
Mimpi tinggalah mimpi, sejauh apa pun dikejar, sedalam apa pun dilakoni, jika takdir tak menghendaki tidak terjadi.
Namun, jika diawali dengan memasrahkan kepada Ilahi Rabbi, diimbangi doa serta ikhtiar maka sesulit apa pun bisa terwujud.
Itulah yang tengah Ayana Ghazella atau Ghazella Arsyad lakoni. Dulu, mimpinya sebagai seorang pelukis hanyalah angan-angan semata, tetapi setelah melewati beberapa fase dan pasrah kepada Allah, sekarang doanya diijabah.
Ia menjadi salah satu pelukis pendatang baru kebanggan di negaranya. Banyak karya-karya Ayana yang telah melalang buana.
Entah itu keluar kota maupun mancanegara.
Hari demi hari berlalu, sudah satu bulan terlewati sejak kedatangan Kirana ke kehidupan mereka.
Selama itu pula tidak begitu banyak hal yang berubah. Ayana masih sah sebagai anak angkat keluarga Arsyad serta istri dari pianis sekaligus pengusaha Zidan Ashraf.
Hari-hari sebagai anak, istri, dan pelukis pun berjalan lancar tanpa hambatan. Ayana menyadari jika tidak ada yang kekal abadi.
Semua butuh proses dan masa akan berputar mengikuti poros. Ia harus siap menghadapi badai yang datang selanjutnya.
Karena ia yakin waktu berputar sebagaimana semesta telah menugaskannya. Maka tidak akan mungkin menetap pada satu titik selamanya.
“Sayang~”
Bayi besar Ayana tengah bermanja pada istrinya. Ia yang sedari tadi berada di studio lukis tengah menyelesaikan pesanan customer pun terperanjat kala lengan kekar melingkar di perut ratanya.
“Sebentar Mas … sebentar lagi aku selesai,” kata Ayana mengerti keinginan sang suami.
Zidan mendengus kasar, melepaskan rengkuhannya dari Ayana lalu berjalan ke depan dudukan kanvas. Ia bersidekap di sana seraya meletakkan dagunya di atas lipatan tangan.
Ayana yang masih berkutat dengan kanvas serta kuas pun menoleh singkat. Sudut bibirnya melengkung perlahan menyaksikan wajah merenggut pasangan hidupnya.
“Aku baru tahu kalau Mas Zidan bisa seperti anak kecil,” ujarnya kemudian.
“Huh? Apa maksudmu?” tanya balik Zidan tidak mengerti.
“Iya, seperti bayi besar yang menggemaskan. Bagaimana bisa seorang pianis ternama sekaligus pemimpin perusahaan bersikap manja? Bagaimana reaksi penggemarmu jika tahu sikap Mas yang seperti ini?” Ayana terkekeh pelan senang menggoda suaminya.
“A-apa? Ma-manja? Aku hanya-“ ucapan Zidan terhenti seketika saat mendengar Ayana tertawa sedikit kencang.
Wanita itu memeluk perutnya sendiri yang terasa ngilu. Hal tersebut membuat Zidan mematung tidak percaya, dirinya sadar jika sudah menjadi bahan olok-olokan istrinya.
“Jadi, dari tadi kamu menggodaku? Awas kamu yah, Sayang.” Zidan menunjuk tepat di depan wajah Ayana.
__ADS_1
Pelukis itu bergegas beranjak dari duduk dan berlari sekuat tenaga mengitari studio.
Aksi kejar-kejaran pun berlangsung menyenangkan. Gelak tawa mengiringi pasangan suami istri itu yang saling mendekat serta menjauh satu sama lain.
Layaknya anak kecil, keduanya tidak ada yang mau mengalah.
Sampai tidak lama berselang, Zidan berhasil menangkap tubuh ramping sang istri. Kedua tangannya melingkar di pinggang Ayana yang pas berada dalam pelukan.
Secepat kilat Zidan membalikan badan sang pujaan hingga tangan Ayana merapat di dada bidangnya.
Mereka saling pandang menyelami keindahan bola mata masing-masing dengan napas naik turun.
“Cantiknya … seperti keajaiban,” ujar Zidan lembut nan pelan, tangannya menangkup sebelah pipi Ayana mengusap lembut noda cat minyak di sana.
“Cantiknya,” kata pianis itu kedua kali.
Ayana mengedip-ngedipkan mata mencoba mencerna apa yang dikatakan pria di dekatnya ini.
Tidak ada rekasi apa pun dari sang pujaan, Zidan menyeringai kala selintas ide hinggap di kepala.
Sedetik kemudian ia melayangkan kecupan ringan di bibir Ayana. Sang empunya terpaku dan terbelalak lebar.
