sendiri Zidan langsung berlari mendekati Ayana dan mendorongnya menghindar.
Namun, kecelakaan tunggal itu pun tidak bisa dihindari. Sang pengemudi yang dalam keadaan mabuk menabrak Zidan hingga tubuhnya terpental.
Ayana yang masih berada di ambang kesadaran, menatap nanar sosok yang melindunginya sudah terkapar di aspal.
Orang-orang yang berada di sekitar itu pun bergegas mengerubungi Zidan. Sebagian dari mereka langsung meminta bantuan pada pihak medis dari rumah sakit keluarga Arsyad.
Ayana terdiam kaku, ia melihat darah mengalir terbawa arus air hujan. Ia berusaha berdiri dengan lengan sebelah kiri terluka akibat benturan yang dialaminya. Ia berjalan terseok-seok mendekati kerumunan orang-orang di depan.
Tidak lama setelah itu beberapa petugas medis datang ke lokasi dan langsung membawa Zidan yang sudah tidak sadarkan diri ke rumah sakit.
Ayana mematung di tempatnya berdiri, netra jelaga itu menatap nanar sang suami sudah terkapar di atas brankar.
Di tengah guyuran air hujan yang masih melanda, ia tidak bisa merasakan apa pun lagi selain, ketidak karuan.
Ia menangis dalam diam yang tersamarkan oleh lelehan air dari langit. Bola matanya bergulir ke bekas Zidan terbaring tadi.
Ia melihat darah sang pianis masih menggenang di sana. Isak tangis tidak bisa terelakan, kedua kakinya sudah tidak bisa menopang berat badannya sendiri hingga ia pun jatuh terduduk begitu saja.
__ADS_1
Di bawah hujan lebat ia menangis sendirian dengan orang-orang berlalu lalang di tempat kejadian.