“A-apa yang Mas lakukan?” ucapnya gugup, mengusap permukaan mulut pelan.
Seketika ia merinding mendengar kata demi kata tercetus tadi. Bola matanya perlahan bergulir ke samping menghindari suaminya.
“Ini sudah jam setengah sepuluh, saatnya kamu menjalankan tugas sebagai istri.”
Tanpa persetujuan Zidan langsung menggendong Ayana di pundak dan membawanya ke kamar pribadi mereka.
Jeritan sang pelukis pun bergema di studio mengabaikan pekerjaannya yang sedikit lagi selesai.
...***...
Berbagai macam kegiatan Ayana lakukan sebagai seorang pelukis. Sejak beberapa hari lalu ia sudah mendapatkan kerja sama baru lagi dengan Arfan untuk membuka pameran kedua kalinya.
Mereka pun semakin sibuk dengan berbagai macam persiapan. Mulai dari bertemu orang-orang penting, sponsor, dan lain sebagainya.
Helaan napas berat terdengar kuat di ruangan sang atasan. Ayana dan Arfan yang baru pulang dari segala pertemuan pun mengistirahatkan diri di perusahaan pria tersebut.
“Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Arfan menyodorkan minuman kaleng dingin.
__ADS_1
Ayana pun menerima dan membuka penutupnya. “Terima kasih, aku baik-baik saja,” balasnya menegak minuman itu singkat.
“Apa suamimu tahu kita akan membuka pameran lagi?” Arfan mengajukan pertanyaan kedua yang kini sudah duduk di seberangnya.
“Suamiku yang paling bersemangat, bahkan awalnya dia ingin bersponsor, tetapi aku menolaknya. Entah kenapa aku ingin berusaha sendiri tanpa uluran tangan dia,” jelas Ayana membuat Arfan mengangguk-anggukan kepala.
“Aku mengerti, memang lebih menyenangkan jika kita berhasil atas kemampuan sendiri.”
“Itu benar, sensasinya berbeda,” balas Ayana kembali meminum minumannya.
“Ah, kalau begitu kita makan siang dulu dan setelah itu kita lanjut bekerja.”
Arfan beranjak menghubungi asistennya untuk membawakan makan siang ke ruangan.
Ayana mengiyakan dan mengikuti apa yang hendak dilakukan sang rekan kerja.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Saat ini Ayana tengah berjalan di lorong rumah sakit untuk bertemu kakaknya.
Ia ingin memberitahu Danieal jika beberapa minggu lagi dirinya dan Arfan akan membuka pameran di pusat kota.
Ia sengaja datang ke sana untuk menyampaikan secara langsung sekaligus pulang bersama. Karena rencananya hari ini mereka dan Zidan akan makan malam di kediaman orang tuanya.
Belum sempat ia memasuki ruangan sang kakak, siluet seseorang tertangkap pandangan. Ayana menautkan kedua alis kala pandangan mereka bertemu satu sama lain.
“Oh Ayana?” Panggilnya berjalan mendekat.
Ayana sedikit menganggukkan kepala dan memandangnya lekat. “Tante Mega,” balasnya pada adik dari pihak ayah mertua.
“Sedang apa kamu di sini? Apa kamu mau berkonsultasi?” tanyanya saat melihat pintu di sebelah istri dari keponakannya ini.
“Konsultasi?” tanya balik Ayana bingung.
“Itu … kamu mau konsultasi dengan dokter kandungan, kan?” tunjuknya membuat sang pianis menoleh ke samping.
“Ah, tidak aku di sini untuk berte-“
“Tidak usah seperti itu. Zidan seharusnya sudah mempunyai dua anak sekarang. Lihat, umurmu sudah menginjak kepala tiga. Seharusnya kamu tidak usah cape-cape bekerja, jadi sulit punya anak, kan?” Mega, wanita itu menghela napas kasar dan melipat tangan di depan dada.
“Keponakanku yang malang, kenapa bisa dia mau kembali padamu? Apa jangan-jangan kamu tidak bisa punya anak lagi?” Mega membuka mulutnya lebar teringat sesuatu. “Ah, kamu sempat keguguran, pasti kandunganmu lemah. Makanya jangan terus bekerja, cepatlah punya anak. Tante saja sekarang sudah mau punya anak ketiga,” cerocosnya tanpa henti.
Dalam diam Ayana mengepalkan kedua tangan kuat. Dari dulu hingga sekarang adik dari ayah mertuanya ini memang tidak menyukainya.
__ADS_1
Wanita yang umurnya tidak berbeda jauh ini pun sering mengolok-olok Ayana dan bahkan membicarakan hal tidak benar kepada keluarga besar.
Itulah kenapa mereka tidak menyukai Ayana berkat hasutan dari wanita ini.